----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Siar Online http://www.siar.co.id
Siar Khusus: DARI PALU ARIT KE RODA BERGERIGI
Tabloid Mingguan Siar Edisi 10
----------------------------------------------------------------------------
--

PKI ternyata hanya mati suri. PRD mewarisi semangatnya.
Sasarannya tak hanya buruh pabrik dan kalangan bawah, tapi juga remaja
penggila kafe.

Bagi sebagian orang, ancaman bahaya laten komunis adalah omong kosong.
Kekhawatiran akan kebangkitan kembali gerakan komunis, katanya, adalah
salah satu ekspresi dari prasangka komunisto-phobia. Komunisme dianggap
sudah mati sejak runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya era perang dingin.

Sementara di pihak lain, tidak sedikit yang tetap percaya, komunisme suatu
saat
bisa bangkit kembali. Alasannya, sebagai sebuah ideologi, Komunisme
tidak mungkin mati. Keyakinan itu, setidaknya, masih tertanam pada
seorang Hussein Umar. Mantan aktiktivis 66 yang kini menjabat Sekjen
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini, mengaku merasakan adanya
bahaya laten ideologi radikal itu. Dia merasakan, misalnya, adanya
semangat perlawanan dan revolusioner dikalangan anak muda yang menentang
Sidang Istimewa bulan November 1998 lalu. "Ada semacam penghujatan
terhadap kekuatan-kekuatan politik reformis , tetapi secara ideologis
tidak sejalan dengan mereka," kata Hussein. Di situ, katanya, suatu
kelompok tidak bisa menyembunyikan warna sesungguhnya  yang dibawa
sebagai missi dan motivasi. Sebagai orang yang sudah biasa menghadapi
masa-masa lalu, "disitu tercium aroma Sosialis, Komunis. agamis, dan
sebagainya," akunya.

Bergesernya aksi-aksi mahasiswa, dari gerakan moral dan damai menjadi
politis dan radikal, memang membuat sejumlah pihak curiga. Karena itu,
ada tudingan bahwa ada beberapa komponen gerakan mahasiswa sudah
ditunggangi atau dipengaruhi ideologi gerakan radikal. Lantas, siapa
yang dicurigai menunggangi?

Melihat  aksi-aksinya yang cenderung radikal dan konfrontatif, tidak
berlebihan  bila  kecurigaan itu jatuh  pada Partai Rakyat Demokratik
(PRD). Dalam sejumlah aksi mahasiswa, nampak bendera PRD menyembul  di
antara massa demo. Apalagi bila terbukti benar bahwa PRD berperan
membidani lahirnya Forkot dan Famred. Dua kesatuan aksi  mahasiswa yang
dikenal radikal dan militan.

Kecurigaan itu, sebenarnya beralasan mengingat watak radikal dan militan
PRD. Radikalisme yang mewarnai platform Ideologi Perjuangan PRD, mungkin
sedikit banyak dipengaruhi orientasi Ideologis PRD yang cenderung
kekiri-kirian, bila tidak dikatakan Komunis atau Marxis. Namun, tak
urung kecenderungan ini membuat PRD sempat dituding sebagai embrio
kebangkitan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejauh mana radikalisme dan "kiri"-isme melandasi perjuangan PRD?
Jawabannya mungkin ada pada dokumen  PRD, berupa buku bersampul merah
bergambar "bintang dan gerigi". Buku yang diluncurkan pada 22 Juni 1996
itu, berisi "Manifesto Partai Rakyat Demokratik".

Dari dokumen itu, tak bisa dipungkiri ada kemiripan antara PRD dan PKI.
Dalam skema organisasi PRD, terdapat beberapa organisasi yang serupa
dengan organisai mantel PKI. Bila PRD bermantel Pusat Perjuangan Buruh
Indonesia (PPBI), PKI memiliki Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia
(SOBSI). Sepertihalnya PKI, bagi PRD massa buruh merupakan merupakan
kekuatan penting pendukung gerakan. Kalau PRD didukung Solidaritas
Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), PKI punya Central Gerakan
Mahasiswa Indonesia (CGMI). PRD memiliki Jaringan Kerja Kesenian Rakyat
(Jakker) dan Serikat Tani Nasional (STN) yang mirip dengan organisasi
mantel PKI, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Barisan Tani Indonesia
(BTI).

Aksi-aksi organisasi mantelnya, pun mirip aksi-aksi PKI. Dalam Strategi
dan Taktik Perjuangan, PRD mengkonsentrasikan  aksinya pada "kepemimpinan
yang dapat meradikalisir, memilitankan, dan memprofesionalkan" aksi-aksi
kaum buruh. Selain itu, PRD juga menganggap penting peran apa yang mereka
sebut "sektor-sektor masyarakat mendesak" untuk menggalang aksi
perlawanan.  Sektor-sektor mendesak itu adalah mahasiswa, tani, nelayan,
dan kaum miskin kota. Aksi-aksi itu digalang melalui agitasi-propaganda
yang mengarah, terutama, pada berbagai aksi unjuk rasa. Bagi PRD,
perjuangan massa merupakan satu-satunya jalan menuju pembebasan rakyat.

Dalam rangka itu, PRD juga mengedepankan  suatu "front persatuan"
sebagai wadah pengerahan massa yang bersendikan kantong-kantong massa.
Institusi ini mengingatkan kita pada "front nasional" di era orde lama.
Front Persatuan Nasional,  ketika itu kerap dimanfaatkan PKI untuk
menggalang dukungan sekaligus menggebuk lawan-lawan politik PKI. Gagasan
itu sebenarnya diilhami oleh pengalaman Revolusi Cina melalui taktik
"front persatuan"-nya Mao Zedong. Sebuah taktik yang mempersatukan
berbagai kekuatan kelompok progresif-revolusioner dan komunis di Cina di
bawah pimpinan partai komunis.

PRD juga kerap  mengumbar jargon politik yang biasa dipakai PKI tahun
60-an. Jargon-jargon khas PKI yang dipakai seperti "satu perlawanan, satu
perjuangan" atau "memimpin kekuatan rakyat dalam revolusi politik", dan
sebagainya. Istilah-istilah proletar, borjuasi nasional, borjuis
reaksioner, progresif revolusioner, bertebaran dalam dokumen bersampul
merah itu. Kalimat-kalimat, idiom-idiom,  dan jargon-jargon yang
kekiri-kirian itu, seolah-olah artikulasi lain dari Komunisme dan
Marxisme.

Artikulasi serupa terbaca pada Bab 9 Dokumen PRD yang memuat AD/ART PRD.
Pasal 5 AD-PRD misalnya, menyatakan "Partai Rakyat Demokratik adalah
organisasi yang berasas sosial demokrasi kerakyatan". Asas ini,
mengingatkan pada Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) yang
didirikan Sneevliet tahun 1914.

Istilah sosial demokrasi,  bermula dari Asosiasi Kelas Pekerja Jerman
yang didirikan Ferdinand  La Salle tahun 1963. Organisasi pertama yang
bercorak Marxis ini, kemudian berubah menjadi Partai Demokratik Sosial.
Meskipun di Eropa Barat berkembang pula partai sosial demokrasi yang
justru menjadi lawan sosialisme-komunis, namun nampaknya ada perbedaan
mendasar dengan sosial-demokrasi PRD. Kentara dari cara pandang PRD
tentang masyarakat yang mirip cara pandang Marx. Sosial Demokrasi yang
berkembang di Barat, mungkin identik dengan sosial demokrasi "kanan"
yang disebut-sebut dalam Dokumen PRD, untuk membedakan dengan "sosial
demokrasi kerakyatan" (kiri) PRD.

Menurut Dr. Kastorius Sinaga dalam sebuah wawancara dengan Gatra dua
tahun silam, Marx menggolongkan masyarakat dalam dua kelas: borjuis dan
proletar. Kelas borjuis adalah pemegang alat-alat produksi (pengusaha,
birokrat, dan bangsawan). Sedangkan kelas proletar adalah kaum buruh
yang tak memiliki alat-alat produksi dan justru menjadi alat produksi.
Solusi untuk menyelamatkan proletar adalah menguasai parlemen di bidang
politik. Jadi, menurut Kastorius, dalam hal semangat  perjuanagn kelas,
cita-cita PRD mirip pemikiran Marx.

Indikasi kiri lainnya terlihat dari interpretasi PRD terhadap sejarah
pergerakan nasional; pra maupun pasca proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam
Dokumen PRD, Bab 3 tentang Zaman Pergerakan dan Perjuangan Pembebasan
Nasional, PRD menampakkan interpretasi subyektif yang memberikan
apresiasi berlebihan pada pergerakan kaum kiri radikal.

ISDV, misalnya, mereka sebut sebagai salah satu pelopor pergerakan
nasional modern yang secara sistematis mengajarkan pengetahuan progresif
kepada buruh dan menjadikan senjata material dalam perjuangan pembebasan.
Kepeloporan ISDV ini, lantas disambungkan dengan  dengan berdirinya
"Perserikatan Komunist Hindia (PKI) pada tanggal 23 Mei 1920. Sementara
pergerakan nasional lainnya, dinilai tidak mampu membaca dan
memanifestasikan
kesadaran perlawanan rakyat terhadap penjajah.

Penggalan-penggalan sejarah pergerakan nasional berikutnya yang mereka
apresiasi, makin merapat ke kiri. Pemberontakan PKI 1926, disebut
sebagai pemberontakan nasional. Kegagalan perlawanan 1926/1927 itu
dinilai sebagai kekalahan gerakan pada umumnya. PRD juga memuji-muji
Amir Syarifudin -salah seorang otak pemberontakan PKI Madiun/1948-
sebagai tokoh yang paling konsisten anti fasis dan anti kolonial.
Padahal, semasa Kabinet Syahrir, Amir Syarifudin turut terlibat dalam
pemarafan perjanjian Linggarjati dan Renville. Dua perjanjian yang
kemudian dia kecam melalui "Front Demokrasi Rakyat" (FDR) yang
dipimpinnya.

Tak kalah hebohnya, PRD pun ternyata memandang miring momentum paling
bersejarah; Proklamasi 17 Agustus 1945. Menurut dokumen itu, "Revolusi
pembebasan nasional 1945 ternyata gagal menghasilkan demokrasi yang
sejati bagi rakyat". Karena "kekuatan rakyat yang diorganisir kekuatan
radikal kerakyatan gagal mengambilalih kepemimpinan dalam perjuangan
pembebasan nasional".

Tidak disebutkan, siapa yang dimaksud "kekuatan radikal kerakyatan itu".
Namun, secara implisit mungkin menunjuk pada gagalnya kabinet Amir
Syarifuddin (Juli 1947-Januari 1948) dan ditumpasnya Pemberontakan PKI/
Madiun 1948.

Sentimen anti-ABRI juga kentara. PRD menilai program rasionalisasi
angkatan bersenjata (AB) yang dilakukan Jenderal Sudirman semasa Kabinet
Hatta (1948), sebagai awal kemenangan tentara kapitalis. Menurut PRD,
raasionalisasi AB, "hakekatnya untuk menjadikan militer Indonesia (ABRI)
sebagai satu-satunya pemegang otoritas dari kekuatan bersenjata, tak
boleh ada tandingan tentara rakyat yang populer di hadapan rakyat".

Program rasionalisasi AB ini, memang amat merugikan golongan "kiri".
Adanya tentara yang efisien dan satu garis komando, telah memotong garis
politik FDR dalam tubuh AB. Padahal, sejak 1945 mereka telah bersusah
payah membina dan memasukkan perwira-perwira komunis ke dalam angkatan
perang. Bahkan, mereka menaksir 35% tentara telah dipengaruhi dan pada
beberapa kesatuan merupakan kelompok dominan.

PRD juga melihat adanya pertentangan antara kapitalis "bersenjata"
melawan yang "tidak bersenjata". Di dalam AB pun, menurut PRD, terjadi
pemilahan antara "jenderal-jenderal yang berpolitik" yang mewakili
kepentinagn kapitalis bersenjata, dan yang mewakili "angkatan bersenjata
sebagai suatu institusi". Pertentangan itu, berakhir dengan kemenangan
mereka yang dominan dalam penggulingan Soekarno di tahun 1965-1966.

Dalam peristiwa G30S, menurut PRD, PKI  -melalui Biro Chususnya-
terlibat secara tidak profesional di dalamnya. Interpretasi demikian,
seolah menganggap G30S/PKI semata-mata dilatari oleh friksi di tubuh AB.
Bukan karena inisiatif PKI yang memanfaatkan  pengaruhnya di AB untuk
mengambilalih kekuasaan.

Analisis singkat atas dokumen bersampul merah itu, menguatkan kecurigaan
sebagian masyarakat akan adanya bias Marxisme dalam PRD. "Saya tidak
menuduh, bahwa PRD itu  umpamanya PKI, tapi sebagai orang yang banyak
menelan buku-buku Komunis, saya merasa paling tidak dari segi retorika,
semangat revolusioner terasa dalam rangkuman-rangkuman atau pandangan
politik dari kelompok-kelompok seperti ini," kata Hussein.

Ditemukannya catatan harian Dita Indah sari (Ketua PPBI) yang ditulis
Selasa 16 April 1966, pada pekan itu PRD secara resmi diubah dari
"persatuan" menjadi "partai", tentu makin menguatkan kecurigaan itu.
Disitu tergores sebuah kalimat yang mencurigakan. "Partai sudah berdiri;
well, 31 tahun terkubur, dibantai, dihina, dibunuh, dilarang, dikhianati.
Sekarang dibangun lagi."  Bukankah, partai yang dimaksud adalah PKI? Dan,
PRD tak lain adalah reinkarnasi PKI?

Karena itu, wajar bila ada kecurigaan bahwa PRD adalah jelmaan PKI.
Meskipun, orang-orang PRD akan membantah, namun mereka tak memungkiri
orientasi kekiri-kirian dan watak radikalnya. Dan karena itulah, orang
semacam Pramoedya Ananta Toer, eks napol PKI itu, memilih bergabung
dengan partai berlambang bintang  dan gerigi ini. Dan siapa lagi
menyusul? Bagaimana dengan Latief, Boengkus, Marsudi, dan yang lainnya?

PRD tak hanya menampung tokoh-tokoh PKI tua, serta menggarap kalangan
bawah dengan mengeksploitiasi kemiskinan. Mereka belakangan juga merasuk
ke kalangan anak muda metropolis yang bisa tampil gaya dan trendy.
Lihatlah acara Republik Indies yang digelar Jakker di Kafe Poster, Jumat
petang kemarin. Kafe Poster, Jl. Gatot Subroto Jakarta, seperti biasa
dipenuhi anak-anak belasan tahun. Tapi, yang terjadi kemarin, lain dari
biasa.  Mereka larut dalam acara Republik Indies. Galibnya acara di kafe,
musik berdentam-dentam. Kelompok musik yang tampil antara lain Kolestrol,
Grashoper,Candybar dan lain lain. Cuma, nah ini yang perlu diperhatikan,
setiap jeda musik pembaca acara muncul membacakan manifesto politik yang
sangat anti kemapanan. Misalnya, "Turut berduka cita terhadap holocaust
tahun 1965 dengan mengambil korban lebih dari 1.500.000 korban jiwa dan
penumpasan suku-suku di Timtim dari tahun 1976 - sekarang yang menelan
lebih dari 200.000 nyawa," dan sebagainya,.
Jadi, siapa bilang PKI bukan lagi ancaman?

----------------------------------------------------------------------------
--
Baca TABLOID MINGGUAN SIAR edisi 10 (29 Maret-4 April 1999)
Atau kunjungi Siar Online http://www.siar.co.id

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Apr 1999 jam 04:31:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke