----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Siar Online http://www.siar.co.id
KOMITMEN : Perubahan di ABRI
------------------------------------------------------------------------------

Mulai 1 April kemarin, Polri secara bertahap sudah dipisah dari ABRI.
Tahap berikutnya, konon, Polri akan menjadi lembaga sendiri, yang
berdiri sejajar dengan Kejaksaan Agung dan Mahkaman Agung �segitiga
lembaga penegakan hukum. ABRI sendiri telah diusulkan Menhankam/Pangab
Jenderal Wiranto untuk kembali menyandang nama Tentara Nasional
Indonesia. Artinya, polisi akan penuh di khitthah-nya sebagai penegak
keamanan dan ketertiban masyarakat. Dan ABRI akan berfungsi sebagai
angkatan perang yang memikul tugas menjaga pertahanan dan keamanan
nasional. Apakah tujuan itu bakal tercapai tentunya bergantung pada
banyak hal.

Kita melihat pemisahan tersebut sebagai bagian dari upaya ABRI menggenjot 
kecepatannya mengikuti roda perubahan yang amat cepat. Sebelumnya ABRI
sudah "menghilangkan" (atau lebih tepat, untuk sementara "menyembunyikan")
peran sosial politiknya dengan mengganti institusi Staf Sosial Politik
menjadi Staf Teritorial. ABRI juga mencabut "dukungan formal"-nya
terhadap Golkar. Juga sudah menyuruh pilih para perwiranya yang
dikaryakan di jabatan sipil: Tetap di birokrasi dan mencopot seragam
tentara, atau kembali ke induk pasukan. 

Bagi ABRI ini memang langkah-langkah yang secara psikologis amat berat. 
Sebab, dengan format lama, itu ABRI menikmati banyak sekali previlese
yang menggiurkan. Tapi langkah ini harus diayunkan, karena tak ada
pilihan lain. Roda perubahan menggelinding luar biasa cepat. Dan semua
orang mesti mengikuti. Termasuk, tentunya, ABRI yang punya posisi
penting di negara ini. Militer di negara mana pun, apalagi negara
berkembang, tetaplah sebuah kekuatan politik yang strategis, betapapun
mereka menutupi peran di bidang itu. Posisi tersebut tidak akan berubah,
berapapun kerasnya mereka dihujat. Kita mendukung, sejauh langkah-langkah
ABRI ini merupakan perumusan ulang atas peran-peran mereka selama ini.
Dan kita menolak jika itu hanya pemanis bibir belaka.

Peran-peran ABRI memang harus dikaji ulang. Tak hanya ABRI, seluruh bangsa 
ini harus mengkaji ulang peran mereka. Semua harus kembali ke peran
sejati masing-masing sesuai takarannya. Kekisruhan bangsa kita saat ini
karena ada yang berperan melebihi atau kurang dari takaran. Dan
perubahan ABRI haruslah diletakkan dalam konteks ini. Sebab, diakui atau
tidak, peran ABRI selama ini tak sesuai dengan takaran. ABRI sangat
menentukan dalam segala hal, tidak hanya di pertahanan keamanan, juga di
politik dan birokrasi. 

Dwifungsi ABRI (kita tidak masuk ke dalam perdebatan, apakah ini perlu
dihapus 
atau tidak), secara teoritis, seyogianya harus berjalan sama berat.
Memang, seusai kondisi, ada salah satu peran yang lebih menonjol. Tiga
dasawarsa terakhir, peran sosial politiklah yang lebih mengemuka. Hanya
saja dalam prakteknya terjadi salah kaprah. ABRI berhasil menjadi
stabilisator politik, tapi terpuruk mendinamisasi kehidupan politik.
ABRI menstabilisasi politik dengan gaya komando, padahal kehidupan
politik sipil beranjak dari prinsip musyawarah.

Dengan gaya itu, tidak ada seorang tokoh sipil pun bisa menjadi ketua 
partai politik, organisasi kemasyarakatan, dari pusat hingga daerah,
jika tidak mengantongi restu dari militer. Seorang politisi yang membina
karir dari bawah tidak akan bisa duduk menjadi ketua cabang partai di
kabupatennya jika belum direstui komandan Kodim setempat. Itu terjadi di
semua lapis. Dalam jangka pendek, dampaknya memang berhasil membangun
stabilitas politik, karena ABRI, parpol dan ormas selalu satu suara.
Tetapi, dalam jangka panjang, karena dinamisasi politik tak berjalan,
kita kehilangan kesempatan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mumpuni.
Dan ini sebenarnya menyemai benih instabilitas.

Dalam kondisi normal, hal yang begitu tak menjadi persoalan benar. Tetapi, 
ketika bangsa ini sedang mengalami masalah yang harus dimusyawarahkan
bersama, ABRI kehilangan mitra dialog yang seimbang. Sebab, terus terang
saja, pemimpin sipil yang mereka ajak dialog itu adalah pemimpin yang
lahir dari saku mereka sendiri, pemimpin yang tak pernah terasah dalam
arena permusyawatan. Kita tak perlu menduga terlalu jauh, kualitas dan
integritas macam apa yang bisa diharapkan dari pemimpin "binaan"
tersebut. Lihat saja sekarang, ketika bangsa sedang hiruk pikuk,
pemimpin-pemimpin model begitu terdiam seribu bahasa. Dan, kalaupun ada
yang berbuat, mereka bak kuda lepas kendali, mencelat ke segala penjuru
sehingga menambah kekisruhan. 

Lagi pula, kalaupun ada di antara pemimpin itu yang berkualitas, dialog tak 
terlalu penting. Apa signifikansi dialog dengan orang-orang yang
mempunyai visi yang sama. Dialog justru diperlukan oleh pihak-pihak yang
berbeda pandangan. Sebab, dialog adalah upaya mencari titik temu dari
berbagai visi yang berlainan. Dari situ akan lahir solusi yang kaya
dengan perspektif. Lantaran tak ada dialog yang produktif, krisis bangsa
kian menjadi.

Sementara itu, calon-calon pemimpin yang ogah "ditatar" di barak, dimatangkan 
sendiri oleh alam. Visi mereka aneka ragam, karena "Kawah Candradimuka"-nya
juga berbeda-beda. Tatkala bangsa mengalami krisis kepemimpinan, mereka
muncul dalam frame pikiran dan gerakan yang saling berbeda, dan
adakalanya menimbulkan gesekan. ABRI rupanya menyadari hal itu, dan
mencoba mengajak berdialog, seperti pertemuan-pertemuan yang dilakukan
Jenderal Wiranto dengan sejumlah tokoh. Tetapi, itu tidak mudah.
Lantaran tidak pernah berkomunikasi dalam posisi yang saling angkat topi,
kedua belah pihak sukar mengerti hajat masing-masing secara proporsional.
Akibatnya, dialog juga seringkali buntu. Aura baru inilah yang dihadapi
ABRI saat ini. Maka sejumlah perubahan di ABRI, mulai dari filosofi
sampai prakteknya, harus diletakkan dalam perspektif itu. Ini kita
katakan, karena ABRI tetap mempunyai posisi menentukan di republik ini.
Dan itu, seperti sering kita ungkapkan, kuncinya cuma satu: Kita kembali
ke takaran kita masing-masing. 


------------------------------------------------------------------------------
Baca Tabloid Mingguan Siar Edisi XI Bulan April 1999
Atau kunjungi Siar Online http://www.siar.co.id

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Apr 1999 jam 10:42:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke