---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- oleh Arief Budiman Dipelopori oleh Adi Sasono, salah satu program ekonomi pemerintah Habibie adalah ekonomi kerakyatan. Adi sebagai Menteri Koperasi/ Pengusaha Kecil dan Menengah berusaha membagi aset ekonomi kepada rakyat miskin melalui koperasi. Uang yang dibagikan akan diambil dari para konglomerat. Keterlibatan Adi dengan ekonomi kerakyatan bukan baru pertama kali ini. Adi adalah orang pertama, bersama Sritua Arief, yang memperkenalkan teori ketergantungan, dengan menerbitkan sebuah buku tentang masalah ini pada tahun 1970-an. Ketika memimpin Lembaga Studi Pembangunan, pandangan Adi yang sosialistis banyak mempengaruhi lembaga yang dipimpinnya ini. Maka saya tidak heran ketika dia menjadi Menteri Koperasi/ Pengusaha Kecil dan Menengah, dia lalu berusaha mempraktikkan apa yang selama ini mempengaruhinya sebagai teori : ekonomi kerakyatan. Pada saat ini, dibawah pemerintahan Habibie, tampaknya ada tiga kekuatan ekonomi yang saling bersaing. Pertama, ekonomi pasar yang dianut oleh sebagian besar ahli ekonomi kita didukung oleh Bank Dunia dan Moneter Internasional (IMF). Ekonomi ini mengutamakan persaingan pasar dan menentang campur tangan pemerintah. Mereka percaya, hanya melalui pasar, efisiensi ekonomi akan dicapai. Yang menjadi masalah adalah ekonomi semacam ini tidak akan banyak menolong orang-orang miskin yang lemah. Dalam kompetisi, mereka akan selalu dikalahkan oleh yang lebih kuat. Hal ini juga memungkinkan terjadinya dominasi kelompok etnis Cina dalam perekonomian Indonesia, yang bisa menimbulkan persoalan sosial dan politik. Kedua, ekonomi nasionalistis, yang dianut oleh banyak pengusaha pribumi, menekankan perlunya perekonomian dikembalikan ketangan mereka. Mereka pada dasarnya setuju pada ekonomi pasar, kecuali dalam hal menghadapi kekuatan ekonomi non pribumi. Dalam hal ini mereka meminta bantuan pemerintah untuk melakukan campur tangan, meskipun ini bertentangan dengan keyakinan mereka terhadap ekonomi pasar. Ketiga, ekonomi kerakyatan menentang ekonomi pasar karena dia akan menimbulkan kesenjangan antara kaya dan miskin. Dalam bentuk ekstremnya, aliran ekonomi kerakyatan ini dijelmakan dalam ekonomi sosialisme; yang dalam aliran ini penguasaan modal pribadi diharamkan. Hanya dalam bentuk seperti ini, menurut Karl Marx, ekonomi kerakyatan bisa tercipta. Dalam pemerintahan Habibie, sudah sangat jelas sistem ekonomi pasar akan menjadi sistem yang dominan di Indonesia. Pada saat ini, mau tidak mau, suka tidak suka, indonesia harus mengikuti apa yang "diperintahkan" oleh Bank Dunia dan IMF. Karena itu, kalau Adi Sasono mau menjalankan sistem ekonomi kerakyatan, sistem ini hanya merupakan sub-sistem yang bergerilya melawan sistem perekonomian dominan diatasnya, yakni kapitalisme. Maka, dengan asumsi bahwa Adi memang sungguh-sungguh mau melaksanakan program ekonomi kerakyatan, dia harus melawan arus. Dia harus menggunakan kekuasaan pemerintah untuk membagi aset pengusaha besar kepada koperasi. Ini jelas akan menganggu mekanisme pasar. Terbukti misalnya, ketika Adi memberikan monopoli distribusi minyak goreng kepada koperasi, dengan merebutnya dari tangan para distributor yang selama ini telah menjalankan dengan efisiensi (yang kabarnya dikuasai oleh pengusaha Cina), terjadi kesemrawutan distribusi. Akibatnya, komoditas ini hilang dari pasar, dan kalaupun ada, harganya naik. Bahkan katanya, banyak lisensi distribusi yang dimiliki oleh koperasi dijual ke tangan para distributor lama, sehingga koperasi-koperasi ini bisa mendapatkan keuntungan tanpa perlu bekerja. Koperasi ini tentu saja sedang mengikuti pragmatisme pasar. Inilah yang menjadi masalah. Sistem sosialisme yang dijalankan dalam sebuah sistem besar kapitalisme menjadi tidak efisien karena tidak didukung oleh sistem politik yang ada. Ini seperti mencoba memelihara kucing di dasar lautan untuk bersaing melawan ikan, atau mengajari ikan untuk bersaing melawan ayam di daratan. Sistem besarnya tidak menunjang. Inilah yang terjadi pada program ekonomi kerakyatan Adi. Dia menjadi diserang baik oleh para penganut sistem perekonomian pasar, tapi juga oleh penganut sistem perekonomian nasionalistis. Dia juga diserang oleh Bank Dunia dan IMF, dan dia akan dicemoohkan oleh banyak orang di dalam negeri karena sikapnya yang tidak realistis untuk " menghidupkan kucing didasar lautan". Sistem perekonomian kerakyatan ini hanya bisa hidup melalui campur tangan politik yang kuat dari pemerintah. Tapi, karena pemerintah tidak mau menjadikan sistem ekonomi kerakyatan ini sebagai sistem yang dominan, sistem ini akan hidup kering kerontang karena melawan sistem besar yang ada. Bagi sistem besar yang ada, yakni kapitalisme, sistem ekonomi kerakyatan adalah seperti duri dalam daging. Tidak mematikan, tapi menjengkelkan. Saya kira, kalau Adi memang benar-benar mau melaksanakan sistem perekonomian kerakyatan, dia harus memperjuangkan supaya sistem yang ada di Indonesia diubah menjadi sistem sosialis. Jelas, dalam keadaan sekarang pada saat kita masih bergantung pada Bank Dunia dan IMF, hal ini tidak mungkin bisa terjadi. Ditambah lagi, adanya anggaran yang kuat pada ekonomi sosialisme merupakan bagian dari komunisme yang di Indonesia dianggap sebagai musuh negara. Alternatif lain kalau Adi benar-benar mau membantu rakyat kecil, tampaknya, dia harus bekerja sama dengan sistem besar yang ada, yakni ekonomi pasar. Dia harus pandai mencari celah-celah dan peluang-peluang yang masih mungkin. Yakni, tidak mengganggu efisiensi pasar, tapi tetap memberikan surplus ekenomi kepada rakyat kecil. Yang mau dia lakukan, yakni meminta aset para konglomerat untuk dibagikan kepada rakyat kecil, tampaknya kan mengganggu mekanisme pasar. Para konglomerat kemudian akan menimpakan " kerugiannya" pada harga-harga barang yang dia produksi. Maka, harga-harga barangpun akan naik, dan rakyat kecil yang mengkonsumsi barang tersebut akan "mengkembalikan" surplus yang dibagikan Adi kembali kepada konglomerat tersebut. Disamping kesulitan seperti ini, ada lagi kesulitan lain. Menurut kabar, karena adanya dana yang mau dibagikan kepada koperasi, tiba-tiba lahirlah beribu koperasi bagai jamur dimusim hujan. Ada gula ada semut, kata orang. Dapatkah Adi melakukan seleksi yang ketat untuk mendapatkan mana koperasi yang benar-benar punya idealisme untuk memperjuangkan rakyat kecil, mana yang cuma mau mencari keuntungan pribadi. Kata orang, kalau benar dilakukan seleksi yang ketat, hanya beberapa gelintir koperasi yang memenuhi syarat. Sementara itu, ada orang yang menuduh bahwa bagi Adi sebenarnya tidak begitu penting untuk mendapatkan dukungan institusional yang kuat dalam bentuk koperasi yang benar-benar mau menolong rakyat. Katanya, Adi hanya sedang memperluas dukungan politiknya dengan membagikan aset kepada calon pendukungnya dimasa depan. Entah tuduhan ini benar, entah tidak, yang jelas adalah pada saat ini ide Adi belum punya dukungan institusional yang memadai, kalau ide ini benar-benar mau dilaksanakan untuk mencapai sasarannya, yakni menolong rakyat kecil. Barang kali dibutuhkan beberapa tahun untuk menyiapkan sarana institusi tersebut. Padahal, Adi sedang berlomba dengan waktu, karena bukankah pemerintah Habibie cuma merupakan pemerintah transisional sampai pemilihan umum tahun depan ? Ada banyak orang berpendapat, Habibie tidak akan terpilih kembali, dan kalau ada pemerintah lain, masih akankah Adi Sasono dipakai kembali untuk membereskan perekonomian rakyat kecil ? Lalu, bagaimana dengan nasib sistem perekonomian kerakyatan dimasa depan, kalau sekarang saja dukungan pemerintah Habibie masih bersifat improvisasi, bukan konsepsional ? Tampaknya rakyat kecil yang menunggu terjelmanya keadilan ekonomi bagi mereka sejak Revolusi 1945 masih harus menunggu lama. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 04:54:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
