---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- KEJADIAN MENYERAMKAN MASIH AKAN TERJADI Peristiwa Ambon dalam masa IdulFitri dengan korban lebih dari 50 jiwa dan jelas suatu "Rekayasa" politik dan pertarungan elite politik sebagai kelanjutan dari peristiwa 13 - 15 Mei 1998 masih akan marak . Kejadian ini dilanjutkan dengan pembunuhan, pembakaran di kepulauan Maluku, di Sulawesi, Kalimantan dan Jawa. Dalangnya tetap sama ialah kelompok yang disebut oleh majalah "Tajuk" dengan tema "pendirian negara Islam", jadi ada kelompok sektarian yang bergerak : HMI, ICMI, Kisdi, Cides , Satria Nusantara, dan banyak lagi organisasi dibawah Adi Sasono sebagai penyandang dana. Sangat luar biasa dana yang disandangnya sebagaimana gerakan untuk mencetuskan 13-15 Mei dengan dukungan dari instansi militer sebagaimana digambarkan oleh majalah Tajuk . Sampai sekarang masih tetap polanya dalam membantah kejadian tersebut : Konglomerat yang menguasai 90 % dari ekonomi nasional . Dari mana datanya ? Hasut-hasutan semacam inilah yang membuat kebencian rakyat kepada kelompok pengusaha, pedagang serta profesionil keturunan Cina. Pembunuhan sejumlah 2300 orang lebih serta perkosaan 158 orang, yang selalu dibantah secara sistimatis menunjukan bukti betapa organisasi "laknat" yang menggunakan "dalih" agama sebagai kekuatan yang luar biasa. Sekarang yang mulai diadu adalah kelompok-kelompok lain dalam bangsa Indonesia, tetapi konteksnya ialah "perang agama" antara preman Kristen lawan Islam. Jelas ini adalah "aduan" untuk membuat teror yang lebih kejam serta membuat "kemelaratan". Dengan "kemelaratan " akan dibentuk negara berdasarkan skenario "pemilik" dana. Siapakah pemilik dana tersebut ? Tak lain : menteri koperasi kita sebagai kepanjangan tangan dari ICMI. Kalau kita kaji kembali hubungan antara segala peristiwa ini dimulai dari 10 tahun yang lalu : peristiwa Situbondo, peristiwa SARA di Kalimantan Barat, di Tasikmalaya, Cirebon, Solo, dan hampir DIsegala tempat, pembakaran gereja yang lebih dari 500 buah, naiknya jenderal-jenderal yang berhaluan ekstreem dengan tokoh menantu mantan presiden dan kemudian pemberian fasilitas kepada konglomerat , baik pribumi maupun keturunan Cina dan ini semua menjerumuskan negara kekondisi "KEMISKINAN" bagi rakyat umum. KEMISKINAN adalah "LADANG SUBUR" untuk gerakan yang militan sebagaimana layaknya kejadian di Rusia pada permulaan abad 20 dimasa Lenin dan Stalin, Cina dimasa Mao , Kamboja dengan Khmer Rouge yang dikomandani oleh Pol Pot, ini bentuk yang komunis. Bentuk agama dilakukan di Afganistan dengan TALIBAN, Iran dengan pembunuhan terhadap kelompok feodal maupun kelompok yang mapan oleh "MULLAH". Konsep ekonomi kerakyatan dari ICMI jelas mirip dengan konsep ekonomi komunisme : pembagian kekayaan untuk si miskin, pembentukan koperasi dengan dalih pemerataan. "SAMA RATA SAMA RASA" adalah semboyan KOMUNIS. Jadi kelompok ini benar-benar merencanakan "REVOLUSI" untuk menjadikan bentuk negara menjadi bentuk yang dikehendaki tanpa memikirkan resiko hancurnya ekonomi negara, tanpa memikirkan "KEMISKINAN" , tanpa memikirkan "Hancurnya negara" dan "DESINTEGRASI NASIONAL". Diperlukan kepemimpinan nasional yang "JUJUR" untuk mengatasi "SUMPAH SERAPAH" serta diperlukan kepimpinan yang sadar bahwa "JURANG" kehancuran yang akan membuat "MELARAT" bangsa dan membuat "KEHANCURAN" bangsa Indonesia bisa dihindarkan. Tokoh-tokoh seperti GUS DUR, MEGAWATI, EMIL SALIM, WIRANTO , dan banyak lagi "NASIONALIS" dan "MORALIS" yang sanggup melawan gerakan "LAKNAT" dengan simbol-simbol keagamaan, tetapi pada prakteknya sangat bertentangan dengan "KETUHANAN YANG MAHA ESA" . Jakarta, 23 Januari 1999. Piston ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Jan 1999 jam 03:39:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
