----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Merdeka, 22 Januari 1999

Rakyat Kita Sangat Beringas

Akhir-akhir ini kita rasakan bahwa rakyat Indonesia sangat beringas.
Isu yang tidak jelas ujung-pangkalnya bisa menyulut kerusuhan yang
mendatangkan kerugian materiil yang tak terkirakan besarnya, bahkan
nyawa dan gangguan-gangguan keamanan yang berlarut-larut. Jangankan
kritik, kesalahan ucapan pejabat atau mantan pejabat baik yang
dilontarkan semasa Orde Baru, maupun sesudah Soeharto "lengser
keprabon", kini bisa menyulut masalah yang berkepanjangan.

Suratkabar bisa didemo berkali-kali, jika terjadi salah interpretasi,
atau jika salah memuat berita, bahkan polemik dan hak jawab ketika
di masa kolonial dianggap sebagai jalan keluar yang memadai untuk
mencari jalan keluar dari masalah, kini sudah tidak dianggap sebagai
pemecahan yang bermaslahat.

Sudah barang tentu kita bisa menjadikan Orde Baru kambing hitam,
atau biang kerok dari semua masalah yang melanda bangsa Indonesia.
Bahkan juga dijadikan biang keladi dari perubahan fiil bangsa yang
dahulu lebar dada dan penuh toleransi, tetapi dengan cara melampias-
kan semua kesalahan terhadap Orde Baru, tanpa berani mengoreksi diri
sendiri, kitaakan berjalan kearah yang salah, dengan panduan yang
salah pula.

Menimpakan semua kesalahan kepada kolonialisme Belanda,
kepemimpinan semasa Orde Lama maupun Orde baru, bagi rakyat
Indonesia adalah sah-sah saja. Rakyat memiliki hak kedaulatan bahkan
memiliki hak untuk meyingkirkan semua bentuk pemerintahan yang
"bukan dari rakyat, bukan oleh rakyat, dan bukan untuk rakyat", itu
pun benar adanya. Akan tetapi juga harus menunjukkan kecintaannya
kepada demokrasi, dengan cara menunjukkan toleransi kepada mereka
yang bebeda pendapat, dan melancarkan kritik, betapa pun pedasnya,
dan betapa pun menyakitkannya.

Jika tidak mau memberikan toleransi kepada kritik atau nasihat, maka
kediktatoran mayoritas atau tirani minoritas akan beroleh wujud, dan
bangsa yang mengalami nasib yang demikian buruk akan terhempas
kembali ke masa-masa kegelapan dan masa-masa keterbelakangan.

Kita lihat dengan jelas di banyak belahan dunia, ketika rakyat
membenarkan kediktatoran mayoritas atau tirani minoritas, bangsa itu
dilanda perang saudara dan perpecahan yang tidak ada henti-hentinya.

Bangsa yang demikian itu tidak akan menapak kepada peradaban baru,
peradaban yang lebih baik dari masa lampau, melainkan akan
mengagung-agungkan masa lampau, tanpa berani menghadapi tantangan-
tantangan yang gawat yang disuguhkan era baru, era kompetisi bangsa-
bangsa di dunia yang tidak kenal ampun. Bangsa yang terpecah-belah
karena primordialisme kesukuan, primordialisme tradisi, kepercayaan,
dan puas diri, pada akhirnya suatu saat menemukan dirinya terperosok
kembali kepada masa-masa penjajahan sains dan teknologi bangsa asing.

Contohnya tidak usah jauh-jauh. Di belahan Barat wilayah geografis
kita, terlihat bagaimana terlihat negara-negara yang saling curiga
dan pecah-belah dengan senag hati mengundang kekuatan asing,
keunggulan negara adikuasa dalam memperagakan mesin perang, untuk
melerai dan medatangkan "perdamaian" di kawasan mereka. Negara-
negara demikian sudah tidak memiliki harga diri dan tidak punya lagi
rasa malu, menggunakan primordialisme mereka yang sempit dan
menggelikan untuk saling bunuh dan saling melenyapkan.

Para pakar sejarah modern bersepakat bahwa keadaan yang kacau-balau
pada suatu wilayah yang tidak bisa diatasi oleh mereka sendiri,
merupakan tanda-tanda zaman bahwa mereka akhirnya akan mengalami
kehancuran dan tenggelamnya imperium mereka masing-masing, yang
menjadi hukum kodrat dari alam semesta.

Contoh sudah terlalu banyak. Bagi suatu bangsa yang ingin 'survive'
dalam era keduapuluh-satu mendatang, tidak ada jalan lain kecuali
berani mengkoreksi diri dan menerima kritik yang paling menyakitkan
sekali pun, untuk tidak dengan mata buta menapak ke masa depan.

Salah satu jalan yang paling mudah ditempuh adalah, meningkatkan
toleransi, mengurangi nafsu beringas, dan mulai mempergunakan
penalaran sehat. Dan dalam hal ini, para pemimpin harus memberikan
suri-tauladan nyata. ***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Jan 1999 jam 11:04:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke