----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Siapakah dia yang menggugat Keislaman saya
dan menganggap diri ini adalah seorang overseas Minang
yang tidak tahu diuntung? yang merusak nama baik suku
dan agamanya sendiri ?

Siapakah yang mewakili orang padang dan menduga
saya adalah padang muslim yang tidak tahu apa apa
tapi berani menelanjangi agamanya  dan etnisnya sendiri?

Harus saya jelaskan, suku, nasionalisme bahkan agama
bagi saya bukanlah merupakan hal yg terpenting. Saya tidak
pernah bangga menjadi orang Minang, tapi juga tidak malu
karena menjadi minang, seperti juga saya tidak merasa
perlu untuk merayakan patrionisme dalam membela negara.
motto " Right or wrong is my country " bagi saya cuma tempelan
kata kata dibuku anak sd yang masih tergila gila  cerita Andersen.
Right is Right,  Wrong ya ewis Wrong.Jangan mencampur adukan
dengan demam kecintaan pada country.

Mengenai agama, saya juga tidak bangga menjadi umat Islam.
Agama cuma masalah keyakinan. Dan jika kita berani jujur
hampir semua dari kita beragama karena mengikuti generasi
lebih tua bernama orang tua. Secara tidak langsung kepercayaan
pada agama itu sendiri bagi kebanyakan dari kita adalah sudah
terdogma,terindokrinasi, sudah di cekoki.Jarang dari kita benar
benar memahami agama sendiri dan mencapai phase keimanan
yang lebih kental dengan pencarian yang terbebas dari tabu tabu
mempertanyakan kebenaran agama sendiri, jarang dari kita berani
menggugat keberadaan Tuhan, mencari sosok Ego besar ini
dalam sebuah pertualangan pikiran, gejolak batin,sebuah penge
jaran yang penuh jebakan filosofis,frustasi,kemudian memutuskan
untuk menjadi temporary atheist sebelum  secara perlahan
menyadari kekeliruan dan berusaha menemukan jalan itu untuk
kembali pada Tuhan.

Menjadi minang perantau seperti saya memang banyak
tuntutan. Menjadi orang Indonesia di Amerika jelas
adalah beban. Dan jelas menjadi muslim di negara yang
mayoritas bukan muslim juga sedikit banyak adalah sebuah
burden bagi foreign beast macam saya ini.

Tidak bisa ditolak bahwa saya terlahir sebagai orang Indonesia
bersuku Minang dan beragama Islam. Dan karena juga suatu
panggilan moral untuk menjaga nama baik predikat yang
tertempel didiri ini, saya selalu berusaha bertingkah laku
baik dimata teman teman asing.

Bukan, bukan hanya atlit Olympic atau Sea Games yang
cuma bisa mengharumkan nama baik bangsa.Para perantau
juga seperti saya dan Edizal juga bisa.Tapi right is right,
dan salah tetap salah.Ketika Tom Reed teman di kantor
bertanya ,
" apakah ada demokrasi di negara anda?"
saya jawab " sama sekali tidak "
" Lalu apakah ada Presiden dan senator disana?"
" Tidak, yang kami punya selama ini cuma diktator dan pelawak ".

Tapi sebagai perantauan Indonesia saya juga punya misi.
Misalnya mengatakan bahwa orang Indonesia itu tidaklah
kejam melainkan bodoh.Yang kejam adalah para pemimpin
dan pengusaha koprupnya. Kesempitan cakrawala berpkir
masyarakat kecil yang gampang dihasut, membuat sebagian
manusia Indonesia menjadi fanatik dan biadab.

Sebagai perantauan Minang, diantara teman satu
tanah air, saya juga berusaha untuk tidak nampak
pelit dan kikir( sebuah perjuangan yang tidak gampang
untuk orang minang ),tidak berusaha menipu teman.Tidak
menggaet pacar atau Istri orang.

Sebagai Muslim, saya selalu berusaha menyebarkan
image bahwa muslim yang sesungguhnya bukanlah
seperti muslim yang didengar kawan dan keluarga
bule saya disini dari televisi dan koran. Saya bilang
Arab tidak identik dengan Islam. Jihad bukanlah
identik dengan teroris timur tengah. Saya tidak
memakan piza yang ada daging babi, saya tidak
pernah bermabukan dalam alkohol,
tetap mencoba berpuasa di tengah tengah pesta.
Dan ini yang terpenting, saya mencoba memberi
nuansa bahwa Islam itu agama yg toleran.

Secara pribadi semua itu predikat itu tidak penting.
Menjadi Indonesia, minang dan Islam tidak berarti apa apa.
Bagi saya diatas segala galanya yang paling esensial
adalah bagaimana menjadi manusia.Upaya penelanjangan saya
pada etnis minang, pada Islam, pada ulama kondang, pada
suku jawa dan etnis inferior lainnya cuma berupa koreksi.
Ketika anda tinggal diluar negeri, ketika mata anda terbuka
bahwa peradaban dan cara hidup serta  cara bernegara
di negara angkat ini ternyata jauh lebih baik dari di negara sendiri,
Anda pasti ingin untuk punya keinginan untuk memberitakan
ini, dan anda pasti mencoba untuk memberitahu kekurangan
apa selama ini yang terjadi di negara sendiri.Inilah yang bernama
koreksi...

Jusfiq dan Edizal saya pikir  juga punya perasaan yang
sama  tentang hal satu ini.

Apa yang telah saya berikan untuk tanah minang?
begitu kata seorang penulis di milis ini?

Memang tidak ada, dan bila pun saya punya sesuatu
untuk diberikan, Jelas saya tidak akan memberikan
cuma pada orang minang.

Sebab hanya orang orang terbelakang saja yang
masih  menggelorakan semangat mendahulukan etnisnya sendiri.

Satu lagi,

Bila anda berhenti melihat orang dari agama, suku
dan semangat nasionalisme, anda akan melihat
manusia sebagai manusia.

Ini  mungkin yang dinamakan Humanisme.
Dan bagi saya inilah yang terpenting....


Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Jan 1999 jam 05:54:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke