---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: George Aditjondro Suara Merdeka, Semarang, Sabtu, 23 Januari 1999: Catatan George Aditjondro dari Filipina (2): PERAN OPOSISI DALAM MENGUAK KEKAYAAN MARCOS SEKARANG, apa yang telah dicapai? Ada lima hal, kata mantan Senator Jovy Salonga kepada penylis di kantornya di Quezon City, 15 Desember lalu. Pertama, hanya enam bulan sesudah Revolusi EDSA yang menggulingkan Marcos, pengadilan di New Jersey, AS, telah meluluskan tuntutan Pemerintah Filipina untuk membekukan satu rekening bank dan dua bangunan yang dibeli oleh kroni-kroni mantan presiden itu di negara bagian tersebut. Sehingga ketika Presiden Cory Aquino berkunjung ke AS tanggal 22 September 1986, ia diserahi uang sejumlah 1,5 juta dollar hasil penjualan gedung-gedung itu serta rekening bank yang dibekukan. Walaupun jumlah itu tidak banyak, "ini merupakan kasus pertama dalam sejarah AS sepanjang lebih dari 200 tahun, bahwa negara asal seorang diktator yang telah digulingkan dapat menerima kembali sebagian harta yang dijarah dari negeri itu," kata Salonga. Kedua, di Negara Bagian Texas, seorang ahli hukum terkenal, Profesor Michael Tigar, dibantu satu kantor pengacara yang semuanya bekerja secara cuma-cuma, berhasil menggugat keluarga Marcos dan seorang kroninya, Jose Yao Campo, dengan menggunakan undang-undang antiorganisasi korup AS, atau RICO (Racketeer-Influenced Corrupt Organizations Act). Perkara itu, yang diajukan ke suatu pengadilan distrik, berhasil memaksa keluarga Marcos dan kroninya menyerahkan uang sebanyak 250 juta peso, 197 sertifikat tanah di berbagai daerah di Filipina, serta sertifikat saham di 27 perusahaan kepada Komisi Kepresidenan untuk Pemerintahan Bersih (PCGG). Kompromi yang meliputi harta senilai beberapa milyar peso itu disetujui oleh Presiden Aquino di bulan Mei 1986, hanya dua bulan setelah terbentuknya Komisi Kepresidenan itu. Mahkamah Agung Filipina, selanjutnya mengesahkan keputusan Presiden itu. Ketiga, sebagai akibat kedua kemenangan yuridis itu, salah seorang kroni Marcos yang bernama Antonio Floirendo yang digugat di pengadilan di New York, juga bersedia "berdamai" dengan PCGG dengan menyerahkan kembali uang sebesar 70 juta peso serta sertifikat sejumlah properti di Long Island dan Manhattan di negara bagian New York serta Makiki Heights di Honolulu, Hawaii. Semua harta rakyat Filipina yang dijarah kroni Marcos yang satu ini, bernilai hampir satu milyar peso. Kompromi antara Floirendo dan PCGG menjelang bulan Maret 1987 ini, disahkan oleh Sandiganbayan, semacam PTUN-nya Filipina. Keempat, di Los Angeles, California, seorang pengacara Amerika keturunan Filipina, Jose Lauchengco, memberikan bantuan cuma-cuma pada PCGG untuk memperoleh suatu perintah pembekuan sementara (TRO = temporary restraining order) bagi deposito Imelda Marcos sejumlah satu juta dollar AS di Lloyd's Bank of California. Jumlah itu tidaklah terlalu banyak, menurut ukuran keserakahan keluarga Marcos, sehingga diduga Imelda hanya 'lupa' menutupi jejaknya untuk deposito itu. Kelima, deposito Ferdinand dan Imelda Marcos -- dengan memakai nama samaran -- sebesar 475 juta dollar AS, atau lebih dari 10 milyar peso waktu itu, dibekukan, atas permintaan pemerintah Filipina. Sebagaimana ditulis oleh majalah The Economist di London, tanggal 17 April 1993: "Dibandingkan dengan lebih dari selusin pemerintah yang telah mencoba memperoleh kembali kekayaan rakyatnya yang dijarah oleh para bekas diktatornya, baru Filipina-lah -- tujuh tahun setelah jatuhnya Presiden Marcos -- yang berhasil memperoleh kembali satu jumlah yang cukup berarti." Peran Oposisi ------------- Ini membawa kita ke pertanyaan kedua: bagaimana hal itu bisa tercapai? Jawabannya tidak hanya terletak pada sifat dan aktivitas pemerintahan Cory Aquino, tapi juga pada sifat dan aktivitias oposisi di Filipina di masa pemerintahan Marcos. Boleh dikata, oposisi Filipina jauh lebih serius dalam menggali dan menyebarkan informasi tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme Ferdinand Marcos dan isterinya, ketimbang oposisi Indonesia dalam usahanya yang serupa. Bulan September 1979, tujuh tahun sebelum Marcos digulingkan, sudah beredar suatu pamflet setebal 40 halaman tentang kekayaan keluarga Marcos yang diperoleh dengan melanggar hukum. Pamflet berjudul "Some are smarter than others" (Sejumlah orang lebih pintar ketimbang orang-orang lain) digandakan sebanyak 2000 eksemplar dengan menggunakan mesin stensil bekas dan dengan kertas sumbangan di rumah Renato Tanada, seorang simpatisan KASAPI (Kapulungan ng mga Sandfigan ng Pilipinas). Para relawan anggota Kasapi tidak dibolehkan ke luar dari rumah itu, sebelum seluruh pekerjaan menstensil dan menjilid pamflet itu selesai. Judul pamflet itu diambil dari kata-kata Imelda Marcos yang populer waktu itu, sebagai dalih terhadap kritik oposisi, mengapa sejumlah anggota keluarga Ferdinand dan Imelda Marcos, tiba-tiba begitu cepat menjadi kaya. Untuk mengalihkan perhatian rezim Marcos, yang waktu itu sudah menerapkan hukum darurat perang di Filipina, terhadap kedua orang penyusun pamflet itu, penerbit pamflet itu mencantumkan nama sebuah perusahaan sebagai penerbitnya. Juga sengaja diberikan pengantar penerbit, seolah-olah maksud penerbitan pamflet itu adalah untuk memberikan informasi tentang saingan bisnisnya. Dengan demikian diharapkan rezim Marcos akan menyangka bahwa penerbitnya memang sebuah perusahaan dengan motif bisnis, bukan suatu kelompok politik bawah tanah. Dari 2000 kopi stensilan, pamflet itu selanjutnya diperbanyak secara informal oleh ratusan kelompok lain, sehingga dalam beberapa minggu saja, pamflet itu sudah beredar di seluruh kota Manila. Selanjutnya, koran-koran terkemuka di Asia, AS, dan Eropa mulai mengutip pamflet itu -- yang mendapat julukan, 'The Octopus' (Gurita) -- dalam berbagai artikel mereka. Sampai-sampai Ninoy Aquino, dari penjara militer di Fort Bonifacio, menjuluki pamflet itu sebagai "dokumen paling eksplosif yang pernah menggoncangkan kota Manila". Menghadapi meluapnya minat rakyat Filipina untuk mengungkapkan kerakusan oligarki Marcos dan segelintir keluarga kroninya, penulis utama pamflet itu, Ricardo Manapat sepakat untuk menerbitkan edisi kedua. Pekerjaan itu, yang semula diduga hanya akan makan waktu dua minggu, akhirnya molor menjadi 11 tahun. Bertahun-tahun lamanya ia terus mengumpulkan data sambil mempertajam analisisnya terhadap sejarah terbentuknya sistem oligarki di Filipina, dan sesudah Marcos jatuh, ia terus mengikuti dari dekat usaha perebutan kembali harta jarahan Marcos. Tahun 1991, pamflet setebal 40 halaman itu sudah membengkak menjadi buku setebal 617 halaman, dengan judul yang disempurnakan menjadi "Some are smarter than others: the history of Marcos crony capitalism" (Ada yang lebih pintar ketimbang orang-orang lain: sejarah kapitalisme kroni Marcos). Buku terbitan Aletheia Publications (New York) itu kini beredar secara bebas di Filipina. Mengapa diterbitkan di AS? Untuk itu kita juga memahami, bahwa para oposan terhadap Marcos yang mengungsi ke AS, juga tidak tinggal diam selama masa kediktatoran Marcos. Ratusan pembangkang yang tinggal di AS, berusaha membangun jaringan dengan kelompok-kelompok hak asasi manusia di sana, serta dengan para wartawan. Walhasil, berita-berita tentang kekayaan keluarga dan para kroni Marcos di AS, mulai mencuat ke permukaan di tahun-tahun terakhir kekuasaan Marcos, dan sering menghantui Imelda Marcos dalam kunjungan-kunjungannya untuk berbelanja sambil melobi para wakil rakyat AS agar tetap mendukung suaminya. Bukan koran-koran besar seperti New York Times atau Washington Post yang mulai memunculkan berita-berita tentang "kekayaan tersembunyi" (hidden wealth) keluarga dan para kroni Marcos di AS, melainkan koran-koran lokal, seperti 'Village Voice' di New York, yang di tahun 1985 mengejutkan para pembacanya dengan berita-berita bagaimana Imelda Marcos memborong gedung-gedung apartemen mahal di Manhattan. Juga San Jose Mercury News di California, yang di tahun yang sama mulai membeberkan berita-berita tentang pembelian kondominium mahal di Beverly Hills, Los Angeles, serta properti yang lain oleh keluarga terkaya dari Filipina itu. Pelesetan politik ----------------- Kliping koran-koran AS yang mengungkapkan kerakusan keluarga dan para kroni Marcos itu, mulai merembes kembali ke Filipina. Lewat jaringan pers alternatif para pembangkang, pengaruh informasi ini bersimbiose dengan pengaruh pamflet Ricardo Manapat, yang waktu itu belum muncul ke permukaan. Sehingga menjelang kejatuhan Marcos tahun 1986, yang ikut terpicu oleh pembunuhan lawan politiknya, Ninoy Aquino, citra rezim Marcos yang cukup merata adalah bahwa rezim itu korup, super kaya, dan sangat serakah. Plesetan politik yang populer waktu itu adalah bahwa hobi Imelda Marcos adalah "mining". Bukan "mining" dalam arti "pertambangan", tapi kebiasaannya untuk di mana-mana menjarah apa yang menarik perhatiannya, dari apartemen mahal di Manhattan, intan berlian, ataupun piano klasik, dengan kata-kata "this is mine, this is mine, this is mine" (ini kepunyaanku, ini kepunyaanku, ini kepunyaanku). Suatu plesetan politik, yang juga dapat diterapkan terhadap keluarga Cendana di Indonesia. Walhasil, ketika Corazon Aquino terpilih dengan suara mayoritas dalam pemilu kilat yang diselenggarakan oleh Marcos di awal Februari 1986, pemberantasan korupsi oleh Marcos yang memperkaya keluarga dan para kroninya mencuat menjadi agenda utama bagi rezim yang muncul setelah Revolusi EDSA tanggal 21-22 Februari 1986 itu. Pemilihan agenda pemberantasan KKN Marcos itu, tidaklah otomatis atau kebetulan, sebab ada dua agenda lain yang juga sangat menonjol, yaitu: reformasi agraria, dan penutupan pangkalan-pangkalan militer AS di Clark dan Subic. Bertentangan dengan janji-janji politiknya ketika mulai memangku jabatan sebagai presiden, Ferdinand Marcos tidak pernah sungguh-sungguh mematahkan dominasi para tuan tanah lama warisan Spanyol dan AS di Filipina, bahkan menciptakan lapis kedua tuan tanah baru. Tentu saja, lapis kedua itu kebanyakan berasal dari keluarga Ferdinand Marcos yang berasal dari propinsi Ilocos Norte, serta keluarga besar Imelda Romualdez yang berasal dari Leyte, disertai sejumlah kroni mereka, seperti si raja tembakau, Lucio Tan, serta Danding Cojuangco, yang notabene masih sepupu Cory Aquino. Itu sebabnya, untuk menarik simpati dari golongan kiri di Filipina, terutama CPP (Partai Komunis Filipina) dan gerakan bersenjatanya (NPA) yang berbasis di pedesaan, Cory Aquino menjanjikan akan segera membagi tanah-tanah luas yang dikuasai oleh para tuan tanah guntai (absentee landlord). Dengan janji land reform itu Aquino berharap dapat memikat para gerilyawan NPA untuk ke luar dari hutan-hutan di seantero kepulauan itu, meletakkan senjata, dan bergerak sebagai partai politik yang normal dan dengan demikian menghemat anggaran belanja Filipina yang selama masa pemerintahan Marcos banyak tersedot oleh perang untuk menumpas gerilyawan NPA di Utara serta Bangsa Moro di Selatan. Selain itu, untuk memuaskan nasionalisme orang-orang Filipina yang menolak kehadiran pangkalan Angkatan Laut AS di Subic dan Angkatan Udara AS di Clark, Aquino berjanji akan melakukan perundingan dengan AS untuk menutup kedua pangkalan itu. Penutupan kedua pangkalan itu baru terjadi, setelah letusan Gunung Pinatubo tahun 1991 menghancurleburkan pangkalan Clark. Namun kedua agenda yang terakhir ini -- reformasi agraria serta penutupan pangkalan AS -- mendapat banyak tentangan dari golongan kanan, khususnya kaum pengusaha kecil dan menengah, yang merupakan basis kemenangan Laban, partai politik Cory Aquino dalam pemilu kilat 1986 (CPP dengan seluruh organisasi mantelnya yang tergabung dalam National Democratic Front, memboikot pemilu itu). Soalnya, kelas menengah yang menguasai kawasan Makati itu, juga tidak senang pada kapitalisme kroni Marcos, yang hanya menguntungkan keluarga besar Marcos serta segelintir konglomerat lain. Dalam hal ini, ada persamaan antara semangat anti-KKN Marcos di kalangan Laban dengan semangat anti-KKN Suharto di kalangan PDI Megawati. Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa Keppres pertama yang dikeluarkan oleh Cory Aquino, hanya dua hari setelah kemenangan Revolusi EDSA, adalah pembentukan komisi anti-KKN Marcos, yang bernama keren, PCGG (Presidential Commission for Good Government). (bersambung) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 31 Jan 1999 jam 16:59:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
