---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- ---------- Forwarded message ---------- Date: Sun, 31 Jan 1999 21:49:15 +1100 From: George Aditjondro <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: surat dari Manila (I) Suara Merdeka, Semarang, Jumat, 22 Januari 1999: Catatan George Aditjondro dari Filipina (1): KESERIUSAN MELACAK PENJARAHAN MARCOS BANYAK orang kini semakin skeptis terhadap usaha pemerintah Habibie mengusut kekayaan rakyat Indonesia yang dijarah oleh keluarga Soeharto berikut para kroninya. Berulangkali saya mendengar atau membaca, kasus pengejaran harta Marcos dikemukakan sebagai pembanding. Terakhir misalnya, saya membaca di sebuah harian terbitan Ibukota, 4 Januari lalu, Prof. Dr. Nurcholish Madjid mencontohkan penyidikan terhadap mantan Presiden Filipina itu, yang menurut pendapat dia, "masih sebatas isu, padahal kejadiannya sudah berlangsung belasan tahun". Dalam berbagai wawancara dengan media Indonesia, saya juga kerap ditantang untuk membandingkan usaha pemerintah Indonesia mengembalikan harta rakyat Indonesia yang dijarah oleh keluarga Soeharto dan konco-konconya, dengan usaha serupa dari pemerintah Filipina, sejak zaman Cory Aquino sampai sekarang (Joseph Estrada). Sebagai "anjing pelacak" kekayaan Soeharto, sekaligus dosen matakuliah sosiologi korupsi di Universitas Newcastle, Australia, perbandingan itu tentu saja sangat menarik hati saya. Kesempatan untuk melakukan studi banding itu baru terbuka pertengahan Desember lalu, ketika kawan-kawan saya di Manila mengundang saya untuk berkunjung ke sana. Hampir 20 tahun tidak berkunjung ke sana. Sebelumnya, April 1998, saya mendapat undangan ke sana. Tapi karena paspor saya saat itu sedang dibekukan Konsul Jenderal (Konjen) RI di Sydney, atas perintah langsung dari Jakarta, undangan itu terpaksa saya tolak. Kebetulan, undangan kali ini berkaitan dengan dugaan korupsi kedua mantan presiden itu. Salah seorang bekas kroni Marcos, Eduardo "Danding" Cojuangco, diduga pernah mengambil alih saham mayoritas perusahaan telekom terbesar di Filipina, PLDT (Philippine Long Distance Telephone ), berkat intervensi Marcos, hanya dua bulan sesudah dia menjadi presiden. Intervensi tingkat tinggi untuk mengalihkan saham maskapai Amerika, General Electric, ke Danding Cojuangco dilakukan oleh Marcos untuk mencegah saham PLDT jatuh ke lawan politiknya, Benigno (Ninoy) Aquino, yang waktu itu bersekutu dengan sepupu Danding, Ramon Cojuangco. Salim Group ----------- Pertengahan November lalu, sejumlah saham Danding Cojuangco diambil-alih First Pacific Group. Konglomerat yang berbasis di Hong Kong itu, adalah salah satu "kapal induk" Kelompok Salim di luar negeri, di mana saudara sepupu Soeharto, Sudwikatmono, memiliki saham sebesar 10 persen. Dengan kata lain, kontrol terhadap perusahaan telkom terbesar di Filipina itu, telah beralih dari seorang bekas kroni Marcos ke keluarga Soeharto serta kroni terkayanya, Liem Sioe Liong. Atau tepatnya, Anthony Salim, sang putera mahkota kelompok Salim, yang dikenal di Manila sangat dekat dengan direktur utama kelompok First Pacific, Manuel Pangilinan. Keduanya masih bujangan, dan sering berjumpa di Hong Kong untuk urusan dinas maupun pribadi. Pembelian saham menentukan (controlling shares ) PLDT itu membuka mata berbagai kelompok progresif di Filipina, tentang betapa dalamnya sudah penetrasi perusahaan-perusahaan milik keluarga Soeharto ke dalam ekonomi nasional Filipina. Dengan jatuhnya PLDT ke dalam kekuasaan kelompok First Pacific, praktis keluarga Suharto menguasai berbagai bisnis pertelekomunikasian di negara itu, mulai dari pengelolaan telepon seluler (ponsel) satelit komunikasi. Sebab anak perusahaan First Pacific di Manila yang bernama Metro Pacific, juga memiliki perusahaan ponsel terbesar di negeri itu, Smart Communications. Kemudian satelit komunikasi Filipina, Mabuhay I, yang baru diluncurkan dari Cina pada Agustus 1998, 51% sahamnya milik PLDT. Sedangkan sisa sahamnya dibagi rata antara lima perusahaan Filipina, satu BUMN Cina, dan PT Pasifik Satelit Nusantara. Perusahaan ini, sebagaimana kita ketahui, adalah usaha patungan Bimantara dengan Perum Telkom dan raksasa telekomunikasi AS, Hughes Space and Communications Inc. Jadi, baik Anthony Salim, boss First Pacific, maupun Adi Rahman Adiwoso, boss PT Pasifik Satelit Nusantara, dapat ikut menentukan jatuh -bangunnya bisnis telekomunikasi di Filipina. Dari sana PLDT juga telah memperlebar sayapnya ke kawasan Asia Pasifik. Sebab PLDT dan Pasifik Satelit Nusantara juga menjadi pemegang saham Asia Cellular Satelite (ACes), bersama perusahaan telekomunikasi Muangthai, Jasmine International Overseas Company, serta raksasa telekomunikasi AS yang lain, Lockheed Martin. Dengan berbasis di Pulau Batam, ACeS punya rencana meluncurkan dan mengelola satu satelit komunikasi yang lain, Garuda-1, yang bakal melayani 600 ribu sambungan telepon seluler yang tersebar dari India sampai ke Pasifik. Sedangkan PLDT juga terlibat dalam komunikasi kabel laut sepanjang 3600 Km dari Propinsi Batangas di Luzon Selatan sampai ke Pulau Guam, itu jajahan AS di Samudera Pasifik -- terus ke Taiwan. Jaringan luas ------------- Dengan luasnya jaringan telekomunikasi yang kini ikut dikontrol oleh keluarga Cendana di Filipina, setiap kali orang menekan tombol telepon di negeri itu, baik untuk sambungan lokal maupun jarak jauh, mereka pun ikut meluncurkan sejumlah peso ke kas pribadi keluarga Cendana. Itu baru keterlibatan perusahaan keluarga Cendana di bidang telekomunikasi. Sebab, First Pacific juga mewakili ekspansi kelompok Salim dalam berbagai bidang lain, mulai dari bisnisnya yang juga paling populer di Indonesia, yakni mi siap hidang, hingga properti bidang properti, berupa pengalihfungsian satu instalasi militer warisan Spanyol, Fort Bonifacio. Proyek properti seluas 214 hektar di jantung Makati, kawasan perdagangan Manila, yang akan mengubah bekas benteng Spanyol itu menjadi "global city" senilai 10 milyar dollar AS, juga sudah memperlebar sayapnya ke selatan. Fort Bonifacio Development Corporation, yang dipimpin oleh seorang manajer First Pacific asal Filipina, Ricardo S. Pascua, juga terlibat dalam pembangunan kawasan pertokoan berlantai 16 di kota Davao, Mindanao. Itu hanya satu contoh kecil bagaimana bisnis keluarga Cendana ikut memetik hasil dari perdamaian antara Manila dan gerilyawan Bangsa Moro pimpinan Nur Misuari, bekas dosen ilmu politik di Universitas Filipina. Sementara itu, Chempil Corporation, anak perusahaan First Pacific, juga sedang membangun satu pusat olefin raksasa di bekas pangkalan Angkatan Udara AS di Subic. Pabrik bahan baku plastik bernilai 450 juta dollar itu merupakan usaha patungan dengan Petrochemicals Corporation (Filipina), BP Chemicals (Inggris), Fister Wheeer (AS) serta Itochu dan Sumitomo dari Jepang, dijadualkan mulai berproduksi sebelum tahun 2000, sebanyak 500 ribu ton etilena setahun. Lalu, Group Citra yang dipimpin oleh Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) menguasai 55% saham dalam Metro-Manila Skyway, proyek jalan layang sepanjang 27 Km dari Manila ke Utara, yang bakal menelan biaya sebesar 514 juta dollar AS. Bertepatan dengan hari kedatangan saya, Presiden Joseph Estrada meresmikan tahap pertama jalan layang itu sepanjang 4,7 Km. Dia menyetir sendiri sebuah jeepney, kendaraan khas Filipina. Satu-satunya penumpangnya adalah mantan Presiden Fidel Ramos, yang menandatangani perjanjian built, operate, transfer (BOT) proyek jalan layang itu bersama Tutut, empat tahun sebelumnya. Belum lagi keterlibatan Bambang Trihatmodjo di luar bidang satelit komunikasi. Lewat PT Elnusa, usaha patungan antara Pertamina dan PT Tridaya Esta (milik Bambang Trihatmodjo dan Indra Bambang Utoyo), pengusaha muda dari Cendana itu juga ikut memiliki kilang penyulingan minyak di Pulau Nonoc, selatan kota Manila. Investasi bernilai 2,2 milyar dollar AS itu akan menghasilkan 120 ribu barrel BBM sehari. Dengan demikian, setiap pengendara mobil di kota Manila yang bakal lalu -lalang di Jalan Layang Metro-Manila, untuk menghindari kemacetan lalulintas kotaraya itu yang sudah melebihi kemacetan lalulintas di Jakarta, seumur kontrak BOT itu akan menambah kekayaan Tutut dan Bambang. Ulangi Dominasi --------------- Di sisi lain, kilang BBM di Nonoc itu dengan mudah akan berintegrasi dengan pusat olefina First Pacific di Teluk Subic, sehingga keluarga Cendana dapat mengulangi sejarah dominasinya terhadap industri petrokimia dari hulu sampai ke hilir seperti di Indonesia. Secara tidak langsung, Bambang juga punya saham dalam APIL (Asia Pacific Infrastructure Ltd.). Perusahaan multinasional bermodal Singapura, Filipina, dan Australia itu sedang terlibat dalam pembangunan instalasi air minum raksasa di kota Cebu, dengan mengalirkan air tawar dari Pulau Bohol lewat pipa ke kota terbesar kedua di Filipina itu. Bersama kroninya, Johannes Kotjo, Bambang punya saham dalam APIL melalui perusahaan Van der Horst yang berbasis di Singapura. Maskapai multinasional ini juga terlibat dalam pembangunan pembangkit listrik untuk pabrik tekstil PT APAC yang diambil alih duet Bambang Trihatmodjo-Johannes Kotjo dari Robby Tjahjadi, setelah pengusaha avonturir asal Solo itu tidak dapat melunasi hutangnya ke pemerintah. Karena dua tahun lalu saya sudah menulis laporan di media cetak Filipina tentang invasi modal perusahaan keluarga Cendana ke negeri itu, kawan-kawan dari gerakan Demokrasi Kerakyatan (Popular Democracy) di Manila mengundang saya untuk membeberkan kepentingan bisnis Cendana di sana. Kedatangan saya, 10 Desember lalu, didahului dengan wawancara di halaman depan koran terbesar di sana, Philippine Daily Inquirer, Minggu dan Senin sebelumnya. Maka berbagai wawancara dengan media elektronik dan cetak sudah disiapkan. Begitu pula pertemuan dengan kelompok bisnis, anggota parlemen, kalangan cendekiawan, dan tentu saja, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universitas Filipina, Universitas Ateneo, dan Universitas Santo Thomas. Untunglah, saat itu menjelang Natal, manakala banyak orang sibuk berbelanja dan para pegawai sudah mulai berpesta di kantor, sehingga jumlah kencan yang harus saya ikuti agak dibatasi. Dengan demikian, kepentingan saya untuk meneliti usaha orang Filipina untuk mengusut dan mengembalikan kekayaan rakyat mereka yang dijarah keluarga dan kroni Marcos, masih dapat saya lakukan pula. Saya berhasil mengumpulkan sejumlah literatur tentang usaha itu, serta mewawancarai Ketua I Komisi Kepresidenan untuk Pemerintahan Bersih (Presidential Commission for Good Government), yakni bekas Senator Jovito (Jovy) Salonga. Dari literatur dan wawancara itu, ada dua hal yang dapat saya simpulkan. Pertama, gambaran yang diberikan pers di Indonesia tentang apa yang telah dicapai dalam usaha perebutan kembali harta rakyat Filipina yang dijarah mendiang Marcos dan kliknya terlalu pesimistis. Kedua, apa yang telah dicapai merupakan sinerji antara tekad pemerintahan Filipina pasca-Marcos dan rintisan gerakan oposisi di saat Marcos masih berkuasa. Kesimpulan kedua itu, sangat membedakan kasus Filipina itu dari kasus Indonesia. Hasil itu dicapai berkat kesigapan presiden terpilih Cory Aquino untuk membentuk Komisi Kepresidenan untuk Pemerintahan Bersih (PCGG, atau Presidential Commission for Good Government), sebagai keputusannya yang pertama pada tanggal 28 Februari 1986, atau dua hari setelah Marcos digulingkan. (bersambung) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 31 Jan 1999 jam 17:01:30 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
