---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk MINGGU MALAM KOTA DILI SUNYI DILI (MateBEAN, 19/4/99), Setelah 3 hari berturut-turut jadi panggung pembantaian kelompok paramiliter sokongan ABRI, kota Dili minggu malam (18/04) terlihat sepi. Sepanjang malam tak lagi ada konvoi truk militer yang dipenuhi tentara berkeliling kota sambil menyorotkan lampu senter ke setiap rumah penduduk, seperti malam-malam sebelumnya. Demikian sumber MateBEAN melaporkan dari Dili melalui telepon. Situasi sepi kota Dili ini, sedikit memberi kelegaan bagi masyarakat di sekitarnya untuk melakukan aktivitas rumahtangga, seperti keluar kamar untuk mandi, masak dan duduk-duduk di serambi. "Untuk sementara ini, kami agak lega. Dan semalam kami bisa tidur nyenyak sedikit meski masih ada rasa was-was," demikian sumber MateBEAN di Dili. Kelegaan tertangkap lewat nada bicaranya yang lantang, tak lagi seperti dua hari yang lalu yang terbata-bata dan pelan. Perasaan waswas ini juga dialami salah satu penduduk kota Dili yang dihubungi MateBEAN. "Kami masih kuatir akan ada serangan baru dari orang-orang pro-integrasi. Karena tersebar isu bahwa, hari ini mereka akan melakukan operasi dari arah barat yaitu daerah Comoro. Konon mereka akan memeriksa setiap rumah penduduk untuk mencari pegawai negeri sipil dan para mahasiswa Timor Timur yang baru pulang dari luar Timor Timur," ujar penduduk Dili Timur yang bekerja sebagai pegawai negeri Pemda Tk. II Dili ini. Narasumber tersebut juga membenarkan bahwa aktivitas tentara dan kelompok paramiliternya hampir tidak ada sama sekali semalam. "Tidak seperti dua malam yang lalu, dimana sepanjang malam mereka terus berkeliling dengan truk truk dan memenuhi setiap jalan kota Dili," tambah Anita de Jesus, pegawai dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tk. II Dili yang belum menerima gaji Maret itu. Ketika ditanya tentang nasib korban yang tewas, Anita menyatakan bahwa hingga kemarin sore, sekitar pukul 15.00 WITA, jenasah para korban masih berada di RS militer Wira Husada. Diantara jenasah ini, terdapat pula jenasah Manulito Carrascalao alias Manuel Junior Carrascalao, putra ketua GRPRTT Manuel Carrascalao. "Jadi saya belum yakin benar apakah mereka sudah dimakamkan atau belum," jelas Anita. Lebih lanjut, Anita menjelaskan bahwa Uskup Diosis Dili, Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo SDB sudah mengunjungi RS Militer Wira Husada untuk melihat korban dan menjengkuk korban yang luka-luka. Setelah menyaksikan keadaan para korban, baik yang meninggal maupun yang luka-luka, Uskup Belo menyatakan bahwa ABRI harus bertanggungjawab atas nasib para korban itu. "ABRI harus mengembalikan jenasah-jenasah ini kepada keluarga para korban untuk dimakamkan sesuai dengan adat orang Timor Timur", tegas Uskup Belo yang sempat menangis dalam upacara misa di kediamannya di Lecidere pada minggu (18/4) itu. Pihak ABRI telah menghimbau kepada semua kepala desa di Dili untuk datang mengidentifikasi korban yang tewas, namun hingga kemarin soreh belum ada seorang kepala desa pun yang hadir. Konon para kepala desa menolak untuk mematuhi instruksi pihak militer. Alasannya selain takut keluar, adalah karena mereka tak mau bertanggungjawab atas kematian orang-orang tersebut. "Kami tidak tidak mau dijadikan kambing hitam dalam hal ini. Nanti keluarganya menduga kami juga terlibat dalam pembunuhan sanak keluarganya," kata salah satu kepala desa seperti ditirukan oleh seorang pekerja kesehatan di Dili. Sementara di kalangan pihak keamanan di Dili, mulai tersebar desas- desys bahwa telah ada sikap saling tuduh antara instansi di Dili. Pihak Polda menyatakan bahwa militer lah yang bertanggungjawab atas semua kejadian di Dili tersebut. Pihak Korem Dili berusaha untuk mencuci tangan dengan melimpahkan tuduhan kepada kelompok paramiliter yang dipimpin oleh Eurico Guterres. Dan Eurico sendiri balik menuduh bahwa ia bukan satu-satunya yang harus bertanggungjawab, tapi semua pejabat pro integrasi yang ada di Dili, antara lain bupati Dili Domingos Coli, Ketua DPRD Tk I Armindo Mariano dan yang lain. Sumber lain mengatakan bahwa, orang-orang Timor Barat yang dibayar militer untuk ambil bagian dalam apel akbar pada Jumat (17/4) lalu di depan kantor gubernur, sebagian besar telah melarikan diri kembali ke tempat asal mereka seperti Atambua, Kefamenanu, Soe dan Kupang. Konon alasan melarikan diri adalah sesudah diketahui bahwa uang yang mereka terima sebagian besar adalah uang kertas palsu yang didrop dari Jakarta. Berita mengenai uang palsu ini kini menjadi salah satu topik hangat di kalangan masyarakat kota Dili.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Apr 1999 jam 18:08:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
