---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PELUNCURAN BUKU THESIS SIAUW TIONG DJIN Para Pembaca ytc, Rabu, 12 Mei l999 pk. ll.00 --13.00 WIB di Aula Perpustakaan Nasional jl. Salemba Raya 28 A Jakarta, penerbit Hasta Mitra telah meluncurkan buku baru, yang merupakan tesis Ph.D Siauw Tiong Djin di Universitas Monash Australia, mengenai biografi ayahnya sendiri, almarhum Siauw Giok Tjhan, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang tak asing lagi, mantan ketua umum Baperki, mantan Menteri, mantan anggota BP KNIP, anggota parlemen RIS, parlemen RI sementara, mantan anggota DPR hasil pemilu l955/anggota Majelis Konstituante, anggota DPRGR/MPR-S, dan anggota DPA S. Jaman Orde baru, selain Baperkinya dibubarkan, beliau juga menjadi tahanan politik selama l2 tahun. Salah satu warisan buah karya Pak Siauw ialah "Universitas Trisakti" yang dulu didirikan oleh Baperki dengan nama Universitas Res Publika. Pak Siauw wafat di Belanda 20 Nopember l98l, beberapa menit sebelum memberikan ceramah di Universitas Leiden. Tesis Ph.D Siauw Tiong Djin ini dibawah bimbingan Prof.Dr Herbert Feith dan Dr barbara Hatley. Peluncurannya l2 Mei kemarin berlangsung meriah, dihadiri oleh banyak kalangan dari generasi lama dan baru yang aktif di bidang politik, dunia akademis maupun sejumlah warganegara keturunan Tionghoa. Selain Hasyim Rachman dari penerbit Hasta Mitra, kemarin berbicara juga DR Karlina Leksono -Supelli, DR Mohammad Sobari dan Drs Ferry Sonneville. Acara dipandu oleh moderator Dra Siti Aripurnami. Copy Perdana Buku Tesis Ph D Siauw Tiong Djin yang berjudul Siauw Giok Tjhan ini telah diserahkan Hasta Mitra kepada Nyonya Siauw Giok Tjhan yang diwakili Nyonya Alm. Oei Tjoe Tat. Dengan terbitnya buku Siauw Giok Tjhan memasuki perpustakaan dan pasar buku, maka jelas akan memperkaya khazanah pengetahuan sejarah modern Indonesia, termasuk peranan kalangan keturunan Tionghoa dalam perjuangan nasional Bangsa Indonesia, terutama dalam Nation and Character Building. Almarhum pak Siauw - diakui oleh para oembicara - sebagai patriot sejati Indonesia yang akrab dengan banyak kalangan, serta telah meninggalkan KONSEP INTEGRASI, dalam pembangunan Nasion Indonesia. Dibawah ini, kami muat pidato pengantar Siauw Tiong Djin. Sedang pidato para pembicara lainnya akan kami usahakan menyusul. Sumbangsih Siauw Giok Tjhan Dalam Nation Building, Politik dan Pendidikan Saya gembira berada di sini. Gembira karena penuturan riwayat seorang yang saya cintai, kagumi dan banggakan, akhirnya bisa diwujudkan dalam sebuah buku. Gembira karena adanya animo untuk mengetahui riwayat seorang pejuang yang pernah dibungkam selama 12 tahun (1965 sampai 1978) dan yang namanya telah dicemarkan oleh rejim Orde Baru. Gembira juga karena buku ini dilahirkan pada waktu rakyat Indonesia sedang memperingati tragedi Mei yang telah merusak martabat RI di mata dunia. Waktunya juga tepat karena yang dituturkan di dalam buku ini sangat erat berkaitan dengan proses nation building, proses membangun masyarakat yang ber Bhineka Tunggal Ika, suatu masalah yang kini perlu dibahas dan dipikirkan oleh setiap pejuang reformasi. Siapakah Siauw Giok Tjhan? Oleh pemerintah Orde baru dan para pendukungnya, Siauw dan Baperki-nya telah di-komuniskan. Rumusan-rumusan politik dan ekonomi Siauw pun di-Komuniskan sedemikian rupa sehingga pengacuan terhadapnya selama 32 tahun terakhir ini menimbulkan stigma berat. Oleh sementara musuh politiknya, Siauw dianggap berdosa karena kebijakan politiknya telah membawa beratus-ribu WNI Tionghoa, yang merupakan massa Baperki – Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, Organisasi yang Siauw pimpin, ke dalam kancah politik yang menimbulkan malapetaka. Kesemuanya ini disebarluaskan dan ditanamkan di benak generasi muda yang tumbuh di dalam zaman orde baru, tanpa penuturan sejarah yang objektif. Buku yang diluncurkan hari ini memberi perspektif lain. Perspektif yang didasari oleh data-data sejarah, pidato-pidato Siauw Giok Tjhan, dokumen-dokumen Baperki, wawancara dengan banyak aktivis dari berbagai aliran politik dan bahan-bahan dari para nara sumber lainnya. Penelitian ini membuktikan bahwa Siauw dan Baperki tidak menggunakan komunisme dalam merumuskan penyelesaian masalah minoritas. Bahwa Siauw mendukung program politik Bung Karno di zaman Demokrasi terpimpin, yaitu memperjuangkan perwujudan masyarakat sosialisme, tidak berarti bahwa Siauw dan Baperki berada di bawah naungan PKI. Presiden pertama kita, Bung Karno pernah menyatakan bahwa kepatriotan seseorang tidak bisa dikaitkan dengan keturunannya. Bilamana ia mencintai Indonesia, bilamana ia setia dengan jiwa proklamasi 45 dan bilamana ia mendedikasikan dirinya untuk mewujudkan sosialisme ala Indonesia, ia adalah patriot sejati Indonesia. Demikianlah ujar Bung Karno. Berdasarkan definisi ini, saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa Siauw Giok Tjhan adalah seorang patriot Indonesia yang sejati, walaupun ia adalah seorang peranakan Tionghoa. Kecintaan Siauw terhadap Indonesia, yang selalu ia anggap sebagai tanah airnya ini, tercermin di dalam tindak tanduk hidupnya yang dipenuhi dengan kegiatan politik. Demikian penuh hidupnya dengan kegiatan politik, sehingga waktu untuk keluarganya dan urusan pribadinya merupakan bagian terkecil dari kehidupan sehari-harinya. Perjuangan politik Siauw memang banyak berkisar pada pembelaan atau perlindungan terhadap golongan Tionghoa. Ini wajar, karena memang ia duduk di badan-badan legislatif dan eksekutif sebagai wakil golongan minoritas Tionghoa. Dalam batas-batas tertentu, Siauw memang bisa dicatat sebagai salah satu wakil golongan Tionghoa yang paling efektif dalam menghayati dan membela kepentingan golongannya di dalam sejarah Indonesia (Siauw menjadi anggota parlemen selama hampir 20 tahun). Akan tetapi perjuangan Siauw dalam melawan diskriminasi rasial dan mencapai persamaan hak setiap suku bangsa Indonesia, senantiasa didasari oleh usaha menciptakan perbaikan taraf hidup rakyat Indonesia secara keseluruhan. Siauw selalu menganggap penyelesaian masalah minoritas sebagai bagian dari proses menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Program politik inilah yang membuat Siauw seorang tokoh peranakan Tionghoa yang memiliki visi nasional; dan sekaligus membuatnya seorang politikus yang di dalam zamannya, diterima dan dihormati oleh banyak tokoh nasional lainnya. Berdirinya Baperki pada tahun 1954 dan dipilihnya Siauw sebagai ketua umumnya membuat Siauw seorang wakil sekaligus pemimpin golongan Tionghoa yang paling berhasil di dalam sejarah politik golongan Tionghoa di Indonesia. Keberhasilannya ini berlandaskan atas karakter kepemimpinannya. Siauw memiliki keteguhan, kesungguhan, dedikasi dan keuletan dalam melaksanakan program-program politiknya. Buku ini menunjukkan bagaimana Siauw tidak pernah patah semangat dan mundur didalam mendesak pemerintah dan para pemimpin partai politik untuk menerima dan mendukung rumusan-rumusan politik dan ekonominya. Siauw memiliki pembawaan yang menyebabkan ia bisa berhubungan baik dan bekerja sama dengan para tokoh politik yang berpengaruh dari berbagai aliran. Walaupun ia tidak pernah menyangkal bahwa ia mendukung paham Marxisme dan mendambakan terciptanya sosialisme ala Indonesia, ia tidak membatasi hubungan baiknya dengan pimpinan PKI. Sebaliknya. Ia justru mampu berhubungan erat dengan banyak tokoh yang tidak bisa dikatakan mendukung paham komunisme, seperti Sartono (PNI), Zainul Arifin (NU), I.J Kasimo (Partai Katolik), Tambunan (Parkindo), Aruji Kartawinata (PSII), Djody Gondokusumo (PRN) dan Mohamad Yamin. Di dalam zaman demokrasi parlementer (1950-1959), Siauw yang tidak berpartai, membentuk dan memimpin Fraksi Nasional Progresif yang beranggotakan partai-partai nasionalis kecil, termasuk Murba, SKI, PIR, Permai dan PRN. Keberhasilannya dalam bidang kewarganegaraan dan dalam melawan kebijakan ekonomi yang didasari atas diskriminasi rasial terhadap golongan Tionghoa, disebabkan oleh kemahirannya dalam memobilisasi dukungan berbagai tokoh politik dari berbagai aliran di dalam parlemen. Kepemimpinan Siauw mencerminkan nilai-nilai demokratis. Ia mempunyai kemampuan untuk menerima pandangan-pandangan yang berbeda dengan pandangannya sendiri; Ia cenderung mencapai kesepakatan pendapat melalui proses demokratis, walaupun memakan waktu; dan perbedaan pendapat tidak pernah dijadikan alasan untuk permusuhan pribadi. Inilah yang menyebabkan ia dikenal sebagai seorang politikus yang tidak memiliki musuh pribadi. Kejujuran dan kesederhanaanya merupakan salah satu aset kepemimpinan yang dihargai oleh pendukung maupun musuh politiknya. Dalam sejarah Baperki, Siauw merupakan pemimpin yang paling efektif dalam menggalang dana untuk semua kegiatan Baperki, terutama di dalam bidang pendidikan. Kepemimpinan Siauw juga mencerminkan latar belakang pendidikan dan pengaruh keluarga semasa kecil dan remaja. Siauw berkembang menjadi tokoh politik yang mampu menghayati aspirasi tiga masyarakat yang memiliki karakter sosial yang berbeda, masyarakat mayoritas Indonesia, masyarakat Tionghoa totok dan masyarakat peranakan Tionghoa. Siauw gamblang dengan pembentukan masyarakat yang memiliki kemakmuran merata. Untuk itu, ia berkeyakinan bahwa program makro ekonomi negara harus tepat. Ia menganjurkan pemerintah menggunakan dan mengembangkan semua modal domestik yang sudah berjalan di Indonesia tanpa mempedulikan latar belakang ras pemiliknya. Yang penting bagi Siauw, keuntungan dari pemutaran kapital domestik itu tetap di Indonesia dan menjamin berkurangnya pengangguran. Dalam hal ini, Siauw mendukung dipertahankannya kapitalisme kelas menengah, yang menurutnya, dibutuhkan untuk membangun ekonomi nasional. (lagi-lagi suatu rumusan yang bertentangan dengan paham komunisme). Siauw menentang dipertahankannya pengontrolan ekonomi oleh perusahaan-perusahaan raksasa asing. Bagi Siauw, mereka menguras habis kekayaan Indonesia dan keuntungan yang diperoleh dari usaha pengurasan itu akhirnya dibawa keluar ke negara-negara pemilik monopoli raksasa asing. Berdasarkan rumusan ini, Siauw dengan gigih menentang kebijakan politik "asli" yang dirancang dan dilaksanakan oleh beberapa menteri ekonomi dan perdagangan pada tahun 50-an. Politik "asli" ini didesain untuk menggantikan para pengusaha Tionghoa yang sudah lama berkecimpung di dalam berbagai bidang dengan pengusaha-pengusaha "asli". Kewarganegaraan dan nation building bagi Siauw adalah masalah politik yang sangat penting dalam memperkokoh posisi suatu negara. Siauw berargumentasi bahwa kewarganegaraan merupakan bagian penting dari UUD dan setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Siauw menginginkan sebanyak mungkin orang keturunan Tionghoa di Indonesia menjadi WNI, karena menurutnya, bagi mereka yang lahir dan dibesarkan di Indonesia, Indonesia adalah tanah airnya. Oleh karena itu, ia dengan gigih memperjuangkan dikeluarkannya UU kewarganegaraan yang menjamin kemungkinan ini. Ironisnya, keberhasilan Siauw dalam membatasi usaha sementara politikus untuk menghambat perkembangan usaha golongan Tionghoa, memperkuat arus dari pihak yang sama untuk mengubah UU kewarganegaraan sehingga sebagian besar penduduk Tionghoa di Indonesia menjadi WN Asing. Kebijakan ekonomi pemerintah di tahun 50-an dibuat sedemikian rupa untuk membatasi ruang lingkup para pengusaha asing – pengusaha Tionghoa yang berkewarganegaraan asing. Karena kegigihan Siauw dan dukungan yang ia peroleh dari banyak anggota parlemen, ia berhasil mendesak parlemen untuk mengesahkan UU Kewarganegaraan pada tahun 1958 yang tidak mengandung unsur yang meng-asing-kan semua penduduk Tionghoa yang lahir di Indonesia. Disamping itu, Siauw-pun berhasil mendesak pemerintah RI dan RRT untuk meratifikasi Perjanjian Penyelesaian Dwi Kewarganegaraan yang menjamin sebagian besar penduduk Tionghoa yang lahir di Indonesia diperlakukan sebagai WNI. Perjuangan Siauw dalam bidang kewarganegaraan merupakan bagian penting dari rumusan nation building yang ia dengan gigih perjuangkan. Siauw sering menyayangkan penggunaan kata "bangsa" untuk perkataan "nation" dan "race". Menurut Siauw ini sering menimbulkan kekacauan dalam pengertian yang menghambat proses nation building – pembentukan nasion Indonesia. Race berkaitan dengan kesatuan kelompok orang berdasarkan faktor biologis. Sedangkan Nation adalah istilah politik yang mendefinisikan satu kelompok manusia yang merupakan kesatuan karena ciri-ciri politik. Siauw dengan konsisten menyatakan bahwa Indonesian race itu tidak pernah ada. Yang ada adalah Indonesian Nation, yang terwujud pada tangal 28 Oktober 1928. Menurutnya, Indonesian nation adalah suatu multi-race nation, suatu nasion yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Dalam konteks ini, Siauw menolak pengertian bahwa di dalam bangsa Indonesia ada kelompok "asli" atau "pribumi". Siauw menentang konsep perwujudan nasion Indonesia yang homogeen – single race nation. Menurutnya, konsep ini bertentangan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang ia anggap dengan akurat mencerminkan nasion Indonesia. Dalam konteks ini, pada akhir tahun 57-an Siauw mencanangkan konsep bahwa golongan Tionghoa di Indonesia, khususnya golongan peranakannya, diakui dan diterima sebagai salah satu suku, yaitu suku Tionghoa. Berkaitan dengan konsep "suku Tionghoa" ini Siauw mempopulerkan rumusan integrasi. Dengan integrasi, Siauw memaksudkan golongan Tionghoa tetap mempertahankan nama, bahasa dan kebudayaannya tetapi bekerja sama dengan suku-suku lainnya membangun nasion Indonesia. Siauw yakin bahwa memiliki nama Indonesia atau agama tertentu, bahkan memiliki bentuk dan ciri "asli" bukanlah ukuran yang bisa digunakan untuk menentukan setia atau tidak setianya seseorang terhadap Indonesia. Yang penting menurut Siauw, adalah adanya kesungguhan dan dedikasi untuk berbakti pada Indonesia. Proses pengintegrasian ini, menurut Siauw mencerminkan situasi di mana suku Tionghoa aktif berpartisipasi dalam segenap kegiatan politik dan sosial Indonesia sehingga aspirasi rakyat Indonesia menjadi aspirasi suku Tionghoa. Siauw menolak konsep asimilasi yang dicanangkan oleh sekelompok tokoh Tionghoa pada awal tahun 1960 dan yang kemudian membentuk LPKB (lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) pada tahun 1963. Kelompok ini menganjurkan proses yang pada akhirnya mewujudkan bangsa Indonesia yang homogeen dan yang bersatu bulat. Bagi mereka, proses ini dimulai dengan menghilangkan ciri-ciri keTionghoaan dengan mengganti nama, melakukan perkawinan campuran, menanggalkan semua adat istiadat Tionghoa dan menghentikan pengelompokan yang bersifat eksklusif. Siauw berargumentasi bahwa walaupun asimilasi yang dianjurkan oleh LPKB bersifat sukarela, akan tetapi bisa berkembang ke suatu proses pemaksaan yang menginginkan penghilangan identitas biologis suatu suku bangsa. Menurut Siauw, ini bukan saja tidak perlu dilakukan tetapi juga tidak boleh dilaksanakan, karena mengandung pelanggaran HAM. Akan tetapi sayangnya perkembangan politik di dalam zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965) menyebabkan perdebatan tentang konsep integrasi-asimilasi ini didasari dan diwarnai oleh perbedaan garis politik. Konsep integrasi Baperki dikaitkan dengan paham kiri, sedangkan konsep asimilasi LPKB, paham kanan. Kedua pihak tidak berhasil berembuk untuk membahas kewajaran kedua konsep yang bisa saling mengsisi. Siauw sendiri selalu menyatakan bahwa ia tidak pernah menentang konsep asimilasi yang didasari oleh kewajaran dan kesukarelaan. Yang ia tentang adalah proses asimilasi yang dipaksakan. Kedekatan Siauw dengan Soekarno di dalam zaman Demokrasi Terpimpin, membawa dirinya dan Baperki ke dalam kubu politik kiri yang didominasi oleh Soekarno dan PKI. Dengan sendirinya, Siauw berhadapan dengan kubu politik kanan yang didominasi oleh Angkatan darat dan Partai-partai Islam. Akan tetapi keberadaan Siauw di dalam kubu ini menyebabkan banyak rumusan politik dan ekonomi yang ia canangkan di dalam zaman demokrasi parlementer, dimasukkan ke dalam banyak pidato penting Soekarno dan beberapa diantaranya masuk di dalam GBHN MPRS. Baperki-pun berkembang menjadi organisasi massa yang efektif dalam mengajak massanya berpolitik. Kesadaran massa-nya, yang sebagian besar terdiri dari golongan Tionghoa tentang politik relatif tinggi. Melalui ratusan sekolah dan universitas Baperki, program politik yang didesain untuk mendorong semua pelajar Indonesia untuk mencintai Indonesia sebagai tanah airnya, disebar luaskan. Pada akhirnya Baperki lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan karena jumlah pelajar yang ditampung oleh Baperki melebihi 100.000 orang (dari sekolah dasar sampai tingkat universitas). Karena kualitas pendidikannya cukup tinggi dan kebijakan pendidikannya didasari atas prinsip pendidikan bukan barang dagangan (banyak pelajar dari keluarga yang tidak berada ditampung), Baperki memperoleh banyak sokongan dana dari para pengusaha Tionghoa. Akan tetapi konsekuensi keberadaan Siauw dan Baperki di dalam kubu kiri itu fatal. Ketika posisi politik berubah pada bulan Oktober 1965, Baperki dan Siauw turut diganyang oleh kekuatan yang didominasi oleh Angkatan Darat, yang pada akhirnya membentuk rejim Orde Baru. Siauw meringkuk di dalam berbagai tahanan selama 12 tahun tanpa proses pengadilan apapun. Ia bebas pada tahun 1978 dan atas bantuan kawan baiknya, Adam Malik bisa mendapatkan izin berobat ke negeri Belanda. Walaupun demikian, ia tetap teguh dengan pendirian politiknya dan setibanya di Eropa, ia aktif dalam berbagai kegiatan politik. Ia meninggal karena serangan jantung beberapa menit sebelum memberi ceramah di Universitas Leiden tentang kegagalan demokrasi Indonesia, pada tangal 20 November 1981. Sampai akhir hayatnya, ia tetap yakin akan ketepatan konsep integrasi dan perlunya Indonesia mewujudkan masyarakat sosialisme yang makmur melalui proses demokratis. Sampai di mana kebijakan politik Siauw bertanggung jawab atas pengalaman pahit yang diderita oleh masyarakat Tionghoa pada umumnya dan para anggota Baperki khususnya setelah peristiwa G-30-S, merupakan pertanyaan yang sukar untuk dijawab. Akan tetapi, pengamatan atas perkembangan politik pada tahun 1965 menunjukkan bahwa perkembangan politik internasional di mana China Containment Policy itu dikembangkan oleh Amerika Serikat memainkan peranan besar. Pengaruh kebijakan Amerika Serikat ini pasti lebih besar dari kebijakan politik Siauw mendukung Soekarno. Gerakan anti Tionghoa yang dilakukan oleh Soeharto jelas tidak terlepas dari dorongan Amerika Serikat, lepas dari ada tidaknya Baperki atau Siauw Giok Tjhan. Kegembiraan yang saya ungkapkan barusan tentunya tidak akan terwujud tanpa adanya dorongan, bimbingan dan bantuan beberapa saudara dan teman dekat. Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu saya- Ny. Tan Gien Hwa, Go Gien Tjwan, Herbert Feith, Barbara Hatley dan Dan Lev yang telah memberi dorongan-dorongan serta bimbingan yang sangat berarti. Saya ucapkan terima kasih kepada semua teman yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran dan berbagai data yang menjadi dasar penuturan sejarah perjuangan Siauw Giok Tjhan. Saya tentunya berhutang budi kepada Pak Oey Hay Djoen yang telah bekerja keras mengkoordinasi semua usaha percetakan, kepada pak Joesoef Ishak yang telah menyunting naskah, kepada ibu Karlina Leksono-Supelli yang telah menyempurnakan naskah akhir dan kepada pak Hasyim Rachman dari Hasta Mitra yang telah menerbitkan buku ini. Ucapan terima kasih khusus saya ucapkan kepada istri saya, Leony Siauw yang senantiasa membantu usaha merampungkan buku ini. Saya ucapkan terima kasih kepada para teman yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini dan tentunya juga kepada ibu Sita Aripurnami, pak Ferry Sonneville, ibu Karlina-Leksono-Supelli, pak Sobary dan ibu Ny. Oei Tjoe Tat atas kesediaannya untuk mengorbankan waktunya untuk hadir dan berbicara di sini. Tadi malam saya berbicara dengan ibu saya, Ny. Tan Gien Hwa. Ia menyatakan menyesal karena berhalangan hadir dan menyampaikan salam hangatnya kepada semua teman yang hadir di sini, khususnya kepada Ny. Oei Tjoe Tat yang mewakilinya di acara ini. Semoga buku ini berguna untuk setiap pejuang reformasi dalam merumuskan dan melaksanakan program mewujudkan nasion Indonesia di dalam era reformasi, nasion yang ber Bhineka Tunggal Ika dan nasion yang menghalau setiap bentuk diskriminasi rasial. Yang perlu adalah menghilangkan cap kanan maupun kiri, tetapi mendalami dan menghayati inti konsep-konsep yang pernah dituangkan dan dipraktekkan. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 May 1999 jam 22:56:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
