----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

BRAVO KOALISI PAN, PDI-PERJUANGAN, DAN PKB !

Oleh: Ki Ageng Mangir

Membaca dari 'detikcom' bahwa telah terjadi
pembicaraan awal akan terjadi koalisi antara PAN,
PDI-Perjuangan, dan PKB adalah langkah yang patut
mendapat dukungan luas agar bisa membendung
kebangkitan kembali para pendukung 'order baru' yang
menginginkan terjadinya 'status quo' demi melindungi
diri mereka, kroni2, maupun keluarga mereka dari
pertanggungan jawab perilaku KKN yang telah
dilakukan selama 32 tahun kekuasaan order baru.

Seperti yang pernah penulis kemukakan dalam tulisan
terdahulu dalam milis 'apakabar' ada kecenderungan
perpecahan para pendukung 'reformasi total' yang
selama ini se-olah-olah memberi kesempatan kepada
penjaga 'status quo' untuk melakukan konsolidasi
menyusun kekuatan kembali untuk 'come-back'.

Terus terang penulis tadinya mulai agak pesimis dengan
kepemimpinan kelompok Ciganjur yang penulis anggap
agak 'telat mikir' melihat kondisi bangsa Indonesia
dengan melakukan manuver2 yang lebih menguntungkan
'orde baru' ataupun para penjaga 'status quo'. Sehingga
pernah mencoba menjagokan kelompok pemimpin
'reformasi' layer 2, seperti Cak Nur, Bintang Pamungkas,
dan Budiman Sujatmiko - yang kenyataannya
pengalaman politik praktis mereka masih sangat
terbatas dan belum mampu menggalang dukungan
rakyat yang lebih luas.

Dengan keinginan para pemimpin PAN, PDI-Perjuangan,
dan PKB untuk menyatukan barisan untuk menghadapi
para pendukung 'status quo' timbul kembali harapan
penulis bahwa arah perubahan bangsa Indonesia menuju
Indonesia Baru yang lebih transparan dan demokratis
menuju titik terang dan akan lebih mudah terlaksana.

Bahwa 'reformasi total' yang dipelopori oleh kalangan
mahasiswa telah berhasil menurunkan Soeharto, tapi
kemudian terasa jalan ditempat karena adanya
kesenjangan atau mungkin juga perbedaan persepsi
baik dari segi cara maupun konsepsi bagaimana
'reformasi total' bisa dilaksanakan antara mahasiswa
dan partai politik yang sebetulnya sama-sama
menghendaki 'reformasi total'. Gerakan moral mahasiwa
adalah hanya suatu 'trigger' yang tetap saja mereka
adalah mahasiswa yang tidak punya pengalaman politik
praktis, justru kaum politisi yang bergabung dalam
partai2 besar yang mendapat basis dukungan rakyat
yang lebih luas harus mampu menterjemahkan 'trigger'
ini menjadi operasional dalam bentuk program partai
yang lebih terarah untuk melaksanakan secara nyata
'reformasi total'. Selama antara gerakan moral yang
dipelopori mahasiwa dan partai politik tidak ada titik
temu, kecil kemungkinan apa yang menjadi kehendak
mahasiwa untuk melaksanakan 'reformasi totral' secara
operational bisa terlaksana.

Menjembati antara gerakan mahasisawa dan partai
politik adalah sangat penting, karena kalau ini tidak
dilaksanakan akan tetap terjadi suatu kondisi
perpecahan antara sesama pendukung 'reformasi total'.
Dan yang mendapat manfaat adalah 'orde baru' dan
para pendukung 'status quo'. Adalah sah-sah saja partai
poiltik seperti PAN,  PDI-Perjuangaan, dan PKB untuk
berkoalisi dengan para mahasiswa untuk menahan laju
'come-back' nya orde baru. Hal ini bukanlah berarti
memanfaatkan mahasiwa untuk keperluan komoditi
politik, penulis melihat justru kalau hal ini terjadi partai
poltik yang berorientasi kearah 'reformasi' bisa
menyelami kehendak para mahasiswa pada khususnya
ataupun generasi muda pada umumnya sehingga
mereka terlibat secara langsung dalam operational
kearah perubahan dalam rangka bekal mereka sebagai
pemimpin masa depan bangsa Indonesia.

Sebagai contoh kenapa gerakan mahasiswa pada tahun
'66 bisa dikatakan gerakan yang berhasil melakukan
perubahan secara nyata (walaupun pada akhirnya jauh
menyeleweng dari tujuan semula yang lebih murni)
karena pada saat itu ABRI dan GOLKAR telah menyerap
idealisme mahasiswa dan melibatkan mereka dalam
gerakan yang menyatu untuk melakukanperubahan.
Seharusnya para pemimpin partai politik pendukung
'reformasi'  seperti halnya PAN, PDI-Perjuangan, dan
PKB bisa belajar dari sana.

Betapa kecewanya para mahasiwa terhadap sikap
kelompok Ciganjur ketika diajak untuk melakukan
pukulan telak tehadap keberadaan 'orde baru' yang korup
yang sebagai akibatnya reformasi yang diinginkan jalan
ditempat. Penulis melihat ini tidak bisa lepas dari politik
mendua para pimpinan partai politik pendukung' reformasi'
terhadap ABRI, yang kenyataannya saat ini sikap ABRI
tidak berubah, tetap anti demokrasi dan pembela 'status
quo' bahkan punya kecenderungan masih berperan
sebagai 'abdi dalem' setianya Jendral Purnawirawan
Soeharto.

Kenyataannya ABRI harus mampu melakukan
konsolidasi kedalam dan mengimbangi tuntutan mitra
rakyat sipil untuk melakukan 'reformasi' dan tidak terpaku
dengan segala hak-haknya istimewa yang dipunyai saat
ini dengan model konsep 'dwifungsi' atau penulis setuju
dengan pendapat salah seorang pengamat politik bahwa
yang terjadi, konsep 'dwifungsi' dalam kenyataannya
selama ini hanyalah 'dwi-posisi' dimana dengan konsep
ini ABRI bisa mendapatkan posisi dimana-mana dalam
pemerintahan baik di legislatif, eksekutif, judikatif, bahkan
juga dalam bidang usaha di BUMN, tapi fungsinya tetap
ABRI yang harus taat dengan atasannya. Bagaimana
mungkin ABRI yang diangkat di DPR/MPR di legislatif
mampu menyuarakan suara rakyat kalau oriententasinya
taat pada hirarki atasan (paling-paling hanya bisa
menyuarakan kepentingan ABRI sendri - dan betapa
'egosentris' nya ABRI yang membanggakan dirinya
sebagai abdi rakyat).

Dengan perkembangan baru saat ini telah terjadi
pergeseran2 dan 'repostioning' kelompok maupun
'informal leader' yang perubahan2 berjalan sangat
cepat dalam peta perpolitikan nasional yang menurut
pendapat penulis adalah sebagai berikut:

1. Apabila koalisi antara PAN, PDI-Perjuangan, dan PKB
secara operational bisa menjadi kenyataan tentunya
akan menjadi kekuatan yang besar yang pada saatnya
akan menempatkan Amin Rais, Gus Dur, dan Megawati
sebagai tokoh nasional (pemimpin yang punya
jangkauan pengaruh secara nasional) yang lebih solid
yang sekaligus sebagai tokoh moral menuju  perubahan
nyata kearah Indonesia Baru yang transparan dan
demokratis..
2. Dengan tidak tegasnya sikap Sri Sultan yang se-olah
-olah masih berada dalam lingkungan tubuh Golkar bisa
mengakibatkan Sri Sultan terpental dari percaturan
tokoh nasional (kalau saya jadi Sri Sultan pada saat ada
indikasi dicalonkan sebagai calon presiden Golkar,
dengan tegas harus menolak). Saat ini sudah terlambat,
dengan memang masa2 lalu merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari Golkar bahkan pada pemilu '97 masih
berkampanye untuk kepentingan Golkar, dan tidak
menunjukkan ketegasannya sebagai bukan bagian dari
kelompok 'status quo' sudah sangat sulit bagi Sri Sultan
saat ini untuk berperan dan dipercayai sebagai tokoh
reformasi (hal ini sangat disayangkan mengingat
kwalitas  'sensitifitasnya' sebagai simbol 'tahta untuk
rakyat' sangat jauh dibandingakan dengan ayahnya Sri
Sultan Hamengkubuwono IX alamarhum yang mampu
berperan secara lebih solid menjadi tokoh nasional pada
zamannya)
3. Kelompok PRD - walaupun partai ini di masa orde
baru telah menunjukkan keaktifannya dalam memerangi
'kezaliman' dari orde baru bersama-sama dengan PDI-
Perjuangan, platform yang dianut yang cenderung
kearah komunisme akan bisa menghambat laju
perkembangannya karena masyarakat akan sangat
berhati-hati jangan sampai ada partai yang akan
menjadikan embrio kembalinya partai komunis. Di
Indonesia secara resmi ajaran komunisme masih
dilarang untuk disebarluaskan. Karena partai ini banyak
dimotori oleh generasi muda yang mungkin cukup
'agresif' dan 'progresif' yang menjadi pertanyaan penulis,
apakah tidak belajar dari sejarah - bahwa partai komunis
telah melakukan pengkhianatan 3X terhadap Republik
Indonesia dengan keinginan mendirikan negara komunis,
keadaan 'trend'  global yang secara nyata2 platform
komunisme telah gagal dijadikan sarana untuk
menyejahterakan rakyat, dan dalam tata ekonomi global
negara2 komunis tidak mampu bersaing dengan
negara2 dengan konsep ekonomi 'pasar bebas' yang
secara politik di-back-up dengan konsep transparansi
dan demoktratisasi. Adalah memang konsep kombinasi
sistim ekonomi 'pasar bebas' dengan sistim politik
'demokrasi' tidak sempurna, tapi saat ini masih sistim
yang terbaik. Kecuali teman2 di  PRD punya suatu
platform alternatif yang bukan komunisme dan bukan
demokrasi Barat?
4. Tentunya kita tetap harus mendorong tumbuhnya
tokoh nasional lainnnya dari kalanmgan generasi muda.
Karena sudah saatnya kita mempunyai 'stock' banyak
pemimpin yang punya kwalitas sebagai pimpinan
ataupun tokoh nasional sehingga tidak tergantung pada
satu pimpinan 'kharimastik' yang memimpin terlalu lama
dan cenderung untuk melakukan sentralisasi kekuasaan.
Saat ini yang penulis amati adalah Cak Nur , Bintang
Pamungkas, tentunya juga Budiman Sujatmiko - asal
tidak mempromosikan ide komunisme yang telah
kedaluwarsa.
5. ABRI harus lebih keras berpikir dan menyesuaikan
dengan perkembangan zaman yang pada 32 tahun ini
telah di-nina bobokkan dengan menunjuk pimpinannya
diangkat menjadi tokoh nasioanal secara formal yang
sangat diragukan mendapat dukungan rakyat yang lebih
luas. Kalau ABRI tidak berhasil melakukan konsolidasi
kedalam, ABRI akan makin jauh dari akar kerakyatannya
dan hanyalah kelompok yang berada 'dimenara gading'
dan akan menjadi sasaran kritik yang tidak akan ada
habisnya yang bisa menjadikan ABRI berperan sebagai
kelompok yang 'destruktif' dalam perkembangan bangsa
Indonesia. Selama ini  tidak banyak pimpinan militer
yang juga bisa diterima sebagai tokoh nasional dalam
kalangan rakyat yang lebih luas. Menurut penulis
sampai saat ini hanyalah: Ali Sadikin.

Mudah2-an optimisme penulis akan terjadinya koalisi
PAN, PDI-Perjuangan, dan PKB bukan harapan yang
terlalu dini untuk disampaikan mengingat tetap ada
perbedaan2 antara partai tersebut. Lupakan
perbedaan2 yang ada, fokuskan pada perjuangan untuk
menghambat laju come-back-nya orde baru. Lupakan
dulu siapa yang akan jadi presiden yang penting
menarik suara se-banyak2-nya dari para pemilih - kalau
tidak bisa menguasai mayoritas dalam DPR/MPR
bagaimana mungkin calon presidennya bisa dipilih?
Menangkan Pemilu '99, bentuklah pemerintah yang
bersih dan berwibawa, yang lebih transparan dan
demokratis, bersihkan Indonesia dari para pencinta
akut KKN. Hal ini tidak akan mungkin terjadi bila Golkar
memenangkan Pemilu '99, segala daya upaya kaum
'reforman' harus diarahkan untuk jangan sampai Golkar
dan para kroni2-nya kembali berkuasa, walaupun untuk
melakukan ini kita tetap harus menjunjung tinggi
prinsip2 demokrasi melalui Pemilu '99 yang harus
diusahakan jujur dan adil dalam arti yang sebenarnya.

Penulis sarankan setelah secara solid PAN, PDI-
Perjuangan dan PKB melakukan koalisi, adakan
pertemuan antara pimpinan partai dengan para pimpinan
mahasiswa yang menghendaki reformasi untuk paling
tidak melakukan dialog, menyamakan persepsi dan
gerak untuk menghambat laju come-backnya 'order baru'.
Lebih baik lagi kalau bisa menarik kelompok petisi 50,
dan Barisan Nasional dalam platfom yang sama2 untuk
menggusur 'order baru' untuk se-lama2-nya.

Mei '99

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 May 1999 jam 05:10:33 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke