---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- From: ramli M Jenderal AH Nasution dan dendam G30S/PKI. Jenderal Nasution dalam siaran persnya Republika 27 April 1999 menyatakan harapannya kepada orang G30S/PKI �untuk tidak melakukan balas dendam, karena akan berbuntut kepada pembalasan lagi dan bangsa Indonesia akan tetap terpuruk serta terpecah belah.... dan kepada komponen bangsa yang mencintai kedamaian agar mewaspadai upaya balas dendam dari mereka dan pemutarbalikan sejarah yang telah dibuktikan oleh pengadilan G-30-S/PKI...� Pernyataan jenderal Nasution dikeluarkan sehubungan dengan adanya koran ibu-kota yang memberitakan bahwa �mereka telah membentuk yayasan korban 1965-1966 untuk melakukan penelitian atas korban peristiwa 1965, bahkan katanya akan menuntut jenderal Suharto.� Marilah kita semua memberikan buah pikiran kita mengenai soal-soal yang dikemukakan jenderal AH Nasution, karena persoalan ini semua menyangkut masa lalu dan terutama sekali masa depan bangsa dan negeri kita dan dari titik tolak bahwa jenderal Nasution bermaksud secara tulus untuk membela dan menyelamatkan bangsa ini. Disini saya ingin memberikan pendapat tentang masalah �dendam�, �pengadilan G-30-S/PKI� dan pertentangan/persengketaan dalam dan luar negeri selama periode 1965-1966. Ketiga masalah ini telah disinggung dalam siaran pers AH Nasution. Soal dendam. Belakangan ini di tanah air kita boleh dikatakan sedang dilanda pembalasan dendam. Aceh, Ambon, Sambas, di Timor-timur, Irja, pembalasan terhadap Golkar dll, yang kesemuanya adalah peledakan dari rasa ketidak adilan yang sudah lama dipaksakan dari pihak yang berkuasa dan yang terpaksa dipendam didalam hati selama sang penguasa diktatoris masih berdominasi dan merajalela. Dipendam karena tidak boleh dikeluarkan, karena kalau diomongkan bisa nyawa melayang atau hilang tanpa bekas. Perlakuan yang tidak adil selalu akan mendatangkan perlawanan, dan kalau tidak bisa sekarang, akan disimpan sebagai dendam (api didalam sekam, kata pepatah kita) dan akan dilampiaskan kemudian bila waktunya telah tiba, jadi sebagai menanam bom waktu. Menanjaknya PKI dizaman Sukarno dan kemenangan-kemenangan yang mereka capai ketika itu, dengan �perjuangan kelas�nya yang berapi-api, disatu pihak menimbulkan rasa puas diri dan optimisme yang berlebih-lebihan bahkan kecongkakan, dan dipihak lain menimbulkan ketakutan, irihati dan sakit hati bagi partai partai politik musuh PKI, terutama dari pihak Islam. Membantai satu juta* manusia bukanlah pekerjaan yang ringan, sekiranya tidak ada orang yang dengan penuh keyakinan, senang hati dan puas sepenuhnya melakukan pekerjaan penyembelihan manusia. Alasan resmi yang mereka pegang hanyalah karena orang PKI ini membunuh 6 jenderal dan satu perwira lainnya (7 orang). Pembantai-pembantai ini sepenuhnya mengerti dan sedar bahwa satu juta orang tidak mungkin membunuh 7 orang. Jadi ada kekuatan lain yang mendorong para pembantai, yaitu dendam dan kebencian mereka yang tengah memuncak dan kekuatan luar sebagai unsur kedua. Perang antara suku bangsa yang terjadi sekarang ini di Indonesia, dimana terjadi juga pembantaian dan penyembelihan manusia, adalah sebagai peledakan bom waktu yang sudah terpendam selama 32 tahun, artinya selama kekuasaan diktatoris jenderal Suharto. Selama 32 tahun itu juga anak-cucu keluarga satu juta orang G30S/PKI yang dibantai, sudah menyimpan luka hatinya. Jenderal AH Nasution meminta komponen bangsa untuk mewaspadai upaya balas dendam G30S/PKI dan kepada G30S/PKI supaya tidak melakukan balas dendam. Sekarang G30S sudah tidak ada. PKI sudah tidak ada. Tetapi manusia yang tertekan dan diperlakukan tidak adil selama 32 tahun masih ada, dan luka hati mereka juga masih ada, dan tidak akan hilang dengan tekanan apapun, walau akan menungggu satu abad lagi pun. Bukankah Suharto sudah berusaha selama 32 tahun lebih untuk menghilangkannya dengan segala macam pembunuhan, segala macam intimidasi dan segala macam penghinaan yang tidak ada taranya di dunia !? Kenapa masih harus �mewaspadai upaya balas dendam � mereka seperti yang dimintakan jenderal AH Nasution ? Syukuralhamdulillaah, entah karena apa dan karena ulah apa, akhirnya kita sudah sampai ke era reformasi ini. Reformasi inilah yang bisa menyelamatkan kita. Kita mereformasi pandangan kita. Kesalahan yang diakibatkan oleh pikiran yang salah, hanya bisa diperbaiki dengan mengubah pikiran yang salah itu, kata ahli Einstein. Dizaman orba kita tidak berani meletakkan persoalan diatas meja karena tidak ada demokrasi. Kebenaran hanya dilihat dari satu segi dan hanya boleh dibenarkan oleh satu pihak saja (yang berkuasa/berdominasi). Sekarang kebenaran boleh dan harus ditinjau dari semua segi dan oleh semua pihak , sehingga unsur kebenarannya tahan uji. Semua kebenaran yang disahkan dizaman orba, layak ditinjau kembali karena alasan yang sama yaitu penilaian sepihak, dan karena itulah kebenarannya tidak teruji atau belum teruji. * angka pembunuhan yang ditafsirkan oleh banyak pihak, termasuk dari luar negeri. Kebenaran angka ini masih harus diselidiki, sehingga kita tidak membohongi generasi muda kita dengan menggelapkan atau tidak mau menyelidiki angka yang sesungguhnya. Bentuklah Badan Penyelidik yang tidak memihak atau Badan yang terdiri dari semua pihak ! Reformasi pikiran dalam praktek ! M.Ramli. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 May 1999 jam 05:10:55 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
