----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Kelebihan seorang yang berjiwa pengembara adalah dia lebih
banyak memahami hidup dan menghargai perbedaan budaya serta
adat istiadat manusia. Kerugiannya adalah selain susah menabung
dia juga seringkali dilanda bosan dan jiwanya tidak pernah tenang
sebelum menginjakan kaki di tempat- tempat baru, menemui manusia
manusia baru.

Tapi selama setahun tinggal di jantung Amerika ( Missouri ) ini hampir
semua kota dan state yang berdekatan lokasi dari sini sudah saya jelajahi.
Dari Springfield di Illinois,Memphis di Tennessee,Topeka di Kansas.
Little Rock di Arkansas,bahkan karena bingung tidak tahu lagi harus
kemana, saya telah jelajahi hampir 60 persen kota kota kecil di seluruh
Missouri.
Dari Seymour tempat koloni masyarakat Amish, sampai kota Winona
yang nampak mati dipinggiran Mark Twain National Forest. Dari
kota Mansfield tempat Laura Ingals menetap sampai Thayer kota antik
yang unik di perbatasan Arkansas. Inilah pusingnya jadi petualang tanggung
yang kurang banyak duit. Pengembaraan ini sementara cuma bisa dilakukan
di kota kota terdekat.

Sabtu kemarin sekali lagi saya cabut mengembara dengan Istri.
Menuju ke barat mobil melaju  selama 5 jam menerjang perbatasan
Oklahoma dan  melewati Joplin . Setelah membayar 2 kali di
Will Rogers dan Turner Turnpike ( jalan toll) membabat kota Tulsa,
kami masuk kota Oklahoma City sekita jam 3 sore.

Oklahoma City sebenarnya sudah 2 kali saya singgahi. 10 Tahun yang
lalu ketika saya cross country dengan bis dari New York ke Los Angeles
saya juga mampir di kota ini, begitu juga sewaktu pindah dari California
ke Missouri , bersama Alan saya sempat singgah di sini.

Tapi baru sekarang inilah saya bisa melihat secara jelas wajah Oklahoma
City . Setelah ber argumen dengan Vicky ( dia minta menginap di motel
rada bagusan seperti Howard Johnson atau Best Western yang tarifnya
sekitar 50 -65 dollar semalam,  sebagai seorang keturunan Minang saya
jelas menolak.) setelah  saya ancam " lebih baik kemping daripada bayar
400.000 rupiah semalam  hanya untuk mendengkur dalam kamar
 " Vicky akhirnya mengalah untuk tinggal di Executive  Motel yg tarifnya cuma
36 dollar.Nama motel ini memang kedengarannya  keren, tapi kamarnya rada
sumpek dan headboard tempat tidurnya copot dari dinding,2 bohlam lampu di
di toilet mati , dan TV merek Samsung dipojokan warnanya hancur  lebur
menyakitkan mata. Dan seperti biasanya jelas pemilik motel non franchise
di Amerika kebanyakan adalah orang India.

Kami adalah pasangan pengembara yang tidak bisa diam. Tidak menunggu
15 menit mobil sudah melaju lagi mencari Capitol Building . Gedung tempat
Gubernur dan para senator mangkal ini adalah satu satunya state Capitol
yang tidak berkubah yang pernah saya lihat. Oklahoma adalah negara bagian
penghasil minyak , dan karena bom minyak inilah makanya industri begitu
tumbuh pesat disini. Tidak heran jika Oklahoma City nampak agak kusam
dan buram. Kota ini seperti berada di tengah ladang minyak dan di kepung
oleh ratusan pabrik. Bahkan di sekeliling State Capitol berjejeran sumur
minyak
aktif yang terus memompa emas hitam itu siang malam milik Mobil Oil, Sonoco
oil dll. Dan karena kantor gubernuran itu sedang di tutup, kami berlalu menuju
Bricktown-Sebuah kawasan hiburan tempat bar, toko seni dan club berkumpul.
Tapi terus terang kawasan itu sama sekali tidak menarik. Terlalu gersang dan
too touristy. Kemudian berbelok ke down town kami menemukan Oklahoma City
Survival Memorial  . Bekas gedung yang bernama Alfred Murrah Federal Building
yang 4 tahun lalu diledakan oleh teroris domestik.

Gedung Alfred Murrah sudah rata, di sekeliling pagar kawat tempat proyek
memorial sedang dibangun, terdapat ornamen yang dipajang oleh keluarga,
teman atau kekasih korban bom mengekspresikan rasa cinta pada mereka yang
binasa.Disana bisa dilihat ratusan karangan bunga, sepatu bayi, potret
almarhum Istri , ibu atau suami, juga foto 19 bayi disamping puluhan boneka ,
gaun anak anak, dompet lusuh, dan puluhan surat cinta yang menyedihkan.

Dibelantara pengunjung yang bertampang sedih, saya menatapi satu persatu
dan mencoba membaca surat surat itu. Sedang Vicky sama sekali tidak
tahan dan mencoba berpaling, sebuah surat dari seorang Istri yang berisi
" Dear Husband, Walaupun saya sedih dan merasa kehilangan kamu,
janganlah kamu  gelisah di tempatmu beristirahat sekarang ini. Tidak terlalu
lama lagi kita akan bertemu kembali sayangku. I love You so much - from your
wife " Ada telaga di mata saya. Surat lainnya juga sama menyentuh membuat
bobol bendungan  di mata saya. Dan air asin ini cepat cepat saya
keringkan sebelum ketahuan istri. Seperti waktu saya berdiri termenung
di depan granit hitam Vietnam Memorial di Washington sana, saya juga
berdiri di sini dengan perasaan kelabu. Manusia manusia tidak bersalah ini
mati
lantaran kebodohan dan kepicikan manusia.
Nasionalis picik, religious picik ,sukuisme picik,kesombongan etnis,
kedangkalan moral adalah sumber semua malapetaka yang menimpa orang orang
macam ini.

Saat mengamati patung " Weeping Yesus" yang nampak sedang
terisak membalikkan badan dari lokasi pemboman diseberang jalan,
timbul pertanyaan filosofi kembali di dada ini. Jika Tuhan tidak bisa
mencegah anarki ini apakah ini bukan berarti Tuhan sendiri punya
keterbatasan?

Dan karena saya belum juga menemukan jawaban saya akhirnya cuma bisa
bergunggam dalam kesimpulan sempalan " Barangkali Tuhan memang memberikan
manusia total freedom bagi mahluk ciptaannya, terlepas baik atau buruk yang
akan terjadi pada mereka ". Atau mungkin Spinoza benar dengan pernyataannya
" God has committed himself to his own law,he has no power to change it "

Tubuh mulai lelah ketika kami mencari Vietnam restaurant untuk dinner.
Tapi setelah berputar putar dan berkali kali kesasar kami menyerah dan singgah
di Singapore Restaurant di Meridian Avenue dekat Air Port. Cina Singapura
pemilik restaurant ini alangkah rude dan kasar caranya melayani tamu. Tampang
cewe kurus sipit bego dan muka rata itu membuat saya sebal dan ingin meninju
hidung peseknya sekeras mungkin.Yang lebih menyebalkan adalah muka ini
orang mirip mirip Lim Sie Liong, dan ini jelas membuat saya lebih bersemangat
untuk menggebuki muka jeleknya lantaran dendam mikirin kekasaran ini orang
campur dengan dendam terhadap Konglomerat sialan yang memeras Indonesia
bahu membahu dengan keluarga Cendana, menyengsarakan orang kecil.

Oh ya  makanan disini juga jauh dari lezat.
Nasi goreng ayam rasanya seperti kerak nasi di Jakarta.

Setelah kembali ke motel, berendam di Jetted Tub ( satu satunya yang kelihatan
keren cuma bath tub di motel ini ) sayapun tidur dengan nyenyak menyusul
sang bini yang telah terbang ke alam mimpi.

Hari kedua muncul dengan cepatnya. Setelah mandi dan breakfast kami
melesat menuju kota Edmon untuk melihat lihat kampus Oklahoma Christian
University tempat Maylene adik ipar saya menamatkan sekolah. Dipertengahan
freeway 77 samar samar saya melihat sebuah kubah mesjid beserta minaretnya
yang menjulang tinggi, saya desak Vicky untuk segera exit karena mengunjungi
mesjid bagi di perjalanan bagi saya adalah sebuah keharusan. Saya memang
berniat untuk mencoba sholat dalam semua mesjid di Amerika , Pertama itu
memang
membuat perasaan saya lega, kedua saya sambil begitu saya bisa mempelajari
pertumbuhan Islam dan meneliti perkembangan umatnya. Tapi saya jelas kecewa
ketika mendekat gedung berkubah itu ternyata adalah gedung First Christian
Church.Mungkin karena rasa dongkol , Kubah yang saya lihat tiba tiba seperti
wonder bra .

Christian University disana kurang menarik. Walaupun gedungnya baru dan
asrama mahasiswanya apik dan bersih, kalau saya punya pilihan jelas saya
tidak mau sekolah di sini.

Kembali ke Oklahoma City, kami makan siang di Vietnam Restaurant di kawasan
pemukiman orang Asia. jelas..jelas makanan Vietnam itu selalu enak dan lezat.
Dan pelayannya sungguh ramah tamah. Dan di Asian Food Store bernama Sio
Thie Cao Nguyen saya malah bisa mendapatkan tempe produk Indonesia
dan pete yang telah dikupas produk Thailand.Wow...

Mengunjungi Remigton Park, tempat pacuan kuda yang nampak mewah saya
terbengong bengong. Manusia yang masuk disana rata rata orang tua atau
para pecandu judi yang nampak lusuh. Seperti sedang dalam ruangan kafetaria
kampus Perbanas, mereka duduk , makan beregerombolan sambil membuka
mengamati buku taruhan dan mengisi angka angka yang saya tidak mengerti
sama sekali apa artinya.

15 menit sebelum pacuan dimulai, sekelompok kuda dikeluarkan dari kandang.
Dan para Jockeynya nampak begitu kecil mungil. Sungguh aneh melihat rombongan
bule penunggang kuda itu berbadan lebih mini dari rata rata orang Asia.
Membayangkan ini saya merasa profesi yang cocok untuk Habibie dan Amien
Rais rasanya adalah Jockey kuda.

Jam 2 siang, kami sudah merasa seharusnya pulang. Sekali lagi sang bini
menjadi pilot mengarahkan mobil menuju freeway 40.Tinker Air Force Base
berada disebelah kanan diujung Oklahoma City ketika sebuah pesawat tempur
F-16 membelah langit tepat diatas kami, Kota demi kota sepanjang jalan bernama
sangat Indian seperti Choctaw,Shawnee,Okemah,Chechotah,Muskogee.
Dan Canadian River yang kadang membelah Free way airnya secoklat butek
seperti Ciliwung ketika banjir. Sampai di Big Cabin kami berbelok di high way
60
memetong jalan masuk kota Seneca di Missouri.  Danau terakhir milik negara
Bagian Oklahoma bernama Grand lake dibatas Missouri juga tidak cantik.

Oklahoma ternyata adalah salah satu negara bagian yang terburuk yang pernah
saya kunjungi, selain juga states yang paling banyak punya jalan toll.
Dibandingkan
dengan Missouri yang kaya dengan  sungai sungai jernihnya yang cantik,
danaunya yang bening, granite rocknya yang spektakular, Oklahoma adalah
seperti kawasan
Pulo Gadung yang bersebelahan dengan Cipanas. Itulah sebabnya anak anak
mahasiwa Indonesia keluaran Still Water rata rata kartu mati barangkali.
Contohnya
ya seperti pengakuan si Tri Sudwikatmono yang bangga kepada saya dulu.
" Saya kan lulusan Oklahoma State University  di Still Water "

Ya percaya deh gue, kalo liat tampang Oklahoma, elo dan
negara bagian ini sama sama ancurnya....



Hasan Basri

[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jun 1999 jam 05:20:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke