---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 23 Juni 1999 Frans Seda: Pertarungan Politik Hambat Pemulihan Ekonomi Penguatan Rupiah Jangan Dikacaukan Elit Politik Jakarta, Rakyat Merdeka Semakin menguatnya nilai tukar rupiah dalam pekan-pekan terakhir ini, menurut arsitek ekonomi Orba Frans Seda karena faktor politik sebagai dampak hasil Pemilu sehingga kepercayaan rakyat kembali meningkat. Menurutnya, kepercayaan itulah yang kini harus dipertahankan pemerintah, bukan justru dikacaukan oleh elit politik yang masih mempermasalahkan siapa presiden mendatang. "Kalau kita bisa mempertahankan optimisme rakyat, saya kira kurs rupiah akan menguat terus. Barangkali bisa sampai Rp 6.500 per dolar AS," kata Seda disela-sela seminar 'The Path Toward Indonesian Economic Recovery, in the Post Election Era' di Jakarta, kemarin. Seminar yang menghadirkan pembicara tunggal Direktur IMF untuk kawasan Asia-Pasifik Hubert Neiss itu memang banyak mengundang minat para ekonom. Seperti Sri Mulyani Indrawati, Emil Salim. Mohammad Sadli, Maryanto Danusaputra, Hartojo Wignjowijoto dan beberapa ekonom lainnya, termasuk pengusaha Arifin Panigoro. Menurut Seda, posisi rupiah yang paling baik saat ini sekitar Rp 6.000 per dolar AS, bukan Rp 5.000 per dolar AS seperti yang pernah dikemukakan Deputi Direktur Pelaksana IMF Stanley Fischer akhir pekan lalu. Jika rupiah melonjak sampai Rp 5.000 per dolar AS, dinilai Seda penurunannya terlalu drastis, sehingga kebijakan uang ketat dipastikan bakal tetap dipertahankan oleh pemerintah. Sampai kapan rupiah bisa mencapai level Rp 6.000 per dolar AS, lanjutnya, pemerintah harus bisa mempertahankan terus menerus kurs yang kini sudah menguat. Dan supaya ada perimbangan baru, kalau tidak Rp 6.000 per dolar AS, minimal levelnya mencapai 10 persen di atas angka itu. "Dalam situasi sekarang, yang paling penting adalah bagaimana ada keseimbangan, dimana para produsen bisa menghitung ongkos dan ekspor kita tidak terlalu turun drastis," ujarnya. Seperti diketahui, kurs rupiah diperdagangan pasar spot antar bank Jakarta, kemarin semakin menguat dan pada pukul 16.00 ditutup pada posisi Rp 6.800 per dolar AS. Selanjutnya ekonom Emil Salim mengungkapkan, memang harus ada perimbangan dengan mata uang negara lain dibanding Juli 1997 lalu, khususnya menyangkut nilai tukar mata uang di negara- negara Asia. "Korea dan Thailand saja depresiasinya dua kali, maka Indonesia harus sebanding. Paling tidak depresiasinya harus dua atau dua setengah kali dari mereka, sehingga kisaran rupiah nantinya sekitar Rp 5.000 - Rp 6.000 per dolar AS," tuturnya. Namun, Emil mengaku tidak yakin apakah rupiah yang menjadi patokan itu (Rp 5.000/Rp 6.000 per dolar AS) bisa menggerakkan ekspor kita, apalagi defisit ekonomi terus berjalan. "Tapi kalau depresiasi nilai tukar bisa terkendali, diharapkan ekspor bisa naik," ungkap bekas Meneg KLH kabinet Soeharto itu. Pesimis Namun dengan adanya pertarungan politk, lanjut Seda, dia pesimis pemulihan ekonomi bisa berlangsung dengan mulus. "Inilah repotnya sekarang. Rakyat sudah secara jurdil dan berusaha menghasilkan Pemilu yang baik, tapi para elit politik seperti mau mengacaukan kembali. Ini yang harus kita cegah bersama- sama," tegasnya. Jika para politisi semuanya bersikap demokrat, Seda yakin masalah yang tidak penting mengenai kepala pemerintahan yang akan datang tidak perlu dibicarakan lagi. Karena rakyat sudah menginginkan adanya perubahan secara gamblang, sehingga yang di atas tidak perlu banyak omong. "Saya kira kalau semua demokrat yang memperoleh suara paling banyak yang menentukan presiden, selesai kan?. Sebab itu menunjukkan sikap yang demokratis dan adanya tradisi baru dalam negara ini," tandasnya. Senada dengan Seda, Hubert Neiss juga mengakui bahwa penguatan nilai tukar rupiah lebih banyak dipegaruhi oleh faktor pulihnya kepercayaan masyarakat terhadap hasil Pemilu. "Penguatan rupiah ini merupakan indikasi pulihnya kepercayaan dan adanya transparansi serta kebebasan sehingga akhirnya rupiah menguat," katanya. Kata Neiss, pemerintah masih perlu mengkoordinasikan kebijakan- kebijakan dengan IMF untuk mempercepat proses pemulihan. (UMI) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Jun 1999 jam 07:43:17 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
