----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

From: KOALISI NGO HAM Aceh
Jenderal Wiranto:Aparat Segera Hancurkan Pengganggu Keamanan Aceh


Serambi-Jakarta

Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto menegaskan, tindakan aparat untuk
mengatasi ganguan keamanan Aceh, sebelum Pemilu adalah menetralisir.
"Tapi, setelah Pemilu, tindakan yang diambil adalah menghancurkan semua
pengganggu keamanan Aceh dan semua kekuatannya," kata Wiranto dalam
dengar pendapat dengan Komisi I DPR di Gedung DPR/MPR Jakarta, Jumat
(2/7).

Dalam dengar pendapat itu, Wiranto yang didampingi KSAD Jenderal Subagyo
HS dan Kapolri Jenderal Roesmanhadhi, menjelaskan, penghancuran kekuatan
para pengganggu keamanan Aceh akan dilakukan melalui operasi kepolisian
oleh Pasukan Penindak Kerusuhan Massa (PPRM) dibantu aparat Kodam I/Bukit
Barisan.

Jenderal Wiranto menjelaskan, sejak operasi militer di Aceh dihentikan
pada Agustus 1998 lalu, keamanan di Aceh diserahkan kepada aparat,
pemerintah, dan masyarakat setempat. Namun, perkembangannya ternyata
tidak makin membaik, tetapi semakin meminta perhatian. Stabilitas
keamanan dan pembangunan di Aceh telah diganggu kelompok bersenjata yang
telah menimbulkan korban jiwa dan harta benda, terutama di daerah Pidie,
Aceh Utara, Aceh Timur, dan belakangan ini menjalar ke Aceh Barat.

Bila hal ini tidak diambil tindakan tegas dan bijaksana, kata Menhankam,
dikhawatirkan akan dapat mengancam integritas negara kesatuan Republik
Indonesia.

Gangguan keamanan di Aceh mulai Mei- 29 Juni 1999, kata Pangliam TNI,
telah mencapai taraf perlawanan bersenjata, di antaranya adalah gangguan
keamanan sebanyak 98 kali, 45 di antaranya merupakan aksi bersenjata.
Kerugian akibat aksi bersenjata itu adalah 98 orang tewas, dan 176
luka-luka, 373 rumah dibakar, 13 kantor dibakar, 11 mobil dibakar.

Wiranto juga mengatakan, dalam Rencana Strategi (Ranstra) 1999- 2004,
akan dibentuk empat Kodam baru, yakni Kodam I/Iskandarmuda untuk Aceh,
Kodam XVI/Pattimura, Kodam IX/Tanjung Pura, dan Kodam X/Lambung
Mangkurat.

Pembentukan Kodam I/Iskandarmudar di Aceh, katanya, diperkuat dengan
adanya permintaan pemerintah dan sebagian masyarakat setempat.

Netral

Manhankam juga kembali menegaskan komitmen TNI untuk netral dalam SU MPR
mendatang. "Mengenai netralitas TNI dalam SU MPR, TNI komit untuk netral,
namun bukan berarti TNI tidak menggunakan hak dan kewajiban politiknya,"
katanya.

Menanggapi pertanyaan anggota dewan, Menhankam/Panglima TNI mengatakan
bahwa dalam pengamanan SU MPR mendatang, Polri akan dikedepankan sebagai
inti kekuatannya.

Dalam kaitan itulah maka Polri telah meningkatkan operasi rutin dengan
menindak kejahatan, yang dipadukan dengan pembinaan keamanan dan
ketertiban masyarakat.

Polda Metro Jaya direncanakan akan mengerahkan 21 ribu personilnya untuk
mengamankan SU MPR, serta ditambah dengan kekuatan cadangan dari unsur
TNI dan potensi masyarakat. (son)


---------------------

Lagi, Bus Umum Dibakar


Serambi-Banda Aceh

Bus Anugerah BL 7391-A yang datang dari arah Medan menuju Banda Aceh,
kemarin (2/7) menjelang magrib, dibakar orang-orang tak dikenal
bersenjata api di Desa Blang Tambue Kecamatan Samalanga, Kabupaten Aceh
Utara. Sebelum dibakar, penumpang dan awak bus diminta turun.

Sejumlah warga masyarakat di sekitar ruas jalan tersebut hanya bisa
menyaksikan pembakaran bus dari kejauhan. Mereka tidak ada yang berani
mendekat. Tapi, setelah kelompok orang bersenjata pergi dari tempat itu,
warga beramai-ramai datang ke tempat pembakaran bus.

Sumber-sumber Serambi mengabarkan, sebelum dibakar, kelompok orang tak
dikenal itu meminta para awak bus dan penumpang turun. Kabarnya, para
penumpang juga diminta mengambil barang-barang bawaannya. Semua
penumpang, dikabarkan sangat ketakutan. Mereka dengan tergesa-gesa
mengemasi barang bawaannya lalu ditumpukkan di tepi jalan.

Tak seorangpun penumpang yang diturunkan di tempat itu disakiti.
Pengemudi, setelah busnya dibakar lalu meninggalkan tempat itu.

Sampai tadi malam, sebagian besar penumpang bus meneruskan perjalanan
dengan kendaraan lain. Beberapa penumpang sempat mendapat tumpangan dari
mobil-mobil pribadi yang melintas di tempat itu ketika menuju ke arah
Banda Aceh.

Dalam waktu singkat, bus Anugerah tersebut hangus dan semua fasilitasnya
ikut terbakar. Salah seorang karyawan kelompok Bus Anugerah yang
dihubungi Serambi di Banda Aceh tadi malam mengatakan, Bus Anugerah
tersebut berangkat dari Medan pukul 09.00 WIB menuju Banda Aceh yang
dikemudikan oleh Ruslan.

"Kami sudah mendapat laporan tentang pembakaran terhadap bus kami
tersebut. Sedangkan nasib pengemudinya dan seluruh penumpang yang
diangkut belum diketahui. Sampai malam ini, kami belum mendapat kontak
dengan Ruslan," kata karyawan bus Anugerah kepada Serambi tadi malam.

Awal Juni lalu, empat unit bus umum juga dibakar kelompok orang
bersenjata yang tak dikenal. Keempat bus yang dibakar pada 5 Juni 199 di
Pidie adalah Anugrah BL 7526 A, Pelangi BL 7409 A dibakar di kawan Masjid
Pante Raja, Kurnia BL 7350 PB, dan Pusaka BL 7387 dibakar di kawasan
Batee Iliek (perbatasan Pidie-Aceh Utara).

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa-peristiwa pembakaran bus itu. Sebab
kelompok pelaku memerintah penumpang untuk turun dari bus. Begitupun,
kepanikan luar biasa sempat melanda, terlebih-lebih saat para "musafir"
itu mencari tempat perlindungan. (tim)


-------------------

Ketakutan, Warga Teunom Bunuh Diri


Serambi-Meulaboh

Seorang warga Desa Blang Rame, Kecamatan Teunom, Aceh Barat, dilarikan ke
RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh setelah ditemukan terkulai akibat minum racun
rumput jenis DMA di belakang rumahnya sekitar pukul 12.30 WIB, Jumat
(2/7) kemarin.

Korban yang diketahui bernama Ali Mukasah (65), tiba di UGD RSU Cut Nyak
Dhien sekitar pukul 18.00 WIB. Sekitar 20 menit kemudian atau pukul 18.20
WIB ia meninggal dunia meski sempat ditangani Dokter Herman.


Menurut Suminah (istri korban) ketika ditemui Serambi, Jumat (2/7) malam
di ruang UGD, suaminya nekat bunuh diri karena merasa takut tinggal di
desa itu. Lebih-lebih lagi, selama ini sering datang orang ke rumah dan
malam-malam menggedor pintu.

"Dihantui rasa takutlah maka suami saya itu nekat minum racun. Sebelum
meninggal, suami saya itu juga sering mengeluh. Mau pulang ke Jawa tidak
ada uang. Tinggal terus di disini (maksudnya di Desa Blang Rame) merasa
takut," ujar Suminah dengan bola mata yang berkaca-kaca duduk di depan
pintu ruang UGD sambil termenung.

Menurut Suminah, ibu dua anak itu, sebelum suaminya nekat minum racun,
sekitar pukul 08.00 WIB, Jumat (2/7), korban telah berusaha menggantung
diri di belakang rumah pada pohon jengkol dengan menggunakan kain sarung.
Namun, niat korban digagalkan menantunya, Misdi.


Dijelaskan, yang pertama kali melihat korban gantung diri adalah anaknya
sendiri yaitu Suratmi (16). Begitu melihat ayahnya sudah tergantung di
pohon jengkol, Suratmi langsung memanggil abang iparnya (Misdi) minta
tolong.

"Begitu saya datang, saya lihat ayah memang sudah tergantung di pohon
jengkol. Lehernya terikat kain sarung. Untung cepat saya peluk. Setelah
itu, saya bawa masuk ke dalam rumah," ujar Misdi kepada Serambi.


Anehnya, lanjut Suminah, setelah berusaha gantung diri, bukan tambah
sadar dan tenang. Tetapi selang beberapa jam, menjelang shalat Jumat,
sekitar pukul 12.30 WIB korban meminum racun jenis DMA yang memang sering
tersedia di rumah untuk membasmi hama pada tanaman. Saat meminum racun
itu, korban sengaja bersembunyi dekat kandang ayam di belakang rumahnya.
(za)


-------

Massa Remaja Obrak-abrik Kantor Camat


Serambi-Panton Labu

Sekelompok remaja berseragam SMP, pagi kemarin merusak serta
mengobrak-abrik dokumen di Kantor Camat Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.
Ribuan lembar blanko pemungutan pendapatan daerah diserak sampai ke
pekarangan dan jalan depan kantor tersebut.

Saat aksi itu berlangsung, sejumlah staf dan pegawai kantor camat hanya
bisa menonton dan tidak ada yang berani melarang aksi tersebut.

Keterangan yang diperoleh menyebutkan, sekelompok remaja tanggung
berseragam sekolah secara dadakan datang ke kantor camat. Mereka
memecahakan kaca jendela bagian samping persis di ruang unit pelayanan
pendapatan daerah.

Bukan hanya ruangan yang diporakporandakan, tapi mereka juga membawa
dokumen yang ada di dalam kantor ke luar ruangan lalu merobek-robeknya.
Usai melampiaskan kemarahannya, kelompok remaja berseragam sekolah itu
keluar dari ruangan kantor menuju ke arah barat.

Beberapa staf kecamatan mengatakan tak berani melarang karena takut
menjadi korban amukan. "Kami hanya melihat ketika siswa merobek- robek
dokumen pajak," kata tiga wanita yang bekerja di kantor camat tersebut.

Kegiatan Kantor Camat Tanah Jambo Aye, sejak awal Juni 1999 lalu memang
agak "mandeg". Camat Drs H Amiruddin Hamzah bahkan sudah lama tidak masuk
kantor, dan keadaan kantor sudah lama tidak dibuka. Sehingga hampir
sebulan terakhir ini, semua pegawai kantor, nyaris tidak bertugas.

"Macetnya" aktivitas di kantor camat itu, membuat banyak warga sangat
kecewa. Sebab, banyak warga yang ingin mengurus KTP dan surat keterangan
lainnya, tapi tak bisa terlayani.

Dalam pengamatan Serambi, sejak aksi pembakaran kantor camat dilakukan
sekelompok orang tak dikenal di berbagai kecamatan, aktifitas pegawai
Kantor Camat Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktiya (Aceh Utara), dan
Simpang Ulim (Aceh Timur), terlihat vakum. Masyarakat tidak lagi
mendapatkan pelayanan dari kecamatan. (ib)

<center>

----------------------------

Berita Minggu,  04  Juli 1999

</center>



<center>Mohon Maaf!



Kepada Pembaca Serambi Dimana Saja Berada, Kami Sangat Memohon Maaf Atas
Ketidakhadirannya berita/info Selama Dua Hari, Disebabkan Ada Sedikit
Gangguan Tehnis untuk Mengakses Berita di Internet.

***

</center>


Koramil Makmur Kembali Berduka


*Serda M Sufi Tewas Bersimbah Darah

*Warga Pidie Ditemukan Tergantung di Beutong


Serambi-Lhokseumawe

Belum lagi kasus pembunuhan atas sertu Purwanto terungkap, Koramil
Kecamatan Makmur, Aceh Utara, kembali berduka. Jumat malam lalu, salah
seorang anggotanya, Serda M Sufi ditemukan tewas yang penyebabnya ada
yang menyebutkan karena tembakan. Pelaku pembunuh, hingga Sabtu (3/7)
kemarin, masih misterius.

Jenazah M Sufi ditemukan masyarakat Geureugok, Kecamatan Gandapura, dalam
keadaan kaku bersimbah darah di pangkal sebuah jembatan lintasan
Medan-Banda Aceh sekitar pukul 20.00 WIB Jumat. Masyarakat di tempat
penemuan jenazah kepada Serambi mengabarkan bahwa korban berdomisili di
Geureugok. Tapi, mereka yakin bahwa dihabisi bukan di kawasan Geureugok.
Sebab, sepanjang sore hingga ditemukan jasad anggota TNI itu di kawasan
dimaksud tidak terdengar suara letusan senjata api. "Diduga korban
dibunuh di tempat lain dan dibuang di sini," sebut seorang warga ketika
dihubungi, siang kemarin.

Sementara itu, warga kecamatan Beutong, Aceh Barat, Jumat, menemukan satu
mayat laki-laki yang tergantung di pohon rambung dengan posisi kaki
mencecah tanah. M Yahya, lelaki itu, adalah warga Desa Kumala, Kabupaten
Pidie, dan dikabarkan telah "menghilang" sejak seminggu lalu.

Penuh luka

Seperti dikutip Antara, Dandim Aceh Utara, Letkol (Inf) Giyono di
Lhokseumawe, Sabtu, membenarkan salah seorang anggotanya ditemukan tewas
di Geuruegok, dengan kondisi tubuh korban penuh luka bekas penganiayaan.

Menurut keterangan masyarakat, korban mengalami luka di beberapa bagian
anggota tubuhnya. Namun, warga yang mengaku melihat penemuan jenazah M
Sufi tidak bisa memastikan secara jelas lubang mirip lubang peluru di
tubuh korban, karena pada saat ditemukan jasadnya terbungkus jaket hitam.

Meski ditemukan sekitar pukul 20.00 WIB, kabarnya, jenazah korban
keganasan Petrus itu baru diambil oleh aparat keamanan dari lokasi temuan
pukul 04.00 Sabtu dinihari setelah sepasukan aparat tiba dari Lhokseumawe
dan memboyongnya ke RS Kesrem 011/Lilawangsa. Korban dikebumikan di
Geureugok, siang kemarin.

Menurut versi keluarga korban, serda M Sufy "diculik" kelompok sipil
bersenjata dalam perjalanan dari Koramil Makmur menuju rumahnya, sekitar
pukul 18.30 WIB, sedangkan mayatnya ditemukan di Gandapura, sekitar 20 KM
dari tempat kejadian perkara (TKP).

Kalangan dokter di RS Kesrem-011/Lilawangsa memperkirakan Serda M Sufy
sudah tewas sekitar sepuluh jam sebelumnya dengan bekas penganiayaan
benda tumpul dan beberapa bagian anggota tubuh korban ditemukan luka.


Sebelum pembunuhan Serda M Sufi, seorang anggota Koramil Makmur lainnya,
Sertu Purwanto, pertengahan Juni lalu, juga tewas bersimbah darah setelah
didor seorang pria bermobil jeep yang menggunakan senjata api laras
panjang di kediamannya. Almarhum Purwanto ditembak di hadapan isterinya
ketika pasangan itu sedang mengemas-ngemasi barang perabotan rumah
tangganya untuk pindah ke Lhokseumawe.

Diculik?


Dari Kecamatan Kuta Makmur dilaporkan, seorang pria bernama Nasruddin,
Jumat malam, sekitar pukul 19.00 WIB "diculik" sekelompok orang
bersenjata api dan berseragam militer yang dilukiskan menggunakan truk
ketika melintasi jalan menuju Buloh Blang Ara.

Menurut kakak korban kepada wartawan di Lhokseumawe, kemarin, korban pada
saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari Lhokseumawe ke Buloh Blang
Ara dengan menggunakan sepeda motor. Namun, di tengah perjalanan,
kelompok bersenjata itu menyetopnya dan langsung memukuli serta
"mencampakkan" korban beserta sepeda motornya ke dalam truk.


Sampai kemarin keluarga korban belum mengetahui secara pasti di mana
korban saat ini dan siapa yang menculiknya. "Kalau dengar- dengar dari
orang ia diculik aparat. Kalau benar ia diculik, siapapun penculiknya
tolong beritahukan kepada kami di mana ia berada. Kalau sudah mati tolong
nampakkan jenazah," mohon kakak korban.

Nasruddin, dikabarkan, adalah warga Nisam yang beristrikan warga
Matangkuli dan mencari nafkah dengan usaha dagang di Kuta Makmur.

Membusuk


Sementara itu, masyarakat Kecamatan Beutong, Aceh Barat, menemukan
seorang pria bernama M Yahya (50) tewas tergantung di sebuah pohon
rambung di kawasan proyek irigasi Jeuram-Ulee Jalan. M Yahya yang
belakangan diketahui asal Desa Keumala Pidie itu ditemukan sekitar pukul
15.00 WIB, Jumat (2/7).


Saat ditemukan, korban sudah membusuk dengan posisi kaki menyentuh ke
tanah. Sedangkan lehernya terikat dengan kain panjang. Beberapa jam
setelah ditemukan oleh warga Desa Meunasah Krueng, korban dikebumikan di
pemakaman umum desa setempat sore itu juga tanpa dilakukan visum
dokter.


Sebelum meninggal, korban yang berstatus sebagai petani datang ke tempat
adik kandungnya M Latif di Desa Meunasah Krueng, Beutong, bersama istri
dan anaknya dengan tujuan untuk berobat. Menurut keterangan kepala Desa
Meunasah Krueng, M Yasin Hasyim, kepada Serambi, Sabtu kemarin, korban
ditemukan tewas tergantung setelah dilakukan pencarian oleh warga
setempat selama satu minggu sejak korban menghilang dari rumah adik
kandungnya M Latif. Jarak dari rumah adiknya itu dengan lokasi korban
ditemukan, lebih kurang satu kilometer.


Sebelum ditemukan meninggal, korban memang sering pulang pergi antara
Pidie-Beutong. Kedatangan korban ke rumah adiknya itu, selain untuk
berobat, juga untuk membantu M Latif bertani. Bahkan, anak dan istrinya
sejak korban meninggal tetap tinggal bersama adik kandungnya di Desa
Meunasah Krueng. Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polsek Beutong.


Menurut Kades Meunasah Krueng, sebelum korban ditemukan tim pencari yang
dipimpinnya, sempat tercium bau busuk sekitar pohon rambung (pohon
getah), tempat korban ditemukan. "Begitu kami mencium bau yang tidak
sedap, pencarian itupun kami pusatkan di dikawasan itu juga. Lebih kurang
tiga jam mencari, korban kami temukan tergantung di pohon rambung dengan
posisi kaki menyentuh ke tanah. Sedangkan kondisi mayat sudah mulai
membusuk," ujar M Yasin.(tim)


---------------------


Aparat Bubarkan Aksi Pengutipan di Jalan


Serambi-Sigli

Aparat keamanan di Pidie, Sabtu (3/7), membubarkan aksi pengutipan
sumbangan jalanan yang dilakukan sekelompok mahasiswa/i. Dalam peristiwa
itu, sempat terdengar letusan senjata yang dilepas ke udara, dan beberapa
pengutip sumbangan sukarela itu ditangkap aparat dari Makodim Pidie.


Aksi pengutipan sumbangan itu berlangsung di simpang Jembatan Benteng
Kota Sigli. Menurut Dandim Pidie, Letkol Inf Iskandar MS kepada Serambi
via telepon, aparat telah melakukan langkah persuasif untuk menghentikan
pengutipan yang dilakukan mahasiswa-- sebagian wanita. Tapi, katanya,
tindakan persuasif yang dilakukan aparat itu tidak diindahkan, sehingga
terpaksa dilepaskan tembakan ke udara sebagai peringatan. "Tembakan ke
atas supaya mereka menghentikan misinya," ungkap Iskandar.


Mengenai "diamankannya" delapan mahasiswa, menurut Dandim Iskandar,
mereka bukan ditangkap, tapi terjaring oleh aparat karena tak mau
menghentikan misinya. Setelah mendapatkan pengarahan sekitar 45 menit di
Makodim, mereka disuruh pulang. "Tak ada yang ditahan," jelas Iskandar.


Suara tembakan yang lokasinya hanya berjarak sekitar 50 meter dengan
Pendopo Pidie, membuat warga Kota Sigli ketakutan. Apalagi, ada isu yang
merebak tembakan tersebut sedang terjadi kontak senjata. "Kami
betul-betul panik dan ketakutan," kata seorang warga.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.30 Wib membuat warga panik dan
semua masuk dalam rumah. Begitu pula sejumlah pegawai yang kantornya
berada tak jauh dari lokasi tembakan segera mengambil posisi yang lebih
aman. "Kami betul-betul panik, apalagi peristiwanya di kawasan jantung
kota," sebut seorang pegawai salah satu kantor yang dekat dengan aksi
muntahan senjata.

Begitu melihat aparat menuju ke arah mereka, dengan moncong senjata siap
tembak, mahasiswa ketakutan. Karena itu, mereka terpaksa lari dari lokasi
pengutipan derma sukarela. Apalagi, sejumlah angkutan kota--jalan itu
jalur angkutan--dihentikan oleh aparat. "Kami sangat takut, moncong
senjata aparat diarahkan kepada kami," sebut seorang mahasiswa.


Kelompok mahasiswa itu, tidak menduga aparat akan berbuat seperti itu
terhadap kerja kemanusiaan yang mereka lakukan. Mereka tambah takut dan
gemetar ketika aparat melepaskan tembakan saat terjadi pengusiran. "Kami
hanya bekerja sukarela untuk rakyat banyak," tambah seorang mahasiswa.


Penasihat Posko Mahasiswa Pidie, Azhari Ibrahim kepada Serambi, Sabtu
(3/7) mengatakan misi sosial yang dilakukan belasan mahasiswa itu atas
inisiatif semua mahasiswa Pidie. Apalagi, kutipan sukarela itu untuk
membantu masyarakat pengungsi di Masjid Abu Beureueh dan Masjid Teupin
Raya.


Karena itu, tambah Azhari, kegiatan kemanusiaan yang dilakukan di Kota
Sigli kemarin dilaksanakan di dua titik. Satu kelompok dipusatkan di
simpang Jembatan Benteng, sedangkan satu kelompok lagi mengambil posisi
di simpang Jalan Garot. "Jumlah mereka semua mencapai 32 orang," katanya.


Melihat situasi sangat mencekam saat pembubaran, sebanyak 14 mahasiswa
yang sedang berada di Simpang Jembatan Benteng kocar kacir. Delapan orang
berhasil diamankan aparat, sedangkan lainnya berhasil melarikan diri.
Sementara 18 mahasiswa yang berposisi di simpang Jalan Garot, juga kabur
setelah mendapatkan informasi tentang situasi di Benteng.


Para mahasiswa di Pidie, menurut Azhari, sangat menyesalkan sikap aparat
yang mengusir mahasiswa. Mereka sedang melakukan misi kemanusiaan untuk
membantu masyarakat eksodus. "Kami tidak memaksa dan memeras orang. Kami
hanya butuhkan kesadaran setiap pelintas jalan," kata Azhari.(tu)


-------------------

Kantor Camat Julok Dibakar


Serambi-Kuta Binjei

Kantor Kecamatan Julok, Aceh Timur, Sabtu (3/7) dinihari, musnah dilalap
api setelah dibakar orang tak dikenal. Bangunan yang terletak di pusat
kota Kuta Binjei dan bersisian dengan jalan negara Medan-Banda Aceh itu
kini hanya tinggal puing saja.

Keterangan di beberapa masyarakat yang dihimpun Serambi hari Sabtu, api
diperkirakan sudah menyala sekitar pukul 01.00 WIB. Adanya masyarakat
yang mengetahui kantor ini dibakar, tidaklah mengherankan. Sebab, selain
berlokasi di pusat kota, kantor camat Julok berdekatan dengan terminal
bus pembantu. Apalagi, tak jauh di belakang kantor camat, terdapat markas
koramil kecamatan setempat dan tak sampai 1 KM terdapat pula Markas
Polisi Sektor (Mapolsek) Julok.


Namun, Muhammad (43), penjaga kantor camat, kepada Serambi mengaku tak
tahu kapan api mulai memangsa karena ia tertidur di salah satu ruangan di
kantor tersebut. Ia baru sadar, ketika api mulai marak di ruang kerja
Camat Julok Drs T Syamsuddin Syah.

Menyadari kenyataan tersebut, Muhammad spontan berlari keluar, serta
menjerit minta pertolongan. Namun, tidak seorang pun yang datang untuk
memberi pertolongan. Sementara api semakin membesar, dan Muhammad mengaku
tidak mampu menjinakkan api, apalagi ia gugup, sehingga tidak dapat
berbuat apa-apa untuk menjinakkan api.

Camat Julok, Aceh Timur, Drs T Syamsuddin Syah, menjawab Serambi, Sabtu
(3/7) siang, berkeyakinan sekali kantornya dibakar oleh orang tak
dikenal. Sebab, sudah diperiksa tidak satupun kawat listrik ataupun hal
lain yang berkemungkinan menjadi penyebab kebakaran.

Dikatakan, berdasarkan keterangan dari sumber di kepolisian yang
disampaikan kepada camat, ada terdapat bau minyak lampu di beberapa
tempat sisa pembakaran di ruangan kantor camat tersebut. Namun, camat
tidak mengetahui lebih lanjut bukti-bukti lain yang didapat dari pihak
keamanan.


Menurut camat, ia baru mengetahui kantornya terbakar, via telepon sekitar
pukul 03.00 WIB yang disampaikan oleh salah seorang pegawainya. Kebetulan
pada saat kejadian itu, camat mengaku berada di Langsa. Baru sekitar
pukul 04.15 WIB sampai di lokasi kantornya yang sudah tinggal puing dan
bara api itu. "Saya hanya bisa tertegun dan tidak habis pikir mengapa
kantor camat yang jadi sasaran kemarahan mereka," katanya.


Dijelaskannya, kerugian secara menyeluruh mencapai Rp 500 juta, plus
kehilangan arsip-arsip penting berupa surat tanah dan surat-surat
lainnya. Kerugian yang paling utama adalah bangunan kantor camat
tersebut. Secara keseluruhan permasalahan pembakaran kantornya, sudah
dilaporkan secara rinci kepada pihak atasannya.


Dikatakan juga, roda pemerintahan tetap akan berlangsung seperti biasa.
Operasionalnya akan berlangsung di rumah dinas camat. Diminta kepada
warga masyarakat kecamatan setempat, untuk tetap berurusan seperti
biasanya. "Masyarakat tidak perlu cemas. Segala urusan tetap akan
dilayani dengan baik," jelasnya.(tim)


----------------------------------------
By Divisi Kampanye Koalisi N.G.O-HAM Aceh
Halim EL-Bambi

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Jul 1999 jam 06:04:44 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke