---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++ ---------------------------------------------------------- Republika, 5 Juli 1999 Kekuatan Islam belum Berakhir JAKARTA -- Meski perolehan suara partai-partai Islam kurang menggembirakan pada Pemilu 1999, namun Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Hamzah Haz dan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PB) Yusril Ihza Mahendra menyatakan kekuatan Islam belum berakhir. Keyakinan itu dikemukakan keduanya di hadapan ribuan jamaah di Masjid Al Azhar, Jakarta, kemarin. Tabligh bertema Peta Politik Umat Islam Pasca Pemilu, yang diselenggarakan As-Syafi'iyah dan KISDI, juga menampilkan Ketua Umum PNU KH Syukron Makmun, Dewan Syariah Partai Keadilan Daud Rasyid, ulama KH Kholil Ridwan, dan KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i. Meski disiram hujan, ribuan massa bertahan hingga selesai. Dalam orasinya, Hamzah Haz menyatakan kekuatan Islam masih sangat menentukan pada pemerintahan mendatang. Ini jika parpol yang berbasis Islam atau yang berasas Islam bergabung dalam satu fraksi Islam di Sidang Umum MPR (SU MPR) mendatang. ''Insya Allah, di DPR/MPR mendatang para parpol Islam bisa bersatu membentuk satu fraksi, yaitu fraksi Islam. Dengan format politik yang baru ini diharapkan dapat tercipta negara yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur,'' tegasnya. Pandangan ini disampaikannya dengan memperkirakan partai Islam memperolehan kursi sebanyak 169 kursi di DPR, yakni dari PPP (58 kursi), PKB (48), PAN (33), PBB (15), PK (8), PNU (5), Masyumi (1), dan PSII (1). ''Jumlah kursi ini lebih banyak dengan perkiraan perolehan kursi PDI Perjuangan (PDI-P) sebanyak 151 kursi dan Partai Golkar yang 125 kursi,'' kata Hamzah. Ia meminta umat Islam tidak khawatir dengan perolehan suara PDI- P, karena mekanisme pemilihan presiden bukan melalui suara terbanyak. Perolehan suara PDI-P pun bukan single majority, sehingga belum tentu presiden yang dipilih dari PDI-P. Pendapat sama dikemukakan Yusril Ihza Mahendra di dua tempat, di Masjid Al-Azhar dan dalam diskusi ICMI DKI. Yusril membantah analisis sebagian pengamat politik yang menyatakan kekuatan Islam sudah habis karena jumlah suara parpol Islam tidak signifikan. ''Pendapat itu tidak relevan karena hasil ini belum final dan terus dalam proses,'' ujar Yusril dalam diskusi interaktif Evaluasi dan Agenda Peran Masa Depan Ummat Islam dalam Peta Politik Indonesia, yang diselenggarakan ICMI wilayah Jakarta. Menurut Yusril, parpol yang telah memenangkan Pemilu 1999 bukan berarti akan memenangkan peperangan akhir. Ini karena proses politik akan terus berlangsung dalam SU MPR. Ia optimis dalam SU aspirasi umat Islam akan bisa terus diakomodasi. ''Sebab, kepentingan umat Islam tidak hanya dibawa parpol Islam tapi juga ada di Golkar, ABRI, dan bahkan di PDI-P sendiri,'' ujarnya. Keberhasilan PDI-P, lanjutnya, bukan berarti tanda kemenangan kelompok nasionalis. Sebaliknya, juga bukan pertanda kegagalan parpol Islam mengaktualisasikan perannya. Sebab, dari kelompok parpol-parpol nasionalis, ternyata banyak juga yang perolehan suaranya tidak memuaskan. Sukses PDI-P, menurutnya, lebih disebabkan mereka mampu memanfaatkan momen psikologis. Pada saat pemilu digelar, masyarakat telah jenuh dengan pemerintahan Orde Baru. PDI-P pun berhasil membentuk Megawati sebagai simbol perlawanan atas kesewenangan Orba. ''Padahal, Megawati relatif tidak berbuat apa-apa. Dan pemilih Megawati itu ada yang datang dari remaja masjid, anggota HMI dan ustadz,'' katanya. Yusril melihat kecenderungan momen psikologi massa Pemilu 1999 berpihak pada kelompok tertindas, yang tergambar jelas pada keberhasilan PDI-P. ''Jika pemilu dilakukan enam bulan pascaperistiwa Tanjung Priok, tentu partai-partai Islam akan memperoleh suara yang lebih baik,'' katanya di hadapan massa di Masjid Al-Azhar. Sedangkan kegagalan parpol Islam, menurut Yusril, selain faktor eksternal juga datang dari dalam. Itu berkaitan dengan singkatnya proses konsolidasi dan sosialisasi. Sehingga ide-ide besar parpol Islam tidak sampai ke masyarakat bawah. ''Selain itu, saya melihat kewibawaan ulama sudah merosot sedemikian rupa karena dianggap telah terlalu dekat dengan kekuasaan. Di masa mendatang, dakwah harus ditingkatkan,'' katanya. Pengamat politik LIPI Indria Samego, pembicara dalam diskusi ICMI, menilai kegagalan parpol Islam lebih disebabkan karena suara Islam terpecah dalam belasan partai. ''Di lapisan bawah pun seolah-olah tidak terjadi kejelasan pegangan atau disorientasi,'' ujarnya. Walau suara umat terpecah, ia menolak anggapan bahwa politik Islam habis karena sejarah membuktikan umat Islam memiliki peran sosial penting di negeri ini. Soal terpecahnya kekuatan Islam itu juga dikemukakan KH A Kholil Ridwan di Al-Azhar. Ketua Umum BKSPPI itu menilai wajar dalam pemilu ini parpol Islam kalah karena terpecah menjadi beberapa parpol Islam. ''Kita harus ingat peringatan dari Allah bahwa janganlah kalian terdiri dari beberapa golongan. Jadi, kita harus bersatu, sehingga bisa menang,'' ujarnya. Kecilnya perolehan suara parpol Islam, menurutnya, merupakan ujian yang harus diambil hikmahnya. ''Kita pantas diuji, kerena kita belum bisa bersatu. Ketidakbersatuan itu menyebabkan suara Islam terbagi ke banyak partai bahkan banyak juga yang masuk ke partai bukan Islam,'' lanjutnya. Dewan Syariah Partai Keadilan Daud Rasyid menyatakan pula, kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan, bukan saja krisis moneter tapi yang paling parah adalah krisis akidah. Ini berbeda dengan Pemilu 1955. Ketika itu umat Islam akan memilih parpol Islam, kini umat Islam malah malu mendukung parpol Islam. ''Mereka malah mendukung partai yang nyata-nyata sekuler,'' ujarnya. Di masa mendatang, lanjutnya, semua komponen umat harus saling mengoreksi diri. Jadikan kekalahan yang dialami parpol Islam di pemilu tahun ini sebagai cambuk untuk pemilu lima tahun mendatang. ''Pada pemilu mendatang umat Islam harus mempunyai tekad berjuang untuk kemaslahatan umat. Mari kita kobarkan semangat jihad ini kepada seluruh umat Islam,'' tegasnya.(pri/irf/vie) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Jul 1999 jam 07:07:10 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
