----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
++ Pemilu Online: http://www.indo-news.com/pemilu/ ++
----------------------------------------------------------

Republika, 3 Juli 1999

RESONANSI: Cap Jempol Darah

Oleh Parni Hadi

Ingat Megawati, saya ingat Bung Karno. Ingat gerakan cap jempol
darah pendukung PDI Perjuangan, saya ingat semboyan "pejah
gesang ndherek Bung Karno atau mati hidup ikut Bung Karno. Tapi,
sewaktu sang Proklamator dijatuhi tahanan rumah oleh penguasa
Orde Baru tak ada satu pun pengikutnya yang minta ditahan. Juga
ketika Bung Karno akhirnya wafat, tidak ada satu pun pengikutnya
yang ikut mati. Alhamdulillah, kesetiaan yang dideklarasikan
oleh mereka yang menyebut pengikut setia Bapak Bangsa itu tidak
menyebabkan banyak orang bunuh diri. Media massa dan buku
penerbitan asing menyebut Bung Karno meninggal in disgrace atau
dalam keadaan kehilangan kehormatan. Sejatinya, penghormatan
yang diberikan rakyat kepada jenazah almarhum luar biasa
besarnya. Tapi, sekali lagi, Alhamdulillah, tidak sampai membuat
orang ikut bela pati atau ikut mati, melainkan cukup ikut dengan
bela sungkawa atau berduka cita.

Kesimpulan apa yang bisa ditarik dari semboyan itu? Kita memang
bangsa yang verbalistis. Bangsa yang menggemari semboyan-
semboyan, yang kita sendiri sudah tahu bahwa pada akhirnya tidak
akan kita lakukan. Itu semua adalah jargon politik atau suatu
ekspresi politik sebagai alat teror mental untuk melemahkan
semangat lawan. Mungkin gerakan cap jempol darah itu dimaksudkan
sebagai counter atas isyu bahwa umat Islam akan melakukan jihad
jika Megawati terpilih sebagai presiden. Apakah melakukan cap
jempol darah sebagai alat politik untuk mendukung Mega tidak
boleh? "Ini hak asasi manusia untuk mengekspresikan diri", kata
tokoh PDI-P Aberson Marle Sihalolo. Astaghfirullah!.

Jika cap jempol darah itu dianggap salah satu bentuk ekpresi hak
asasi, itu adalah bentuk hak asasi yang purba alias primitif.
Kebetulan, dalam kepercayaan purba, darah sering dipakai sebagai
sesaji untuk roh para leluhur. Paralel dengan itu, kesimpulan
yang bisa ditarik adalah bahwa budaya politik kita memang masih
rendah. Kita masih senang menggunakan simbol, cara dan tindakan
kekerasan untuk mencapai tujuan politik. Kita masih didominasi
oleh keputusan emosional daripada keputusan rasional.
Seyogianya, cara-cara kekerasan baik oleh pendukung Habibie,
Mega atau capres lainnya dihindari, jika kita tak ingin terjadi
pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Alhamdulillah, tidak semua pengurus PDI-P sepaham dengan
Aberson. DPD-P Jakarta dan DPC PDI-P Kodya Madiun menolak ikut
aksi cap jempol darah itu. Alasan mereka, aksi itu bisa
menimbulkan citra buruk bagi partai, kurang bermanfaat dan
kurang demoktratis. Bahkan, pengurus PDI-P Madiun menyarankan
agar anggotanya menyumbang darah untuk PMI.

Saya melihat kemungkinan mudarat dari aksi cap jempol darah itu.
Bagaimana jika orang yang diambil darahnya adalah pengidap AIDS
dan jarum pentul yang dipakai berulang-ulang tidak steril?

Mengapa para elite politik tidak mengajari pengikutnya bersyukur
atas suksesnya pemilu lalu seperti ajakan Gus Dur? Semua pihak
patut bersyukur, karena pemilu telah berlangsung relatif aman.
PDI-P patut bersyukur bahwa ia berhasil menduduki tempat
pertama. Demikian pula Golkar, sekalipun terus dihajar, masih
bisa meraih posisi nomor dua. Idem ditto PKB, PPP, PAN, dan PBB.
Soal pemilihan presiden, serahkan pada SU MPR. Itu urusan nanti.
Kini kita wajib bersyukur dulu. Alangkah indahnya jika bisa
diadakan syukuran bersama, sekaligus rekonsisalisi atau rujuk
nasional, oleh parpol yang telah mendapatkan kemenangan itu.
Jika ada yang ingin menumpahkan darah silakan pada kesempatan
itu, misalnya dengan menyembelih ayam atau kambing. Jika kurang
besar, bisa menyembelih kerbau atau sapi. Syukuran bisa
dilakukan sbb: cari kerbau atau sapi yang gemuk, tuntun ke bawah
pohon rindang, ikat dengan tali besar melingkar-lingkar,
hadapkan ke kiblat, sembelihlah (tentu dengan Bismillah) di
waktu matahari terbit, adakan syukuran saat bulan sabit bertabur
bintang dan undang rakyat kecil untuk menikmati dagingnya. Asyik
kan?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Jul 1999 jam 07:08:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke