---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk DUA PULUH EMPAT ORANG DICULIK PPRM ,PERLAWANAN RAKYAT ACEH MAKIN LUAS JAKARTA (MeunaSAH, 20/6/1999) Dua mahasiswa dikejar PPRM (Pasukan Penindak Rusuh Massa) hingga melarikan diri ke Jakarta. Dua mahasiswa itu bersaksi di kantor Kontras, Senin (19/7). Kepada SiaR mereka menuturkan, perihal kekerasan yang dilakukan aparat militer di Aceh. "Saya kabur ke sini karena dikejar aparat PPRM," kata Syaiful Bahri, mahasiswa STAI Langsa, Aceh. "Mereka mengejar dan menculik aktivis yang membantu pengungsi. Keluarga kami juga diteror, sehingga melarikan diri ke kota agar aman dan bisa mendapat bantuan warga dan mahasiswa," katanya. Menanggapai penculikan tersebut Munir dari Kontras menyatakan protes. Kejadian ini, menurut Munir, bukan kali pertama, tapi sudah berkali-kali terjadi. Modus operandi yang dilakukan macam-macam. Namun baik polisi, PPRM, maupun Koramil atau Kodim, paling banyak memakai alasan klasik: mereka diambil karena terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "PPRM ternyata bukan pengendali kerusuhan massa, tapi telah melakukan operasi militer sebagaimana dilakukan operasi Jaring Merah. Institusi Kodim dan lain-lain telah memainkan peran dalam lakukan penangkapan terhadap warga sipil," tegas Munir. Keterangan Syaiful tadi ditegaskan oleh Ray Iskandar, mahasiswa Universitas Langsa. "Operasi TNI di Aceh sudah brutal. Bahkan dalam dua hari terakhir ini telah 24 orang diculik dan dianiaya karena membantu pengungsi," ujarnya lebih lanjut. Bahkan dalam banyak kasus, PPRM masuk ke desa sembari menembakkan senapan ke atas, lalu mulai menggeledah rumah penduduk. Dalam satu hari penduduk masih bisa tahan, namun biasanya hari kedua mereka mulai merampoki ternak rakyat dan memukuli rakyat. Nasib malang misalnya dialamai Yacob Hamzah, pria berumur 35 tahun dari Paya Meuligo, Aceh Timur. Saat sedang minum di warung bersama Ismail, mereka didatangi PPRM yang langsung memukulinya di depan masyarakat dan menculiknya. Sebuah motor GL-Pro milik Yacob juga diambil petugas. Kasus lainnya menimpa Muhajir (22) dari Alue Bu, Aceh Timur, yang diculik tiga orang berpakaian sipil. Belakangan diketahui penculik adalah dua anggota intel dan seorang bernama Buyung yang dikenal sebagai wartawan Bukit Barisan, majalah yang terbit di Aceh. Pemukulan dan penculikan tersebut disaksikan keluarganya dan banyak orang karena dilakukan siang hari didepan di kantor PJKA setempat. Kasus serupa terjadi lagi dan kali ini menimpa Musbaji dari Alue Nireh, Mtg Perlak. Pria 30 tahun ini diculik di depan markas Batalyon 1011, Tualang Cut, saat melintas dengan motor Suzuki Satria oleh TNI. Sejak Kamis(15/7) hingga berita ini dibuat, pria berikut motornya tak kembali ke rumah. Akibat tindak kekerasan ini arus pengungsi di Aceh Timur mencapai 11 ribu orang. Sementara di Aceh Utara mencapai 16 ribu pengungsi, dan Aceh Pidie mencapai 80 ribu. Akan halnya di Aceh Barat mencapai 17 ribu pengungsi, namun sebagian lainnya Minggu,(18/7) sudah kembali karena TNI meninggalkan desa. Atas penculikan 24 orang dalam dua hari itu, Kontras meminta kepada TNI agar menghentikan kekerasan, dan membebaskan korban penculikan yang membantu pengungsi. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Jul 1999 jam 15:42:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
