----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Sobron ,
Sebenarnya aku tidak terbiasa untuk sungkem. Tapi lantaran suratmu
benar-benar membuatku kaget, seperti anak badung yang kepergok
nyolong mangga tetangga, telingaku serasa kamu jewer demikian sakitnya.
Nah perasaa berdosa ini barangkali yang membuatku berpikir untuk sungkem
padamu dengan surat ini.

Sobron,
Aku memang  laki-laki dungu. Tidak bisa membedakan diantara dua kolom penulis
yang berlainan. Tadinya aku mau komplen sama kamu lantaran gengsi untuk minta
maaf dan beri alasan " Kalian berdua nama belakangnya sama-sama Aidit, jadi
jangan salahkan saya kalau saya salah maki dong ?" persis seperti ketika aku
gagal interview kerja di First USA  sebulan yang lalu, aku hampir saja
beralibi ke istri " Ah bulenya memang rasialis " Padahal semua itu adalah
kesalahanku, aku memang kurang teliti Sobron, penulis yang menyerangku adalah
A. Aidit sedang kamu Sobron Aidit.  Dia tinggal di Belanda, Kamu tinggal di
Perancis. Celakanya adikmu yang tidak berbakat menjadi penyair itu  malah
mendiamkan kesalah pahaman ini sampai berlarut larut, akibatnya kamu jyang
tidak tahu apa apa justru yang aku hantam dengan makian.

Sobron,
Aku merasa bersalah, tapi terus terang aku tidak sanggup untuk sungkem
padamu. Karena itu biarkan aku ulurkan tangan ini tanda aku bersungguh
sungguh minta maaf, kamu boleh jitak  kepala minang yang sekeras batu
ini,Kamu boleh sentil ini kuping, memang sudah waktunya aku di beri pelajaran
tentang etiket internet. Seperti orang Minang di Padang yang meributi soal
isu kristenisasi, aku dan mereka sama -sama beotak kardus yang malas berpikir
dan  kurang daya ingatan. Sobron ,aku dan mereka sama sama gila.

Sobron,
Adalah hak kamu untuk menulis apapun dan itu aku hormati, begitu juga hak
adikmu untuk memaki, anggaplah kritikanku terhadap tulisanmu sebagai sebuah
catatan editorial, walaupun aku sendiri kurang tertarik membaca kolommu
karena cerita kehidupan perantauanmu , suka dukamu tidaklah asing bagiku-
ceritamu akan menarik bagi pembaca yang tinggal di tanah air,bukan buatku.

Sobron,
Kalau kamu berniat menjadi penulis, kamu harus mencari editor yang baik.
Dan seorang editor yang baik adalah orang yang kejam dalam mengkritik.
Tidak pandang bulu dalam membunuh kalimat dan alinea. Sanggup memenggal dan
menyembelih plot cerita yang bertele tele. Dan mencari orang seperti ini
memang tidak gampang,  usaha menemukan mereka sama susahnya dengan mencari
oposan yang jujur di panggung politik negara kita.

Sobron,
Oleh sebab itu biarlah kita saling meninggalkan sikap saling membenci , dan
aku tawarkan juga ini pada adikmu yang mesti banyak belajar sebelum bikin itu
puisi.
Kita boleh bersahabat, tapi sikap saling edit dan daya kritik jangan
dibiarkan lenyap.Kita boleh berteman dekat,tapi permusuhan dalam ide dan
pola berpikir jangan dibiarkan berkarat. Kamu mungkin pusing dengan omonganku
ini.Tapi metode dialektik inilah yang sesungguhnya sanggup membuat kita
menjadi pemikir atau penulis brilyan.

Sebab Sobron, hanya seorang musuh yang  mampu dengan jujur mengkritik
kelemahan kita.Seorang kawan, pertalian emosinya justru melemahkan kekuatan
yang kita miliki.

Itulah sebabnya Sobron, aku terus menerus berusaha untuk mencari polemik.
Walaupun aku ditendang dari milis Riska, dibuang dari milis Mimbarbebas, di
blokir ketika mencoba masuk milis PadangBulan milik se Emha ( padahal aku
ditantangain debat sama kurcaci si sufi geblek ini ) dan sekarang aku cuma
menghitung hari saja sampai benar benar di tendang dari milis Isnet yang baru
saja aku masuki.

Sobron,
Memang musuhku sudah cukup banyak, tapi sahabatku juga bertambah banyak.
Edizal yang tinggal di Jepang itu, baru saja kirim gift pajangan yang cantik
yang aku terima kemarin di sini. Dia sekarang sedang jalan -jalan ke Los
Angeles,New York dan Chichago. Pak Djoko mengirim jengkol sebulan yang lalu,
Mbak Nit menyilahkan aku mampir kapan saja aku ke Swiss, Bung Ferry dan
Thomas bisa aku temui kapan saja aku ke Jakarta nanti. Bahkan Chynthia di
Portland dulu malah pernah meminjamkan acura nya selama 2 hari ketika aku
berkunjung ke Oregon.  Sekarang pertanyaannya adalah apakah kamu bersedia
menjadi temanku? Kalau tidak ya ora opo opo, kalau ya...bersiap siaplah untuk
aku tumpangi rumahmu ( dasar padang lu Has !)

Sobron,
Bukan cuma orang satu agama yang banyak memusuhiku, bahkan ketika aku mancing
sabtu kemarin di Lake of Springfield, aku merasa semua ikan di sana membenci
kehadiranku. Selama 3 jam aku  kailku tidak disentuh mereka.
di bawah dermaga ber canopy yang disediakan untuk pemancing, aku cuma bisa
memandang geram pada ikan-ikan yang nampak berseliweran . Akhirnya aku
biarkan mereka mengejekku sesuka hati, aku malah baca buku catatan kecilnya
William Saroyan yang sebagian isinya menarik, sebagian lainnya tidak
mengesankan sama sekali ,sambil makan potatoe chips dan minum coke yang aku
siapkan dalam cooler.

Sobron,
Birakan aku permisi dulu dan sekali lagi. Taboklah aku bila perlu..
Tapi bila memang kamu tidak tega, cukup maafkan saja  kesalahanku..

HASAN BASRI




Subj:    Ingin menjernihkan masalah
Date:   99-07-17 18:12:33 EDT
From:   [EMAIL PROTECTED] (borneo)
To:     [EMAIL PROTECTED]

Bung Hasan Basri yang baik,
Barulah sekarang saya menjawab semua milis Bung yang banyak saya baca
selama ini. Tetapi ketika itu Bung belum menyebut nama. Yang nomor 125 ini
Bung menyebut nama saya dengan jelas. Bung katakan bahwa saya menghina dan
memaki Bung.Sejak dulu saya tak pernah memaki dan menghina Bung. Tolong
tunjukkan kepada saya di tulisan mana saya memaki, menghina atau menyebut
atau menyindir nama Bung. Saya kira selama ini, dalam beberapa tulisan
Bung, mungkin Bung ada kesalahan yang menganggap "ada orang lain" yang Bung
sangkakan saya, yang padahal bukan saya.

Karena itu tolong Bung tunjukkan tulisan saya yang mana yang saya menghina
dan memaki ataupun yang menyinggung Bung. Karena selama ini saya tak pernah
secuilpun, tak pernah satau katapun memaki, menghina, menyindir atau apa
saja yang ada hubungan dengan Bung. Jadi selama ini sebenarnya Bung-lah
yang terus-terusan memaki saya dalam banyak tulisannya. Tetapi saya terus
diam saja. Nah, tadi itu setelah saya baca dengan nama saya, maka saya
jelaskan yang mungkin selama ini Bung sudah salah menyangka "ada orang
lain" yang Bung kira adalah saya. Inilah penjelasan saya, bahwa saya tak
pernah selama ini memaki, menghina, atau apa saja yang ada hubungannya
dengan Bung. Bahkan Bung-lah yang terus menerus memaki dan menghina saya,
padahal apa dosa dan kesalahan saya kepada Bung! Betul-betul saya heran,
sangat heran, kenapa Bung begitu memusuhi saya, padahal saya tak pernah ada
apa-apa terhadap Bung. Karena itu tolonglah Bung tunjukkan dalam tulisan
yang mana saya memaki dan menghina Bung.

Atas perhatian Bung saya ucapkan banyak terimakasih,-

Sobron Aidit,-           Paris 18 Juli 1999,-        00,10,
------------


Bung Hasan Basri yang baik,
Nah, sekaranglah baru ketahuan dan terbongkar. Ternyata apa yang saya
sangkakan selama ini adalah betul. Ada orang lain yang Bung sangkakan
adalah saya, padahal bukan saya. Tulisan itu adalah tulisan A.Aidit dan
penulisnya ada  di Holland, Hoofddorp. Dia adalah adik saya, yang padahal
saya tak tahu menahu soal kalian berdua. Hanya yang saya herankan kenapa
Bung membalasnya tidak langsung kepada A.Aidit, lalu kok saya yang Bung
sasar! Saya sudah ada perasaan bahwa Bung salah sasaran. Nama saya Sobron
Aidit, dia namanya A.Aidit, saya ada di Paris, dia ada di Holland, lagi
pula saya tak ada hubungan dengan dia dalam soal tulis menulis dalam
polemik kalian berdua, kenapa lalu saya Bung sasar terus menerus. Bung
seharusnya tahu, bukankah ada tanda inisial lainnya, bahwa yang dia tulis
dan keberadaan dia itu di Holland, dan saya di Prancis, lalu saya tak
pernah menulis tentang perdebatan agama dan tak pernah menyinggung nama
orang lain dalam milis ini.

Nah, harapan saya, tolong Bung lempang dan luruskan, bahwa selama ini Bung
salah dalam menyerang atau "membalas serangan" yang mestinya kepada A.Aidit
yang di Holland, lalu Bung sasarkan kepada saya. Lagi pula kan gaya dia
menulis dengan saya tak ada bau-bau samanya, gayanya lain, isinya lain,
gayabahasanya lain. Dan lagi saya takkan pernah mencampuri urusan agama
yang seperti ditulis orang-orang di milis ini. Padahal saya sangat
menghargai Bung, menghormati Bung, tahu-tahu Bung terus menerus menghantam
saya. Cobalah Bung periksa lagi baik-baik lagi bahwa A.Aidit dan Sobron
Aidit itu, bukanlah satu orang. Yang satu ada di Prancis yang lainnya ada
di Holland. Yang satu gayanya lain, isinya lain, persoalannya lain, tak ada
bau-bau samanya. Lalu selama ini sayalah yang Bung sasar, dan itu artinya
Bung sudah memukul orang yang samasekali tak pernah menyinggung Bung malah
selama ini menghormati dan menghargai Bung, tapi orang itu sudah Bung
pukul, maki dan hina terus-menerus.

Saya mengharapkan agar Bung menjelas semua ini kepada milis yang Bung
pernah hantamkan kepada saya. Banyak teman-teman saya juga heran, mengapa
kok kamu yang dihantam, padahal A.Aidit yang sedang "berperang" dengan
Proletar? Kamu kok diam saja, selama ini Proletar rupanya menyangka kamu,
dan kalau kamu diam terus-menerus kan kamu yang babakbelur, "musuh" yang
sesungguhnya "selamat-selamat" saja!,-demikian banyak teman berkata kepada
saya.

Jadi tolonglah Bung jelaskan semua "peristiwa" yang bagi saya terus menerus
"menimpa" diri saya yang padahal saya tak punya urusan dengan kalian
berdua!

Demikianlah harapan saya, dan atas perhatian dan kerelaan Bung, saya
sampaikan terimakasih saya sedalam-dalamnya. Agar antara kita tak perlu ada
beban-beban yang sesungguhnya hanya salah pengertian yang akhirnya salah
sasaran, sehingga "perang di antara kalian" tidak mencapai sasaran dan
sangat tak seimbang.-

Salam hangat saya buat Bung,-

Sobron Aidit,-              Paris 18 Juli 1999,-         07,05,-

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jul 1999 jam 03:34:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke