----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 29 Juli 1999

Voting
Oleh : A Makmur Makka

Sejarah bangsa Indonesia sejak dulu memang tidak pernah
terlepas dari konflik. Sejak zaman Majapahit ketika Raden
Wijaya bertahta sebagai Raja Majapahit I, telah meletus
pemberontakan oleh Rangga Lawe, penguasa Tuban. Kemudian,
ketika muncul Jayanegara sebagai Raja Majapahit II,
terjadi lagi pemberontakan Nambi. Pokoknya pada abad lima
belas, kerajaan di Jawa, subur dengan konflik serta
peperangan.

Pada masa kejayaan kerajaan Mataram juga tidak pernah sepi
pemberontakan dan peperangan. Ada pemberontakan Ki Ageng
Mangir melawan kekuasaan Amangkuurat I, bahkan perang
antara Mataram dan Raja-raja Madura yang bersekutu dengan
Karaeng Galesong, pasukan Sultan Hasanuddin yang lari ke
Jawa.

Di bagian timur Nusantara, perseteruan besar antara
Kerajaan Bone dan Gowa pernah meluas beberapa kerajaan
vasalnya. Tetapi, setelah Belanda menaklukkan Sultan
Hasanuddin dari Gowa dengan bantuan armada perang Arung
Palakka dari Bone, Arung Palakka mengadakan "rekonsiliasi"
dengan Raja Gowa. Ia mengadakan politik kekeluargaan
dengan perkawinan silang antara dua keluarga besar
kerajaan itu. Barulah akhirnya perseteruan abadi antara
Gowa dan Bone, dua kerajaan besar di bagian timur
Indonesia sekarang ini, dapat dipadamkan.

Setelah Indonesia merdeka, kita tetap kenyang dengan
berbagai pemberontakan dan konflik antarsesama bangsa kita
sendiri. Peristiwa Madiun yang digerakkan Partai Komunis
Indonesia yang dipimpin Muso. Konflik dengan pendirian
negara-negara Islam oleh Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo.
Kemudian gerakan Republik Maluku Selatan oleh Dr Soumokil,
Gerakan PRRI Permesta di Sumatra dan Sulawesi Selatan.

Sejak dulu, kita memang sudah kenyang dengan konflik, baik
berupa pemberontakan maupun gerakan perlawanan, apa pun
namanya. Wajah kerajaan dan raja dendam. Motif konflik
bermacam-macam, jika tidak karena ketidakpuasan, gerakan
yang bernuansa millenarisme-kepercayaan adanya ratu adil-
tentulah ke masalah suksesi.

Mungkin takdir bawaan itu yang membuat kita sampai
sekarang ini tetap tidak pernah sepi dari konflik.
Padahal, kita sebenarnya selalu mendendangkan kata
"mufakat" dan "musyawarah", artinya, setelah kita tidak
menemukan penyelesaian sebuah persoalan, maka kita harus
mengadakan musyawarah dan permufakatan.

Kita dulu sangat percaya pada keampuhan kata mufakat dan
permufakatan, percaya pada kata "musyawarah dan mufakat".
Tetapi semua makna kata itu sekarang sudah dilupakan,
semua sudah sirna. Kita sekarang percaya pada kata
"voting", kita beramai-ramai mau menyelesaikan semua
masalah atau konflik dengan voting, sebuah kata pamungkas
untuk menandakan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Siapa yang besar dan siapa yang kecil. Siapa yang kuat dan
siapa yang lemah. Semua sudah lupa pada kata mufakat dan
musyawarah yang konon digali dari khasanah kekayaan budaya
bangsa sendiri. Padahal voting diambil dari sistem
demokrasi yang kita impor mentah-mentah setelah Perang
Dunia I.

Rupanya, jarum waktu peradaban kita telah kembali ke masa
kejayaan kerajaan berabad yang lalu. Ketika semua konflik,
apalagi untuk kepentinga suksesi, kita mengandalkan naluri
purba nenek moyang kita untuk adu kekuatan. Adu kesaktian
bala tentara. Adu gemerencing pedang dan tombak-tombak,
untuk menandakan siapa yang kuat dan siapa yang lemah.
Siapa besar dan siapa yang kecil. Siapa yang berkuasa dan
siapa yang pecundang. Adu kuat-kuatan.

Apakah sekarang, masih ada orang yang berpikir tentang
mufakat dan musyawarah setelah bala pasukan sudah
terkumpul pada apa yang kita sebut "partai" yang siap
melakukan voting?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Aug 1999 jam 06:37:12 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke