----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Corat-coret Z. Afif

BENDA, MAKHLUK ATAU HEWAN?

Dia seorang anak muda Swedia yang jangkung dengan rambut kemerahan dan
ikal.. Matanya biru dan bersinar tajam.  Orangnya kritis, baik dikelas
maupun dalam pergaulan.  Suka bertanya. Dia belajar Bahasa Indonesia pada
saya dan sudah agak lancar menggunakannya. Dia gemar membaca surat kabar
atau majalah Indonesia dan berusaha keras menggunakan tata bahasa dengan
tepat. Suatu hari dia betanya: "ABRI itu benda apa?"

"Bukan benda, melainkan makhluk. Makhluk sebuah kata dari bahasa Arab.
Artinya, segala sesuatu yang dijadikan atau diciptakan oleh Tuhan" - saya
mencoba jelaskan.

Dia belum puas dengan jawaban itu, masih ingin tahu: "Apa boleh Anda beri
contoh?"

"Ya, itu, manusia, binatang atau hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pendeknya
sesuatu yang hidup, bernyawa. Dari mana kau dapat kata itu?" - balik saya
bertanya.

"Judul sebuah berita di surat kabar Indonesia. Saya hanya membaca judulnya
'ABRI mengganas di Aceh'.  Bukankah kata ganas biasanya dipakai untuk
binatang?"

"Tidak mesti! Itu sebuah uttryck (ungkapan).  Kata ganas boleh juga
digunakan untuk manusia yang bertabi'at binatang!"

"Jadi Abri itu binatang ganas seperti harimau atau singa?" - bernafsu sekali
ia ingin tahu.

"Bukan! ABRI itu adalah singkatan daripada Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia."

"Tetapi mengapa dia ganas kepada orang Indonesia? Kan Aceh itu Indonesia
juga?" - dia begitu heran menghadapi gejala tersebut.

Karena pemuda ini sangat menaruh minat pada ilmu sejarah, maka keinginan
tahunya harus saya layani secara sejarah pula. Maka saya jelaskan:

-ABRI itu semula dibentuk oleh rakyat untuk melawan penjajah dan membela
kemerdekaan. Aceh dahulu adalah sebuah negeri atau kerajaan Islam tertua di
kepulauan Nusantara. Kepulauan ini kemudian jatuh ke dalam penjajahan
Belanda. Tapi Aceh, sampai menjelang Perang Dunia Kedua, masih belum
sepenuhnya dapat dikuasai oleh Belanda. Perlawanan-perlawanan masih ada.
Jadi sejarah perlawanan Aceh terhadap Belanda cukup lama dan kerugian
manusia serta material di pihak Belanda cukup banyak di Aceh.  Tidak seperti
Perang Jawa di bawah Diponogoro yang begitu singkat dan kawasan operasinya
juga lebih sempit daripada misalnya Teuku Chik Muhammad (Teuku Chik di
Tunong) dan isteri beliau Cut Meutia dengan panglima-panglimanya Pang
Nanggro� dan Pang Lat�h. Tak usah dulu disebut Teungku Chik Muhammad Saman
di Tiro, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhi�n - isteri Teuku Umar-, Teuku Panglima
Polem. Lagi pula motif perangnya tidak sama. Diponogoro demi kepentingan
takhta kerajaan.  Pejuang Aceh itu berperang demi tanah air dan agama.

- Celakanya, di dalam ABRI itu, sejak masa yang disebut Revolusi Agustus
1945, telah menyusup elemen-elemen preman, pemeras, pengisap, feodal
bangkrut haus kekuasaan, kaum spekulan, kaki tangan Belanda, inlander yang
telah berkarat dengan budaya kolonial, anasir yang didalam jiwanya telah
tertanam sifat bajingan KNIL (tentra Belanda) dan keganasan Kenpeital
(polisi militer) Jepang.  Diantara perwiranya seperti Suharto, punya
perskongkolan dengan penyeludup-penyeludup keturunan Cina seperti Liem Siu
Liong.  Di dalam perkembangannya, yang berdominasi di dalam ABRI adalah
elemen-elemen busuk dan sampah masyarakat itu. Sedangkan elemen-elemen dari
Hizbullah, Mujahidin, Pasindo atau lainnya yang berjiwa kerakyatan dan
demokrat, satu persatu kena pembersihan. Karena itu, watak manusia pada ABRI
telah berubah menjadi buas melebihi binatang. Hal ini paling menonjol sejak
masa Orde Baru Suharto. Sekarang semakin dikukuhkan sifat serigala atau
harimau lapar dan burung bangkainya itu seperti yang diperagakannya di Aceh.

- Sebagai makhluk bertubuh manusia dan berdarah daging dan berjiwa binatang
buas, ABRI itu tidak mau tahu bahwa pada masa Revolusi Agustus 1945,
Republik Indonesia itu tanpa Aceh tidak akan mapu berdiri.  Bangsa Aceh
beramal dimasa sulit baru keluar dari penindasan Jepang, memberikan apa yang
dapat diberikannya untuk membuat RI itu dapat berdiri dan mengusir Belanda.
Pasukan bangsa Aceh bukan berperang di Aceh melawan Belanda, karena Belanda
tak berani menjamah lagi Aceh, melainkan berangkat ke Sumatra Timur,
bertempur disana apa yang disebut Medan Area untuk mengusir Belanda yang
telah memasuki daerah itu. Aceh Timur harus manampung puluhan ribu
pengungsi.  Banyak orang dari Sumatra Timur dan Tapanuli terpaksa mengungsi
ke Aceh pada masa itu.  Pasukan-pasukan dari Sumatra Timur yang telah
berperang, masuk beristirahat di Aceh. Kampungku Lhok Sukon, juga kebagian
untuk peristirahatan Batalion B, yang banyak terdiri dari orang Batak, Karo,
Jawa, Mandailing, Melayu. Begitu pula kala Pangkalan Brandan dibumi
hanguskan pada tahun 1947, penduduk kota di ungsikan ke Aceh.  Rumah sekolah
dan gedung bioskop seperti di Lhok Sukon, dipakai untuk para pengungsi
keturunan Cina. Kami terpaksa libur sekolah berbulan-bulan.

- Setelah rezim militer Orde Baru Suharto berkuasa, mulailah perusahaan
asing menggarap kembali bumi Aceh. Hutan mulai ditebang. Tanah-tanah rakyat
mulai dirampas. Lapangan-lapangan kerja baru diperusahaan para pendatang dan
di perkantoran pemerintah dibagikan kepada pendatang, tidak untuk orang
Aceh. Bahkan untuk jadi supir saja didatangkan orang dari luar Aceh. Padahal
orang Aceh tak kalah dengan pendatang itu dalam ketrampilan mengemudikan dan
memuntiri mobil. Ganja yang secara tradisonal jadi bumbu kari di Aceh, telah
digunakan sebagai barang niaga ABRI. Pelacur pun dibawa ke Aceh oleh
pendatang itu. Jendral-jendral dan perwira-perwira bawahannya dari ABRI yang
sudah menjadi tentra sewaan berwatak bandit dan binatang buas, serta
pejabat-pejabat sipil pendatang memanfa'atkan keadaan itu untuk memperkaya
diri. Termasuk disini yang terutama Suharto dan istrinya - Tien - bersama
kroni mereka. Sejalan dengan itu mulailah adat-istiadat, tata tertib hukum,
budaya Aceh dicemari dan dirongrong. Bahasa Aceh pelan-pelan terpingkirkan.
Penduduk Aceh asli didesak ke luar kota. Ulama-ulama Aceh disepikan.
Ketidakadilan sosial semakin menekan bangsa Aceh.

"Apakah orang Aceh tidak memprotes?" - potong pemuda lagi.

"Tentu ada reaksinya. Mari saya lanjutkan lagi" - kata saya:

- Keadaan yang menekan dari ketidak-adilan sosial dan pencemara atas
adat-istiadat, tata tertib hukum dan penghinaan terhadap martabat Aceh,
telah memaksa rakyat Aceh bangkit mengangkat harga dirinya untuk memulihkan
kembali hak dan kedaulatan bangsa dan negeri Aceh. Tapi pemerintah Suharto
menganggap ini menentang RI dan separatis, lalu digunakanlah ABRInya dan
dilakukan penindasan secara teror atas bangsa Aceh.  Di sinilah tampak wajah
ABRI itu lalim, jahilyah, binatang buas. Karena itu ABRI sebenarnya lebih
tepat di dalam bahasa Aceh disebut: As�� Bud�k Radja Iblih (Anjing Lepra
Raja Iblis), atau Aneu�k Bajeu�ng Rongrong Islam (Anak Haram jadah Rongrong
Islam).

"Jadi, 'ABRI mengganas di Aceh' sama dengan binatang buas mengganas di
Aceh?" - tanya murid saya tadi.

"Tak salah! Begitulah hakekatnya" - jawab saya.

"Apakah orang-oranga Indonesia, khususnya yang islam di Jawa punya
solidaritet kepada orang Islam yang di Aceh?" - selidiknya.

"Mungkin mereka lebih memerlukan kenikmatan melahap kekayaan alam dan bumi
Aceh daripada menyatakan rasa solidaritasnya dan bersuara untuk keadilan.
Mungkin bagi mereka kenikmatan hidup lebih penting daripada amal kebajikan
terhadap sesama Islam!" - balasku.

Pemuda itu hanya menatapku, tidak habis mengerti.


-Sweden, 2 Agustus 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Aug 1999 jam 04:32:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke