----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 19 September 1999

Kunci di Tangan Rakyat

KAMI prihatin ada gejala soal Timtim dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan
elit partai politik yang tidak membantu penyelesaian, khususnyya para
pengungsi. Padahal persoalan Timtim sudah lama menjadi isu internasional.
Nah, agar tidak dijadikan alat kepentingan lain diharapkan kunci
penyelesaiannya berada di tangan rakyat Timtim sendiri, termasuk menerima
kemerdekaan atau menetap di wilayah Indonesia sebagai warga negara
Indonesia.

Demi kemanusiaan kami menyelesaikan sebagian masyarakat juga elit politik
yang mencampuradukkan persoalan dalam negeri dan luar negeri sebab dapat
memperuncing keadaan di sana serta menimbulkan implikasi bagi Indonesia
dalam memelihara pergaulan antar bangsa di dunia.

Sejarahnya sejak perang dingin Amerika-Uni Soviet, tahun 1975 pro-integrasi
masuk wilayah Indonesia dengan pengorbanan militer yang dikenal di
antaranya dengan nama veteran Seroja dan didukung oleh Amerika dan
Australia tanpa referendum (tidak demokratis) karena suatu hal terpaksa di
mana Portugal mengabaikan dan Indonesia mempunyai kepentingan yang sama
anti komunis.

Begitupun dana pembangunan untuk Timor Timur selama ini diistemawakan dari
propinsi lain. Tapi, dalam perjalanannya status Timtim belum mendapatkan
pengakuan internasional.

Setelah bubarnya komunis Uni Soviet tahun 1986 pemerintahan Soeharto tidak
menggubris desakan internasional, bahkan membuat kehidupan rakyat Timtim
tidak lebih baik pembangunan fisik tidaklah menjamin segalanya tanpa
keadilan dan demokrasi. Maka perlu disadari bagi kalangan pro-integrasi
bahwa proses menguatnya ke arah pro-kemerdekaan justru terjadi pada masa
pemerintahan orde baru dengan berbagai pergolakan di Indonesia. Tidak
disadari kezaliman pemerintahan Soeharto justru mempromosikan
pro-kemerdekaan.

Sekarang dengan lengsernya Soeharto, banyak partai mengaku reformis tapi
masih berfikir dengan kerangka orde baru, bahkan partai besar sekalipun,
malahan BJ Habibie oleh sebagian besar masyarakat masih dianggap sebagai
sambungan orde baru.

Dari  ketidakpastian politik yang berlarut-larut ini PBB mendesak adanya
referendum. Ini adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan sengketa dan
menentukan nasib sendiri. Indonesia wajib menghormati HAM dan UUD'45 untuk
menyelesaikan sengketa Timtim. Maka hasil referendum dengan mayoritas
berpihak pada pro-kemerdekaan adalah suatu proses panjang dari kausalitas
yang tidak berdiri sendiri.

Walau jajak pendapat ada indikasi kecurangan Unamet, menurut perkiraan para
pengamat sekitar 15 persen dari 78,4 persen kemenangan masih tetap pada
pro-kemerdekaan. Perubahan di era refromasi juga harus bisa mereformasi
diri menghormati demokrasi rakyat Timtim.

Oleh karena itu kalau dulu sejarahnya pro-integrasi masuk wilayah Indonesia
tanpa referendum didukung kuat Amerika dan Australia, maka kini sebaliknya
secara ksatria pro-integrasi tetap harus mampu memelihara persahabatan
dengan Amerika dan Australia dengan menghormati hasil referendum dan hukum
internasional.

Sebaiknya rakyat Timor Timur bersatu untuk berkompetisi secara secara
membangun negerinya menjadi bangsa yang berdaulat, merdeka dan terhormat di
antara bangsa-bangsa dunia.

RA Berar Fathia
Ketua Komisi Perdamaian Nasional
Jalan Chairil Anwar A-15, Bekasi 17113
Telp:(021) 8800209

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Sep 1999 jam 11:36:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke