----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/26 September-1 Oktober 99
------------------------------

NASIONALISME SEMPIT UNTUNGKAN TENTARA

(POLITIK): Menguatnya sentimen 'nasionalisme', melegitimasi RUU PKB. Jika
situasi memburuk, militer bisa 'ambil-alih' kekuasaan; Skandal Bank Bali
menguap, Soeharto tak diadili dan percuma memilih presiden baru

Kekesalan, kebencian sebagian masyarakat dalam negeri terhadap Australia,
kian memuncak. Sikap pemerintah negeri Kangguru terhadap isu Timtim dan
keterlibatannya sebagai pimpinan Interfet (International Forces for East
Timor), dianggap berlebihan. Dengan alasan "nasionalisme", berbagai kelompok
dan organisasi, secara bergantian berdemonstrasi ke Kedutaan Besar Australia
dan Gedung PBB di Jakarta. Salah satu yang terbesar, para veteran operasi
Seroja dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI),
bahkan bertekad terus beraksi sampai Habibie yang disebut "Bapak
Disintegrasi Bangsa", mundur dari kursi presiden.

Entah karena terlalu "panas" atau sengaja "memanas-manasi", ada yang
melakukan penembakan ke Kedubes Australia, di Jalan Rasuna Said (20/9).
Jendela salah satu ruangan di tempat itu pecah berantakan, dihantam tiga
peluru yang ditembakkan dari jalan raya. Akibatnya, Dubes John Mc Carthy,
terpaksa diungsikan ke lokasi yang dirahasiakan. Di Medan (21/9), Konjen
Australia dimasuki para pendemo yang membakar bendera Australia dan
menggantikannya dengan bendera merah-putih.

Peristiwa-peristiwa ini, jelas memperunyam hubungan Australia-Indonesia. Di
Australia, kemarahan terhadap Indonesia juga makin tak terbendung. Mulai
dari upaya menduduki kantor Perwakilan Garuda Indonesia di Melbourne, hingga
aksi mogok pekerja Australia untuk tidak melayani "bongkar-muat" kapal-kapal
Indonesia. Indonesia pun akhirnya memutuskan perjanjian keamanan dengan
Australia. Menurut pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, bila situasinya
tak mereda, buntutnya bakal terjadi pemutusan hubungan diplomatik antara
kedua negara.

Boleh jadi, bukan cuma hubungan bilateral, Indonesia-Australia saja.
Bagaimanapun, keterlibatan Australia di Timtim bukan secara individual
sebagai "negara Australia". Kedatangannya, adalah bagian tak terpisahkan
dari resolusi PBB untuk menurunkan pasukan perdamaian ke Timtim. Karena itu,
kemungkinan terjadinya "ketegangan" antara Indonesia dengan PBB, jadi
terbuka lebar. Apalagi, masing-masing pihak merasa punya alasan kuat untuk
membela kepentingannya. Kedua-duanya merasa benar.

Dalam dengar pendapat dengan Komisi I DPR (20/9), Wiranto menyatakan apa
yang dilakukan TNI di Timtim, bukanlah kejahatan perang. Melainkan, "dalam
rangka melaksanakan amanat negara mempertahankan integrasi melawan aksi-aksi
separatisme." Sementara secara bersamaan, Sekjen PBB Kofi Annan, dalam
pidato Sidang Majelis Umum PBB ke-54, menyatakan "Takkan membiarkan begitu
saja pelanggaran hak asasi manusia secara sistematis dan besar-besaran."
Wiranto mengatasnamakan kepentingan "negara", sedangkan Kofi Annan
mengatasnamakan "perlindungan HAM."

Lepas dari bagaimana akhir cerita ketegangan antara kedua belah-pihak,
situasi ini akan berdampak buruk bagi Indonesia. Dengan meningginya sentimen
"nasionalisme" di dalam negeri, ketegangan antara Indonesia dan PBB,
disadari atau tidak, justru akan menguntungkan posisi Wiranto dan TNI dalam
peta kekuasaan Indonesia. Militer tentu merasa telah mendapat sokongan
moril, yang memungkinkan mereka berbuat "banyak". Sangat banyak.

Ada banyak skenario yang mungkin berlangsung. Kemungkinan pertama, Wiranto
akan mengesankan diri sebagai tokoh "nasionalis" yang dapat berbicara keras,
mengecam PBB. Popularitasnya di dalam negeri akan meningkat. Tuntutan agar
ia bertanggungjawab terhadap pelanggaran HAM di Aceh, maupun atas korban
penembakan mahasiswa dalam Sidang Istimewa MPR, November tahun lalu, bisa
hilang dengan sendirinya. Namun, hanya sampai situ saja. Takkan ada perang
terbuka. Aksi-aksi di dalam negeri akan dibiarkan mereda dengan sendirinya.
Dan peluangnya, untuk mendampingi Habibie sebagai calon wapres dari Partai
Golkar, makin terbuka lebar.

Kemungkinan kedua, ketegangan antara Indonesia dengan PBB akan dijaga hingga
mencapai derajat tertentu. Situasi demikian akan memungkinkan militer
mendapatkan pembenaran untuk menggunakan UU Pengendalian Keadaan Bahaya (UU
PKB). Militer juga berpikir untuk menghentikan tekanan ekonomi dari IMF,
Bank Dunia dan para investor asing yang membuat keadaan dalam negeri
morat-marit.

Kemungkinan ketiga, ketegangan akan diteruskan sampai pemerintah dan pihak
militer menganggap telah memungkinkan diberlakukannya "keadaan darurat
perang" di Indonesia, sesuai dengan UU PKB. Situasi ini akan dipertahankan,
sehingga militer memiliki alasan untuk "mengambil alih" kekuasaan dalam
waktu yang lama. Maka akan muncul berbagai konsekuensi. Misalnya, hilangnya
isu Baligate, upaya mengadili Soeharto serta pemberantasan KKN yang
melibatkan banyak pejabat negara. Lebih parah lagi, pemilihan presiden baru
tak jadi dilakukan dan hasil Pemilu 1999 dinafikan.

Ini memang hanya kemungkinan-kemungkinan. Namun, bukan berarti tak masuk
akal.Meningginya sentimen "nasionalisme sempit", jelas akan membuka lebar
peluang itu. Dikasih peluang, siapa yang nggak mau? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Sep 1999 jam 07:54:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke