---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ISTIQLAL (29/9/99)# HANYA FASIS YANG INGIN TETAP MENGUASAI TIMTIM Oleh: Sulangkang Suwalu Banyak manfaatnya bila pada waktu tertentu kita merenungkan perjalanan hidup kita. Dengan merenungkannya, kita akan mengenali langkah keliru yang telah diayunkan, agar yang keliru itu tidak terulang kemudian. Dengan merenungkannya, kita juga akan mengenali langkah-langkah mana yang kita ayunkan secara tepat, sehingga bisa langkah yang demikian dapat dikembangkan. Dalam rangka merenungkan perjalanan hidup ini, adalah menarik tulisan " Timor Timur, Sebuah Renungan", yang dimuat di harian Pelita (21/9). TIMOR TIMUR, SEBUAH RENUNGAN Masalah Timor Timur (Timtim) adalah masalah yang membuat orang merenung dan mencoba memahami mengapa ini semua harus terjadi. Tetapi setelah 24 tahun bersama dengan Timtim, republik ini harus mau membuka mata bahwa apa yang dahulu dianggap putusan yang tepat, ternyata sekarang kita harus membuat putusan baru. Kredibilitas bangsa lndonesia sedang diuji, pemimpin bangsa yang arif sangat diperlukan untuk menyelamatkan seluruh bangsa, termasuk rakyat Timtim. Memang, dulu ada kekuatan politik dibawah pengaruh Ali Murtopo, Beni Moerdani maupun Theo Syafei dan CSIS yang mendesak pemerintah dengan dalih apapun untuk menjadikan Timtim menjadi bagian Indonesia. Namun realita menunjukkan bahwa ada tekanan lain yang ditunjukkan melalui pemerintah Habibie yang melakukan reformasi demokratisasi agar jajak pendapat, sebagai bagian dari demokrasi dan bagian dari HAM telah membuka mata kita secara nasional dan internasional, untuk menerima kemenangan kelompok pro-kemerdekaan. Pahit rasanya menerima kenyataan ini, meskipun korban telah banyak untuk berjuang demi Timtim. bukan saja korban jiwa, tetapi material dan harga diri bangsa di mata internasional pun dipertaruhkan. Timtim seolah-olah gambaran kemelut dalam negeri maupun urusan luar negeri. Kemenangan kelompok pro-kemerdekaan yang diawali dengan tawaran opsi, telab memberi jalan keluar kearah yang jelas agendanya. Tindakan pemerintah Habibie telah membuka kerja bangsa untuk menyelesaikan masalah ini. Di luar negeri acungan jempol diberikan kepada Habibie. Yang sulit di mengerti adalah tindakan genius Habibie, terutama ditambah dengan manipulasi pemberitaan masalah Timtim yang dipakai untuk menjatuhkan Habibie. Kita perlu kembali ke masalah Timtimnya sendiri, yaitu bahwa kebijakan Timtim harus yang terbaik bagi rakyat Timtim yang memenangkan nilai-nilai demokrasi dan HAM. Kita perlu sadar bahwa setiap permasalahan selalu memiliki implikasi soal lain yang muncul--soal pengungsi--soal teman-teman yang pro integrasi-- yang jelas masalah Timtim berada pada perjalanan penyeleseian yang lugas dan rasional dan sangat demokratis. Ada yang mencemaskan kalau-kalau di tempat lain akan muncul permohonan jajak pendapat. perlu diketahui bahwa secara riil masalah Timtim adalah masalah internasional, ketimbang nasional, sedang daerah seperti Aceh, Irian Jaya dan Ambon adalah masalah dalam negeri. Masalah Timtim adalah pelajaran yang amat pahit karena keputusannya memerlukan suatu keberanian dan kearifan untuk melilmt realita bahwa sebenarnya mayoritas rakyat Timtim menginginkan kemerdekaan. Kita harus melihat kedepan tanpa penyesalan, karena kita sudah berbuat banyak untuk kebaikan rakyat Timtim. Kita tidak perlu merasa kalah karena dalam alam demokrasi kemenangan adalah kekuatan melihat realita. Bukan saatnya mencari kesalahan, tapi saatnya belajar sejarah. Selamat kepada Habibie yang berani tidak populer di kalangan lawannnya demi pembelaan HAM yang menjadi amanah dari Allah (tim). Demikian renungan Pelita. Dari renungan selingan ini timbul beberapa persoalan: apakah dahulu menguasai Timtim dianggap putusan yang tepat? Dan siapa yang menganggapnya tepat? Mengapa dirasa pahit menerima kenyataan dalam jajak pendapat kelompek pro kemerdekaan memperolehikemenangan mutlak? Pihak mana yang merasakan pahit kemenangan kelompok pro kemerdekaan itu? Dan pelajaran apa yang dapat dipetik dari sejarah Timtim dibawah kekuasaan lndonesia Orde Baru Suharto? PERSOALAN DARI TIMOR TIMUR SEBUAH RENUNGAN Apakah benar dulu dianggap menguasai Timtim itu sebagai putusan yang tepat ? Siapa yang memandang putusan itu tepat? Yang memandang tepat dikuasainya Timor Timur oleh Indonesia ialah, Suharto, Orde Baru. Sebab dengan dikuasainya Timtim oleh Indonesia maka akan bebas Indonesia dari kemungkinan Timtim dijadikan basis oleh kaum komunis, untuk mengganggu Indonesia--yang anti komunis. Meskipun diakuinya bahwa Timtim bukanlah teritorial Indonesia. Untuk menguasai Timtim yang bukan teritorial lndonesia itu, maka Kepala BAKIN Yoga Sugama dan Wakil Kepala BAKIN Ali Moertopo membentuk Operasi Komodo guna mempengaruhi sebagian rakyat Timtim untuk menentang Fretilin dan bergabung dengan Indonesia. Dari hasil Oporasi Komodo itulah munculnya Deklarasi Balibo yang berisi desakan kepada Presiden Suharto:" Untuk mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu untuk menetralisir semua orang komunis dan para simpatisannya, baik mereka muncul dipermukaan atau yang bersembunyi". Sesudah itulah baru berlangsung Operasi Seroja, berupa penyerbusan ABRI ke Timtim. Hal itu diceritakan Yoga Sugama dalam bukunya "Memori Jenderal Yoga". Pihak yang mendukung Suharto fasis itulah, yang turut membenarkan penyerbua ke Timtim. Karena demokrasi telah dibunuh oleh Orde Baru maka suara rakyat yang setia pada Pancasila dan UU3 1945 tak dapat muncul ketika itu, bila muncul tentu akan dibabat. bagi rakyat yang berpegangan kepada Pancasila dan UUD 1945 tak dapat membenarkan penyerbuan ABRI ke Timtim itu, karena itu menyalahi dan bertentangan dengan Mukaddimah UUD 1945, yang berbunyi: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Jadi, keputusan untuk menguasai Timtim tidak pernah tepat, baik dulu maupun sekarang, kecuali bagi fasis Suharto dan pendukungnya. Selain daripada itu kemenangan pro-kemerdekaan dalam jajak pendapat di Timtim bulan Agustus yang lalu, terasa pahit bagi pendukung fasis Suharto, karena itu merupakan kekalahan fasisme dan kemenangan demokrasi. Bagi pendukung fasis Suharto terasa pahit, karena telah menganggap Timtim itu telah menjadi bagian Indonesia. Rupanya mereka tak pernah merasakan nasib rakyat yang terjajah, dan sebaliknya tak merasa telah ikut menjajah rakyat Timtim. Dengan mudah diterima begitu saja Tintim sebagai provinsi ke-27 negara lndonesia dan rakyat disana adalah bangsa lndonesia- Fakta itulah yang mereka anggap sebagai kenyataan. mereka tak menyadari bahwa Timtim dibangun dengan kekuatan militer selama lebih dari 20 tahun. Yang salah dalam hal ini,ialah putusan yang diambil Suharto tatkala memerintahkan ABRI masuk ke Timtim pada tahun 1975. Bagi rakyat lndonesia yang getia pada Pancasila dan UUD 1945, kemenangan pro-kemerdekaan di Timtim dalam jajak pendapat itu, ibarat sirih telah pulang kegagangnya. Itu memang hak mereka. telah menentukan pilihannya: merdeka, tidak mau dikuasai lndonesia. Kemenangan pro-kemerdekaan ini terasa indah. Timtim telah kembali kepada pemiliknya. Timtim yang dinjak-injak Indonegia selama 24 tahu ini, kini telah kembali kepangkuan mereka. Dengan Timtim yang merdeka maka hubungan baru akan dapat dijalin dengan lndonesia baru yang demokratis. Hubungan sama derajat. Bukan yang satu menguasai dan yang lain dikuasai. KESIMPULAN Kemenangan pro-kemerdekaan di Timtim dalam jajak pendapat Agustus yang lalu, hanya membuktikan betapa palsunya dalih yang digunakan Suharto untuk menyerbu Timtim pada tahun 1975, yaitu rakyat Timtim ingin berintegrasi dengan lndonesia- Sadahal pernyataan ingin berintegrasi itu muncul sebagai hasll dari operasi intelijen Operasi Komodo yang dipimpin Kepala BAKIN Jenderal Yoga Sugama. Hanya pendukung fasis Suharto, yang akan menangisi merdekanya Timtim dari kekuasaan Indonesia. Rakyat Indonesia yang demokratis, yang konstitusional menyambut kemenangan pro-kemerdekaan itu, sebagai kemenangannya sendiri. Kerjasama yang baru di masa mendatang akan dapat dijalin antara Indonesia yang demokratis dengan Timtim yang demokratis. Timor Timur, sebuah renungan telah mengajar kepada kita, bahwa pada akhirnya yang hak itu akan menang dan yang batil akan dikalahkan! Demokrasi akan menang, fasisme akan dikalahkan! *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 29 Sep 1999 jam 19:18:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
