---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk SURAT KE NEGRI KINCIR ANGIN (4) untuk ken setiawan Ya. Maaf dua hari aku absen menulis surat. Bukan karena tidak ada yang bisda ditulis, tapi justru sebaliknyalah. Begitu banyak, hingga tidak tahu: mana yang harus diberi prioritas untuk kauketahui. Sebentar nanti aku akan melihat pembukaan pameran lukisan Joko Pekik. Pasti banyak dari sana bisa diceritakan. Aku pengin tahu, sejauh mana pengaruh gejolak masyarakat Indonesia akhir-akhir ini pada karya-karya lukisan Mas Pekik itu. Sebab, pada cabang seni yang lain - misalnya sastra dan bahkan tari - perihal itu sudah tampak dengan sangat jelas. Seni yang "engagee", sekarang ini, bukan lagi masalah. Baiklah, besok aku cerita tentang itu. Ken sayang, Berita-berita besar kemarin dulu sampai hari ini masih juga sama. Peringatan pada Gus Dur, juga terutama Jaksa Agung, agar berani memenuhi tuntutan rasa keadilan rakyat: adili Suharto dan kroni-kroninya, dan tuntaskan pengusutan skandal "Baligate". Tapi, biarlah semuanya itu diliput oleh oom-mu Wahana melalui "Kristalisasi"-nya itu. Aku akan menulis hal-hal yang ada di lapis ke-2 atau bahkan ke-3 dari kehidupan sehari-hari. Katakanlah: cerita-cerita di balik berita, yang mudah-mudahan menarik kaubaca. Benar! Selama di Jakarta aku justru tidak pernah bisa mengikuti "Kristalisasi" teratur. Bagaimana, apakah masih bernama "Kristalisasi"? Pada kesempatan aku bertemu dengan Oom itu tempo hari, aku usulkan, barangkali sesudah Gus Dur dan Mbak Mega tampil sebagai pimpinan nasional, gelombang perjuangan itu sudah "mengkristal". Sehingga, barangkali "kristalisasi" sudah perlu ditingkatkan? * Kemarin dulu aku naik taksi dari Klender menuju Jalan Dharmawangsa, Kebayoran Baru. Radi taksi itu terus bersuara, antara warta berita, siaran musik dan berita-berita iklan. Tiba-tiba ketika sampai di sekitar Prapatan Pancoran, radio mengiklankan tentang ampuhnya sabun colek merek tertentu. Tidak aku perhatikan merek sabun colek itu, karena aku terpukau oleh bahan yang dipakai sebagai isi pesan iklan itu. Pada ujung pesan itu ada kata-kata kira-kira: "Semua jadi ringan, berkat sabun colek ...!" Aku tertawa karenanya. "Bapak bukan orang sini, ya?" Tanya sopir taksi kaget oleh tertawaku. Aku, kaget oleh pertanyaannya, juga mendadak berhenti tertawa. "Kenapa?"Tanyaku heran. "Apa bapak nggak pernah dengar? Iklan itu kan tiap saat terdengar?" Baiklah, tak usah kuperpanjang percakapanku dengan pak sopir. Tapi yang membikin aku tertawa karena juru perancang iklan yang dengan amat pandainya memanfaatkan dongeng rakyat Bawang Merah - Bawang Putih. Seperti kautahu, Bawang Merah yang berwajah cantik, adalah anak tiri dalam keluarga. Bawang Putih, si anak kandung, menjadi iri karenanya. Maka Bawang Merah diperlakukan sebagai budak tersia di dalam keluarga. Semua pekerjaan rumah dibebankan pada Bawang Merah. Segala macam cucian bertumpuk-tumpuk diberikan pada Bawang Merah. Jika Bawang Merah versi dongeng rakyat ditolong oleh Dewa yang turun dari langit, maka Bawang Merah versi Indonesdia mutakhir ditolong oleh sabun colek! Oleh produk kehidupan modern! Tidakkah ini patut ditertawakan? Tapi, Ken sayangku, sesudah aku tertawa, dalam diamku aku berpikir. Di balik pesan ini sesungguhnya tersirat pesan yang lebih mendalam - setidaknya ada dua butir: satu, konflik antara perempuan, karena iri hati yang timbul oleh kecantikan; dan kedua, produk modernisasi yang toh tidak memberikan kebebasan pada perempuan. Ken sayang, Aku sudahi di sini dulu. Besok kita teruskan lagi, yaitu tentang perempuan sebagai objek iklan - yang selintas pernah juga kita bicarakan di Kockengen, Bukan? Hersri ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Nov 1999 jam 04:42:17 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
