---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: TNI CARI DALIH PEMBERONTAKAN UNTUK CENGKERAM SELURUH INDON.? TNI tampaknya sedang mencari dalih untuk mencengkeram Indonesia lagi. Yang paling tepat adalah Aceh, alasan menumpas pemberontakan separatisme melawan negara kesatuan. Alasan lain: keamanan di Irian Jaya, Ambon, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur dan mengatasi demonstrasi demonstrasi yang akan semakin marak memprotes tindakan kekejaman TNI/Polisi terhadap sipil, tuntu- tan untuk mengadili anggota TNI yang terlibat pelanggaran HAM, tuntutan sem- bako, KKN, Suharto, dll. TNI juga sudah pandai merekayasa massa untuk menimbulkan huruhara, dll. yang bisa dijadikan dalih untuk mencengkeram kembali kekuasaan politik dan melumpuhkan demokrasi. Semuanya cukup dijadikan "excuse" untuk melakukan tindakan kekerasan di luar HAM, di luar hukum. Semuanya "demi menyelamatkan kesatuan bangsa". Apakah akan lewat UU Darurat atau tidak, TNI memegang senjata untuk memak- sakan hukum darurat dengan kekerasan. Dalam situasi seperti itu apakah yang bisa diperbuat oleh Presiden Gus Dur, DPR/MPR? Menurut Bambang Wdjojanto, Ketua LBH pembentukan Pengadilan Koneksitas adalah rekayasa TNI untuk menyelematkan para perwira yang dituduh melaku- kan pembantaian massal di Timtim dan Aceh, mungkin di Ambon juga. Memang mulai dari penculikan aktivis anti Suharto sampai Semanggi, Aceh, Ambon, Irja, dll adalah rekayasa TNI. Kita harus "nrimo" saja, tidak bisa me- nuntut apa apa karena tidak ada penguasa hukum seperti Jaksa Agung atau DPR yang bisa menyodorkan bukti bukti atau saksi saksi yang bisa ditampil- kan di Pengadilan. Mungkin masih ada ketakutan akan pembalasan. Sekarang malah mau ditingkatkan karena TNI melihat momentum psikologis untuk bertindak keras lagi dengan dalih yang didukung oleh PDI dan Golkar, demi mempertahankan Negara Kesatuan. Mudah mudah hal itu tidak sampai terjadi, tapi kalau sampai terjadi apa daya kita? Siapa yang bisa mencegah kalau Presiden Gus Dur sendiri sudah di fait accompli, Poros Islam sendiri yang dulu menggolkan 38 orang Wakil ABRI dalam DPR/MPR akan membuat blunder yang sama tampaknya. Pernyataan Wiranto yang bertentangan dengan pernyataan Gus Dur dan salah mengeja namanya diisukan sebagai kudeta TNI terhadap Presiden. Sampai se- jauh mana isu ini kita lihat saja. Namun seperti yang telah saya tulis, bangsa Indonesia sekarang ini sudah tidak bisa dijerumuskan kembali ke dalam fasisme militer a la Jepang ajaran Suharto. Demokrasi kita sudah merupakan "point of no return" terserah kepada para aktor politik yang dukungannya ditafsirkan sebagai dukungan moral terhadap tindakan kekerasan TNI di Aceh khususnya dan di propinsi propinsi lainnya. Waspada dan siap siagalah. New York, 3 Desember 1999. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Dec 1999 jam 09:21:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
