---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- PERCIKAN BUDAYA 102/III/1999 [EMAIL PROTECTED] = = = = = = = = = = = = = = MANUVER AMIEN RAIS: DARI POROS-TENGAH MENUJU KE POROS-FEDERAL Oleh: Ki Gareng Pamungkas Amien Rais setelah berhasil memenangkan siasat politik "demokrasi gendheng" dengan menggunakan apa yang dinamakan Poros Tengah, sebagai traktor penggusur kekuatan PDIP-PKB, kini mulai babak barunya dengan permainan siasat politik baru. Demikianlah grundelan thole Petruk, yang merasa sebagai orang awam, jauh dari kwalitas kepakaran, tapi penuh intuisi politik. Benarkah grundelan dan intuisi Petruk tersebut? Saya sebagai saudara-tuanya tentu juga perlu mengerti, mencermati dan menanggapi grundelan dan intuisi tersebut. Kalau kita mengadakan kilas balik, memang manuver politik Mas Amien Rais, wong Solo dari Kepatihan Kulon ini sangat "brilian". Betul-betul brilian (tanda-kutipnya dicabut). Dari kariernya di ICMI, yang nota bene lembaga tank-otak Orde Baru sampai sekarang mlangkring di kursi Ketua MPR, terus tidak henti-hentinya bervokal dalam turba kesana-kemari. Tapi saya khawatir, kalau tidak hati-hati bisa kehabisan suara sama sekali, atau kejeglong ke lubang-dalam hingga kakinya patah. Mudah-mudahan tidak terjadi, sebab saya masih mengharapkan pikiran-pikiran positif keluar dari kepalanya. Kembali kepada grundelan/intuisi Petruk. Dia melihat, bahwa Amien Rais kini aktif vokal seperti dulu. Tentu tidak ada jeleknya. Tapi kini kan dia telah menjadi Ketua MPR. Seharusnya kevokalannya harus sudah berbeda dengan dulu. Pada dasarnya pikiran Petruk yang awam adalah benar. Kita lihat misalnya, dia dengan mudah saja dimana-mana mempropagandakan perlunya merubah Negara Kesatuan menjadi Negara Federal. (Mentang-mentang lulusan Amerika, dia membutakan diri akan pengalaman negara federasi Uni Soviet)* .Kelatahan yang demikian itu tidak pada tempatnya, mengingat dia adalah Ketua MPR, lembaga negara tertinggi. Atas kritikan tersebut dia berkilah: ini pernyataan saya sebagai warganegara, yang mempunyai hak mengeluarkan pendapat. Secara yuridis-formal - memang benar, tapi in concreto - tidak benar, sebab bagaimana pun juga label "Ketua MPR" tidak dapat dithethel atau dikerok dari badan-wadhak Amien Rais. Lain soalnya dengan Arbi Sanif yang berpendapat bahwa Negara Federal Paling Ideal. Dia sebagai warganegara dan pengamat politik bebas mengeluarkan pendapatnya. Amien Rais tidak bisa berbuat seperti Arbi Sanif. Dan sudah sangat keterlaluan tindakan Amien Rais ikut menandatangani pernyataan sikap para mahasiswa Irian Jaya di Gedung MPR/DPR 29.11.99 yang menuntut kemerdekaan Papua Barat (Bernas, 30.11.1999). Bukankah ini tindakan mendorong proses disintegrasi? Sangat tidak patut, sangat disesalkan dan tak bertanggung jawab. Adalah wajar kalau banyak pihak bereaksi keras atas kelatahan Amien Rais mengenai Negara Federal, baik yang berkaitan dengan opsi referendum, maupun yang lain-lain. PDI-Perjuangan secara resmi mengirimkan surat protes kepada Ketua DPR RI yang isinya meminta agar memperingatkan Amien Rais, Ketua MPR yang terlalu latah menganjurkan negara federal. Sedang Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjoguritno menyatakan, bahwa tindakan Amien akan dibahas dalam Rapim DPR, karena apa yang dilakukannya dinilai di luar batas kewenangan sebagai pimpinan lembaga tertinggi negara. "Ucapan-ucapan Amien Rais tentang negara federal, sudah melanggar sumpah sebagai wakil rakyat yang harus setia kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,'' kata Ketua FPDI-P Prof Dr Dimyati Hartono ketika menerima wartawan Koordinatoriat DPR/MPR di Jakarta, Senin kemarin. "Ketua MPR yang melanggar sumpah dalam Tap MPR disebutkan bisa diganti antarwaktu,'' tambah Dimyati Hartono. (Suara Merdeka, 30.11.1999) Demikianlah reaksi keras a.l. dari para pimpinan PDI-Perjuangan. Jelaslah Amien Rais sedang melakukan manuver politik yang berpotensi resiko tinggi dengan modus operandi Dwifungsi-AMRI (bukan salah ketik, AMRI: akronim AMin RaIs). Artinya Amin Rais memanfaatkan fungsinya baik sebagai Ketua MPR, mau pun sebagai Warganegara, yang kedua-duanya dalam manuver-manuver politik sukar dipisah-pisahkan. Kalau kita mencermati kilas balik pada pergulatan politik sewaktu menjelang SU MPR 1999 (Pemilihan Presiden, Wk-Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR) tampaklah Amien Rais dengan siasat "Poros Tengah"nya telah berhasil menyudutkan PDI-Perjuangan/PKB. Sedang sekarang dengan kelatahannya tentang Negara Federal, mungkin saja dia akan memunculkan POROS FEDERAL. Kalau demikian apakah targetnya? Kalau dengan siasat Poros Tengah dia sebagai pemimpin partai kecil (dalam bandingaannya dengan PDI-Perjuangan dan Partai Golkar) berhasil menggondol kursi Ketua MPR, apakah tidak mungkin dengan Poros Federal dia mempunyai target merebut singgasana kepresidenan Republik Indonesia Serikat kelak? Tentu saja, wallahu a'lam. Tuhan yang maha mengetahui. Tapi pengalaman menunjukkan: semuanya tidak ada yang tidak mungkin. Di situlah mungkin paradigma gendheng akan muncul lagi. Sekali lagi Pemerintah Gus Dur-Mega menghadapi ujian berat demi mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Gunung Gandhul, 03 Desember 1999 --------------- *) Lih. M.D.Kartaprawira, MASALAH DISINTEGRASI BANGSA DAN ALTERNATIF NEGARA FEDERAL (2/2) (Gagasan Negara Federal suatu blunder dalam gerakan reformasi), Indonesia-l, Sat. 8 May 1999. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Dec 1999 jam 09:21:45 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
