----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA:
----------------------------
TNI:
Sebaiknya Manfaatkan Waktu Utk Mereform Diri,
Daripada Cari Peluang Ngeloni Dwifungsi!
5 Desember 1999

Sebab dari segala sebab:
Krisis yang dihadapi bangsa kita dewasa ini begitu banyak sifat dan seginya.
Salah satu krisis yang oleh umum dianggap paling gawat dan paling pokok
adalah yang menyangkut   ekonomi dan keuangan negeri. Krisis ini paling
langsung menimpa rakyat kecil. Dan ini pula yang paling diderita mayoritas
bangsa kita  selama ini. Bagi mereka yang sudah lama hidup di bawah garis
kemiskinan, jangankan untuk menyekolahkan anak-anak mereka , untuk bisa
menyambung hidup hari esok saja belum pasti. Penderitaan  ini masih terus
saja berlangsung. Peninggalan ORBA yang mengenaskan itu, dulu begitu
dibanggakan sebagai era  pemba-ngunan dimana mantan presiden Suharto
ramai-ramai dinobatkan menjadi 'bapak pemba-
ngunan' dan ibu Tien disebul  menjadi 'pahlawan nasional'.

Banyak  fakta diungkapkan dan analisis telah ditulis dalam pers nasional dan
internasional; berjilid-jilid buku telah ditulis,  baik oleh wartawan,
pakar, maupun pengamat politik dan  ekonomi dalam dan luar negeri, mengenai
Indonesia selama era Suharto. Begitu juga berkali-kali seminar dan
simpopsium dilangsungkan dengan tema keadaan politik dan ekonomi era Orba.
Kesemuanya   menunjukkan dan menyimpulkan   bahwa sumber utama, penyebab
pokok dari malapetaka krisis ekonomi adalah salah urus  dan penyalahgunaan
kekuasaan lewat KKN oleh  Orba selama 32 tahun. Juga telah  dibeberkan
fakta-fakta bahwa penguasa yang sesungguhnya dari Orba adalah militer, yang
sampai beberapa waktu yang lalu bernama ABRI, lalu sekarang kembali pakai
nama lama : TNI.

Uraian ini sedikit banyak merupakan ulangan. Tapi mengkaji kembali penyebab
bencana memang diperlukan. Yang jelas ini bukan 'hujatan' ataupun 'tudingan'
terhadap TNI, namun suatu realitas keras yang  tidak  memerlukan bukti lagi.
Karena semua bukti dan fakta sudah terpampang dihadapan mata. Hanya
sementara jendral dan birokrat maupun elite politik yang tidak mau melihat
dan mengakuinya. Berkat kekuasaan otoriter dan mutlak di bawah mantan
presiden Suharto, TNI, selain sebagai penguasa politik,  juga sudah menjadi
corporate ekonomi dan finans yang amat berkuasa dan maha menentukan segala
di negeri ini. TNI sudah menjadi embahnya konglomerat. Puluhan yayasan
dikelola oleh TNI. Satu 'yayasan' saja milik TNI, misalnya yayasan 'Kartika
Eka Paksi' membawahi puluhan perusahaan dan bisnis yang punya jaringan di
seluruh negeri. Ratusan saham dan puluhan PT ada ditangannya. Selain itu
TNI/MBAD  memiliki puluhan 'koperasi' yang anggotanya  mencapai 4 juta,
padahal personil TNI itu hanya setengah juta jumlahnya.Yang gawat ialah
bahwa bukan saja puluhan PT yang dikelola TNI secara bisnis, tetapi juga
'yayasan' dan 'koperasi' semuanya adalah perusahaan yang tujuan dan
prakteknya adalah mencari duit, meraih untung sebanyak-banyaknya. Soalnya
menjadi semakin parah, karena operasi segala macam bisnis TNI itu tidak
menuruti aturan main bisnis yang wajar, tetapi selalu ditunjang dan
dicampuri terus oleh kekuasaan politik dan militer yang digunakan semaksimal
mungkin.

Perlu mengubah diri:
TNI bukan lagi senjata ampuh revolusi di tangan rakyat seperti halnya di
zaman Revolusi Agustus 45. TNI bukan lagi aparat negara yang terbina secara
profesional untuk mempertahankan negeri dari serangan musuh dari luar. TNI
sudah kehilangan kemampuannya untuk bertempur dan berperang. Menjaga
keamanan negeripun sudah tidak mampu lagi. Lihat saja operasi milier selama
20 tahun di Timor Timur dan 10 tahun lebih diAceh.Hasilnya: ribuan yang
tewas dan bertambahnya jumlah janda serta yatim piatu.Timor Timur pada
akhirnya membebaskan diri dan Aceh bukan bertambah tenteram dan damai, tapi
bahkan telah memberi peluang bagi fihak-fihak yang bermotif membalkanisasi
Indonesia.

Secara sarkartis orang sering mengemukakan bahwa TNI sudah berubah menjadi
akhli 'litsus' dan  pencetus  provokasi,  atau menjadi tukang culik dan
sekap  mahasiswa, buruh, tani dan siapa saja yang berani berlawan terhadap
kesewenang-wenangan penguasa atau majikan. TNI sudah menjadi  pembina
'milisia' yang menteror rakyat Timor Timur. TNI menjadi  jagoan dalam urusan
rekayasa, preman  dan 'tembak ditempat'.

Dimana-mana ada TNI. Dimana-mana ada jendral. Dulu presidennya adalah
jendral. Namun, sekarangpun, pada era reformasi,  tidak sedikit menterinya
yang jendral. Dutabesar juga   jendral. Gubernurpun  jendral. Walikota:
jendral. Prsiden Direktur: jendral. Direktur bank: jendral. Dimana-mana:
tentara. Bupati: tentara. Camat: tentara. Lurah juga  tentara. Sampai-sampai
komandan Hansip juga tentara.

Belum lagi disebut satu periode dimana TNI terlibat atau menjadi dalang dari
kegiatan gelap diluar hukum yang terkenal dengan nama  "PETRUS" atau
'penembak misterius'. Ketika itu tanpa merasa perlu memberikan keterangan
atau pertanggungan jawab formal dan legal, tanpa  melewati proses hukum
apapun, seseorang dengan  tuduhan 'kriminal residivis' bisa dicomot dari
tempat tidurnya, 'diamankan' kemudian  di'dor' seketika. Dalam
oto-biografinya mantan presiden Suharto tidak sungkan-sungkan mengakui bahwa
TNI berdiri dibelakang kegiatan 'Petrus'.

Sementara fihak dengan nada melas bertanya, apa masih perlu 'hujatan'
seperti itu  dialamatkan kepada TNI? Perlu! Semua imalapetaka dan
penyebabnya masih amat perlu dibeberkan, diungkap lebih lanjut dan juga
perlu diingat-ingat terus. Supaya tidak lupa. Agar kita jangan menjadi
orang-orang yang 'lupa ingatan sejarah'. Janganlah  ada kesan bahwa TNI
sudah kelewat batas 'dihujat' oleh pers dan masyarakat.Kalau kita mau
konsisten dan berkehendak mendorong gerakan reformasi sampai pada tujuannya,
maka dewasa ini  masih belum cukup diungkap pelanggaran-pelanggaran hak-hak
azasi manusia yang dilakukan oleh Orba khususnya TNI terhadap rakyat..

Mulai saja dari peristiwa pembantaian besar-besaran dalam tahun 1965 dan
1966, mempariakan jutaan keluarga korban 1965, sampai ke kasus palanggaran
HAM di Timor Timur dan Aceh. Mengenai soal itu sampai detik ini, sikap
pimpinan TNI yang pokok , adalah selalu  mengelak tanggung jawab. Sambil
menutup-nutupi kesalahannya pimpinan TNI berusaha menggeser kesalahan dan
pelanggaran berat terhadap HAM  pada 'okmum'-'okmum' dan prajurit-prajurit,
atau paling banter bintara-bintara yang katanya tidak disipliner ataupun
yang di lapangan melakukan 'kesalahan prosedur'. Suatu mentalitas yang amat
tidak terpuji.

Setiap pejuang yang pernah ikut ambil bagian aktif  dalam perjuangan untuk
kemerdekaan nasional, baik dalam perjuangan bersenjata maupun dalam
perjuangan politik, pasti akan merasa pedih dan ngenes; pasti tidak rela
menyaksikan bagaimana TNI yang dulu lahir dari kancah Revolusi Agustus 45,
yang merupakan salah satu sokoguru negara Republik Indone-sia, telah menjadi
begitu merosot akibat ulah dan keserakahan akan kekuasaan dan uang dari
para pemimpinnya. Maka pembeberan mengenai pelanggaran serius baik di bidang
politik, ekonomi maupun HAM yang dilakukan oleh TNI masih perlu
terus-menerus dilakukan. Masih perlu terus-menerus mengkorek serta
mengeritik konsep "Dwifungsi ABRI" sampai ke-akar-akar dan ke
tulang-sumsumnya. Hal ini justru perlu dalam rangka TNI melakukan perubahan
yang sungguh-sungguh terhadap diri sendiri dan memulihkan nama baik TNI
sebagai salah satu sokoguru Republik Indonesia.

Agar bisa  pulih nama baiknya sebagai tentara pembela rakyat, tentara yang
berasal dari dan dicintai oleh rakyat, TNI betul-betul perlu menyadari
kesalahan-kesalahannya dan mengkha-yati tentang mutlak perlunya mengubah
diri . Untuk itu TNI perlu  mengambil langkah-langkah kongkrit kearah itu.
TNI PERLU SEUNGGUH-SUNGGUH MEREFORMASI DIRI bukan dalam omongan saja, tetapi
DALAM PERBUATAN KONGKRIT.  Langkah yang paling penting  adalah mengakhiri
berlakunya Dwifungsi ABRI. Sehubungan dengan ini inisiatif  17 perwira TNI
baru-baru ini menerbitkan buku kearah 'de-Dwifungsi-sasi' perlu disambut dan
didorong terus. Kita percaya bahwa di kalangan TNI, khususnya generasi baru,
tidak sedikit terdapat perwira, bintara dan tamtama,  para prajurit yang
diilhami oleh semangat cinta tanah air dan cinta rakyat  yang ditanamkan
oleh founding fathers kita, yang punya semangat mengabdi tanah air dan
bangsa  dalam arti yang sebenar-benarnya. Yang diilhami oleh jiwa dari
Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Dengan rela melepaskan  "Dwifungsi ABRI"
Krisis yang tidak kalah gawat, sesudah jatuhnya pemerintah Suharto dan
beridiri pemerintah Habibie, kalau tidak hendak dikatakakan adalah krisis
yang paling gawat, krisisnya dari segala krisis, adalah krisis di bidang
politik dan ketatanegaraan.

 Syukurlah krisis tsb  sedikit terredakan dengan dilangsungkannya secara
aman dan demokratis, pemilu 7 Juni,  dan yang disusul dengan terbentuknya
pemerintah yang baru. Tapi pemerintah Gus D u r- /Megawati hasil pemilu 7
Juni, masih belum mencerminkan suara rakyat. Sisa-sisa DNA dari Orba dan
kekuatan politik Statusquo masih mengidap disitu. Dengan berselubung jubah
'reformasi', terutama yang masih bercokol di dalam birokrasi berbagai
lembaga pemerintah, sampai ke kantor-kantor kementerian dan bahkan
kepresidenan,  mereka sibuk menyusun kembali kekuatan dan meneruskan politik
'statusquo'.Usaha untuk meneruskan politik 'Statusquo' nyambung dengan
kekuatan politik yang sama di kalangan militer.

Pembicaraan di kalangan masyarakat mengenai ada dan menajamnya perbedaan
antara pemerintahan sipil presiden Gus Dur/Megawati dengan fihak militer,
bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Ada asap ada api, kata orang-orang tua.
Gus Dur berani mengambil langkah-langkah menuju suatu pemerintahan yang
bebas dari pengaruh tentara. Meskipun langkah yang telah beliau ambil tidak
terlalu besar, namun reaksinya tidak kecil.  Ini nampak pada masalah Aceh.

Menggawatnya situasi di Aceh, cetusan-cetusan bentrokan antara masyarakat
yang berag
ama Kristen dan yang beragam Islam, serta suara-suara separatis yang
melengking dari Riau, Makasar dan Irian Jaya, tampaknya memberi angin di
kalangan  pimpinan TNI untuk  mengembalikan Aceh di bawah wewenang militer,
alias memberlakukan keadaan darurat perang di Aceh.Situasi Aceh memang
gawat, tetapi tampak sekali adanya usaha untuk mempresentasikan situasi Aceh
sedemikian rupa, seakan-akan dimulai dari Aceh negara kesatuan  Republik
Indonesia akan terbalkanisasi, akan porak poranda. Akan tamatlah riwayat
Republik Indonesia. Suara sumbang seperti ini tidak sedikit gemanya di luar
negeri, a.l. di Belanda.

Bertambah santernya suara-suara agar militer kembali mengambil peranan besar
dalam penyelesaian politik, khususnya Aceh, bukanlah datang dari
awang-awang. Karena , memang  pemerintah sekarang ini dalam batas tertentu
bertopang pada sokongan  Jendral Wiranto, pada sokongan TNI.-

Begitu rupa situasi Aceh digambarkan oleh fihak pimpinan TNI, seakan-akan
tanpa ikut kambalinya peranan TNI mengatur soal di Aceh, peneyelesaian
apapun tidak akan tercapai. Padahal  sudah menjadi pengetahuan umum bahwa
fihak yang hendak memaksanakan Aceh direnggutkan dari Republik Indonesia
adalah golongan minoritas. Kekuatan merekapun tidak utuh dan jauh dari
kompak. Ada macam-macam aliran politik di dalamnya yang tidak memungkinkan
mereka bertindak dengan satu kekuatan yang utuh yang betul-betul bisa
membahayakan kelangsungan hidupnya negara Republik Indonesia yang unitaris.
Lagipula hubungan simpati dan bantuan kongkrit dari luarpun sudah dipotong
oleh Gus Dur. Maka usaha untuk mempresentasikan masalah Aceh sebagai suatu
'krisis nasional' yang maha gawat, adalah semacam tabir asap untuk suatu
usaha kembalinya kekuasaan militer seperti pada era Orba.

Maka disinilah perlunya peranan masyarakat, mahasiswa dan para cendekiawan,
LSM, organiasi massa dan parpol, baik yang di luar maupun di dalam DPR dan
MPR, serta lembaga-lenbaga kenegaraan lainnya, untuk mempersoalkan betapa
tidak bisa ditunda-tundanya langkah-langkah kongkrit pemerintah untuk
berangsur-angsur tapi pasti, mengakhiri "Dwifungsi ABRI".

Tuntutan untuk hapusnya "Dwifungsi ABRI" bukan saja jangan sampai kendor,
tetapi bahkan harus tetap vokal dan dilakukan secara terus menerus.

Sedangkan di fihak TNI sendiri, adalah saatnya dewasa ini untuk menunjukkan
kesungguh-sungguhan bahwa TNI betul-betul hendak mengubah diri, berhasrat
untuk ambil bagian dalam gerakan reformasi.  Serta bertekad untuk
mereformasi diri.

                     * * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Dec 1999 jam 07:55:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke