---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- BERITA UTAMA WASPADA SABTU, 4 DESEMBER 1999 Doa Tolak Bala Menggema BANDA ACEH (Waspada): Detik-detik menjelang peringatan hari ulang tahun ke-23 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Sabtu (4/12) hari ini, jamaah masjid di seluruh Aceh melaksanakan zikir, yasin, takhtim dan doa tolak bala untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar Aceh terhindar dari pertumpahan darah. Ayat-ayat Al-Quran itu dilantunkan begitu syahdu sehingga suasananya tak jauh beda dengan malam bulan suci Ramadhan. Sayup-sayup Surat Yasin yang menggema di seluruh masjid di Aceh menggambarkan betapa mayoritas rakyat di Serambi Mekkah itu menginginkan kedamaian. Sementara itu kota Banda Aceh dan Aceh Besar, tegang dan mencekam. Kenderaan aparat kepolisian dan pasukan elite-nya, gencar melakukan patroli. Bersamaan dengan itu, isu unjuk rasa mahasiswa dan rakyat Aceh di Gedung DPRD I Aceh semakin mencemaskan warga. Ribuan warga, Banda Aceh dan Aceh Besar, melakukan ronda malam dengan sistem pagar betis terutama di kawasan komplek perumahan dan pemukiman penduduk. Pamswakarsa yang dilakukan masyarakat itu, dengan cara menjajarkan 30 warga setiap jarak 50 - 70 meter. Langkah itu dilakukan, untuk mengantisipasi masuknya provokator yang akan mengobok-obok daerah ini, di balik perayaan HUT GAM. Terdengar nyaring Hingga menjelang pukul 24:00, suara doa-doa dari berbagai masjid dan meunasah di Banda Aceh terdengar begitu nyaring, mengisi kesenyapan malam yang terasa agak mencekam. Belum lagi dengan berpatrolinya panser dan truk berisi pasukan Brimob mengelilingi kawasan kota Banda Aceh dan sekitarnya. Seorang ulama memimpin doa itu, selepas shalat maghrib hingga menjelang Isya. Selain doa masyarakat juga membaca surah Yasin secara bersama, laki-laki, perempuan, pemuda, pemudi dan segenap lapisan masyarakat. Para pria dewasa khusyuk berdoa untuk keselamatan diri, keluarga dan umat keseluruhan. "Keadaan ini persis ketika terjadinya tragedi G-30S PKI, tahun 1965," ujar Khatib Shalat Jumat, Drs H.Zaini Yusuf, dalam khutbahnya (3/12), di masjid Kel. Laksana Banda Aceh. Zaini berharap, keadaan ini bertambah mantap, selama bulan puasa dan sesudahnya. Firman Allah SWT yang artinya: Katakanlah, jika kebenaran telah datang segala bentuk kebathilan akan sirna. Para imam shalat berjamaah juga membacakan doa qunut nazilah, doa untuk para pejuang dari kalangan kaum Muslimin yang Mukmin. Doa qunut nazilah imam menjelaskan sebagai kebiasaan Nabi SAW selama umat Islam sedang dalam suasana jihad menentang kaum musyrikin. Rasulullah membaca qunut ini selama sebulan penuh, setiap iktidal rakaat akhir shalat berjamaah wajib. Sedangkan kalimah "wa kulja" menurut imam, dikumandangkan sewaktu umat Islam melawan Kompeni Belanda. Kota kalah perang Kota Banda Aceh yang sebelumnya aman dan hingar-bingar deru kenderaan, sejak tiga hari terakhir ini bagaikan 'kota kalah perang'. Pertokoan, sekolahan dan perkantoran dua hari terakhir ini seperti libur, walaupun tidak libur. Keadaan yang mencekam ini, telah memupuskan predikat Banda Aceh sebagai kota sejuta warung. Aksi masuknya provokator, sebagaimana disinyalir pihak Polda Aceh, ternyata nyaris warga non Aceh dan siswa Senakma di Saree, Aceh Besar. Untung saja, pihak Thaliban dan Mahasiswa segera terjun menetralisir issue tersebut. Para provokator itu, sebut sumber, kepada Waspada, dalam aksi pengusiran warga itu, Jumat (3/12) pagi, sengaja mencatut nama Thaliban dan mahasiswa, sehingga warga setempat panik. Seorang tokoh masyarakat menyebutkan, sulit membayangkan apa yang bakal terjadi, andai kata Saree yang dihuni mayoritas warga non Aceh itu, meninggalkan rumah dan kedai. Bisa jadi, puncak Seulawah berhawa sejuk ini, bisa dibumihanguskan oleh sang provokator. Selain itu, hubungan darat Banda Aceh ke pantai Barat - Selatan dan Banda Aceh - Medan, via pantai Utara sejak dua hari ini lumpuh total. Dampaknya sebagaimana dilaporkan wartawan Waspada dari Tapak Tuan, harga sembako di kawasan itu membumbung tinggi. Seperti, cabai merang, biasanya Rp. 3.000/kg menjadi Rp. 10.000/kg gula pasir, yang sebelumnya hanya Rp. 2.500, naik hingga Rp. 3.000/kg. Daerah ini sejak beberapa hari lalu, merasa terkucil karena tak satupun surat kabar dan majalah terbitan Medan, Jakara serta lokal, yang beredar di sana. "Kami betul-betul buta informasi," ujar Aiyu dan Hamsanuddin melalui SLJJ, Jumat tengah malam. Dikedua kawasan itu juga, mulai terlihat pancangan tiang bendera bersimbol Bulan Bintang, siap dinaikkan. Di Desa Meunasah Cut Mamplam, Kecamatan Muara Dua, Aceh Utara, kelihatan sudah memasang Billboard Aceh Sumatera National Front Liberation dengan lukisan Pulau Sumatera. Padahal, sehari sebelumnya pasukan Brimob sempat memporak-porandakan billboard dan gapura yang dihiasi warga setempat. Menanggapi issue unjuk rasa yang akan berlangsung, Sabtu (4/12) sore. Kapolda Aceh, Brigjen. Pol. Drs. Bachrumsyah, mengingatkan, agar semua pihak tetap memegang kesepakatan tentang tidak adanya aksi dibalik perayaan, kecuali membaca doa, zikir dan takbir serta tahmid dan selawat badar. "Jadi, jika ada yang membuat macam-macam di luar itu, berarti itu ulah provokator. Berarti masyarakat Aceh, perlu mencurigai dan menangkap sebagai pembuktian siapa sebenarnya provokator itu," kata Kapolda. Sementara Danrem 012/TU, Kolonel CZI Syarifudin Tippe, SiP, Msi, juga mengimbau semua pihak harus menahan diri. Agar, semua yang direncanakan bisa berjalan lancar sebagaimana hasil kesepakatan di DPRD I Aceh. Katanya, dalam hal ini TNI tetap berada di instalasi dan baraknya masing-masing. Pageu Gampong Selain doa, pemuda desa/kota Banda Aceh/Aceh Besar bersama-sama memagar kawasan mereka, yang dikenal istilah pageu gampong. Ide pemagaran desa dengan kegiatan jaga malam ini, bukan muncul dari aparat desa, tapi dari penduduk sendiri. Waspada memperhatikan kegiatan ini tak ada paksaan dan tekanan aparat resmi, tapi benar-benar muncul atas kesadaran memelihara ketentraman desa. Seorang pemuda di sebuah desa menyampaikan pada Waspada, mereka mengerahkan semua potensi pemuda untuk menjaga desanya dari gangguan pengacau yang mereka sebut provokator. Soal provokator Taufik Abda, Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) menyatakan pasukan Brigade Kucing Hitam (intelijen mahasiswa) telah dikerahkan di berbagai tempat untuk mendeteksi keberadaan provokator. Mahasiswa, katanya siap mengamankan pelaksanaan HUT GAM dari tangan-tangan provokator. Sebelumnya juga dilaporkan tentang keberhasilan Brigade Kucing Hitam mengamankan puluhan provokator selama satu bulan terakhir ini di Aceh. Motif para provokator pun beragam, mulai dari pemerasan, pencurian kenderaan bermotor hingga pengrusakan dan pembakaran. (b02/b03/b06/b07/b04/cik) Lhokseumawe Seram, Bireuen Meriah LHOKSEUMAWE (Waspada): Hari ini Sabtu 4 Desember 1999, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-23. Banyak pihak yang mempertanyakan apa yang bakal terjadi hari ini di Aceh. Akibatnya, suasana kota gas itu hingga tadi malam diliputi suasana seram. Pantauan Waspada hingga Jumat (3/12) malam suasana kota Lhokseumawe, Aceh Utara, dan kota kecamatan lainnya di sekitarnya agak tegang dan mencekam. Aparat keamanan TNI/Polri nampak hilir mudik mengitari jalan-jalan kota baik memakai kenderaan maupun berjalan kaki memantau situasi. Sedangkan masyarakat di siang hari Jumat kemarin lebih banyak mengurung diri di rumah maupun di meunasah dan masjid hingga suasana agak lengang. Sejumlah pertokoan juga terlihat tertutup terutama yang terletak di pusat kota Lhokseumawe. Hanya satu dua yang buka, termasuk warung-warung kopi yang di pinggiran kota. Dari lapangan dilaporkan keinginan masyarakat Aceh untuk merdeka tampaknya sudah sangat kuat. Hal ini ditunjukkan dengan antusiasnya masyarakat yang secara serentak membuat berbagai bentuk grafiti ciri khas Aceh, bahkan di beberapa tempat sudut jalan terlihat lukisan Pulau Sumatera ukuran raksasa yang menunjukkan batas wilayah Aceh dengan Indonesia. Berikut pancangan tonggak bendera Aceh Merdeka pada bagian peta wilayah Aceh. Sumber Waspada menyebutkan, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah menganggap bahwa Aceh bukanlah wilayah Indonesia namun merupakan wilayah tersendiri yang lepas dari NKRI. Kata dia, saat ini bagi sebagian masyarakat Tanah Rencong kemerdekaan adalah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi meskipun nyawa taruhannya. "Sejarah telah membuktikan bahwa Aceh adalah sebuah negara yang berdaulat. Karena itu rakyat Aceh harus merebut kemerdekaan," tegasnya. Selama ini kata dia, rakyat Aceh begitu tertindas oleh Pemerintah RI sejak puluhan tahun yang lalu, karena itu kemerdekaan merupakan jalan satu-satunya untuk mengembalikan harkat martabat rakyat Aceh. Sementara itu salah seorang pemuda yang mengaku anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang ditemui di tempat terpisah kepada wartawan mengatakan pihaknya tidak ada keinginan untuk melakukan kerusuhan atau tindakan anarkis lainnya pada saat perayaan HUT GAM ke-23. GAM menginginkan perayaan HUT yang ke-23 ini berjalan damai dan tidak ada korban berjatuhan dari kalangan rakyat sipil. Namun mereka siap dengan konfrontasi senjata bila TNI/Polri melakukan tindakan kekerasan, katanya. "Kami diintruksikan oleh Panglima GAM Wilayah Pase dan Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) pusat Tgk. Abdullah Syafei untuk tidak menggunakan senjata. Namun bila TNI yang memulainya kami akan membalas untuk melindungi rakyat sipil, kata anggota GAM yang tidak bersedia menyebut identitasnya itu. Di setiap kecamatan terutama dititik-titik perayaan HUT tersebut, diperkirakan perayaan itu akan berlangsung meriah dan dilaksanakan secara serentak selama beberapa hari. Kegiatan itu, katanya, akan diisi dengan takbir Akbar, pembacaan hikayat perang sabi, musabaqah qari, ceramah agama dan hiburan rakyat lainnya seperti seudati, rapai serta aneka atraksi lainnya. (tim) Mendagri: TNI Dan GAM Tahan Diri JAKARTA (Waspada): Saat HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember, Mendagri Suryadi Soedirdja meminta semua pihak, baik dari pihak TNI maupun GAM, berusaha menahan diri dan mengedepankan kepentingan rakyat. "Kami Pemda bersama aparat keamanan akan lebih mengedepankan dialog, mari kita lakukan dengan kepala dingin, jangan sampai mengorbankan rakyat, katanya, di Jakarta, Jumat. Apabila masing-masing memaksakan kehendak dan terjadi kerusuhan maka rakyatlah yang menderita, kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu seusai menandatangani naskah kerja sama Dwipraja antara Pemda DKI dan Pemda Tingkat I Lampung, Sulsel dan Kalsel di Balaikota Jakarta, Jumat (3/12). Menurut dia, pihaknya saat ini sedang mengupayakan pemulihan keadaan yang dinilainya sangat rawan, pihaknya juga terus menerus mengadakan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat untuk mencari titik temu dari segala perbedaan yang memicu kuatnya tuntutan referendum di Aceh. Dia mengatakan, pihaknya sudah berbicara dengan para tokoh masyarakat tersebut tentang bagaimana masa depan anak-anak yang terpaksa kesulitan makan dan tidak bisa sekolah karena konflik tersebut. Artinya, meski berbeda, sebenarnya kedua pihak harus tetap saling menghormati, karena jika sampai kasus Aceh ini menyerupai Ambon, dimana terjadi tragedi kemanusiaan, sungguh sangat menyedihkan. Tidaklah ada untungnya saling menganiaya, saling menghilangkan nyawa, karena kerugian akan ada di kedua pihak. "Sebenarnya, yang ada di Aceh itu, konflik horisontal antar warga masyarakat sendiri, itu saya lihat juga waktu saya ke Aceh pekan lalu. Ada kejadian besar yang membuat mobilitas kurang lancar karena penduduk ternyata mempunyai blok-blok tersendiri yang tidak homogen, sehingga masyarakat suatu daerah menganggap berbahaya ke suatu daerah yang lain," katanya. Begitu terganggunya, sampai-sampai aparat Pemda yang tersebar terhambat pergi ke kantornya, padahal pelayanan masyarakat tidak boleh terganggu, ujarnya. "Tetapi selama keamanan itu belum terjamin, keadaan akan terus begini." Namun, dia mengatakan, masyarakat Aceh tidak perlu khawatir soal terhentinya pelayanan Pemda kepada masyarakat, karena pihaknya telah berupaya keras agar pelayanan kepada masyarakat terus berjalan, sambil sekaligus merehabilitasi keadaan. Menurut dia, Negara Kesatuan Indonesia sudah final, dan segala perbedaan antara daerah satu dengan daerah lainnya haruslah diselesaikan secara arif dengan berdialog secara intensif, bukan dengan kekerasan yang mengorbankan rakyat.(ant) Warga Banda Aceh 'Panas Dingin' BANDA ACEH (Waspada): Sehari menjelang pelaksanaan HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM) warga Banda Aceh "panas dingin" karena diliputi rasa takut akan terjadi kontak senjata antara GAM dengan pihak TNI/Polri. Sejak Kamis (2/12) pagi, kota spiritual itu diterpa berbagai isu menakutkan. Wartawan Waspada yang melakukan pemantauan sejak Kamis menjelang Jumat dinihari kemarin, melihat kondisinya begitu mencekam. Apalagi, di kota itu aparat keamanan Siaga I dengan perlengkapan perang stanbay di lokasi-lokasi strategis. Sedangkan Kamis pagi menjelang sore sejumlah kenderaan rantis lapis baja lalu lalang di kawasan kota dan menyisiri pinggiran darah Aceh Besar. Pemandangan lainnya tampak sesekali truk sarat pasukan Brimob menyusuri jalan protokol dan jalan pintas lainnya dengan senjata ditangan. Kendati vanser dan truk militer tampak "aktif" sejak pagi menjelang siang, kelihatan warga masih melaksanakan aktivitas, walau volumenya menurun. Namun menjelang sore, kawasan pertokoan satu persatu mulai tutup hingga pukul 20:00 hampir pertokoan tutup seluruhnya. "Mau cari makan saja kami terpaksa pergi ke hotel karena warung-warung dan tempat jajanan tutup lebih cepat," kata seorang pamen polisi kepada Was-pada ketika sedang melakukan patroli. Di pihak lain, perumahan TNI maupun Polri di kota itu dikawal dan mendapat pengawasan ketat oleh petugas. Seperti yang terlihat di Asrama Kuta Alam, Lamteumen, Lampulo, Neusu termasuk Lingke. Sedangkan kawasan pemukiman penduduk kelihatan sepi karena penghuninya lebih memilih mengurung diri untuk menghindari hal tak diinginkan. Isu bermunculan Ketegangan di Banda Aceh tampaknya mulai terasa pada Kamis malam, di mana sejumlah isu pembunuh merebak di kalangan masyarakat. Perebutan senjata aparat yang dilakukan masyarakat sipil di depan Simbon Sibreh, misalnya, sempat bikin warga ketakutan. (tim) Massa Jarah Rumah Dan Bakar Mobil Milik Suku Aceh Di Medan MEDAN (Waspada): Satu KK (Kepala Keluarga) suku Aceh Jumat (3/12) terpaksa eksodus ke Mapolsekta Medan Baru karena rumahnya di Jl. Balai Desa Gang I Polonia Medan di porak-porandakan dan dijarah serta mobilnya bersama isinya barang dagangnya dibakar massa. Peristiwa yang sempat menggemparkan di kawasan Polonia Medan terjadi Kamis malam (2/12) sekira pk.21:00, Zakaria, 50, pedagang keliling, sedang melaksanakan sholat Isya tiba-tiba terdengar rumahnya dihujani batu dilakukan orang tidak bertanggungjawab. Lemparan batu semakin menjadi-jadi, Rohani, 35, (istrinya) keluar rumah mencoba melarangnya. Namun tidak berhasil malahan jendela kaca berpecahan serta mereka menendang Rohani dibarengi lemparan batu bata. Melihat istrinya dianiaya, spontan Zakaria mengamuk lalu mengambil senjata tajam terus mengayunkannya mengenai lengan tangan salah seorang dari kelompok massa yang melakukan penyerangan . Massa semakin mengamuk lalu menyorong mobil yang dipergunakan untuk berdagang makanan ringan ke arah tempat sunyi jaraknya sekitar 200 meter dari rumah korban lalu membakarnya. Karena takut diamankan pihak berwajib, 'W' salah seorang pelaku dilarikan rekannya dalam keadaan jarum infus masih tertancap di tangannya menuju ke Rumah Sakit Umum Dr Pirngadi Medan. Petugas Polsekta Medan Baru bekerjasama dengan Poltabes Medan begitu mendapat informasi segera turun ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) melakukan penyelidikan .Suasana berhasil diredakan dan rumah yang porak-poranda dijaga petugas kepolisian. Jumat pagi pk.07:00, petugas pergi massa datang lagi selain memporak-porandakan juga melakukan penjarahan. Karena situasi sudah tidak menguntungkan selanjutnya Zakaria bersama Rohani (istri) dan putranya terpaksa meminta perlindungan ke Polsekta Medan Baru karena lebih aman. Zakaria kepada wartawan mengatakan, kejadian ini cukup menyedihkan dan tak satu harta maupun pakaian berhasil dibawa. Hanya pakaian melekat dibadan yang terbawa. "Kemana lagi kami harus mengadu terpaksa pulang kampung halaman di Aceh", ungkap Zakaria dengan nada sendu. (m27) Masyarakat Antusias Sambut HUT GAM SIGLI (Waspada): Secara umum masyarakat Aceh di Pidie antusias menyambut perayaan hari ulang tahun ke-23 Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) 4 Desember mendatang, terkesan suasananya mirip menyambut perayaan Proklamasi RI, 17 Agustus. Kegembiraan masyarakat Atjeh tersebut tergambar dari aktivitas masyarakat yang mempersiapkan secara lengkap dan akbar hari yang disebut telah ditunggu-tunggu selama 22 tahun lebih itu. Masyarakat secara umum mempersiapkan gaba-gaba, umbul-umbul, bahkan bendera dan melakukan gotong royong massal membersihkan pinggir jalan desa, pekarangan rumah, kebun kosong dan lingkungan perkotaan. Selain itu, dilaporkan sejumlah bangunan milik masyarakat, baik perumahan, pertokoan maupun bangunan lain dipermak dengan cat hingga menambah indah suanana dan sedap dipandang. Pantauan Waspada hingga Kamis (2/12) belum terlihat secara khusus pengibaran bendera bulan bintang (bendera GAM) di lapangan, meskipun isu penaikan bendera telah merebak sejak awal November 1999. Sementara itu Panglima Komando Pusat Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Abdullah Syafii mengatakan, tidak ada pengibaran bendera secara meluas di tengah-tengah masyarakat dalam menyambut HUT Ke-23 GAM pada 4 Desember mendatang. "Rakyat awam diminta tidak mengibarkan bendera pusaka Aceh Merdeka pada 4 Desember mendatang, demi keselamatan mereka sendiri," tegas Tgk Abdullah Syafii kepada sejumlah wartawan di suatu tempat kawasan Pidiei, Rabu (1/12). Larangan ini hanya dikhususkan kepada rakyat awam. Sedangkan kepada para pimpinan GAM di wilayah masing-masing, Panglima AGAM itu tetap mewajibkan pengibaran bendera Aceh Merdeka tersebut. Do'a Masyarakat Masyarakat memanjatkan doa keselamatan untuk segenap lapisan penduduk Aceh di masjid-masjid dan meunasah-meunasah selama empat malam berturut-turut, sejak 1-4 Desember. Seorang ulama memimpin doa itu, selepas shalat maghrib hingga menjelang siya. Selain doa, masyarakat juga membaca surah Yasin secara bersama, laki-laki perempuan, pemuda, pemudi dan segenap lapisan masyarakat. Waspada memantau, khususnya masjid-masjid dan meunasah-meunasah mulai penuh dengan jamaah melaksanakan shalat berjamaah, dalam pekanpekan akhir November dan awal Desember. Pria dewasa dan tua yang malas ke masjid berjamaah kini mulai bergegas ke rumah Allah SWT, dan ikut khusyuk berdoa untuk keselamatan diri, keluarga dan umat keseluruhan. "Keadaan ini persis ketika terjadinya tragedi G-30 S PKI, tahun 1965," ujar Khatib Shalat Jumat Drs H Zaini Yusuf, dalam khutbahnya (3/12), di masjid Kel Laksana Banda Aceh. Zaini berharap, keadaan ini bertambah mantap, selama bulan puasa dan sesudahnya. Para imam shalat berjamaah juga membacakan doa qunut nazilah, doa untuk para pejuang dari kalangan kaum muslimin yang mukmin. Doa qunut nazilah imam menjelaskan sebagai kebiasaan Nabi SAW selama umat Islam sedang dalam suasana jihad menentang kaum musyrik. Rasulullah membaca qunut ini selama sebulan penuh, setiap iktidal rakaat akhir shalat berjamaah wajib. Pageu Gampong Selain doa, pemuda desa/kota Banda Aceh/Aceh Besar bersama-sama memagar kawasan mereka, yang dikenal istilah pageu gampong. Ide pemagara desa dengan kegiatan jaga malam ini, bukan muncul dari aparat desa, tapi dari penduduk sendiri. Waspada memperhatikan kegiatan ini tak ada paksaan dan tekanan aparat resmi, tapi benar-benar muncul atas kesadaran memelihara ketentraman desa. Bahkan kaum ibu, sukarela menyedekahkan minuman kopi, dan kue-kue alakadarnya untuk pemuda mereka. PAY: Jangan Panik Partai Abulyatama (PAY) Kotamadya Banda Aceh mengimbau warganya dan masyarakat umumnya untuk tidak panik dan terpancing berkaitan dengan HUT ke-23 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada Sabtu (4/12) ini. Masyarakat hendaknya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dan terus berdoa agar daerah ini terlepas dari bencana dan malapetaka, imbau Razali Ahmad, Ketua PAY Kodya Banda Aceh kepada Waspada Kamis (2/12). "Mari kita ciptakan suasana aman dan damai dengan terus menjalin ukhuwah Islamiyah sesama kita, sehingga kita tidak mudah terprovokasi oleh orang-orang yang tidak menginginkan daerah Aceh aman dan tenteram. Foto Studio Tutup Sejak Minggu (28/11) semua studio photo di kota Lhokseumawe, Aceh Utara, tutup total, membuat para wartawan kewalahan untuk mencetak photo. Menurut keterangan yang Waspada peroleh semua pengusaha photo studio eksodus ke Medan. Di kota Lhokseumawe, sampai saat ini belum ada pengusaha studio warga pribumi (Aceh) semuanya WNI keturunan China, sampai kapan pengusaha studio itu tutup, belum jelas diketahui. Wartawan photo di daerah ini terpaksa mengirim film ke Medan, karena satu-satunya pengusaha studio photo milik orang Aceh di luar kota Lhokseumawe (Batuphat) juga tutup, ujar wartawan yang bertugas di daerah ini. (tim) AGAM Temukan Ladang Ganja Di Samalanga SAMALANGA (Waspada) : Seratus orang intelijen Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) wilayah Batee Ileik, dipimpin Komandan Operasi Tgk. Darwis Djeunieb, Jumat (3/12) menemukan tiga hektar ladang ganja siap panen di kawasan transmigrasi Krueng Meuseugob, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Sementara itu di kota Lhokseumawe, ibukota Aceh Utara aparat keamanan mengobrak-abrik seluruh umbul-umbul yang dipasang di toko-toko sepanjang jalan Merdeka, membuat pemilik toko dan ruko menjadi ketakutan. Sedangkan di sepanjang jalan negara Medan - Banda Aceh dilakukan sweeping oleh aparat keamanan. Menurut Tgk. Darwis Djeunieb, berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa di lokasi transmigrasi yang sudah ditinggalkan penghuninya sebulan lalu ada ladang ganja, pihaknya memerintahkan anggota intel AGAM untuk melacak laporan tersebut. "Ternyata benar, di tengah-tengah pemukiman warga transmigran yang sudah eksodus itu, ditemukan ladang ganja yang hidup subur, " kata dia. "Mengingat luasnya ladang ganja tersebut, kami menurunkan 100 orang anggota Intel untuk mencabut dan membasminya," ujar Tgk. Darwis Djeunib. Pencabutan tanaman haram itu dilakukan sejak Jumat pagi hingga siang hari, kemudian langsung di basmi. Kepada seluruh bangsa Aceh, Dan Ops AGAM mengimbau untuk memberitahukannya kepada AGAM, dimana saja kedapatan dan diketahui adanya tanaman haram dan perbuatan maksiat lainnya di bumi Aceh, karena kami tidak akan membiarkan tanah Aceh ini dicemari oleh siapapun juga," ujar Tgk. Darwis Djeunieb. Sehari sebelumnya, Intel AGAM wilayah ini juga berhasil menangkap 400 Kg ganja kering yang siap diangkut ke luar daerah Aceh, di salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen berikut menangkap tiga orang tersangka. Ke 400 Kg ganja tersebut, disaksikan ratusan warga masyarakat dimusnahkan. Tiga tersangka yang berinitial MUN bin YS, 26, FAI bin YC, 22, keduanya warga Samalanga dan SAI bin AGN, 25, warga Jln. Plamboyan Desa Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, di intrograsi. Bila keluarganya menjamin tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut akan di bebaskan, kata dia. Sementara itu aparat keamanan sejak Kamis (2/12) sampai berita ini dikirim masih melakukan sweeping di sepanjang jalan negara dan jalan masuk kota Lhokseumawe, semua kenderaan yang melintasinya diperiksa, termasuk mobil armada pengangkut HR. Waspada. Selain memeriksa kelengakapan surat-surat kenderaan dan KTP, aparat juga dengan teliti memeriksa seluruh barang-barang dan bagasi mobil, demikian juga dengan pengendara sepeda motor termasuk anak koran. Bagi warga yang sudah membawa kelengkapan surat-surat, aparat memerintahkan untuk mengambilnya, sementara SIM atau identitas lainnya dipegang oleh aparat yang melakukan sweeping tersebut. Selain itu, warga kota Lhokseumawe dan sekitarnya yang telah memasang umbul-umbul di depan toko dan rukonya, Kamis (2/12) seluruh diobrak-abrik aparat keamanan Jumat. Karena banyaknya aparat keamanan yang melakukan patroli di kota Lhokseumawe dan sekitarnya, membuat situasi jadi mencekam, banyak masyarakat yang tidak berani ke luar rumah, sementara semua toko, kantor pemerintah/swasta dan seluruh Bank tutup total, yang ada masyarakat terutama kaum ibu di pajak ikan dan pajak sayur. (tim) --------------------------------------------- ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Dec 1999 jam 07:56:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
