----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 19 Januari 2000

Kudetanya Holbrooke

Itu jelas peringatan, apa lagi. Bukan terhadap kemungkinan
kudetanya oleh TNI Sendiri tetapi terhadap Indonesia agar 'tidak
macam-macam', kalau tak ingin menghadapi boikot ekonomi,
pengucilan politik, dan diseretnya para jenderal kita ke mahkamah
internasional dengan alasan melanggar hak asasi manusia di Timor
Timur. Sebab, kalau sampai Duta Besar Amerika serikat sekaliber
Richard Holbrooke sampai melontarkan ucapan-ucapan yang semata-
mata spekulatif, tentulah tidak pada tempatnya. Juga bukan
'sekedar' pendapat pribadi, terlebih lagi omong kosong yang tak
punya makna. Pasti ada sesuatu dibalik itu yang layak dicermati,
mengingat di belakang Holbrooke ada negara yang kini bisa malang
melintang sebagai adikuasa tunggal di dunia, dan terhadap
Indonesia AS pasti mempunyai kepentingan, yang tak selalu sejalan
dengan kepentingan nasional negeri berpenduduk mayoritas Muslim
ini.

Bahkan, Presiden Abdurrahman "Gus Dur" Wahid pun sampai berterima
kasih atas 'perhatian' Holbrooke, sebab kita tidak layak menafikan
pemahaman Pak Dubes atas keadaan dalam negeri kita. Kita sampai
berkeyakinan bahwa catatan tentang republik kita di arsip Amerika
pasti jauh lebih lengkap dibanding catatan kita sendiri. Jadi,
setiap langkah, ucapan, dan apalah, yang kita lakukan, si Bung
Besar akan senantiasa memelototi kita. Tak hanya kita tetapi
barangkali semua negara di dunia tak luput dari pengawasannya. Dia
mampu menyandera kita dan menelikung gerak kita agar menuruti
kemauannya. Yang paling bisa kita lakukan ialah 'memohon' agar si
Bung tidak keterlaluan mengobok-obok kita. Bukti dari bobot
pernyataan Pak Dubes adalah kutipan panjang di harian terkemuka
'The Washington Post' dan 'geger' seketika di negeri kita sendiri.

Dengan demikian, pertanyaannya adalah, apakah memang benar ada
petunjuk ke arah kudeta oleh TNI terhadap pemerintahan Gus Dur?
Pelbagai pihak di kalangan militer sendiri keras menyanggah
kemungkinan itu. Panglima TNI Laksamana Widodo AS sampai seperti
menghujat: 'Lihat sejarah tidak? TNI tak pernah kudeta!" Dan,
terutama Gus Dur sendiri juga sudah menafikan kemungkinan itu.
Kita lihat saja kenyataan sangat tidak sehat kalau sampai
penggantian kekuasaan berlangsung dengan cara revolusioner seperti
itu. Seolah tak ada lagi pilihan yang lebih beradab. Ini mengingat
korban yang bisa diperkirakan akan besar terutama di kalangan ini
yang paling memprihantinkan rakyat.

Tetapi, kita juga tidak sepakat kalau sampai ada upaya-upaya
melemahkan TNI. Kita jelas memerlukan tentara untuk menjaga
keamanan negara. Sekecil apa pun, walau diboikot oleh Amerika dan
kawan-kawannyya, kita tidak pernah meragukan peranannya sebagai
bagian dari perjuangan rakyat menangkal campur tangan asing.
Namun, juga benar bahwa TNI harus memperbaiki citranya yang
tercoreng oleh pelaku oknum-oknumnya selama ini. Tentunya TNI tak
mau menambah carut-marut itu dengan melakukan kudeta, betapa tidak
puasnya pun militer kalau ada terhadap pemerintah Gus Dur. Maka,
paradigma baru yang kini sedang dikembangkan TNI, kita harapkan
segera tersosialisasikan dan menjadi pegangan bertindak seluruh
jajarannya. Kita yakin TNI memiliki pemikir-pemikir yang
berpandangan jauh dan luas demi kemaslahatan negara dan bangsa
sehingga 'apa yang baik buat rakat baik pula buat TNI' bukan
sekedar bualan belaka.

Kita tentu tidak ingin menambah parahnya suasana dengan terjadinya
kemungkinan yang tak diinginkan itu. Kita anggap saja pernyataan
Pak Dubes Holbrooke sebagai wanti-wanti Saudara Besar agar dengan
segala dana dan daya kita secepatnya menyelesaikan kemelut baik
politik, ekonomi, maupun sosial yang merundung kita. Dengan
demikian, orang lain tak dapat seenaknya menuding-nuding kita, dan
kita mempunyai cukup harga diri untuk berkata "Tidak", sesuatu
yang terasa mewah sekarang ini. Terhadap IMF saja kita sudah harus
merunduk-runduk, apalagi terhadap Bung Besar pendana utama badan
keuangan dunia itu. Kita memang harus mawas diri dan tidak sekadar
menyangkal-nyangkal, yang hanya mengisyaratkan sikap defensif,
didorong oleh rasa bersalah.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 10:24:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke