---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: ULAH TIM PEMBELA WIRANTO DKK MENTERTAWAKAN DUNIA Kejahatan perang pihak Indonesia yang dilakukan oleh sejumlah oknum TNI dan milisia sudah menjadi rahasia umum di seluruh dunia di mana korban nyawa ratusan telah bergelimpangan, ratusan ribu masih "disandera" di Kupang tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Laporan tim PBB di bawah pimpinan Sonia Picado sudah sampai di tangan Sekertaris Jendral PBB dan Komisaris Tinggi HAM Mary Robinson. Mereka mendesak dibebaskannya ratusan ribu pengungsi dari Timor Timur kemudian diizinkan pulang kampung. Sekonyong konyong tim pembela Wiranto mau menuntut KPP HAM, belum jelas apakah di pengadilan perdata atau pengadilan pidana. Kita tidak heran ulah para pengacara yang memang pekerjaannya pokrol pok- rolan. Namun dalam skandal internasional sedahsyat ini adalah sia sia belaka kalau tidak mentertawakan untuk "turn the tables on them" (memutar balik kenyataan), justru dilakukan olah para pakar hukum sekaliber Adnan Buyung Nasution yang selama ini berada di pihak kita yang merasa dijadikan korban oleh rejim orde baru Suharto. Sebagai pengacara, Buyung adalah "the top gun for hire" yang tidak mempu- nyai hatinurani. Lain halnya dengan Muladi yang kebiasaan menjadi bajing loncat, tidak mengherankan. Melakukan pembelaan dengan "turning the tables" sebelum UU Pengadilan HAM terbentuk adalah suatu langkah yang amat sangat prematur, suatu "overkill" yang justru kontra-produktif. Memang kita belum mempunyai sistem hukum yang telah disempurnakan, hukum kita masih dibelenggu oleh Magna Carta pra-1215 yang melindungi penguasa dan menindas rakyat. Buyung dkk tahu akan hal ini dan mereka berupaya memanipulasinya. Namun satu hal yang ia lupakan: dalam alam demokrasi baru ini rakyat sudah tidak pasif, sudah bebas dari belenggu Pavlov sehingga tidak mus- tahil akan menimbulkan reaksi dahsyat. Ataukah hal ini memang sengaja dipancing untuk membenarkan dalih tindakan kekerasan militer? New York, 2 Pebruari 2000. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Feb 2000 jam 08:41:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
