---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 08/III/13-19 Maret 2000 - ------------------------------ REKONSILIASI NASIONAL GAYA GUS DUR Oleh: Henry Boen (OPINI): Baru-baru ini Sekretaris Kabinet Marsilam Simanjuntak mengumumkan tentang pembubaran Bakorstanas (Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional) dan prosedur Litsus (Penelitian Khusus). Keppres tentang pembubaran kedua lembaga tersebut segera dikeluarkan. Presiden Abdurrahman Wahid memutuskan untuk membubarkan Bakorstanas dan menghentikan penelitian khusus (Litsus), karena selama ini hal itu lebih banyak menimbulkan keruwetan ketimbang menyelesaikan masalah. Langkah raksaksa Gus Dur ini bisa diartikan, sebagai cara Gus Dur untuk meminta maaf kepada anggota masyarakat yang menjadi korban di masa Orde Baru, terutama pada golongan "kiri". Sebagaimana kita tahu, Bakorstanas dan Litsus merupakan metamorfose dari lembaga sebelumnya Kopkamtib. Dari segi nama memang berubah, sekadar mengurangi kesan sangar, namun dari segi represi, tidak ada yang berubah. Dengan kata lain, apapun namanya, sama represifnya. Kopkamtib ini dulu digunakan Soeharto di awal kekuasaannya, sebagai buldozer untuk membasmi elemen-elemen dalam masyarakat yang ada kaitannya dengan PKI dan golongan Sukarnois garis keras. Dalam praktek di lapangan, eksekutor-eksekutornya adalah memakai tenaga dari Banser (Bantuan Serbaguna) Gerakan Pemuda Anshor NU. Jadi sebagai sesepuh NU yang kebetulan menjadi Presiden, maka Gus Dur berkepentingan, untuk meminta maaf pada korban atau keluarga korban. Ini sebagai upaya penyembuhan luka-luka lama, yang perihnya masih terasa hingga sekarang. Generasi Gus Dur di NU, yang kini telah menjadi tokoh di NU dan panggung politik nasional, adalah generasi yang terlibat secara aktif dalam pembasmian besar-besaran golongan kiri. Kalau rata-rata usia mereka pada saat sekarang, adalah 50 tahun. Berarti pada sekitar tahun 1965-1967, usia mereka setidaknya 16 tahun hingga 25 tahun, usia yang lagi "semangat-semangatnya" sebagai anggota GP Anshor. Seperti Ketua Umum PKB Mathori Abdul Jalil misalnya, di masa mudanya dulu di Salatiga, sebagai tokoh GP Anshor Salatiga, terlibat aktif dalam pembasmian. Maka ketika ia "dibacok" di rumahnya, di hari Minggu yang cerah kemarin, mungkinkah Matori sedang menghadapi "hukum karma" atas kegiatannya di masa lalu? Tampaknya Gus Dur sadar, bahwa dulu Pemuda Anshor itu hanyalah dimanfaatkan oleh tentara. Setelah "proyek pembasmian" selesai, NU ditinggalkan, tanpa kompensasi memadai. Paling-paling hanya diberi jabatan Menteri Agama. Kesediaan NU dimanfaatkan tentara, karena NU pada saat itu dipimpin oleh pemimpin tipe oportunis, seperti KH Idham Chalid dan Subchan ZE. Dan lagi Gus Dur juga tahu, bahwa peristiwa "G30S/PKI" itu didalangi Soeharto sendiri. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Soeharto berkomplot dengan DN Aidit dan Sjam Kamaruzaman, merencanakan gerakan tersebut. Dengan Letkol Untung sebagai operator lapangannya. Agar "belangnya" tidak ketahuan, maka Aidit cepat-cepat dilenyapkan. Kemudian PKI dijadikan kambing hitam peristiwa "G30S". Model pengkambinghitaman seperti itu, dipakai lagi saat Soeharto menunjuk PRD sebagai dalang "Peristiwa 27 Juli 1996". Pembubaran Bakorstanas dan Litsus, juga disetujui kalangan TNI sendiri, seperti mantan Kassospol ABRI Letjen TNI Purn Bambang Triantoro. Menurut Bambang Triantoro, lembaga itu tak diperlukan lagi, karena komunisme sudah bukan ancaman serius lagi, baik di Indonesia maupun dunia. Justru yang menyayangkan pembubaran Bakorstanas, adalah Ketua Umum KNPI Adhiyaksa, SH. Ini bisa dimaklumi, karena KNPI walau bagaimanapun adalah bagian dari Orde Baru, maka agak lambat reformasinya. *** - --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Mar 2000 jam 18:52:06 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
