----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 20/III/12-18 Juni 2000
================================================

MILITER MULAI GERAH

(PERISTIWA): Politisi sipil bertikai, militer ciptakan peluang kembali
berkuasa. Konon, Wiranto rela berdamai dengan Prabowo.

Pertarungan sengit menggeser dan mempertahankan Gus Dur, mulai
mencemaskan. Salah satu kecemasan terbesar adalah bila militer
"tergoda" untuk kembali mendominasi politik dalam negeri dengan alasan
menciptakan stabilitas nasional. Kekhawatiran bakal berulangnya
skenario usang ini, kiranya bisa jadi kenyataan. Seorang sumber,
bahkan, yakin sejumlah petinggi militer kini sedang bergerilya ke arah
sana. "Militer tak tertarik untuk mendukung siapapun pemimpin sipil,
termasuk Mega-Akbar atau Amien Rais bila Gus Dur jatuh," ujar sumber
tadi. "Bagi mereka, selama sipil masih memimpin, keadaan negara tak
akan pernah stabil. Di tangan Habibie, Timor Leste lepas dari
Indonesia, di tangan Gus Dur, Papua mendeklarasikan untuk merdeka."

Satu-satunya jalan paling efektif, di manapun, untuk menjustifikasi
keinginan militer masuk pentas politik adalah dengan menyatakan negara
dalam keadaan darurat. Itu bisa dilakukannya dengan cara mempercepat
terjadinya instabilitas politik. Indikasinya sudah terlihat di Poso
serta Medan. Berbagai sumber meyakini, peledakan bom di beberapa
gereja di Medan, merupakan upaya provokasi yang sengaja dilakukan
militer untuk menciptakan situasi chaos. Provokasi semacam itu sengaja
mengambil tempat di daerah yang komposisi penduduk beragama Islam dan
Kristennya seimbang. Dengan demikian, potensi kerusuhan yang
diharapkan terjadi akan lebih ganas. "Poso dan Manado, merupakan
daerah yang sudah berkali-kali 'dipancing', namun berkali-kali pula
gagal. Tapi, sampai kapan sih bakal bertahan?" ujar sebuah sumber.

Ada anggapan bahwa, setelah sukses Gus Dur menggusur orang-orang
Wiranto di jajaran elit militer, militer kini tidaklah sesolid di
jaman Soeharto dan Habibie berkuasa. Barangkali, memang benar. Cuma
saja, perkembangan belakangan ini justru menunjukkan proses yang
sebaliknya. Misalnya setelah Bondan Gunawan mundur dari jabatan
sekretaris negara, belasan perwira tinggi militer mulai menggugat
eksistensi elit militer yang dekat dengan Gus Dur. Mereka membuat
petisi ke presiden yang isinya mempertanyakan campur-tangan "BTA"
(Bondan-Tyasno-Agus WK) dalam penentuan pangkat dan karir militer para
perwira tinggi di TNI. Mereka bahkan menyebut-nyebut pertemuan BTA
yang dilakukan secara bergilir di Kompleks Perwira Tinggi Angkatan
Darat (KPAD) Bulak Rante, beberapa waktu lalu. Hal inilah yang
akhirnya mengemuka dalam pertemuan antara KSAD Jenderal Tyasno Sudarto
dengan kalangan DPR, baru-baru ini.

Tyasno tentu saja membantah. Namun, sejumlah pihak sudah terlanjur
percaya "sesuatu" sedang terjadi dalam tubuh TNI. Itu sebabnya, muncul
isu kuat mengenai bakal digantinya Letjen. Agus Wirahadikusuma oleh
Pangdam Jaya Mayjen. Ryamizard Ryacudu. Agus, konon, bakal ditempatkan
di "pos tanpa pasukan" seperti Sesko TNI. Juga terdengar kabar bahwa
Panglima TNI Widodo AS bakal diganti. Soal siapa penggantinya, belum
jelas. Ada yang menyebut-nyebut, orang dari Angkatan Udara akan diberi
kesempatan menjadi Panglima TNI. Gus Dur, kabarnya memberi angin pada
Susilo Bambang Yudhoyono untuk bersaing merebut jabatan itu
- --meskipun, Tyasno sendiri juga punya ambisi. Sebetulnya, Agus
Wirahadikusumah sebagai Pangkostrad dan Tyasno Sudarto sebagai KSAD
- --bersama-sama dengan Panglima TNI dan Kepala Staf Teritorial-- yang
tergabung dalam jajaran Wanjakti, merupakan pihak yang paling berhak
menentukan karir dan kepangkatan para perwira TNI. Karena itu,
seandainya Agus tergusur dari jabatan Pangkostrad, maka ini adalah
bukti adanya "gerilya" dalam tubuh militer.

Belakangan, Tyasno mengakui adanya "konspirasi besar" yang menurutnya
perlu diwaspadai karena telah mengancam integritas bangsa dan
kedaulatan negara. "Jika ada anggota TNI yang terlibat dan nyata,
mereka akan dibabat," ujar Tyasno seusai memberikan pembekalan kepada
prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 403 Diponegoro yang diberangkatkan
ke Ambon, Sabtu (10/6) lalu. Menurut Tyasno, konspirasi tersebut telah
melahirkan konflik di berbagai daerah termasuk Maluku. Kemungkinan,
konspirasi itu juga melibatkan jaringan luar negeri. "Hanya saja,
kemampuan kita, intelejen kita, belum bisa mengurai secara nyata
mengenai apa dan siapa, serta bagaimana peta konspirasi ini."

Siapa saja aktor utama konspirasi ini? Nama Wiranto masih
disebut-sebut punya pengaruh cukup kuat. Sebuah sumber menyebutkan
adanya pendekatan serius yang dilakukan Wiranto pada "musuh
bebuyutannya", mantan Pangkostrad yang juga menantu mantan presiden
Soeharto, Prabowo Subianto. Tujuannya, tak lain mengkonsolidasi
seluruh komponen militer, sebelum melakukan sesuatu. Kendati demikian,
bukan faktor Wiranto semata yang membuat sejumlah perwira tinggi
"gerah". Mereka terutama, tak suka pola penentuan karir dan
kepangkatan oleh "BTA" yang dianggap sebagai intervensi. Mereka juga
tak terima, bila elit-elit militer kehilangan wibawa dan dengan mudah
bisa dipanggil serta diperiksa para polisi berpangkat kolonel,
berkaitan dengan pelanggaran HAM di berbagai daerah.

Sungguh disayangkan, prestasi Gus Dur merestrukturisasi militer
beberapa waktu lalu, ternyata belum cukup mendasar. Seorang pengamat
militer menilai, kesalahan Gus Dur terletak pada ketakseriusannya
menindaklanjuti restrukturisasi itu. "Seandainya Gus Dur memberi
'mainan baru' pada militer, mereka tak akan mengalami disorientasi,
lalu terlibat mem-back up berbagai aksi kriminalitas." Akibatnya,
militer yang dulu disingkirkan kini mulai mengambil hati para prajurit
yang moralnya sedang morat-marit itu. Nah, para politisi sipil,
silakan terus cakar-cakaran kalau mau melihat demokrasi di negeri ini
kembali ke titik nol. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jun 2000 jam 06:24:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke