----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 20/III/12-18 Juni 2000
================================================

TAWAR MENAWAR MENJELANG AGUSTUS

(POLITIK): Sidang tahunan MPR-RI bakal jadi ajang tawar-menawar
kabinet baru. Sayang, tak dijamin penggantinya lebih profesional.

Kalau banyak orang kini mengaku bosan membaca berita-berita politik,
sebaliknya dengan aktifis dan pengamat. Akselerasi politik menjelang
sidang tahunan MPR Agustus mendatang berlangsung amat cepat. Terlambat
mengikuti berita sehari saja, dapat berarti "buta" analisis peta
politik terkini. Soal rencana meng-"SI"-kan Gus Dur misalnya. Baru
beberapa waktu lalu diyakini bakal terjadi, kini sudah berubah lagi.

Seperti diberitakan media ini pada edisi lalu, sebagian elit PDI-P dan
Partai Golkar mulai enggan "membeli" ide yang gencar diangkat Poros
Tengah itu. Mereka berpendapat, nama "Mega-Akbar" yang diusulkan
sebagai ganti duet "Gus Dur-Mega", kalaupun terpilih, umurnya takkan
lama. Mereka khawatir, dalam waktu tiga bulan, duet ini bakal kembali
digoyang Poros Tengah --khususnya kekuatan-kekuatan garis keras yang
enggan dipimpin presiden perempuan.

Ada perkembangan lain yang membuat upaya menggeser Gus Dur ini kian
tak laku. Kasus Bulog yang dianggap kartu as melumpuhkan Gus Dur, kini
mulai kehilangan bobot sensasinya. Pasalnya, para pemeran utama kasus
ini yang dituduh menerima kucuran dana Yanatera Bulog, tiba-tiba
secara kompak berjanji mengembalikan uang yang mereka terima. Mulai
dari Teti, istri tersangka utama Soewondo, Aris Junaidi hingga Siti
Farikha --yang diisukan seteru politik Gus Dur sebagai "orang ketiga"
dalam rumah tangga sang presiden. Sehingga, tinggal Rp5 milyar saja
- --dari Rp35 milyar dana Bulog yang ditransfer Sapuan-- yang belum bisa
dikembalikan. Kecuali terhadap Sapuan, kemungkinan besar para pelaku
utama kasus Bulog hanya akan dituntut secara perdata. Ini berarti,
takkan ada bukti yang bisa menyeret Gus Dur terlibat kasus ini.

Sempat timbul kecurigaan bahwa uang yang bakal dikembalikan itu,
sebetulnya, bukan dana Bulog yang dulu diterima. Seorang pengamat
percaya, pihak tertentu sedang mem-back up Gus Dur agar tak
tergelincir karena kasus ini. "Jumlah Rp35 milyar 'kan nilainya kecil,
bagi para pengusaha yang mempertaruhkan bisnisnya di bawah
kepemimpinan Gus Dur," ujarnya. Soalnya, bagaimana membuktikan ini?

Perkembangan demikian tak membuat para lawan politik Gus Dur berhenti
bermanuver. Justru mereka memulai berbagai serangan baru. Amien Rais
misalnya, baru-baru ini (7/6) merestui keinginan Parni Hadi, Pemimpin
Umum Harian Republika yang berniat menuntut Gus Dur karena memecatnya
dari posisi pemimpin redaksi LKBN Antara. Serangan lain, dilakukan
Gubernur BI Syahril Sabirin yang menuduh Gus Dur mengintervensi BI,
setelah Kejaksaan Agung menjadikannya tersangka kasus Bank Bali.
Syahril menganggap Gus Dur telah melanggar pasal 4 UU Nomor 23 tahun
1999 yang menegaskan tentang independensi BI terhadap campur tangan
eksekutif.

Hanya saja, serangan-serangan tersebut, tampaknya takkan berdampak
kuat untuk menghempaskan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Sebab, di
samping kadarnya lebih "ringan" dibandingkan isu korupsi, dalam hal
Parni Hadi dan Syahril Sabirin, Gus Dur memang punya alasan kuat
menghadapi keduanya. Dalam kasus Parni Hadi misalnya, meskipun dituduh
melakukan intervensi terhadap lembaga pers, namun sebagai presiden Gus
Dur memang punya wewenang mengganti pimpinan lembaga "plat merah"
semacam Antara, selama belum ada aturan main baru yang ditetapkan
parlemen. Sedangkan dalam kasus Syahril Sabirin, berdasarkan pengakuan
Firman Soetjahya di pengadilan, Syahril memang hadir dalam rapat
dengan "Tim Sukses Habibie" untuk mencairkan dana Bank Bali di Hotel
Mulia, Jakarta.

Namun, serangan pada Gus Dur toh tak cuma dilakukan Poros Tengah dan
kawan-kawan. Klik tertentu dalam tubuh militer, diperkirakan sedang
menyusun rencana mengacaukan Jakarta dengan tujuan menciptakan
ketidakpercayaan masyarakat dalam dan luar negeri pada pemerintahan
Gus Dur. Hal ini disinyalir oleh Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol)
Nurfaizi belum lama ini. Tapi, Muspida DKI Jakarta, termasuk Gubernur
Sutiyoso yang belakangan terus digoyang lawan politiknya, telah
bertekad menunjukkan prestasinya, mengamankan ibukota.

Tidak berarti posisi Gus Dur kini aman 100% pada bulan Agustus nanti.
Seperti sudah diketahui banyak orang, PDI-P dan Golkar memang berniat
"menjewer" kuping Gus Dur yang mereka anggap keterlaluan ketika
memecat dan menuduh dua menterinya terlibat KKN. Karena itu, hak
interpelasi kelak tetap akan diajukan. Dan menurut seorang sumber,
kedua partai besar tadi akan melakukan tawar-menawar ulang untuk
menempatkan kembali orang mereka dalam kabinet dan pos-pos penting
negara. "Pembicaraan yang terjadi, bukanlah bagaimana menggeser Gus
Dur, tapi bagaimana menyusun formasi baru kabinet pasca Agustus," ujar
sumber tadi.

Saat ini pun PDI-P sudah mengusung nama Laksamana Sukardi untuk
mengisi kursi Gubernur BI yang hampir pasti ditinggalkan Syahril
Sabirin. Sementara pos-pos dalam kabinet, hingga kini, belum
dibicarakan secara jelas.Tingginya posisi tawar PDI-P, sebenarnya
sudah mulai terlihat ketika Bondan Gunawan yang merupakan orang dekat
Gus Dur, dicopot. Bahkan, kabarnya, Gus Dur telah menyerahkan nasib
Alwi Shihab, yang disebut-sebut terlibat kasus Bulog, pada Megawati.
Poros Tengah tentu sudah berancang-ancang meminta jatah, bila terjadi
reshuffle kabinet. Namun, Gus Dur sepertinya takkan meluluskan
permintaan itu.

Tak ada jaminan kabinet baru nanti bakal diisi oleh orang profesional,
mengingat proses tawar-menawarnya tak beda dengan saat Gus Dur pertama
kali menyusun kabinetnya tahun lalu. Keputusannya jadi tergantung pada
para elit yang berunding. Kalau rakyat inginkan zaken kabinet, tak ada
jalan lain, mesti menekan dari bawah. Ya, demonstrasi lagi, 'gitu. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jun 2000 jam 06:38:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke