----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 20/III/12-18 Juni 2000
================================================

EKS MILISI MENGACAU KUPANG

(POLITIK): Kerusuhan meledak di Kupang karena perselisihan preman
lokal dan eks milisi. Indikasi adu domba oleh TNI?

Sejak pengungsi Timor Leste membanjir ke Nusa Tenggara Timur, warga
Kupang menjadi resah. Sebabnya bukan lantaran mereka tak punya empati
terhadap kesulitan warga Timor Leste, tapi karena di antara jibunan
warga Timor Leste itu menyusup banyak sekali eks milisi yang kalah
perang seperti gerombolan Aitarak dan Besi Merah Putih. Preman-preman
pendatang itulah yang menguasai jalanan di Kupang.

Perselisihan dengan preman lokal memang tajam pada awalnya, tapi
akhirnya preman lokal ini akhirnya tergusur ke luar kota karena kalah
beringas. Anehnya, beberapa preman lokal itu sekarang datang lagi
dengan membawa wadya bala yang lebih besar dan terlatih, termasuk
terlatih dalam membuat mesiu dan merakit senjata. Kini situasi kian
meruncing karena penduduk, baik yang sudah lama tinggal maupun yang
baru datang, kemudian terlibat dalam perkelahian antar kelompok.

Puncaknya terjadi pada tanggal 8 Juni 2000, perkelahian antar preman
meledak sebagai buntut perkelahian yang terjadi pada hari Minggu, 4
Juni 2000. Akibatnya lima bangunan luluh lantak dan dua mobil dibakar.
Melanjutkan keanehannya, sasaran yang dibakar kemudian melebar ke
milik institusi publik. Dalam kasus kemarin, yang dibakar adalah
Kantor KPP HAM Kupang dan mobil dinas liputan LKBN Antara. Investigasi
Xpos belum menemukan bukti adanya target untuk memprovokasi kerusuhan
besar di Kupang, tetapi indikasi meningkatnya serangan ke fasilitas
publik tampak menonjol sebagai ekses konflik antar preman. Bila hal
ini konsisten terus menerus terjadi, maka dugaan adanya provokasi
militer untuk membuat rusuh Kupang menjadi kuat.

Dalam kerusuhan tanggal 8 Juni tersebut, lima bangunan yang diserang
massa itu adalah dua rumah penduduk, satu rumah makan, Kantor KPP HAM
dan Kantor Jasa Raharja yang terletak di jalan Lalamentik, Kecamatan
Oebobo Kupang. Saksi Leri Haba mengisahkan, sekitar pukul 16.00 Wita,
segerombolan pemuda dengan dilengkapi senjata rakitan secara tiba-tiba
melakukan penyerangan ke wilayah Oebobo sambil memberondongkan
tembakan dan lemparan batu. "Kami tidak bisa melakukan perlawanan
karena mereka membawa senjata rakitan. Kami hanya lari untuk
menyelamatkan diri dari tembakan senjata api," ujar Leri Haba.

Kerusuhan pada waktu itu tidak langsung meluas karena dihalau oleh
aparat Polres Kupang dibantu Brimob Polda NTT. Sementara ini, sebagian
preman yang tertangkap masih ditahan, tapi belum ada pegangan untuk
menginvestigasi apa motivasi mereka membuat kacau Kupang. Kepala Pusat
Komando Pengendalian Operasi Polres Kupang, Mayor Alex Yohanes malah
mengatakan belum mengetahui berapa jumlah orang yang ditahan. "Saya
belum mengetahui berapa yang sudah ditangkap, tapi untuk sementara
kami menempatkan sejumlah aparat keamanan di lokasi untuk menjaga
adanya kemungkinan serangan lanjutan," ujar Sang Mayor.

Bila ditilik, kerawanan Kupang saat ini sungguh sangat tinggi.
Pengungsi yang datang bukan hanya dari Timor Leste, tetapi juga dari
wilayah kerusuhan yang lain seperti Sambas Kalimantan dan orang NTB
yang pulang balik dari Maluku. Kantor Wilayah Departemen Transmigrasi
dan Pemukiman Perambah Hutan NTB mencatat sebanyak 264 kepala keluarga
(KK) warga transmigran paksa dari Sambas dan Maluku akan diberi
pemukiman sederhana, tapi tak jelas kapan waktunya direalisasi.

Dalam situasi yang tertekan, pengungsi berupaya mencari makan dengan
bekerja apa adanya. Bagi yang tak dapat lahan kerja, pilihan untuk
jadi preman di Kupang terbuka lebar-lebar. Persoalannya adalah, preman
ini kemudian bisa digunakan TNI untuk memprovokasi kerusuhan
sebagaimana yang terjadi di Ambon. Menurut Gerry van Klinken,
provokator berhasil memanfaatkan preman dari dua kubu di Ambon.
Kelompok brandal Nasrani bernama Cowok Kristen disingkat Coker,
bermarkas di gereja Protestan Maranatha. Di Jakarta, koneksi mereka
adalah dua orang pemuda Maluku Kristen, Milton Matuanakota dan Ongky
Pietes. Kelompok pemuda Maluku Kristen itu menguasai pusat
perbelanjaan, lapangan parkir dan sarang judi di Jakarta Barat Laut.
Setelah peristiwa Ketapang di Jakarta, bulan November 1998, ratusan
anak buah Milton dan Ongky hijrah ke Ambon.

Lawan kelompok Milton dan Ongky di Jakarta adalah Ongen Sangaji,
aktivis Pemuda Pancasila yang juga koordinator salah satu kelompok
mahasiswa Muslim Maluku. Anggota kelompok ini banyak direkrut dalam
Pam Swakarsa yang dikerahkan oleh Pangab Jenderal Wiranto dan Pjs.
Presiden Habibie untuk membentengi Gedung MPR/DPR dari para mahasiswa
yang menentang Sidang Istimewa MPR, bulan November 1998. Sementara
Ongen dikabarkan punya hubungan dekat dengan Bambang Trihatmojo,
Milton dikabarkan lebih dekat dengan Siti Hardiyanti Rukmana. (Van
Klinken, n.d.; HRW 1999:8).

Pola awal yang terjadi di Ambon, ternyata mirip sekali dengan apa yang
sekarang terjadi di Kupang. Maka sebelum semuanya nanti menjadi bubur,
pencegahan konflik secara sistematis kiranya perlu dilakukan oleh
masyarakat sipil sendiri. Untuk itu, dibutuhkan pengorganisasian yang
kuat yang bisa dimotori oleh ormas-ormas dan LSM-LSM setempat. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jun 2000 jam 07:08:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke