----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 20/III/12-18 Juni 2000
================================================

BENANG RUWET BANK INDONESIA

(POLITIK): Syahril Sabirin salahgunakan jabatan, Gus Dur salah
prosedur, terus pemecahan? Jika Gus Dur salah, apa Syahril lantas
lolos dari jaring hukum?

Kasus Bank Indonesia kini bundet bak benang ruwet. Persoalan yang
tadinya cuma semata hukum dan ekonomi, sekarang merambah ke persoalan
politik yang ujung-ujungnya jadi soal sodok-sodokan kekuasaan dan...,
apalagi kalau bukan duit.

Apa yang tampak di permukaan adalah sandiwara kasus di mana Syahril
Sabirin menjadi aktor utama. Lawan Syahril dalam hal ini adalah Gus
Dur yang ingin menggusur Syahril dari tahta Gubernur BI. Syahril yang
tak mau terjungkal merangkul Akbar Tandjung, Ketua DPR dan Partai
Golkar. Nah, babak yang sedang berlangsung sekarang, tampaknya Gus Dur
kalah set dalam urusan sodok-menyodok ini lantaran ia tak menggunakan
prosedur baru di mana Bank Indonesia kini sudah independen dan lepas
dari prosedur lama di mana jabatan Gubernur BI tak lepas dari ketiak
kekuasaan presiden karena posisi jabatannya yang setingkat menteri
kabinet. Gus Dur lupa, ia kira posisinya dalam kasus ini sama dengan
posisi kuat Soeharto.

Awal cerita, sesungguhnya Syahril Sabirin sudah ketahuan belangnya
tersangkut kasus Bank Bali. Tapi eh, rupanya dia ngotot mengaku tak
hadir dalam pertemuan konspiratif dengan Tanri Abeng, AA Baramuli, dan
Rudy Ramli di Hotel Mulia Senayan Jakarta. Pengakuan itu di bawah
sumpah lagi. Marzuki Darusman sebagai Jaksa Agung melapor ke Gus Dur
kalau ia akan menyeret Syahril ke pengadilan. Gus Dur rupanya punya
cara lain menangani Syahril, ia ingin me-Wiranto-kan Gubernur BI ini.
Singkat kata Syahril pun diundang Gus Dur dan diberi pilihan, mundur
atau diadili. Syahril menjawab kalau ia akan berpikir dulu. Sampai di
rumah, alih-alih menyiapkan diri mundur atau maju ke pengadilan,
alumni Fakultas Ekonomi UGM ini malah menyiapkan diri untuk melawan
Gus Dur. Apalagi, kasus Bulog mulai pasang angin menghantam Gus Dur.
Dan dalam hal cara, Gus Dur memang salah prosedur.

Pertanyaannya, bila Gus Dur salah prosedur, apakah Syahril lantas bisa
dibiarkan lolos dari jaring hukum? Padahal kalau dilihat kasalahan
Syahril, kasus Bank Bali itu cuma secuil kuku hitam di tangan. Syahril
pasti tahu tanggungjawabnya segunung. Tapi Ia rela mengikuti apa
maunya Soeharto asal jabatannya aman di tangan, meski perekonomian
kemudian jadi hancur lebur di kala krisis. Sebagaimana diungkap
Independen Watch yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI),
BI tak efektif dalam mengawasi bank-bank penerima Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia (BLBI). Jangankan mengawasi dengan baik, BI justru
menjadi sapi gering yang diperah para pemilik bank.

Bermula ketika BI menggelontorkan dana untuk menggairahkan perbankan
yang lesu darah, semua bank mendapat kucuran dana. BI membantu dengan
mengeluarkan surat utang berharga khusus yang bisa ditukarkan ke bank
sentral dengan harga diskon. Kucuran ini kemudian terkenal dengan
sebutan BLBI. Mestinya sebagai surat utang, BLBI ada masa berlakunya
dan harus ditebus kembali dalam jangka waktu tertentu. Tapi, BI
ternyata sangat longgar dalam menjaga ketentuan perbankan. Salah satu
sebabnya adalah karena para pemilik bank punya becking dari istana,
baik pada jaman Soeharto maupun Habibie. Jangankan menebus hutang itu,
para bankir malah terus-menerus minta penerbitan surat utang. Dengan
maksud, agar dana segar dan murah bisa ditangguk. Dan gilanya Syahril
yang seharusnya tak membiarkan BI dihisap, justru senyum-senyum saja
meng-OK-kan pemerasan tersebut. Dalam hitungan setahun, BI telah
menyuapi para bankir itu dengan duit senilai lebih dari Rp145 trilyun
rupiah.

Apakah bank-bank yang disuapi itu jadi sehat. Tidak, justru mereka
tambah loyo. Dan salah satu sebab juga, BI tidak ketat mengawasi
bagaimana mereka memakai BLBI. Ternyata uang yang disalurkan bukannya
untuk menyehatkan bank dan memberi manfaat bagi nasabah mereka,
melainkan para bankir itu sendiri yang menikmatinya.

Menteri Keuangan waktu itu, Bambang Subiyanto sudah meminta bantuan
Ketua BPKP Soedarjono untuk mengaudit BLBI. Materi audit 39 bank
bersumber dari laporan BI sendiri. Hasilnya, BPKP menyatakan bahwa
tidak semua BLBI bisa menjadi tanggungan pemerintah. Karena, BI telah
teledor sebagai pengawas perbankan sekaligus penjamin terakhir sistem
perbankan. Kasus ini belum selesai hingga kini, tapi kemudian
menghilang baunya tertutup kasus baru Bank Exim, lalu tertutup lagi
oleh kasus Bank Bali. Di situ Syahril berperan di dalamnya. Ia
"menyelesaikan" suatu kasus dengan menciptakan kasus baru.

Dalam hal ini, bila Gus Dur meminta Syahril mundur, mestinya memang
sudah sewajarnya. Tapi jelas Gus Dur salah prosedur, karena yang
menentukan mundur-tidaknya Gubernur BI adalah DPR. Bisa saja, Akbar
Tandjung melindungi Syahril lantaran terdongkelnya Syahril bisa
membuka aib Golkar di Bank Bali. Dan kini apakah Marzuki Darusman,
yang notabene orang Golkar, sebagai Jaksa Agung akan tetap menyeret
Syahril sebagai tersangka ke pengadilan? Kita tunggu saja. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jun 2000 jam 06:53:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke