---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Pakar Barat Berpendapat, Soeharto Jatuh Karena Kudeta Halus Selasa, 27 Juni 2000, 10:20 WIB New York, Kompas Di Amerika Serikat belakangan ini banyak diterbitkan buku yang menganalisis jatuhnya Soeharto, salah satunya yang ditulis pengamat politik Stefan Eklof yang menyimpulkan Soeharto jatuh bukan karena desakan "people power" atau akibat badai krisis ekonomi, melainkan korban kudeta halus (a soft coup). Senin malam (Selasa pagi WIB) dari New York dilaporkan, pengamat Barat umumnya menggunakan istilah "Jatuhnya Suharto" ketimbang "Mundurnya Suharto" atau "Lengsernya Suharto". Buku Stefan Eklof misalnya berjudul "Politik Indonesia Dalam Krisis: Jatuhnya Suharto, 1996-98" (Indonesian Politics in Crisis: The Fall of Suharto, 1996-98). Menurut ahli politik dari Nordic Institute of Asian Studies (NIAS), Denmark itu, runtuhnya ekonomi Indonesia menjadi pendorong berkembangnya krisis politik secara penuh. Apalagi Indonesia sudah sejak lama berada di tengah krisis legitimasi politik ketika krisis ekonomi melanda pada pertangahan 1997. "Ada perasaan yang menyebar luas bahwa mahasiswa telah digunakan sebagai bidak dalam permainan politik kalangan elit. Pada tingkat akhirnya, kejatuhan Soeharto lebih disebabkan oleh manuver antar elit ketimbang 'people power'," tulis Eklof yang dalam mempersiapkan bukunya beberapa kali melakukan riset di Indonesia sebelum dan sesudah lengsernya Suharto pada 21 Mei 1998. Pada saat posisi presiden pendiri Orde Baru itu mulai tampak tidak lagi bisa dipertahankan seiring dengan gelombang kerusuhan dan unjuk rasa mahasiswa, kroni- kroninya di berbagai organisasi sosial dan politik serta di DPR dan akhirnya di kabinetnya sendiri, mencabut dukungannya kepada Soeharto. Di antara tokoh-tokoh mapan Orde Baru yang belakangan paling keras mencela Suharto, menurut Eklof, adalah sejumlah orang di kelompok Habibie. Mengapa? "Karena mereka menginginkan kalau Suharto mundur maka kekuasaan akan beralih ke tangan Wakil Presiden (Habibie)," tulis Eklof merujuk pada ketentuan konstitusi UUD 1945 bahwa kalau presiden berhalangan tetap maka Wakil Presiden menggantikannya sampai masa jabatan kepresidenan berakhir. Pada detik-detik terakhir kekuasaan Soeharto, lanjut Eklof, Soeharto gagal menggalang dukungan bahkan dari ICMI dan Habibie serta dari kalangan militer dan NU. Mengapa? "Karena tak seorang pun yang siap menerima risiko peruntungan politiknya dengan mengasosiasikan diri dengan presiden yang segera jatuh tenggelam," tulis Eklof dalam buku setebal 272 halaman itu. Ketika akhirnya pada 20 Mei 1998, 14 orang menteri yang memegang peran kunci dalam kabinetnya menyatakan mereka menolak rencana reformasi yang digulirkan Soeharto, sang presiden yang sudah berkuasa 32 tahun itu tidak punya pilihan lain selain mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada Habibie. "Suharto sangat terpukul. Ia merasa ditinggalkan sendirian," tulisnya lagi. Namun, Eklof mengakui bahwa peranan Habibie sendiri dalam proses suksesi tersebut belum jelas benar. "Meskipun tidak ada bukti bahwa Habibie secara aktif bersekongkol untuk menjatuhkan Suharto, Suharto mungkin percaya bahwa Habibie melakukan itu. Buktinya, setelah peralihan kekuasaan, hubungan keduanya menjadi dingin," begitu analisa Eklof. Pertanyaan lain yang belum terjawab adalah bagaimana peranan Komandan Kostrad Letjen Prabowo Subianto. Jika hubungan Suharto dan Habibie menjadi dingin, lanjut Eklof, maka hubungan Soeharto setelah mundur dengan menantunya Prabowo sama sekali terputus. Menurut Eklof, ada sejumlah indikasi bahwa Prabowo dengan kelompoknya terlibat dalam menghasut beberapa bagian dari kerusuhan di Medan, Jakarta dan Solo. Ada juga juga dugaan bahwa Komandan Kostrad itu bersama Habibie mendorong Soeharto untuk mundur. Prabowo tampaknya berusaha mengambil keuntungan dari naiknya Habibie ke kursi RI-1, namun rencananya itu ketahuan sebelumnya oleh Soeharto. Pada malam sebelum Suharto menyatakan mundur, Soeharto meminta jaminan dukungan Panglima TNI Jenderal Wiranto dalam penyerahan kekuasaan kepresidenan kepada Habibie. "Dalam konstelasi kekuasaan baru, tak ada tempat untuk Prabowo," tulis Eklof merujuk pada fakta bahwa hanya beberapa saat setelah naiknya Habibie menjadi Presiden, Prabowo dicopot dari jabatannya dan dipindahkan menjadi Komandan Seskoad di Bandung yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk mengerahkan pasukan.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Jun 2000 jam 11:15:00 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
