----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Wiranto Diduga Terlibat di Maluku
Jumlah Korban Meninggal 3.000-10.000

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto, diduga ikut mengatur konflik
antar umatberagama di Maluku. Bentuknya, lewat laskar jihad, dengan dukungan
tersembunyi Pangdam V/Brawijaya Mayjen Sudi Silalahi.

Demikian Dr George J Aditjondro, dosen Antropologi dan Sosiologi University
of Newcastle Australia, pada 15 Juli lalu.

Tudingan George Aditjondro kepada Wiranto, yang juga diterima redaksi
koridor.com, menyebutkan kehidupan rakyat Maluku, telah dijadikan sebagai
mainan bola politik.

Diperkirakan, konflik antar Islam dan Kristen di Maluku, kata George, telah
menelan korban meninggal dunia, sekitar 3.000 hingga 10.000 jiwa, termasuk
500 pengungsi dari Desa Duma, Galela yang menumpang KM Cahaya Bahari, yang
dinyatakan tenggelam, 29 Juni lalu.

Data ini, sesuai laporan Rev John Barr, dari Persatuan Gereja Australia dan
sumber George Aditjondro di Maluku dan Australia.

Mantan dosen Universitas Satya Wacana ini mengungkapkan, pembakaran
Universitas Pattimura beberapa waktu lalu, merupakan bentuk baru dari invasi
10.000 Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, yang dikirim berperang ke
Maluku, yang diberangkatkan dari Surabaya, lewat dukungan Pangdam
V/Brawijaya Mayjen Sudi Silalahi dan Kapolda Jatim (Inspektur Jenderal)
Polisi Da'i Bachtiar, yang disebut masih loyal kepada Wiranto.

Menurut dugaan, langkah ini ditempuh Wiranto dan pendukungnya, untuk
membebaskan saudara-saudara mereka yang beragama Islam di Maluku, dari
pembersihan etnis agama, oleh kelompok Kristen Maluku.

Walaupun Presiden Gus Dur mengumumkan darurat sipil diberlakukan pada 27
Juni lalu, tetapi pembunuhan-pembunuhan terus berlangsung. Sehingga, George
menyarankan, agar Australia sebagai tetangga yang baik, memberikan bantuan
kepada rakyat Maluku yang masih tersisa, agar terhindar dari pembasmian
berikutnya.

Sebenarnya, kata George, rencana yang disusun pengikut Soeharto untuk
membuat konflik di Maluku, pada awalnya bertujuan menciptakan instabilitas
keamanan, sekaligus menjegal Megawati sebagai kandidat terkuat menggantikan
Habibie, yang didukung Soeharto.

Kedua, tentunya menciptakan kerusuhan sosial di beberapa wilayah, yang
tujuannya menghidupkan kembali beberapa Kodam (Komando Daerah Militer), yang
dulu pernah dihapuskan mantan Panglima ABRI (sekarang TNI--Red) Jenderal
(Purn) Benny Moerdani.

Memang, setelah empat bulan pertama konflik di Ambon, Kodam (lama)
Pattimura, yang meliputi wilayah Maluku, kembali dihidupkan. Hal ini tentu,
sama dengan pola rencana penghidupan Kodam di Kupang, Pontianak dan di
Padang, yang belum berhasil dilaksanakan.

Sementara kekerasan terus berlangsung di Ambon, beberapa pulau sekitarnya
juga terus bergolak, dengan penambahan pasukan dari Jawa dan Sulawesi
Selatan.

Menurut George Aditjondro, setelah hal ini mulai diketahui, maka operator
Soeharto menggunakan preman-preman Ambon sebagai pasukan liar bersama
pasukan TNI yang loyal ke Wiranto.

Mereka terus melakukan pembunuhan-pembunuhan dan pengrusakan, sampai pada
akhirnya diciptakan sebagai pola saling balas dendam antara kedua belah
pihak.

Hingga pada titik yang sangat jenuh, pemuka agama dari pihak Kristen da
Muslim, terus mencoba menciptakan perdamaian diantara kedua kelompok yang
bertikai.

Tetapi bagaimanapun, peran perwira intelijen dari Kodam XVI/Pattimura,
Kolonel TNI Budiatmo dan Kolonel Nono, terus menghambat rencana perdamaian.

"Budiatmo, terus memelihara link dengan milisi Kristen, yang dikomandoi Agus
Wattimena, sementara Nono memelihara linknya dengan milisi Islam, yang
akhir-akhir ini disebut sebagai pasukan laskar jihad," tulis George
Aditjondro.

Laskar Jihad sendiri, berasal dari Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan. Tetapi
yang lebih ironis lagi, kata George Aditjondro, Kolonel Nono, masih punya
hubungan dengan Kolonel (L) Nono Sampurno, yang menjadi ajudan Wapres
Megawati.

Ketika Max Tamaela, yang beragama Kristen menjadi Pangdam XVI/Pattimura, dan
akhirnya digantikan Kolonel (TNI) I Made Yasa, yang beragama Hindu Bali;
Budiatmo dan Nono, kembali berkuasa, karena ditarik ke Jakarta.

Jadi dalam kenyataannya, sangat mungkin kedua pamen TNI ini, lebih
mengetahui situasi Maluku, daripada Pangdam baru. Sebab Budiatmo dan Nono,
sudah berada di Maluku, sebelum Kodam Pattimura dihidupkan, di bawah komando
Suaidy Marasabessy, yang menganut agama Islam dan dekat dengan Wiranto.

Akhir-akhir ini, menurut George, dua kelompok kepentingan, juga terlibat
dalam konflik Islam dan Kristen di Maluku. Mereka merupakan kelompok Islam
radikal, yang tidak setuju dengan Gus Dur. Kelompok ini mendapat dukungan
dana dari mantan Menteri Keuangan di era Soeharto, Fuad Bawazier, dan kini
menjadi anggota MPR, dan dekat dengan Amien Rais.

Sedangkan kelompok kedua, para pengusaha yang mengambil keuntungan dari
berlangsungnya konflik di Maluku, agar bisa menghindar dari kewajiban
membayar utang triliunan rupiah, yang dipinjam dari bank-bank pemerintah.

Kelompok ini, diantaranya Jayanti Group, Barito Pacific, Sinar Mas, dan
Artha Graha Group, yang sangat dekat dengan keluarga Soeharto. Jayanti dan
Sinar Mas, menurut George, juga join dengan perusahaan-perusahaan Australia,
yang mempunyai utang ke BPPN, sebesar 206,5 miliar rupiah, atau 23,7 juta
dolar AS.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Jul 2000 jam 08:52:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke