----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Tawuran dan Narkoba pada Generasi Muda
Oleh:   Aiway (Iy) Pahan ([EMAIL PROTECTED])

        Perspektif gender adalah suatu hal usang yang selalu menarik untuk
dipelajari dan diperbaharui dalam perspektif kekinian.  Kali ini saya akan
mencoba bicara soal anak, membesarkan anak, fenomena tawuran di kalangan
pelajar dan konsumsi narkoba yang semakin menakutkan para orang tua dari
perspektif ini.  Inti dari fenomena ini menggejala karena ketidakseimbangan
porsi pengasuhan anak antara figur bapak dan figur ibu.

        Jakarta tahun 2000 adalah kota persaingan.  Jika kita tidak bisa
mengorbankan waktu untuk memberikan pelayanan terhadap pekerjaan kita, maka
90% penduduk bandar raya ini mungkin akan punah dan berganti dengan bentuk
masyarakat yang sama sekali baru.  Artinya, orang yang tidak bisa berangkat
kerja pagi hari (subuh) dan pulang petang (sampai dirumah pukul 20.00),
adalah mereka-mereka yang harus punah sesuai teori survival of the fittest
nya Darwin.  Jelas, karena tidak akan ada orang yang mau memperkerjakan
mereka.

        Jika kita mengikuti pola ritmik yang dianggap baku oleh masyarakat
Jakarta tersebut, maka suatu kebersamaan dalam keluarga adalah suatu
kemewahan yang langka.  Kita tidak akan punya waktu untuk berinteraksi
secara intens dengan anak.  Anak hanya diposisikan sebagai hasil ikutan (by
product) dari suatu simbol ikatan perkawinan.  Dia tidak mempunyai hak untuk
menerima kasih sayang dalam suatu pola sistematis, dan hanya bisa merasakan
kelangkaan kasih sayang dalam kejutan-kejutan ala MTV land, yang
didapatkannya dari jendela kotak kaca budaya popular, memperhatikan trend
pergaulan yang semakin mudah terpeleset ke pelarian seperti penggunaan
narkoba, tawuran dan pergaulan bebas yang audzubillah mindzalik.

        Pergeseran pola hidup karena tekanan lingkungan urban sensation,
membuat kita para manusia sebagai pelaku kehidupan membentuk budaya yang
sama sekali baru bila dibandingkan era tahun 70-an.  Pada tahun-tahun yang
telah berlalu itu, kota tidaklah seramai dan serumit sekarang.  Berjalan
kaki dari Slipi ke Cililitan bagi seorang mahasiswa di tengah panasnya
Jakarta adalah sesuatu yang biasa.  Kini, jangan mengharap lagi ada orang
yang mau melakoni itu secara sadar untuk sebuah perjalanan.

        Di Jakarta tahun 2000, pergi kemana-mana harus selalu dengan
kendaraan.  Mentalitas jalan kaki sudah usang.  Salah satu pergeseran budaya
rumahan pun menjadi semakin mengkristal.  Pola rumah - kantor di lokasi
berdekatan hanyalah valid untuk segelintir orang super kaya atau mayoritas
karyawan baru yang miskin dan bersedia indekos di rumah-rumah sederhana di
belakang jalan Sudirman dan Thamrin.  Setelah para karyawan baru ini merasa
mantap dan berumah tangga, sebuah rumah adalah keharusan (atau mungkin
mereka belum cukup kuat mental untuk memiliki tangganya saja).  Dan dengan
adanya disparitas harga jual properti dan kemampuan daya beli,
pasangan-pasangan baru ini harus merelakan diri terhempas ke kawasan rumah
saya sendiri (RSS) jauh di luar Jakarta.  Kalau dahulu rumah di Bekasi
dianggap murah bila dibandingkan Jakarta, maka sekarang jarak itu semakin
bergeser ke Tambun dan Krawang.  Dan jadilah perjalanan ke dan dari tempat
kerja menjadi suatu petualangan ala Indiana Jones.  Cuma bedanya, kalau
Indiana Jones bisa menembus waktu, maka kita hanya bisa merelakan waktu
menelan kita dalam sebuah ritual perjalanan.

        Dan kehidupan pun terus berlanjut.  Yakinlah apa yang dikatakan
orang bijak:  Kehidupan itu akan menemukan jalannya sendiri.  Dari titik
inilah saya akan mencermati fenomena tawuran pelajar, narkoba, dan menanti
apakah kelak 2 generasi bangsa ini menjadi generasi yang hilang, atau
menjadi generasi bangsa(t) Indonesia.

===============

        Buah perkawinan itupun akhirnya muncul ditengah kebahagian pasangan
suami istri.  Dan karena si ibu harus bekerja untuk menopang kehidupan
keluarga juga (di Jakarta kalau suami istri tidak bekerja kedua-duanya maka
ibarat mobil bukan 4WD dilintasan off-road), maka si anak mesti direlakan
untuk diasuh orang lain.  Bisa jadi orang lain itu adalah neneknya, baby
sitter, atau pembantu rumah tangga (istilah kerennya: mamahnya anak-anak).

        Generasi MTV ini adalah generasi yang terutama dibesarkan oleh
wanita, apakah wanita itu ibunya, baby sitter, pembantu rumah tangga, atau
malah tetangganya.  Dibesarkan tanpa ada figur bapak yang ikut mewarnai
karakternya, karena posisi bapak sudah dipostulatkan sebagai pencari nafkah,
dan untuk itu sang ayah bebas untuk berangkat kerja kapan saja dan pulangnya
hampir selalu kemalaman.  Karena kalau dia tidak lakukan itu, dia akan punah
dari spesies Homo faber (manusia sebagai makhluk pekerja).  Dia mencari
pembenaran dalam ritual kerja dan perjalanan ke tempat kerjanya.  Anak
dibesarkan wanita, siapapun dia, dan tidak di poles sentuhan akhir seorang
pria untuk menyempurnakannya.  Hal ini akan menjadi lebih parah lagi  kalau
wanita yang membesarkannya itu ternyata bukan ibu kandungnya.

        Banyak ibu-ibu yang mampu bereproduksi, tetapi tidak memiliki
kesadaran untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya secara seimbang.
Pemandangan yang umum di mal dan plaza adalah melihat keluarga kontemporer
Indonesia dengan paling tidak seorang baby sitter menemani mereka
berbelanja.  Seorang ibu yang menikmati proses berbelanja di mal dan plaza
yang sejuk, tetapi kurang menyikapi pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
Dan secara psikologis, anak akan lebih dekat dan tergantung kepada
pengasuhnya.  Anak tidak mau makan bila disuapin ibunya, tetapi langsung
melahap  semuanya jika baby sitter yang memberikannya.   Anak yang menangis
meronta-ronta ketika digendong ibunya, tiba-tiba menjadi senyap dan
tersenyum manis ketika digendong pengasuhnya.  Semuanya adalah
kejadian-kejadian kecil yang memberikan dampak besar kepada perkembangan
pribadi anak ketika mereka berusaha mencari jati dirinya kelak.

        Anak laki-laki itupun akan kehilangan kejantanannya dalam arti
kiasan dan sebenarnya.  Mereka secara bulat-bulat menelan dan meniru pola
manipulatif wanita dalam  kehidupan laki-lakinya (mungkin sebaliknya,
pria-lah yang suka dimanipulasi oleh wanita).  Mereka telah kehilangan
konsep berani dan jantan, dan menterjemahkannya dengan interface mereka
sendiri menjadi berani keroyokan, berani karena bawa beceng, karena punya
samurai dan seterusnya dan sebagainya.  Dan kondisi ini akan menjadi semakin
parah, karena secara substantif akan meningkatkan kecenderungan anak
laki-laki menjadi gay alias homo.  Semua ini karena figur bapak telah gagal
bersemi di dalam kalbu si anak yang digerus oleh budaya urban sensation.
Maka tawuran pelajar pun terjadi semakin  dini dan meluas, dari anak SMU
kini telah merambah ke anak SMP dan juga ke Perguruan Tinggi.  Jika figur
bapak ada dalam hatinya, bila dia berkelahi, dia akan jantan dan berani
berkelahi satu lawan satu, dan pasti mengharamkan tawuran.

        Mereka-mereka yang akan tawuran biasanya terangsang untuk
mengkonsumsi minuman keras dan akhirnya bermuara pada narkoba, guna memompa
semangat dan keberanian.  Mereka meniru atlet yang ingin berprestasi dengan
cara doping, hanya saja cara mereka salah, dan tujuan mereka juga salah.
        Lalu anak-anak itu menjadi gamang dalam perjalanan menuju ke
kedewasaannya.  Ketidakseimbangan itu akan membuatnya mudah tersandung dan
terjerumus dalam sisi negatif budaya popular.  Budaya anak muda dengan
atribut dan asesorisnya sendiri, yang cenderung mencari pembenaran dan
membenarkan semua apa yang dilakukannya dalam kehidupan ini.  Dan menurut
mereka kebenaran itu adalah kebenaran yang dianut oleh norma kolektif
kelompok mereka.

        Jika merokok telah menjadi suatu kebiasaan, walaupun peringatan
pemerintahan merokok itu bisa membahayakan kesehatan dan menyebabkan
impotensi, orang-orang yang pernah merokok tentu memahami sulitnya
melepaskan diri dari rokok.  Lalu bagaimana dengan putauw, bong dan segala
turunannya dalam fenomena sakauw yang berapa kali lipat lebih dahsyat dari
rokok?  Kasus terakhir, pelawak Doyok katanya digelandang ke polda metro
jaya karena tersangkut masalah narkoba.  Ternyata narkoba bisa dipakai
melucu, walau bagi yang bersangkutan jelas-jelas tidak lucu.

        Budaya popular dalam masyarakat kota sekarang ini memberikan sensasi
dan cenderung kepada hal-hal seperti itu.  Strategi pemasaran kelompok
pengedar narkoba adalah memposisikan produknya sebagai sesuatu yang
diasosiasikan dengan kemajuan zaman, budaya modern yang akan mengantarkan
para pemula ke dunia nikmat yang maya, walau itu tidak disebutkan secara
jelas-jelas:  hanya untuk sementara!  Dan setelah itu budaya modern itu akan
membuatnya modaren (mati).

        Mereka-mereka yang terjebak dalam labirin kenikmatan semu ini hampir
selalu akan berakhir dengan kematian sebagai ujung siklusnya.  Dan
berakhirlah sebuah kehidupan, yang secara agregat berarti menghilangkan
sekian talenta produktif, kuncup bunga bangsa yang layu sebelum berkembang,
dan secara nyata akan membuat bangsa ini terpuruk dalam persaingan global.
Mereka-mereka ini lah generasi penerus yang akan menjadi anggota DPR,
pejabat, tentara, atau apa saja di masa yang akan datang.  Lalu mau jadi
apakah negara kita ini kelak?

        Untuk itu, dengarlah yang merasa jadi suami, cobalah luangkan 1-2
kali dalam seminggu untuk menjalin persamaan dan kebersamaan dengan
anak-anak kita guna menyemai ketahanan keluarga.  Niscaya, ketahanan
keluarga macam inilah yang akan ampuh dan menjadi modal Indonesia untuk
meniti masa depan.

        Pemasyarakatan hal-hal seperti ini pada pasangan muda yang akan
menikah, mudah-mudahan akan  memberikan tuntunan kepada mereka untuk membina
keluarganya guna menjadi keluarga yang sakinah.  Semoga.

*)  Kritik, Opini dsb. harap posting ke [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Jul 2000 jam 04:36:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke