----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Presiden pada Apel Komandan Satuan TNI AD di Malang
Loyalitas TNI pada Pemerintah

Selasa, 25 Juli 2000
Malang, Kompas

Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan, arti profesional bagi Tentara
Nasional Indonesia (TNI) adalah ketundukan pada komandan. Dalam hal ini,
loyalitas TNI lalu menjadi tegas, yakni loyalitas kepada Kepala Negara RI,
yang dalam hal ini diwakili oleh pemerintah. Baik Angkatan Darat, Angkatan
Laut, maupun Angkatan Udara memiliki loyalitas kepada pemerintah.

Presiden mengemukakan hal itu dalam Apel Komandan Satuan TNI AD yang
dipusatkan di Markas Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara Karangploso,
Malang, Senin (24/7). Tidak kurang dari 46 jenderal TNI AD hadir dalam apel
tersebut. Apel kali ini terkesan istimewa, karena sebelumnya dalam kegiatan
apel komandan satuan di jajaran TNI AD hanya dilaksanakan pada kesatuan
masing-masing dan tidak melibatkan keseluruhan petinggi TNI, termasuk
panglima kodam, komandan korem, serta komandan batalyon.

Para jenderal yang hadir antara lain Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD)
Jenderal Tyasno Sudarto, Panglima Kostrad Letjen Agus Wirahadikusumah,
Komandan Kodiklat TNI AD Letjen Amir Sembiring, dan Asisten Operasi KSAD
Mayjen Syahrir. Seluruh panglima kodam, komandan batalyon, dan komandan
korem juga hadir. Turut juga hadir Panglima TNI Laksamana Widodo AS, mantan
Wakil Presiden Try Sutrisno, Panglima Armada Timur Laksda Adi Hariyono dan
Kepala Polda Jatim Inspektur Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar.

Pada kesempatan itu, Presiden mengatakan, "Itulah pokok kehidupan TNI. Ini
sangat penting sekali disampaikan agar terjadi timbal balik. Kita sebagai
bangsa memikirkan masa depan dan kebutuhan seperti peralatan, personel dan
kesejahteraan TNI dan Polri. Timbal baliknya, TNI dan Polri memberikan
perlindungan dan rasa aman kepada masyarakat. Dengan demikian, kata-kata
yang menyebutkan TNI berasal dari rakyat bukan semboyan belaka, melainkan
menjadi kenyataan."

Pilihan berat

Presiden mengungkapkan, berbagai krisis di Tanah Air, termasuk krisis
integritas teritorial dalam negeri, menghadapkan pemerintah pada pilihan
yang berat. Bangsa Indonesia menyadari TNI harus senantiasa mempertahankan
tegak berdirinya simbol-simbol negara. Namun, terhadap perkembangan di
Papua, Aceh, dan sejumlah wilayah yang menuntut kemerdekaan, pemerintah
menghadapi dua pilihan, apakah akan berunding di satu pihak atau memilih
menggunakan jalan kekerasan di pihak lain, dalam rangka menjaga keutuhan
negara Indonesia.

Pemerintah, lanjut Presiden, memutuskan untuk menjalani politik negosiasi,
perundingan. "Namanya perundingan, ya, memang bisa mulur atau mungkret.
Kadang-kadang pilihan ini memang bisa membuat pimpinan TNI dan Polri menjadi
geregetan. Tapi, inilah jalan yang bisa ditempuh. Sebab, jika tidak, jika
harus menggunakan jalan kekerasan, tenaga kita tidak mencukupi. Sekarang
saja tenaga kita sedang habis-habisan untuk mengurus Propinsi Aceh, Maluku,
dan Maluku Utara, serta Papua. Betapa beratnya pilihan-pilihan yang harus
diambil itu," kata Abdurrahman Wahid.

"Namun, setidaknya, negosiasi tetap mempunyai arti positif. Biar dulu
Bintang Kejora dikibarkan, sampai nanti selesai MPR. Jika Sidang Tahunan
yang akan dilaksanakan Agustus itu selesai, baru nanti diterapkan penurunan
Bintang Kejora," kata Presiden.

Menarik Ojek

Pada awal sambutannya, Presiden menegaskan bahwa TNI dan Polri tetap
dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Presiden mengakui masih rendahnya kualitas
personel, peralatan, dan kesejahteraan prajurit TNI. Tidak sedikit anggota
TNI dan Polri, yang jika lepas dinas, terpaksa mencari tambahan nafkah
dengan mengojek.

Menurut Presiden, harus dapat dipisahkan antara lembaga TNI dan Polri dari
orang per orang. "Jangan seperti orang kalap yang seakan-akan selalu hendak
menghukum TNI dan Polri. Pandangan demikian akan kian memperparah keadaan
yang sudah penuh dengan kemelut ini," katanya.

Itu sebabnya, problem masih rendahnya kualitas personel, peralatan, dan
kesejahteraan TNI itu akan sepenuhnya menjadi perhatian pemerintah.
Setidaknya, menurut Presiden, sudah harus tertera di anggaran tahun depan.
Kondisi serba kekurangan itu masih ditambah dengan anggapan melanggar hak
asasi manusia (HAM) yang ditimpakan pada Indonesia dan TNI oleh luar negeri.

"Karena kita dianggap melanggar HAM di masa lampau, lalu bantuannya
dihentikan. Gara-gara masa lampau yang tidak sehat, misalnya, telah muncul
akibat pembatalan kerja sama militer beberapa negara, yang membuat antara
lain pesawat terbang TNI terpaksa grounded. Hentikanlah citra yang
seolah-olah menyatakan kita tidak setuju dengan HAM," tegas Presiden.

Begitu juga dalam hal kesejahteraan. Kesejahteraan prajurit TNI dan Polri
ini, ya, beginilah, kata Presiden. Untuk sementara, angkatan-angkatan ini
yang memikirkan kesejahteraannya sendiri. Namun, lanjut Presiden, TNI dan
Polri tetap dituntut bersikap profesional.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jul 2000 jam 06:14:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke