----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Jum'at,  28 Juli  2000
Mahasiswa Menangis Minta Referendum
BANDA ACEH-Sekitar seribu lebih mahasiswa baru IAIN yang sedang melakukan
pekan ta'aruf, Kamis (27/7), di Lapangan Tugu Darussalam menggelar mimbar
bebas. Dalam acara tersebut mahasiswa minta pemerintah pusat supaya
secepatnya menggelar referendum untuk rakyat Aceh.
Aksi demo dan orasi yang diwarnai tangisan histeris peserta berlangsung
tertib. Mereka hanya sebatas menyampaikan orasi yang intinya menentang
kekerasan dan memaparkan tentang tragedi Aceh saat ini. "Sungguh banyak
sudah derita yang menimpa rakyat Aceh akibat penindasan Jakarta," teriak
Iskandar disambut dengan yel-yel peserta lainnya.
Sebagian peserta dari perempuan tidak sanggup menahan haru sehingga air mata
tidak dapat tertahankan. Mereka menangis sambil sekali- kali meneriakkan
yel-yel anti militer dan kekerasan. Di bawah guyuran hujan mahasiswa yang
mengikat kepalanya dengan kain putih bertulisan freedom for Atjeh terus saja
berorasi dan memaparkan tentang perlakukan-perlakukan Jakarta selama ini
untuk rakyat. "Rakyat Aceh tidak butuh tentara, yang dibutuhkan adalah
kedamaian," teriak salah seorang peserta lainnya.
Sedangkan salah seorang orator lainnya, Iskandar mengatakan, selama ini RI
telah banyak berlaku semena-mena terhadap rakyat. Kebaikan yang diberikan
oleh rakyat Aceh, dibalas dengan kekerasan dan pengiriman bala tentara untuk
menghabisi rakyat Aceh. Bagaimana penderitaan-penderitaan yang dialami
rakyat akibat dari ulah TNI/Polri di kampung-kampung. "Kami tidak ingin hal
itu terus berlangsung, dan segera hentikan hal itu," katanya.
Selain itu mereka juga mengupas tentang kinerja tim JoU yang belum begitu
efektif. Menurut mahasiswa mereka yang duduk di dalam komite JoU hanya
berpikir untuk kepentingan mereka sendiri bukan untuk kepentingan rakyat.
Bagaimana kekerasan demi kekerasan terus saja terjadi meskipun JoU itu sudah
dilaksanakan, kata Iskandar.
Diakhir orasinya Iskandar membacakan tiga poin pernyataan sikap yaitu; Tarik
segera TNI/Polri dari Aceh karena mereka telah jelas- jelas melanggar
kesepakatan JoU. Mendesak tim JoU untuk benar-benar bekerja demi
kemaslahatan rakyat, karena selama ini keberadaan tim JoU tidak efektif sama
sekali. Menuntut pemerintah pusat agar segera melaksanakan referendum buat
masyarakat Aceh.(y/n)

Pengungsi Matangkuli Takut Kembali ke Desa
MATANGKULI - Sebanyak 7.830 jiwa pengungsi di Kecamatan Matangkuli, Aceh
Utara sampai Kamis (27/7) belum bersedia pulang ke rumahnya dengan alasan
takut pada aparat keamanan yang melakukan operasi rutin di daerah itu.
Menurut panitia pengungsian, semula aparat keamanan di Desa Matang Peusangan
telah memindahkan poskonya dari desa itu Selasa (25/7) dan masyarakat juga
bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, kala beberapa ibu rumah tangga
mengepak barangnya, aparat keamanan kembali melakukan operasi ke daerah itu.
Karena merasa kurang aman, akhirnya mereka kembali bertahan di kamp
pengungsian. Mereka sangat mengharapkan Pemda memberikan suatu jaminan
keamanan terhadap warga beberapa desa di daerah itu, kata salah seorang
pengungsi Tgk Makjalil (59).
Para pengungsi yang berasal dari 16 desa itu menempati masjid Desa Blang
Meugib dan masjid Desa Alue Bungkoh sejak Rabu 12 Juli lalu. Panitia
pengungsi mengaku kewalahan, karena stok makanan dan obat- obatan semakin
menipis. Untuk pengungsi di Blang Meugib saja membutuhkan beras 650 kg
sehari, kata Adnan yang bekerja mengurus pengungsi.
Selain beras, untuk menutupi kebutuhan warga di dua kamp itu, panitia harus
mencari beberapa jenis bahan pokok lainnya seperti minyak goreng, ikan asin,
ikan basah 100 kg/hari, gula 50 kg, sayur 75 kg. Bahkan untuk menambah daya
tahan tubuh anak-anak usia balita dan SD, para panitia juga harus membeli
susu bayi dan kacang hijau, sementara dana sangat minim sekali.
Malah, sekitar 150 orang diantaranya, umumnya anak di bawah umur terserang
penyakit tersumbat saluran pernafasan bagian atas (Ispa) dan menceret
Sesuai data dikumpulkan Kamis kemarin, di kamp Blang Meugib dan Alue
Bungkoh, tercatat sudah 862 warga telah diberikan perawatan di posko
pengungsi. Paramedis mengaku prihatin melihat dengan kondisi kesehatan para
pengungsi.
Sementara pengungsi Desa Alue Bade, Kuta Makmur yang menempati gedung serba
guna Politeknik Bukit Rata Lhokseumawe sejak 11 bulan lalu, juga tak mau
pulang sebelum adanya sesuatu jaminan pemerintah. Bahkan, empat hari lalu
beberapa warga Desa Alue Bade yang berencana membersihkan rumah yang mereka
tinggal beberapa bulan lalu, mengaku dipukuli aparat ketika tiba di desa.
Atas perlakuan aparat keamanan terhadap mereka, lantas warga mengurungkan
niatnya untuk kembali ke rumah, ungkap Tgk Hasanuddin. Bahkan enam di antara
mereka telah mengadukan hal itu ke salah satu LSM di Lhokseumawe. (tim)

Bocah Tiga Tahun Disayat Kupingnya
LHOKSEUMAWE - Seorang bocah, Sutrisno Mardan (3), Kamis (27/7) pagi, sekitar
pukul 10.30 WIB, disayat kupingnya hingga nyaris putus oleh seorang pria
bersebu (topeng kain) saat bersama-sama ibunya berbelanja di Pasar Ikan
Lhokseumawe.
Korban yang putra Kanit Komlek Polres Aceh Utara, Sersan Mayor Mardan, saat
kejadian berdiri di samping ibunya yang sedang menawar harga kepiting.
Tiba-tiba ia menjerit, "Ma, kuping saya dipotong sama om-om."
Ibu korban, Zakiah (25), sempat melihat pelaku yang bertinggi badan sekitar
170 Cm dan menggunakan sebu serta sebilah parang di tangan melarikan diri
dengan mengendap-endap dari satu meja ke meja lapak penjualan ikan lainnya
hingga menghilang ke pinggir laut Pusong.
Korban yang warga sebuah desa di Kecamatan Muara Dua, langsung dilarikan
ibunya ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe dengan menggunakan beca. Sampai
berita ini dilaporkan, korban masih dalam perawatan intensif.
Kapolres Aceh Utara Superintendent Drs Syafei Aksal yang didampingi
Penghubung Penerangan, Senior Inspektur Drs AM Kamal, mengatakan, pihaknya
kini terus menyelidiki pelaku penganiayaan terhadap bocah tiga tahun
tersebut. "Kasus ini tidak bisa kita biarkan karena dapat berulang pada
bocah-bocah yang lain," janji Drs Syafei Aksal.
Pasca kejadian itu sejumlah petugas dikerahkan ke TKP untuk melakukan
penyelidikan identitas pelaku. Kapolres menyatakan, apapun risikonya pihak
kepolisian akan terus mengejar pelaku tindak penganiayaan bocah dimaksud.
(tim)

Perampokan Bersenjata di Riau
Warga Tuding TNI, Danrem Tuding GAM Suplai Senjata
PEKANBARU - Perampokan bersenjata api belakangan sering terjadi di Riau
sehingga membuat masyarakat setempat resah, karena pelaku perampokan selalu
memakai seragam TNI-AD. Masyarakat menuding oknum TNI-AD terlibat aksi
perampokan tersebut. Namun, Komandan Korem 031/Wirabima mengatakan, pelaku
perampokan bukan anggota TNI. Dia juga menduga senjata para perampok itu
disuplai Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Selama inikan, setiap terjadi perampokan bersenjata api dengan berpakaian
loreng, TNI selalu saja dikambinghitamkan. Padahal itu belum tentu benar.
Jadi masyarakat jangan langsung menuding TNI sebagai biang-keroknya," kata
Komandan Korem 031/Wirabima melalui juru bicaranya Kapenrem Kapten (inf)
Suhadi kepada Detikcom, Kamis (27/7), di ruang kerjanya.
"Kami akui, di Riau saat ini sering terjadi kasus perampokan bersenjata api
dan memakai seragam TNI. Tapi hal itu belum bisa dipastikan. Sebab, pakaian
TNI sendiri banyak yang mirip, misalnya saja GAM," tambah Suhadi.
Suhadi juga menambahkan, beberapa kasus perampokan yang berhasil terungkap
dan ditemukan bahwa para pelaku perampokan menggunakan senjata api jenis AK
1 yang mirip dengan milik TNI. "Kita menduga senjata itu dipasok dari
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau Gerakan Pengacau Keamanan (GPK)," ujar dia.
Lebih lanjut ia menerangkan, untuk wilayah Korem 031 Wirabima, seluruh jenis
senjata organik selama ini disimpan dalam gudang. Dan tidak ada senjata yang
bebas untuk dibawa. Kalaupun ada yang membawa senjata, kata Suhadi, itu
hanya boleh dibawa oleh petugas piket dan calon satria.
"Jadi untuk dapat membawa senjata api itu tidak mudah. Kalaupun ada anggota
kita yang membawa sejata api secara resmi, toh masih diawasi secara ketat,"
paparnya.
Ia juga menjelaskan, bahwa jajaran TNI saat ini sedang melakukan penyidikan
serta pengawasan dalam hal masuknya senjati api. Selain itu, TNI juga sedang
mengawasi kemungkinan adanya anggota GAM yang menyusup ke Riau, ujar Suhadi.
***
Lagi, Persoalan Aceh ke Forum Internasional
BANDA ACEH - Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh kembali diboyong ke
sidang Sub Komisi HAM PBB di Jenewa, 31 Juli 2000. Kali ini pegiat HAM yang
akan terbang ke Swiss dan memaparkan tentang pelanggaran HAM di Aceh adalah
Afridal Darmi dari LBH Banda Aceh.
Dalam siaran pers yang diterima Serambi kemarin, pihak LBH Banda Aceh
mengatakan, kesempatan kali ini merupakan usaha yang kesekian kalinya yang
dilakukan pemerhati HAM.
Sebelumnya, untuk tujuan serupa ke Sub Komisi HAM PBB di Jenewa, pihak LSM
Flower Aceh mengutus Soraya Kamaruzzaman, dari FP HAM mengirim Humam Hamid,
Koalisi NGO HAM menunjuk Wiradmadinata.
Tugas yang dibebankan kepada utusan yang berangkat kali ini adalah
mempresentasikan secara lisan di hadapan para pakar Sub Komisi HAM PBB
tentang kondisi penegakan HAM di Aceh.
Afridal Darmi yang dihubungi Serambi, Rabu malam (26/7) mengakui pihaknya
diutus ke Jenewa. Dalam sidang nantinya utusan LBH Banda Aceh mengupayakan
juga bertemu dengan para staf pelapor khusus (special rapportauer) PBB. Pada
kesempatan itu akan dibicarakan isu-isu khusus tentang pelanggaran HAM di
Aceh seperti penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, penghilangan orang
secara paksa, pembunuhan kilat di luar hukum, kekerasan terhadap perempuan,
dan pengungsian internal. "Sangat terbuka kesempatan untuk melaporkan tetang
pelanggaran HAM secara detail," kata Afridal.
Selain itu pihaknya juga akan berupaya bertemu dengan pihak Handry Dunant
Centre (HDC) untuk menyampaikan hasil evalusai kalangan pekerja HAM Aceh
terhadap kinerja Bersama Modalitas Keamanan (KBMK) dan Komite Bersama Aksi
Kemanusiaan (KBAK), kata Afridal. (y)

Sebelum JoU Berakhir
Deuk Pakat Jeda Perlu Digelar
LHOKSEUMAWE - Sebelum berakhirnya JoU yang disepekati Pemerintah RI dengan
GAM di Swiss 12 Mai lalu, dinilai sangat perlu digelar "Duek Pakat Jeda
Kemanusiaan Rakyat Aceh," di Lhokseumawe, Aceh Utara.
Rektor Universitas Malikussaleh (Unima) Lhokseumawe Drs A Hadi Arifin
menggagas hal itu dalam suatu rapat khusus tim Koordinasi Pelaksanaan Jeda
Kamanusiaan Aceh Utara, Kamis (27/7) kemarin.
Pendapat itu menanggapi saran Kakandepag setempat Drs H Agani Isa,
menyarankan agar tim Koordinasi Jeda Kamanusiaan bertemu dengan Komandan
Korem 011/ Lilawangsa, sehubungan dengan masih banyaknya ketimpangan serta
pelanggaran jeda kemanusiaan selama ini.
Menurut Hadi Arifin, acara duek pakat itu tidak hanya skop Aceh Utara saja,
tapi meliputi seluruh propinsi. Panitia perlu juga mengundang beberapa
pembawa makalah dan pembanding, termasuk Meneg HAM Hasballah Saad, tim jeda
yang mewakili RI dan GAM, Komandan Korem dan Kapolres dari berbagai
kabupaten.
Selain itu, diundang juga ulama, tokoh masyarakat, LSM, mahasiswa, thaliban
dan mewakili GAM di berbagai kecamatan di Aceh Utara. Dengan diundangnya
mereka itu, kata A Hadi Arifin, semua masalah yang terjadi selama ini
terutama di pedesaan dapat terekam secara murni oleh peserta dan peninjau.
Lahirnya gagasan untuk digelarnya acara itu di Lhokseumawe berkaitan dengan
banyak terjadi pelanggaran hukum dan pelanggaran jeda kemanusiaan di Aceh
Utara, Timur, Aceh Selatan. "Kita tidak pandang siapa pelakunya, tapi kenapa
itu bisa terjadi," ujarnya.
Seperti diungkapkan oleh Sekjen Majelis Aceh Pase, ZF Ilmar, arus
pengungsian di Aceh Utara, Timur dan daerah lain lebih dahsyat dari sebelum
adanya JoU. Hal itu terjadi tidak terlepas dari meningkatnya kegiatan
penyisiran dan operasi aparat keamanan dan penempatan posko keamanan di
daerah pemukiman penduduk yang sedang trauma dengan konflik bersenjata. (ib)

Lagi, Persoalan Aceh ke Forum Internasional
BANDA ACEH- Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh kembali diboyong ke
sidang Sub Komisi HAM PBB di Jenewa, 31 Juli 2000. Kali ini pegiat HAM yang
akan terbang ke Swiss dan memaparkan tentang pelanggaran HAM di Aceh adalah
Afridal Darmi dari LBH Banda Aceh.
Dalam siaran pers yang diterima Serambi kemarin, pihak LBH Banda Aceh
mengatakan, kesempatan kali ini merupakan usaha yang kesekian kalinya yang
dilakukan pemerhati HAM.
Sebelumnya, untuk tujuan serupa ke Sub Komisi HAM PBB di Jenewa, pihak LSM
Flower Aceh mengutus Soraya Kamaruzzaman, dari FP HAM mengirim Humam Hamid,
Koalisi NGO HAM menunjuk Wiradmadinata.
Tugas yang dibebankan kepada utusan yang berangkat kali ini adalah
mempresentasikan secara lisan di hadapan para pakar Sub Komisi HAM PBB
tentang kondisi penegakan HAM di Aceh.
Afridal Darmi yang dihubungi Serambi, Rabu malam (26/7) mengakui pihaknya
diutus ke Jenewa. Dalam sidang nantinya utusan LBH Banda Aceh mengupayakan
juga bertemu dengan para staf pelapor khusus (special rapportauer) PBB. Pada
kesempatan itu akan dibicarakan isu-isu khusus tentang pelanggaran HAM di
Aceh seperti penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, penghilangan orang
secara paksa, pembunuhan kilat di luar hukum, kekerasan terhadap perempuan,
dan pengungsian internal. "Sangat terbuka kesempatan untuk melaporkan tetang
pelanggaran HAM secara detail," kata Afridal.
Selain itu pihaknya juga akan berupaya bertemu dengan pihak Handry Dunant
Centre (HDC) untuk menyampaikan hasil evalusai kalangan pekerja HAM Aceh
terhadap kinerja Bersama Modalitas Keamanan (KBMK) dan Komite Bersama Aksi
Kemanusiaan (KBAK), kata Afridal.(y)
Mayat tak Beidentitas Aceh Barat
Ternyata Agussalim dan Dedi Marsudi
MEULABOH - Dua mayat tanpa identitas yang dikebumikan oleh Pemda Aceh Barat
di Desa Ranto Panyang, Kaway XVI Kamis (13/7) lalu, ternyata bernama
Agussalim (25) penduduk Desa Alue Joek, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan
(mayat A). Sedangkan (mayat B) bernama Dedi Marsudi bin Amir (24) penduduk
Tangse, Kabupaten Pidie.
Menurut Cutty Aloh -- istri almarhum Dedi Marsudi -- kepada Serambi Kamis
(27/7) mengatakan, suaminya dijemput dari rumah Senin (10/7) pukul 12.00 WIB
oleh kelompok bersenjata laras panjang menggunakan kendaraan kijang warna
abu-abu. Saat diambil korban sedang duduk bersama dua temannya di depan
rumah yaitu MH dan AH. "Saya melihat sendiri bang Dedi dinaikkan ke mobil
kijang," kata Cutty Aloh.
Cutty Aloh yang didampingi ibu mertuanya Nurjani Ali menyebutkan, dipastikan
bahwa salah satu mayat yang ditemukan di Darul Makmur Aceh Barat -- Selasa
(11/7) lalu -- bahwa suaminya, karena membaca ciri-ciri jenazah yang pernah
disiarkan harian Serambi. Mempelajari ciri-ciri tersebut, maka (mayat B)
yang menggunakan celana trening warna merah benar suaminya bernama Dedi
Marsudi.
Menurut Nurjani Ali (ibu almarhum Dedi) putranya itu berkeluarga ke Trumon
Aceh Selatan dengan Cutty Aloh beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang sudah
ada seorang putri bernama Rica Sumirta berusia 1,8 tahun. "Kami memang
keluarga miskin, maka si-Dedi menetap di kampung istrinya sambil berusaha
mencari nafkah. Tiba-tiba sudah dibunuh, apa salahnya anak saya ini," tanya
Nurjani Ali.
Pengakuan Nurjani, dia datang ke Meulaboh hanya untuk mengetahui dimana
anaknya dikebumikan dan tidak ada rencana untuk membongkarnya. "Kami atas
nama keluarga Dedi Marsudi mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak yang
telah bersusah payah mengebumikan anak kami secara islami," tutur ibu korban
sambil menangis.
Sebelumnya pernah disiarkan, dua mayat tampa identitas yang ditemukan oleh
masyarakat Darul Makmur Selasa (11/7), sudah dikebumikan oleh Pemda Aceh
Barat Kamis (13/7) di Desa Ranto Panyang Kecamatan Kaway XVI, setelah dua
malam disimpan di RSU Cut Nyak Dien Meulaboh.(as)
Pembuat Senjata Rakitan Diciduk
TAKENGON- Lsm (30) warga Sp Balek Kecamatan Bukit yang disangka pembuat
senjata rakitan diamankan pihak kepolisian menyusul tertangkapnya Sbr (44),
penduduk Timang Gajah, selaku pengorder, Kamis lalu.
Kepada penyidik Serse Polres Aceh Tengah, Kamis (27/7) Lsm mengaku ia hanya
menerima order untuk mengelas pipa. "Saya hanya diupah, untuk mengelas
pipa," kata pekerja bengkel las. Senjata yang diakui digunakan, katanya
digunakan untuk memburu hama babi dan pembelaan diri.
Sementara Sbr (44) menyerah setelah warga trans Jagong bersama aparat
keamanan mengepung tersangka ketika menenteng senjata jenis pelontar bom
GLM.
Menurut Kapolres Superintendent Misik Natari didampingi Kasat Sersenya
Inspektur Satu Zaini, dalam pengepungan itu tidak ada insiden. Dari
tersangka Sbr disita masing-masing satu pucuk senjata rakitan berbentuk GLM,
jenis M-16 dan ketapel, serta 14 butir anak senjata yang terbuat dari
jari-jari sepeda motor.
Senjata rakitan yang mirip senpi GLM dan M-16 itu menggunakan angin sebagai
daya pelontarnya dengan panah besi dari jari sepeda motor dan besi runcing
20 cm. Sedangkan popor menggunakan pipa sepanjang 1 meter yang dilas
berbentuk tabung angin yang kemudian dihubungkan ke pelatuk pipa penyemprot
air. Untuk pelotar dipasang pentil angin yang dapat dipompa.
Menurut kasat serse Zaini, kekuatan lontar efektif senjata itu mencapai 20
meter, dan dapat mematikan walau pelurunya dari jari-jari sepeda motor.
Sampai kemarin kedua tersangka, Sbr dan Lsm masih disidik di Mapolres untuk
mengetahui motif pembuatan senjata tersebut. "Kita masih usut untuk
memastikan apa motifnya juga beroperasinya tersangka di Jagong," kata
Kapolres Misik Natari.(puh)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Jul 2000 jam 09:27:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke