----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Gus Dur Pastikan Rombak Kabinet
* Minta Maaf kepada Rakyat

Selasa, 8 Agustus 2000
Jakarta (Bali Post) -

Presiden Abdurrahman Wahid memastikan, seusai Sidang Tahunan MPR ini akan
terjadi perombakan kabinet. Tentang siapa-siapa yang akan diganti atau
digeser, masih menunggu waktu. Kepastian tersebut ia kemukakan saat
menyampaikan pengantar lisan dalam pidato presiden di depan Sidang Tahunan
MPR, Senin (7/8) kemarin.

Sejalan dengan perombakan tersebut, kata Gus Dur, harus diimbangi dengan
pembagian kerja di kabinet. Tugas presiden akan lebih banyak menekankan diri
pada aspek-aspek kecil dari politik luar negeri dengan dibantu menteri luar
negeri. Tugas-tugas lain menyangkut penggarapan aspek-aspek domestik-teknis
akan ditangani anggota kabinet. ''Inilah yang menjadi keinginan saya pada
saat ini. Pada waktunya, kita akan mengadakan perombakan kabinet,'' ujar Gus
Dur. Meski memastikan, Gus Dur tidak menyebut batasan waktu serta
orang-orang yang akan diganti. Mengenai waktu pelaksanaan perom bakan
kabinet, secara diplomatis Gus Dur mengatakan, ''Kita lihat saja nanti.''

Terus terang, lanjutnya, sampai hari ini belum terpikir menteri-menteri
siapa saja yang bakal dicopot. Gus Dur juga belum memikirkan tata cara
perombakan. ''MPR-nya saja belum selesai sidang,'' selorohnya.

Dalam pidato progress report presiden yang dibacakan Sekretaris Kabinet
Marsilam Simanjuntak, Gus Dur mengatakan, keberadaan Marsilam sebagai wakil
dirinya bukan wakil pemerintah. Dalam sidang kemarin, tidak ada wakil
pemerintah, sebab presidennya menghadiri persidangan.

''Kalau ada wakil pemerintah berarti presidennya tidak datang,'' jelas Gus
Dur. Tindakan ini mendapat interupsi dari anggota Fraksi Reformasi MPR
Patrialis Akbar. Sesuai perundang-undangan, kata Patrialis, bila presiden
berhalangan atau memiliki kendala hingga tidak dapat membacakan pidato,
tugas tersebut mesti dilimpahkan kepada wakil presiden.

Interupsi ini ditolak pimpinan sidang Amien Rais. Selanjutnya, Amien
mempersilakan Marsilam membacakan pidato presiden.

Sikap, Tindakan dan Harapan
Secara keseluruhan, progress report mencakup sikap, tindakan dan harapan
pemerintah terhadap penyelesaian persoalan kebangsaan. Selain itu, Gus Dur
juga mendeskripsikan kondisi penuntasan agenda reformasi antarbidang.
Bidang-bidang yang mendapat sorotan di antaranya politik dan hankam, moneter
dan kondisi utang negara, makro ekonomi, pemberantasan KKN dan supremasi
hukum, persoalan Aceh, Irian Jaya, dan Maluku, serta beberapa persoalan
teknis menyangkut otonomi daerah dan pemberdayaan daerah.

Reformasi politik bermuara pada penciptaan demokrasi. Dalam hal ini sulit
mencapai pertemuan pandang antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah menilai
sebagian rakyat tidak sabar menunggu proses pelembagaan demokrasi. Padahal,
pemerintah berkeinginan menata ulang kembali setelah porak-poranda akibat
ulah rezim lampau. Akibat ketidaksabaran itu, terjadilah penyimpangan
substansial. Maka, menurut Gus Dur, makna demokrasi diperdangkal menjadi
demonstrasi, supremasi hukum disimpangkan menjadi pengadilan rakyat, serta
otonomi daerah didistorsi melalui tuntutan untuk menguasai sumber-sumber
pendapatan negara di daerah.

Untuk persoalan hukum, pidato Gus Dur tidak mencantumkan contoh kasus.
Bahkan, kasus dugaan KKN mantan Presiden Soeharto juga tidak diselipkan. Gus
Dur hanya menegaskan, penyelesaian perkara hukum tidak identik dengan
kesewenang-wenangan dan kebencian orang per orang.

Mengenai permasalahan Aceh, Gus Dur memastikan pemberlakuan otonomi khusus
di tahun 2000. Tindakan serupa juga berlaku bagi Irian Jaya. Pemberian
otonomi khusus bertujuan agar kedua daerah tersebut segera dapat
meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Di bidang keuangan, pemerintah mengaku masih memiliki utang yang melewati
ambang batas aman. Utang-utang itu berasal dari utang dalam negeri akibat
pelaksanaan program restrukturisasi perbankan.

Bantuan pemerintah terhadap korban bencana alam -- seperti gempa Bengkulu --
juga mendapat perhatian. Gus Dur mengakui kemampuan pemerintah lebih rendah
dari harapan masyarakat yang tertimpa musibah.

Mengakhiri pidatonya, Gus Dur menunjukkan ketulusan menerima kritik terhadap
kinerjanya. Kritik dari MPR, katanya, sangat diperlukan untuk meningkatkan
efektivitas kinerja pemerintah. Selain itu, Gus Dur juga meminta maaf kepada
rakyat karena belum sepenuhnya mampu menyelesaikan persoalan. ''Saya memohon
maaf jika dalam waktu sepuluh bulan ini pemerintah belum sepenuhnya dapat
menyelesaikan seluruh persoalan,'' ucap Gus Dur seperti disampaikan
Marsilam.

Tanpa Libatkan Parpol
Sementara itu, Ketua DPR Akbar Tandjung setuju dengan rencana Gus Dur
merombak kabinet. Sebab, tindakan tersebut dapat meningkatkan kinerja
pemerintah.

Ditemui di sela-sela Sidang Tahunan MPR, Senin kemarin, Akbar memandang
keinginan presiden melakukan reshuffle karena presiden memandang kinerja
kabinet sekarang belum efektif sesuai dengan keinginan presiden. Yang jelas,
apa pun yang diputuskan presiden menyangkut kabinet, diserahkan sepenuhnya
kepada presiden, karena itu menyangkut hak prerogatifnya. Termasuk bila
kader Partai Golkar tak direkrut dalam kabinet mendatang.

Budi Priyo Santoso juga menyatakan hal senada. Menurutnya, sebaiknya
Presiden Gus Dur dalam melakukan reshuffle mementingkan aspek
profesionalisme dibandingkan dengan asal-muasal partai calon anggota kabinet
tersebut. Dengan demikian, kabinet mendatang murni berasal dari unsur
profesionalisme sehingga presiden mudah melakukan koordinasi. Ketua DPP
Partai Golkar Slamet Effendy Yusuf yang juga anggota DPR menyerahkan
sepenuhnya urusan reshuffle kabinet ini kepada presiden. Ia pun setuju agar
penyusunan kabinet tidak lagi melibatkan parpol-parpol seperti ketika Gus
Dur pertama kali membentuk Kabinet Persatuan Nasional. Dengan demikian,
secara keseluruhan Presiden Gus Dur kelak bisa mempertanggungjawabkan
kinerjanya secara utuh tanpa harus ada budaya kompromi dengan parpol-parpol
asal calon menteri bersangkutan.

Persetujuan perombakan kabinet juga muncul dari Fraksi PDI Perjuangan.
Anggota Fraksi PDI-P MPR yang juga pengamat pasar uang Theo F. Toemeon
menyarankan agar presiden membongkar tim ekonomi. Khususnya, kata Theo,
orang-orang yang terlibat di wilayah BUMN, BPPN, BI dan sektor keuangan.

Presiden harus memilih orang-orang yang memiliki komitmen dan profesional.
Pasalnya, keberadaan mereka merupakan mata kunci pendongkrakan denyut
perekonomian. Merekalah, tegas Theo, yang paling bertanggung jawab mengejar
setoran untuk APBN. ''Tanpa orang profesional, setoran itu tak akan kena,''
ujarnya. Kendati demikian, ia tidak menyebut siapa orang-orang profesional
itu.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Aug 2000 jam 09:30:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke