----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Berdasarkan Senjata yang Disita TNI-AL
Pihak Asing Terlibat Konflik di Maluku

Surabaya, Buana

Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Laksda TNI Adi Haryono
menyatakan, berdasarkan senjata organik yang disita TNI-AL, tidak menutup
kemungkinan pihak asing atau negara tetangga terlibat dalam konflik di
Maluku. "Dari operasi penyekatan yang diberlakukan selama Darurat Sipil
hingga 31 Juli lalu, kami menyita 4.000-an senjata rakitan dan organik serta
15.000-an amunisi. Untuk senjata organik masih diselidiki, tapi tak menutup
kemungkinan melibatkan luar negeri atau negara tetangga kita," kata Adi
Haryono, di Surabaya, Kamis (17/8).

Di sela-sela Peringatan ke-55 Detik-detik Proklamasi KemerdekaanRI di gedung
negara Grahadi Surabaya, ia menjelaskan bahwa sebagian dari senjata organik
itu diketahui berasal dari penjarahan saat terjadi konflik bersenjata di
Tantui antara warga dan aparat keamanan.

Dalam operasi itu, menurut Adi, personel yang terbukti melakukan pelanggaran
di Maluku terdiri atas masyarakat sipil dan oknum militer, karena mereka
membawa senjata tajam. Namun ia tak hafal pelaku pelanggaran, baik dari
masyarakat sipil maupun oknum militer.

Namun, jika ada oknum TNI AL yang melakukan pelanggaran maka dirinya selaku
Pangarmatim tak akan ragu-ragu menindak secara tegas. Misalnya jika ada
oknum TNI AL yang terkesan "memihak" dalam konflik di Maluku maka akan
"ditenggelamkan."

"Yang jelas, operasi penyekatan akan tetap kita upayakan terus, khususnya di
Maluku yang masih belum kondusif. Sedangkan di Maluku Utara atau di Ternate
sudah mulai kondusif. Jadi, operasi itu tak akan berhenti sampai kondisi di
Maluku betul-betul kondusif seperti di Maluku Utara. Namun sweeping senjata
tajam sudah tak setegang dulu lagi," katanya.

Berdasarkan data yang diperoleh Antara di Armatim, kapal patroli TNI AL dari
Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) berhasil menangkap dan memeriksa
726 kapal karena diduga membawa amunisi dan senjata. Dari 726 kapal itu, 23
kapal diantaranya disita karena terbukti membawa senjata dan amunisi,
sedangkan yang diperiksa 3.429 orang, namun kemudian dilepas.

Kapal yang paling banyak ditangkap berada di Maluku, yakni 676 buah terdiri
atas kapal motor, dan speed boat, sedangkan di Maluku Utara 50 buah terdiri
atas kapal motor dan tug boat. Senjata yang berhasil disita di Maluku
terdiri atas 10 pucuk senjata standar, 108 rakitan, 13.075 amunisi, 32 bahan
peledak dan 2.081 senjata tajam. Sedangkan di Maluku Utara berhasil disita
satu pucuk senjata standar , 77 senjata rakitan, 1.655 butir amunisi, 247
bahan peledak dan 2.440 senjata tajam.

Dalam penangkapan dan pemeriksaan itu, kapal-kapal TNI AL yang disiagakan di
Maluku dan Maluku Utara sebanyak 12 buah, antara lain terdiri atas KRI
Sorong-911, KRI Multatuli-561, KRI Teluk Sabang-510 dan KRI Tongkol-811.

Demo di Canbera
Sementara itu, KBRI Canbera menyesalkan adanya unjuk rasa masalah Ambon di
depan Gedung KBRI dan Parlemen Australia pada saat upacara peringatan HUT
Kemerdekaan ke-55 RI. KBRI Canbera dalam pernyataannya, Kamis (17/8),
menilai, kegiatan yang disebut sebagai "Peace Vigil for Ambon" tersebut
sudah tidak murni kegiatan rohani, melainkan politis.

Dikatakan, KBRI mendukung setiap insiatif acara kegiatan rohani bersama
masyarakat Indonesia, terlebih apabila ditujukan untuk mendoakan
keselamatan, kedamaian, dan keutuhan bangsa Indonesia. Asalkan hal itu
dilandasai oleh itikad baik sebagaimana yang pernah dilakukan untuk warga
Irian Jaya yang ditimpa bencana kemanusiaan.

Koordinator pengunjuk rasa Rooy Pattiapon menyatakan, aksi mereka untuk
mengimbau diakhirinya kekerasan di Maluku serta mendesak kehadiran
internasional dalam penyelesaian masalah Ambon. Mereka juga meminta
Pemerintah RI memberikan bantuan kemanusiaan dan keamanan untuk seluruh
korban, terutama anak-anak dan wanita.

Aksi yang melibatkan sekitar 30 warga Ambon, termasuk beberapa wakil gereja
setempat, diisi dengan membaca pernyataan dan menggelar pamflet. Sementara
di parlemen mereka diterima oleh Vicky Bourne dari Partai Demokrat.

Unjuk rasa tersebut tidak mempengaruhi kekhidmatan peserta upacara HUT
Kemerdekaan di KBRI Canbera yang bahkan banyak diikuti warga negara
Australia, termasuk dari kalangan militer Negara Kanguru itu.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Aug 2000 jam 11:37:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke