---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Harry Tjan yakin HMS tak terlibat G.30.S satunet.com - Pentolan CSIS, Harry Tjan Silalahi yakin Soeharto tak terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Berbicara usai diskusi 'Soeharto dan G.30.S', Kamis ini, Harry menyatakan, saat itu masyarakat memang sangat merasakan, PKI akan berbuat sesuatu untuk merebut kekuasaan. "Istilahnya saat itu, Ibu Pertiwi sedang hamil tua dan akan terjadi perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, kita dari kelompok non-komunis dan agama menantikan kapan hal itu terjadi," jelasnya. Saat itu Soeharto tak punya posisi yang cukup berarti turut serta dalam suatu gerakan. Alasannya, Kostrad waktu itu belum sehebat seperti Kostrad pasca HMS jadi presiden. Kostrad waktu itu benar-benar cuma jadi cadangan sebagai kelanjutan dari satuan cadangan utama AD. Baru setelah Soeharto jadi presiden Kostrad diperbesar dan memegang peran penting. Ditanya bahwa Kol Latief pernah memberi tahu Soeharto tentang rencana penculikan sejumlah jenderal, Harry mempertanyakan sejauh mana kebenaran dan apa pentingnya Latief memberi tahu. Dia menyangkal hal itu bisa menjadi petunjuk Soeharto terlibat dalam gerakan itu. Atas ketidakkompakan Soeharto dan AH Nasution -- jenderal besar yang wafat Rabu kemarin -- saat itu bukanlah suatu ketegangan melainkan semacam rasa 'ewuh pakewuh' di antara kedua tokoh itu. Sebab, dalam penanganan penumpasan gerakan ada beberapa hal yang keduanya saling tidak setuju. Harry tidak menjelaskan bagaimana suatu rasa 'ewuh pakewuh' kemudian berujung pada penyingkiran Nasution dari pentas nasional oleh Soeharto, suatu hal yang bahkan diungkap janda Nasution, Yohana Sunarti, sebagai sikap yang pada suatu saat pernah diwujudkan pada "pemutusan aliran air bersih" ke kediaman Nasution di Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat. Harry menyarankan agar pemerintah membuka wacana seluasnya tentang G.30.S dan para peneliti harus bisa mengumpulkan berbagai bahan yang terserak dan menyusunnya secara obyektif. Lembaga d mana Harry berkiprah sejak lama (CSIS) pernah dianggap sebagai lembaga think tank pemerintahan Soeharto yang tumbang dua tahun lalu. Meski demikian peran sebagai 'tanki pemikir' itu belakangan menyurut dan kehilangan pamornya saat Soeharto memutuskan untuk menggunakan cantolan politik lain yang lebih strategis sifatnya.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Sep 2000 jam 04:49:17 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
