----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Polri Harus Ungkap Pengebom

Jakarta, Kompas

Aparat Kepolisian RI (Polri) harus bekerja keras untuk mendapatkan
bukti-bukti guna mengungkap kasus peledakan bom yang marak terjadi. Perintah
Presiden Abdurrahman Wahid kepada Polri untuk memeriksa Hutomo Mandala Putra
(Tommy Soeharto) terkait dengan peledakan bom di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
lebih merupakan insting politik seorang Presiden sekaligus menunjukkan sikap
tegas Presiden atas kasus peradilan mantan Presiden Soeharto.

Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun Kompas dari pengamat politik
Kusnanto Anggoro, J Kristiadi, dan Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Bantuan
Hukum dan HAM Indonesia Hendardi dan pakar politik Arbi Sanit di Jakarta,
Sabtu dan Minggu (17/9). Hendardi melihat, penyebutan nama oleh Presiden
tentunya dengan asumsi Presiden sudah memiliki bukti dan indikasi. Bukti dan
indikasi itulah yang harus ditindaklanjuti Polri.

Sedang Kusnanto melihat, perintah Presiden Wahid kepada kepolisian untuk
menangkap Tommy lebih didasarkan pada insting politik, sehingga wajar bila
belum disertai bukti-bukti awal. Hal itu merupakan tugas kepolisian dan
kejaksaan untuk mendukung Abdurrahman Wahid dengan mencari bukti ke arah
itu.

'Saya kira, supaya tidak memperkeruh suasana, perlu indikasi yang jelas
untuk menangkap orang. Polisi harus mati-matian mencari data pendukung lain
untuk pembuktian,' tambah Kristiadi seraya mengatakan, jika tidak didasari
oleh bukti dan indikasi yang kuat, pernyataan Presiden Wahid dapat membuat
kredibilitasnya menjadi lemah.

Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah
mengingatkan Presiden Wahid

agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, apalagi ungkapan itu
mengandung tuduhan terhadap seseorang, terutama tokoh agama, sebagaimana
halnya terhadap Habib Ali Baaqil. Hal itu diungkapkan Ketua MUI Prof Dr Umar
Shihab dan Wakil Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menjawab pertanyaan
pers di Jakarta, Sabtu.

Umar Shihab mengatakan, pernyataan Presiden Wahid tentang keterlibatan
seorang ulama/habib dalam peristiwa aksi pengeboman Gedung BEJ bisa dianggap
fitnah jika tidak ditunjang bukti yang konkret. 'Tapi, saya kira beliau
punya motivasi memberikan peringatan yang tujuannya mendidik serta tidak
bermaksud menjuruskan,' kata Umar Shihab seperti dikutip Antara .

Mantan Ketua Umum PB HMI Anas Urbaningrum mengatakan, perintah Presiden
Wahid untuk memeriksa Tommy menyalahi prosedur hukum. Menurut Anas,
seharusnya pernyataan itu tidak diungkapkan Abdurrahman Wahid.

Gerakan Pemuda Ansor dalam siaran persnya yang ditandatangani M Syukur
Sabang (Sekjen PP GP Ansor) mengimbau semua pihak untuk menghormati proses
peradilan yang sedang berlangsung terhadap mantan Presiden Soeharto. Adanya
perbedaan pandangan atas jalannya proses peradilan adalah hal yang wajar dan
tidak diarahkan kepada pertentangan yang tiada akhir, apalagi mengarah
kepada kekerasan fisik.

Sikap tegas

Kusnanto berpendapat, secara moral Abdurrahman Wahid harus bersikap tegas
terhadap mereka yang harus bertanggung jawab atas kesalahan masa lalu, baik
dalam kasus kejahatan terhadap kemanusiaan maupun dalam kasus korupsi kelas
kakap. Penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan politik dan ekonomi pada
masa lalu merupakan aspirasi rakyat sehingga dengan risiko apa pun
pemerintah harus melaksanakannya.

Menurut dia, probabilitas bahwa berbagai kasus kerusuhan termasuk peristiwa
pengeboman di beberapa tempat dalam beberap waktu terakhir didalangi oleh
mereka yang ada kaitannya dengan kesalahan masa lalu sangat besar. Selain
itu, tidak kalah besarnya, probabilitas kasus itu juga didalangi oleh mereka
yang menunggangi isu tersebut untuk mencegah kredibilitas Abdurrahman Wahid
meningkat karena berhasil menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Oleh karena
itu, kata Kusnanto, mestinya kasus-kasus yang melibatkan pelaku-pelaku
korupsi dan kejahatan masa lalu segera diselesaikan.

Minta bantuan

Praktisi hukum Abdul Hakim Garuda Nusantara dan Arbi Sanit mengatakan, kasus
peledakan bom harus menjadi prioritas Polri. Untuk itu, Polri dapat bekerja
sama, misalnya dengan tenaga ahli dari negara lain yang mempunyai pengalaman
dalam menginvestigasi kasus pele-dakan bom. 'Saya rasa bantuan dari negara
lain merupakan hal yang lumrah dalam hal kerja sama bantuan hukum atau
mutual legal assistance agreement ,' katanya.

Arbi menyarankan, pemerintah sebaiknya mengesampingkan harga diri bangsa
untuk mengatasi aksi terorisme. Pemerintah sebaiknya mengundang pakar
terorisme dan intelijen asing, seperti FBI, CIA, atau siapa pun untuk
mengungkapkan berbagai kasus peledakan bom yang mencemaskan. 'Yang penting,
selamatkan bangsa ini dan bukan menyelamatkan harga diri,' tuturnya.

Pada sisi lain, Abdul Hakim mengingatkan, pejabat pemerintah dan aparat
sebaiknya menahan diri untuk mengeluarkan pernyataan yang menuding atau
mencari kambing hitam pada kelompok lain. 'Selain tidak sehat, pernyataan
semacam itu dapat menimbulkan ketidakpercayaan dan keresahan,' tuturnya.

Din Syamsuddin mengatakan, tidak selayaknya Presiden Wahid menyebut nama
orang yang terkait dalam kasus pidana di depan publik secara terbuka.
'Sebaiknya hal itu tidak dipublikasikan di dalam masjid, tapi cepat
bertindak,' kata Din.

Harapan kuat

Kepala Polri Jenderal (Pol) Rusdihardjo saat mendampingi Wakil Presiden
Megawati Soekarnoputri di Port Moresby, Papua Niugini, menyatakan, perintah
Presiden (untuk menangkap Tommy) tersebut harus diartikan sebagai strong
wish (harapan kuat) dari Presiden untuk segera menyelesaikan masalah-masalah
pengeboman. 'Bahwa perintah itu ditujukan kepada Tommy, berarti polisi dan
aparat keamanan harus memfokuskan perhatian melalui penyelidikan dan kalau
perlu penindakan,' ungkap Rusdihardjo.

Akan tetapi, meski fokus penyelidikan diarahkan ke Tommy, jelas Kepala
Polri, bukan berarti penyelidikan hanya terarah ke sana. Yang lain juga
harus lebih diintensifkan.

Rusdihardjo juga mengatakan, pihaknya tidak bisa memberi kepastian
waktu-kapan pelaku pengeboman di wilayah Jakarta ini bisa ditangkap-karena
memang masalahnya cu-kup berat dan sensitif. Yang jelas, Polri tidak akan
ragu-ragu menangkap siapa pun yang diduga terlibat dalam kasus pengeboman
ini.

Petaka

Pengamat politik Frans Seda mengemukakan, Indonesia di ambang petaka besar
bila sampai akhir tahun ini pemerintahan Abdurrahman Wahid tidak berhasil
mengatasi persoalan yang mendera bangsa ini, termasuk gerakan terorisme
dengan peledakan bom. Pasalnya, menurut dia, daya tahan rakyat hanya sampai
akhir tahun 2000. Kalau keadaan tidak menentu, masyarakat akan bertindak
sesuai kehendaknya dan terjadilah chaos .

Menurut Seda, masalah yang paling krusial dari pemerintahan ini adalah
wibawa. Perubahan yang berlangsung cepat menurunkan wibawa aparat dan
pemerintah. Padahal, masyarakat dalam pemerintahan yang tanpa wibawa akan
chaos .

Seda yakin pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk
perbaikan. Namun, karena wibawanya terus dirongrong, berbagai program
perbaikan itu belum menampakkan hasil. Bahkan, keadaan dapat semakin
memburuk. 'Saya melihat, salah satu kemungkinan itu pembusukan dari dalam
apabila pemerintah tidak cepat mengatasi posisinya,' ujar Seda
mengingatkan.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Sep 2000 jam 06:14:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke