---------------------------------------------------------- Live and work in the USA legally: Register for the GREEN CARD LOTTERY! Visit http://www.us-immigration.org -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http: under construction Xpos, No 28/III/16-23 September 2000 ================================================ GINANDJAR CARI SELAMAT (POLITIK): Meski berlindung sebagai wakil rakyat, boroknya terus dibuka. Sejauh ini laporan BPK terhadap penyelewengan Ginanjar belum ditindaklanjuti. Salah satu elit politik di DPR/MPR yang dibidik Presiden Abdurrahman Wahid sebagai biang kerok beberapa waktu lalu adalah Wakil Ketua MPR Ginandjar Kartasasmita. Padahal Ginandjar Kartasasmita, yang akrab disapa Joni oleh para rekannya adalah seorang politikus-birokrat ulung dan licik. Saat pemerintahan Soeharto diambang kejatuhannya, 21 Mei 1998, mantan perwira tinggi dari TNI AU ini bersama konconya di tim ekonomi kabinet reformasi versi Soeharto, rame-rame mengundurkan diri dengan mengajukan surat kepada Soeharto. Dan ia bersama teman-temannya di ITB, seperti Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Siswono Judohusodo menjadi reformis dengan mendirikan Posko Jenggala dan Posko ITB untuk suporting aksi mahasiswa. Belakangan, sebagian klik-nya itu masuk ke PDI Perjuangan. Si Joni sendiri tetap di Golkar, yang berpura-pura menjadi "Golkar Baru". Meski sudah sulit untuk menilep duit, namun dosa-dosa Ginandjar ini tetap saja tak bisa ditutup-tutupi. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), awal September lalu, merasa gondok sebab sosok "penjahat" ini seolah-olah selamat setelah ia duduk menjadi pimpinan wakil rakyat di MPR. Sebab itu, seorang auditornya pun bernyanyi. Menurut sumber Xpos, si Joni ini ternyata menggunakan dana operasional kantor Menko Ekuin sebesar Rp298,969 juta selama tahun anggaran 1989/1999. Meski jumlahnya cuma kecil, namun bagai BPK itu jadi persoalan. Sebab, selain peruntukannya tidak jelas, dana itu tak didukung oleh bukti transaksi yang sah dan tercatat dengan baik sesuai aturan audit. Oleh karenanya, penggunaan dana oleh si Joni tersebut sulit dipertanggungjawabkan secara keuangan negara. Menurut auditor di BPK ini, meskipun bukti pengeluaran dana tersebut dibuat dalam sebuah kuitansi, naman kuitansi tersebut tak merinci untuk apa saja penggunaan dana-dana tersebut. Dana-dana itu diberikan kepada sejumlah orang untuk keperluan yang belum diketahui. Orang-orang itu, antara lain orang dekatnya, yaitu salah satunya Budi Prasetyo, mantan ajudanya. BPK memegang daftar namanya lengkap. Namun, anehnya, BPK tak memuatnya dalam laporan tebal BPK. Laporan BPK itu sering dikenal sebagai Hasil Pemeriksaaan (Hapsem) Semester I atau II BPK tahun anggaran ini atau itu. Ketika didesak, auditor BPK hanya menyebutkan, tidak dicantumkannya seluruh hasil temuan BPK karena atas permintaan Ketua BPK Satrio B Joedono. Joedono mengaku keberatan dengan pemuatan seluruh hasil temuan BPK tersebut. Sebagian hasil temuan BPK menyangkut penggunaan dana selama tahun anggaran 1998/ 1999 itu sendiri sudah dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan (Hapsem) BPK Semester II Tahun Anggaran 1999/2000. Berdasarkan Hapsem yang sudah disampaikan ke Ketua DPR Akbar Tandjung itu, terungkap adanya dana senilai Rp45,45 juta atau 0,94% yang bermasalah dari realisasi anggaran sebesar Rp4,830 milyar. BPK menilai pemasangan wall paper dan recover sofa (kursi kantor) senilai Rp23,93 juta di kantor tersebut sudah dikerjakan sebelum Surat Perintah Kerja (SPK) dikeluarkan. Pemeriksaan BPK lainnya menyangkut pengeluaran anggaran sebesar Rp54,20 juta untuk biaya perjalanan si Joni mengikuti pertemuan Asean Economic Minister (AEM) di Phuket, Thailand, 5-7 Maret 1999. Pembayaran biaya perjalanan itu dilakukan pada 17 Maret 1999 sebesar Rp36,80 juta. Namun, ternyata untuk keperluan yang sama, si Joni juga mengeluarkan dana Rp17,40 juta pada 19 Maret 1999. "Dengan demikian, untuk satu kegiatan telah dilakukan pembayaran ganda. Akibatnya terjadi kelebihan pembayaran minimal Rp17,40 juta," tulis laporan BPK tersebut. BPK juga menemukan pembayaran ganda untuk jamuan makan malam (dinner) tamu si Joni asal Jepang di Crystal Jade Palace International Restaurant yang dibayarkan pada 17 Maret 1999 sebesar Rp4,12 juta dan pembayaran kedua 19 Maret 1999 sebesar Rp4,12 juta. "Hal ini mengakibatkan terjadinya kelebihan pembayaran sebesar Rp21,52 juta, dari jumlah Rp17,40 juta plus Rp4,12 juta. Kelebihan dana ini harus ditarik dari yang bersangkutan untuk disetor ke kas negara," tambah laporan tersebut. Ketika rapat Panitia Kerja (Panja) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), akhir tahun lalu, nama petinggi keuangan Kabinet Reformasi Pembangunan juga disebut-sebut terkait pengucuran BLBI. Mereka adalah mantan Menkeu Bambang Subianto dan mantan Menko Ekuin, siapa lagi kalau bukan si Joni. Penyebutan kedua nama pejabat itu muncul saat Panja BLBI mendengar penjelasan dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan pejabat internal audit BI. Namun, seperti biasa, Ginandjar selalu membantah. Ia menyatakan, sebagai Menko Ekuin ketika itu, tak ada kaitannya dalam persoalan BLBI. Terakhir Jaksa Agung Marzuki Darusman mencekal si Joni bepergian ke luar negeri akibat kasus KKN mega Balongan di Indramayu, Jawa Barat. Tapi masih bisa disiasati olehnya. Kata pribahasa setinggi-tingginya tupai melom-pat, ia pasti akan jatuh pula ke comberan. (*) ========================================================= Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ------------------------------------- SiaR WEBSITE: http://www.minihub.org/mailinglists/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Sep 2000 jam 06:50:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
