----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Cak Nur Cemaskan Presiden Wahid
Diminta Tak Bikin Langkah Pojokkan TNI

Jumat, 22/09/2000
SURABAYA - Jawa Pos

Inilah peringatan cendekiawan muslim Prof Dr Nurcholish Madjid MA kepada
Presiden KH Abdurrahman Wahid. Ia meminta agar cucu pendiri NU KH Hasyim
Asy'ari itu bisa menghindari hal-hal kontroversial. Misalnya, pencopotan
Kapolri Jenderal Rusdihardjo dan penghapusan Wakil Panglima TNI Jenderal
Fachrul Razi.

''Saya tak tahu pasti, dari sisi hukum, apakah tindakan Wahid
(memberhentikan Rusdiharjo) itu melanggar Tap MPR atau tidak. Tetapi,
pencopotan itu jelas mempunyai efek yang negatif. Seharusnya, Wahid
menghindari hal-hal seperti itu,'' tandas Cak Nur -panggilan akrab rektor
Universitas Paramadina Mulya Jakarta itu. Ungkapkan tersebut dilontarkan Cak
Nur seusai menjadi pembicara dalam seminar di Universitas Katolik Widya
Mandala, kemarin.

Menurut Cak Nur, kebiasaan Presiden Wahid membuat manuver seperti itu memang
sulit dicegah. Ia terlalu confident dengan langkahnya, tanpa ada orang lain
yang mampu mempengaruhi. Soal penghapusan jabatan wakil panglima TNI yang
melengserkan Jenderal Fahrul Razi, dinilai Cak Nur, membuktikan bahwa
confidence Presiden Wahid juga terlalu luar biasa.
Pria asal Jombang ini mengibaratkan kebiasaan Wahid yang sering kontradiktif
dengan kemauan orang banyak. ''Ibaratnya, seribu musuh bagi Gus Dur terlalu
sedikit, tetapi seorang kawan terlalu banyak. Karena itu, setiap hari Gus
Dur sepertinya selalu mencari musuh,'' ungkapnya sambil tertawa.

Cak Nur mengaku kenal tabiat Gus Dur seperti itu sudah lama, sejak 1968.
Semula, mantan ketua umum PB HMI itu mengira bahwa tabiat Gus Dur yang
terlalu confident itu tidak akan dibawa-bawa lagi saat menjadi presiden.
Ternyata, prediksi Cak Nur meleset.
''Saya sering kaget atas langkah-langkah Gus Dur. Saya pikir dia tak akan
melakukan kebiasaan-kebiasaan masa lalunya yang terlalu confident,''
tukasnya.

Dari semua sikap dan tindakan kontroversial itu, yang paling dikhawatirkan
Cak Nur apabila Presiden Wahid memojokkan TNI. Soalnya, langkah itu
seolah-olah menunjukkan rasa putus asanya terhadap perjalanan reformasi. Hal
itu seharusnya tak boleh terus terjadi.
''Kalau militer terus dipojokkan, nanti bisa-bisa yang berbicara peluru
karena militer memiliki senjata. Kalau ini sampai terulang, tidak ada
jaminan Indonesia bisa kembali dikuasai sipil,'' tandasnya.

Bahkan, kebiasaan Presiden Wahid membuat statemen atau kebijakan
kontroversial itu, terutama yang memojokkan TNI, justru bisa menjadi bom
waktu. Bom ini sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan bangsa ini.
Karena itu, kebiasaan mengabaikan rule of law itu harus dihentikan.
Pasalnya, jika rule of law itu runtuh, proses perjalanan demokratisasi di
Indonesia akan unpredictable (sulit diramalkan).
Imbauan Cak Nur agar presiden tak terlalu memojokkan militer sebenarnya juga
sejalan dengan pemikiran mantan Dubes AS untuk Indonesia Robert Gilbert.
Menurut Cak Nur, Gilbert yang ditugaskan pemerintah AS untuk membantu
Indonesia dalam menjaga keutuhan wilayah dan memberdayakan civil society ini
pernah datang ke dia.

Gilbert menceritakan bahwa dirinya pernah sukses saat menjalankan tugas
serupa di Bosnia. Termasuk juga membantu berjalannya demokrasi. ''Kalau
civil society, itu sudah jelas. Namun, kalau melakukan civilization society,
itu berarti pula menurunkan peran politik militer, tetapi dengan cara-cara
yang memojokkan. Padahal, peran militer masih tetap diperlukan,'' ungkapnya.
Karena itu, alumnus Chicago University, AS, yang masih mengaku sebagai dulur
(saudara) karena sama-sama berasal dari Jombang ini mengaku tak bosan untuk
memberikan nasihat. Namun, Cak Nur merasa sedih kalau akhirnya Presiden
Wahid masih tetap melakukan kebiasaan serupa. Karena itu, lanjut dia, yang
paling efektif mengingatkan Presiden Wahid adalah pers.

''Gus Dur perlu diingatkan ramai-ramai dari luar. Anda semua yang memiliki
pena tajam harus mengingatkan Gus Dur. Kalau tidak, Gus Dur ya akan begitu
terus,'' tuturnya.
Pria yang gaya bicaranya cukup lembut ini mengibaratkan perjalanan negara
Indonesia ke depan seperti kereta api. Presiden Wahid sebagai masinis,
ternyata tak selalu mengikuti lajur rel yang telah disediakan. Karena itu,
pers harus terus mengingatkan masinis agar jalannya kereta api tetap berada
pada relnya.[gp]
Berhenti Sementara: [EMAIL PROTECTED]
Kembali setelah Berhenti Sementara: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti Tetap: [EMAIL PROTECTED]
Kembali setelah Berhenti Tetap: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Sep 2000 jam 11:40:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke