Tri Tego Pramono
Email : [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
--- On Mon, 10/27/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [sma-tidar] FW: [stan] Negeri Seolah-olahnya Bang Hisyam (STAN 89)
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, October 27, 2008, 8:17 PM
Negeri Seolah-olah
*Hisyam Haikal* - suaraPembaca
http://suarapembaca .detik.com/ read/2008/ 10/27/111510/ 1026491/471/
negeri-seolah- olah
* Jakarta * -
Selamat datang di negeri seolah-olah. Di negeri ini hampir semua yang terjadi
adalah seolah-olah. Bukan
sebenarnya. Yang nampak tidak sama dengan yang sesungguhnya terjadi. Negeri ini
seolah-olah sangat kaya. Hasil
buminya luar biasa. Gemah ripah loh jinawi. Tata tentrem kerta
raharja. Tapi, ingat.
Itu cuma seolah-olah. Rakyat tetap sengsara. Sekolah gratis cuma
SPP-nya. Berobat gratis banyak syaratnya. Antri apa-apa di
mana-mana. Angkutan rakyat bukan main tak
layaknya. Kriminalitas betapa kreatifnya. Hukum dibuat tak
berdaya. Rakyat menangis pejabat tamasya.
Di negeri seolah-olah banyak orang mendirikan partai. Nama partai pun dibuat
sangat seolah-olah.
Seolah-olah berkarya. Seolah-olah demokratis. Seolah-olah peduli. Seolah-olah
nasionalis. Seolah-olah
reformis. Seolah-olah
amanah. Seolah-olah adil. Seolah-olah agamis. Seolah-olah sejahtera. Dan,
berbagai seolah-olah lainnya. Namun, sesungguhnya itu
hanya seolah-olah. Partai-partai itu didirikan hanya untuk kepentingan
segelintir orang. Keluarga
dan komunitas tertentu saja.
Tengoklah nama-nama partai itu. Partai Golongan Kaya Raya, Partai Daulat Ibu
Pendiam, Partai Kiai
Berantem, Partai Artis Nampang, Partai Pengikut Pemerintah, Partai Hati Nurani
Jenderal, Partai Kayaknya
Peduli Bangsa, Partai Gerakan Ikut Jenderal, dan banyak
partai-partai sejenis lainnya. (Aneh
kan ? Ya,
namanya juga negeri seolah-olah) .
Suatu ketika negeri seolah-olah geger. Seorang jaksa tertangkap
basah menerima suap dari seorang pengusaha.
Semua jari telunjuk mengarah ke jidat mereka berdua. Penuh amarah dan caci
maki. Seolah-olah para pemilik
telunjuk itu bersih. Bebas dari korupsi. Seolah-olah hanya mereka berdua yang
bermental bobrok.
Padahal sesungguhnya, diam-diam, dua orang itu adalah
representasi dari komunitasnya masing-masing.
Sang jaksa dengan sempurna menggambarkan komunitas birokrat korup di negeri
seolah-olah. Para pejabat pemerintah pusat dan daerah, anggota DPR/D, penegak
hukum, petugas pajak, pegawai negeri. Mereka
yang seharusnya melayani masyarakat tapi lebih sering bikin
susah. Komunitas
birokrat dengan kekuasaan yang besar dan gaji yang tak pernah cukup.
Satu-satunya perbedaan antara sang jaksa
dengan komunitas yang diwakilinya hanyalah
nasib. Nasib sial berarti ditangkap. Nasib mujur berarti aman (dari jerat hukum
manusia, bukan
hukum Tuhan).
Sang pengusaha yang menyuap jaksa hanyalah representasi dari kalangan swasta.
Kalangan yang menginginkan untung besar tak
peduli merugikan siapa pun, tak peduli
dengan cara apa pun atau menyuap siapa pun. (Ah, jangan-jangan memang hanya ada
dua model
manusia di republik seolah-olah. Jenis
sang jaksa dan jenis sang pengusaha itu). Begitulah negeri seolah-olah. Selamat
datang
di negeri ini kawan. Cerita ini juga
seolah-olah nyata. Padahal seolah-olah
hanya fiksi belaka. Jika seolah-olah ada
kesamaan, nama, karakter, tempat, kondisi dan sebagainya,
janganlah marah. Itu seolah-olah hanya kebetulan
saja.