http://www.detik.com/berita/199903/990305-1132.html Jumat, 5 Maret 1999 Pendemo Beri Munir Uang Receh Reporter Sigit Widodo detikcom. Jakarta. Reaksi mahasiswa atas kasus Ambon terus menggelinding. Kosma (Komite Solidaritas Muslim Ambon) setelah melakukan demo di Dephankam pada Jumat (5/3/1999) pukul 9.30 WIB, langsung menuju ke kantor YLBHI Jl Diponegoro. Kedatangan mereka ke LBH dan Kontras ini mengkritik sikap LSM tersebut yang bungkam soal tragedi Ambon yang menewaskan puluhan orang sebagai bukti pelanggaran HAM. Cara mereka memprotes cukup unik, dengan memberikan uang recehan ke saku Munir SH, Koordinator Kontras yang selama ini dianggap garang. Tindakan memberi uang receh yang langsung dimasukkan ke saku Munir oleh para pendemo yang sangat sopan dan tertib itu, tentu saja membuat muka Munir merah. Tapi Munir tak bisa berbuat banyak. Mereka menilai apa yang diperjuangkan Munir saat ini tidak peka terhadap pelanggaran HAM secara universal. Kontras, termasuk Munir dinilai dalam melakukan perjuangannya dianggap pilih kasih dan hanya mempertimbangkan materi. Sementara bila pelanggaran itu mengenai ummat muslim seperti yang terjadi di Ambon ini, Kontras, LBH, bahkan Komnas, apalagi PBHI tidak jelas komentarnya. Setelah Shalat jumat di Masjid Al Azhar, rencananya akan dilanjutkan tablig Akbar oleh KAMMI dan masyarakat muslim Jabotabek. Namun, sebelum itu, para mahasiswa muslim juga melakukan demo di Dephankam dan Mabes Polri, Jumat (5/3/1999). Sekitar 100 lebih mahasiswa yang tergabung dalam Hammas (Himpunan Aksi Mahasiswa Muslim Antar Senat) sejak pukul 10.00 WIB mendatangi Mabes Polri Jakarta Selatan. Sedangkan sekitar 200 mahasiswa lainnya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Ciputat (FKMC-sebagian besar anak IAIN Syarif Hidayatullah), mendemo kantor Dephankam Jl Merdeka Barat, Jakpus. Demo di Mabes Polri ini karena sikap Polri yang selama ini plin-plan. Jauh sebelum kasus ini kian menghangat, Polri menyatakan bahwa kasus ini kriminal murni. Polri tak peduli komentar banyak pihak bahwa kasus pembantaian ummat muslim oleh orang non muslim di sana pada Idhul Fitri lalu sebagai SARA. Akibatnya, keganasan di Ambon dan sekitarnya kian menganga. Dan, bahkan polisi Ambon malah secara terang-terangan membunuh sembilan ummat muslim saat shalat Subuh. Walau sebagian besar laporan menyebutkan bahwa penembaknya adalah polisi setempat yang dengan sengaja tanpa melakukan penembakan yang melumpuhkan terlebih dulu, tapi Togar Sianipar sebagai Kadispen Polri membantah bahwa penambakan itu dilakukan untuk mematikan. Komentar Togar Sianipar itu tentu saja menyakitkan banyak pihak. Bahkan tidak sesuai dengan laporan yang diterima oleh Mabes ABRI. Tak mengherankan bila Pangab Jenderal Wiranto akhirnya memilih mengganti Kapolda Maluku Kolonel Karyono SM karena sebagai konsekuensi dari tanggung jawabnya atas kesalahan fatal anak buahnya atas tragedi pembantaian Senin Subuh di Masjid Al Huda, Ambon. Mulai pekan depan Karyono akan digantikan oleh Kolonel Pol Bugis Mohammad Saman yang asli Ambon. Bugis adalah seorang lulusan Akpol 1970 dengan empat anak yang beristrikan Fransiska yang beragama Katolik. Sempai dengan pukul 11.00 WIB di Dephankam para mahasiswa dari FKMC masih melakukan orasi. Mereka dalam orasinya dan pernyataan sikapnya selain menuntut agar kasus pembantaian ummat muslim di Ambon segera diakhiri, juga meminta dengan jantan Jenderal Wiranto mundur dari jabatannya. Para pendemo FKMC yang berjumlah 200-an selain menuntut Wiranto mundur, juga menolak politisasi SARA, dan mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh oleh politisasi SARA. Mereka hanya bisa melakukan orasi di Jl Merdeka Barat sebelah Timur (seberang kantor Dephankam). Sementara 10 orang diantara mereka melakukan dialog dengan pejabat Dephankam. Diantara beberap poster dan spanduk yang mereka bawa antara lain berbunyi, Stop Politik Kekerasan. Paling besar berbunyi: ANTI ABRI. Sementara satu lagi yang menyita perhatian adalah: How many moslems have you killed.
