Dalam ajaran Islam dikatakan bahwa salah satu kegiatan ibadah yang
pahalanya berkelanjutan, meskipun yang bersangkutan sudah meninggal
dunia, adalah "Ilmu yang bermanfaat".
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya menjelang lebaran, seorang
mahasiswi jurusan Kimia semester pertama berupaya mencari solusi
penghematan/pemberdayaan berbagai kebutuhan pokok berdasarkan
referensi yang diperolehnya di bangku kuliah.
Antara lain menghemat minyak tanah, menjadikan beras apek menjadi
nasi pulen, memperlambat basinya beberapa makanan rutin, dan
lain-lain.
Hasilnya ditulis dengan mesin ketik, kemudian diperbanyak dengan
fotokopi, serta dibagikan kepada keluarga dan tetangganya. Selain
itu, dikirimkan via pos kepada sanak familinya di pedesaan. Karena
memang misinya untuk meringankan tugas kerabat dekatnya, terutama
yang berpenghasilan pas-pasan.
Mungkin dia nggak mengenal apa yang dinamakan dengan Reformasi
Kimia. Tetapi dia bisa dianggap sebagai sosok reformis kimia. Kenapa?
Karena dia mampu melebarkan sayap akan fungsi bidang studinya, tidak
terikat oleh kelaziman (trend) yang berlaku saat ini.
Menurut ajaran Islam, selama hasil karyanya bermanfaat bagi orang,
selama itu pula Allah memberikan pahala untuk dirinya, meskipun ia
sudah meninggal dunia.
Apalagi ia melakukan itu karena sadar akan perintah Allah SWT
tentang kewajiban ummat Islam untuk memperhatikan kebutuhan fakir
miskin.
Berhubung dia belum berpenghasilan dalam bentuk uang ya dicarilah
jalan lain, yaitu dengan memanfaatkan ilmunya bagi orang banyak.
Salam,
Nasrullah Idris